
Pesta perayaan ulangtahun pernikahan Rian dan Rini beberapa hari yang lalu telah menguras seluruh energinya. Begitupun dengan Royyan dan Almira yang terlelap dengan lelahnya di atas ranjang yang sama dalam satu balutan selimut yang sama, keduanya saling berhadapan, dan seperti biasanya Royyan selalu tertidur tanpa menggunakan baju.
Cuitan burung-burung diluar sana saling bersahutan dengan matahari yang mulai menyingsing dan mempertontonkan kegagahan sinarnya yang membuat semua orang mulai terbangun dari rasa kantuknya semalam. Rasanya sudah tiga hari berlalu hari perayaan itu dan Royyan selalu tidur di samping Almira. Dan terbangun lebih dulu dari Almira sehingga wanita berambut panjang lembut itu tidak menyadari jika dirinya tertidur bersama suaminya.
Tiba-tiba ponsel Almira berdering dengan lantang di atas nakas. Seketika Almira terkerjap dan terbangun, terkejut karena dering ponselnya sendiri. Dia segera mengerjapkan matanya untuk memaksa agar terbangun dari rasa kantuknya.
"Ah sialan si Manda, bikin jantungan aja,"gerutunya setelah dia mengambil ponsel, "Iya halo, apa sih Man, pagi-pagi bikin jantung orang mau copot aja lu,"sambungnya seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari kecil nan mungilnya itu.
"Sorry sayangku...."sahut Manda terdengar lembut di balik ponselnya.
"Iya udah ada apa?"
"Ke butik gak hari ini?"
"Iya. Tapi gue mau ke mal dulu, mau ngambil tas yang gue pesen dua bulan yang lalu."
"Oke. Gue anterin deh."
"Iyalah dongke, masa gua sendirian ke mal, ya sama elu lah."
"Dongke apaan anjirr,"jawab Manda, dari nada suaranya nampak kebingungan.
"Dodol ******,"jawab Almira seraya menyernyih dan menjatuhkan dirinya kembali tertidur.
"Sialan lu anjir."
Tawa renyah dari Almira terdengar jelas oleh Manda.
Denting jarum jam yang berbunyi dari jam dinding besar yang berada di ruang tengah rumah mewahnya itu menggema ke seluruh penjuru dan terdengar oleh para pelayan yang sedang menyiapkan kudapan sarapan pagi untuk kedua tuan -nona rumahnya. Setelah bunyi yang berasal dari jam dinging itu, nampak semua pelayan terburu-buru menyiapkan sarapan.
Bunyi itu pertanda jarum jam menunjukkan pukul 07.00 wib, dan di jam itu Royyan sudah dipastikan akan turun untuk sarapan pagi bersama Almira. Letak dapur dan ruang tengah agak berjauhan, mereka terhalang oleh dinding putih dan lemari pajangan berbagai macam gelas, piring dan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat. Sebagian pelayan sibuk di dapur dan sebagian lainnya mengerjakan pekerjaan rumah di bagian ruangan lain dan juga bagian pekarangan rumah megah tersebut.
"Hari ini jangan pulang malam-malam,"papar Royyan seraya dia mengenakan jam tangan berwarna hitam di tangan kiri, sambil dia berjalan menuruni anak tangga.
Almira yang mengekori Royyan di belakang dengan masih mengenakan baju tidurnya menggendong tangannya di belakang dan menjawab, "emangnya kenapa kalau aku pulang malam?".
"Kamu wanita, gak baik pulang malam-malam. Dan ingat, kamu itu udah nikah dan kamu adalah seorang istri,"jawab Royyan, terus meraba tangga sampai habis.
Wanita yang mengikat rambutnya seperti kuncir kuda itu menggerenyot seraya dia menghela napasnya panjang dan tetap berjalan di belakang suaminya.
Istri apaan, istri di atas kertas doang. Lagian ngapain gua pulang awal, orang gak ada yang gua lakuin di rumah, mau ada lu ataupun enggak tetep gak ada perbedaan.
Almira menggerutu kembali menggema dan menggetarkan dinding-dinding hatinya menjadi lebih memanas. Amarahnya selalu terpendam dan belum berani dia muntahkan ke hadapan Royyan. Rasanya terlalu melelahkan harus saling beradu emosi di pagi hari.
Royyan dan Almira duduk di kursinya masing-masing untuk menyantap sarapan pagi, pria bertubuh penuh otot itu duduk di kursi yang berada di tengah-tengah meja panjang yang mencapai satu meter itu. Sedangkan Almira duduk di samping kanannya, tepatnya di kursi ke-empat dari samping suaminya.
"Kenapa jauh begitu?"tanya Royyan seraya mengenakan kain putih yang dia letakkan di atas pahanya, untuk menjaga pakaiannya tetap bersih.
"Biasanya juga kayak gini kan?"jawab Almira tenang.
"Pindah."
"Hah?! Pindah apanya? Kemana?"
"Duduk samping aku."
Bola mata Almira berputar dan tetap diam, tidak ada gerakan yang dilakukan wanita berkulit putih bersih itu. Bahkan dia tidak menjawab perintah suaminya, tangan mungil Almira mulai mengenakan kain putih itu dan mengabaikannya.
__ADS_1
Beberapa pelayan mulai menyiapkan piring di hadapan Royyan dan juga Almira, bedanya, pelayan itu menyimpan satu piring putih yang seharusnya milik Almira di samping Royyan, di kursi pertama. Membuat Almira mengernyit dan kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan juga menajamkan pandangannya pada sang suami yang tertunduk memperhatikan piring yang baru saja diisi dua helai roti bakar dengan selai coklat.
"Ayo pindah,"katanya lagi seraya dia menggigit roti isi coklat itu.
"Emangnya kenapa sih kalau aku disini. Sama aja kan, makan juga,"protes Almira menghenyakkan tubuhnya ke belakang membentur kursi yang dia duduki.
"Pindah. Cepet,"gertak Royyan mendongak dan menajamkan tatapannya pada Almira.
Wanita bertubuh mungil itu mendorong kursinya ke belakang dengan mata yang mendelilk kesal, melangkah mendekati Royyan dan duduk di sana, di kursi yang sudah ada dua helai roti isi selai coklat. Segera dia potong roti itu dengan pisau dan menusuknya dengan garfu lalu segera meluncur ke dalam mulutnya.
"Hari ini aku pulang malam, ada meeting penting dengan klien dari Paris, kemungkinan jam sebelas aku baru pulang."terang Royyan seraya dia mengunyah roti isi selai coklatnya.
Almira yang mendengar hal itu seketika tersekat dan merasa heran. Sontak dia segera melipirkan pandangannya ke samping, seraya mulut yang dipenuhi roti bakarnya. Tidak biasanya Royyan memberitahu kegiatannya diluar sana, dan Almira merasa aneh dan sedikit takut dengan perubahan dari suaminya.
Ya kalau pulang malam emangnya kenapa dah, biasanya juga kagak pernah bilang. Makin hari, makin menakutkan aja sih nih orang, seneng sih, itu artinya dia mulai menganggap gue ada, tapi gua parno juga sih. Bersikap biasa aja bisa kan? Jangan kayak gini, jadi takut gue, sumpah dah!
"Berarti aku boleh pulang malam kan?"celetuknya mulai melupakan perkataan Royyan di awal tadi.
"Enggak,"tegasnya yang kemudian meraih kopi hangat di sampingnya dan meneguknya dalam keadaan asap yang masih mengepul.
"Lagian nih ya kamu pulang malam ataupun enggak, kita di rumah ini hidup masing-masing, jadi gak perlu ada satu sama lain kan?"jawab Almira masih mengunyah rotinya hingga habis dan tersisa remah-remah yang berjatuhan dari roti yang digigitnya.
"Mulai besok kita akan tidur satu kamar,"celetuk Royyan seraya dirinya berdiri dari kursi, mengayuh langkahnya kembali menaiki tangga.
Almira terbatuk, susu hangat yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, segera menerobos masuk ke dalam tenggorokannya dan akhirnya terkejut dan sedikit tersedak. Bola matanya pun ikut melebar. Saat itu juga Almira berdiri meninggalkan meja makan untuk mengejar suaminya yang sudah berada di lantai dua dan masih berjalan melanjutkan langkahnya ke tangga berikutnya menuju lantai tiga.
"Kak tunggu .... Kenapa kak Royyan berubah pikiran, bukannya perjanjiannya kita tinggal satu atap tapi tidak satu kamar, kenapa sekarang berubah?"tanya Almira mengejar suaminya di depan.
"Kita suami istri, sudah seharusnya kita tidur satu kamar,"sahutnya, sama sekali tidak menghentikkan langkahnya.
Walau memang aku punya sedikit rasa cinta dari sejak sebelum pernikahan ini ada, tapi tetap aja kan, pernikahan ini tidak berawal dengan cinta.
"Kamu akan tahu nanti."
"Maksudnya apa sih? Kalau ngomong yang jelas dong kak, dari lama kakak selalu ngomong kayak gitu, tapi gak pernah jelas,"Almira menarik tangan Royyan dan memutarnya untuk menghadap padanya tepat saat menginjakkan kaki mereka di tangga ke lima belas di lantai dua.
"Cek hape kamu, klien kamu udah pada nunggu,"jawab Royyan sambil dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Almira terhentak, sampai netranya melebar. Dia baru menyadari jika dirinya harus segera ke butik untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menunggunya disana.
"Ih kak Royyan kenapa gak ngasih tahu dari tadi sih,"protes Almira menyingkirkan tubuh Royyan ke samping dan dia mengayuh kakinya ke lantai tiga menuju kamarnya.
Baguslah. Kali ini Ami teralihkan lagi, bukan saatnya kamu untuk mengetahuinya. Gua harus mencari keberadaan Dirta terlebih dahulu, gua yakin surat ancaman itu dari Dirta.
Setelah berceloteh tanpa menggerakkan mulutnya, Royyan melakukan panggilan telepon dengan Adrian sang sekretaris pribadi, sekaligus orang kepercayaannya.
"Sudah siap?"tanya Royyan pada seseorang yang ada di balik ponselnya.
"Sudah siap pak, saya sudah ada di lokasi biasa,"jawab Adrian tegas.
"Baik. Sebentar lagi saya akan keluar dari rumah."
"Baiklah pak, saya akan mempersiapkan kedatangan bapak."
Panggilan telepon pun dengan cepat terputus. Selanjutnya Royyan melangkah ke lantai tiga masuk ke dalam kamar Almira, tetap berlanjut ke sebuah pintu berwarna putih yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu, membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Dibalik pintu adalah ruangan semua pakaian dan barang-barang lainnya bersamaan dengan pakaian dan juga barang-barang mewah milik Almira.
Di dalam, Royyan segera mengenakan pakaian non formal dan topi putih serta kacamata hitam. Sebuah kaos polos berwarna abu pekat dan celana hitam ketat, layaknya outfit pergi jogging. Setiap pagi Royyan harus melakukan aktivitas melelahkan ini demi menjaga rumahnya tidak di ketahui oleh siapapun.
__ADS_1
"Kamu mau kerja atau mau jogging?"tanya Almira heran dengan pakaian yang dikenakan suaminya.
"Kerja,"jawabnya singkat seraya mengenakan jam tangan hitam dari brand ternama.
Wanita yang sudah mengenakan kaos croptop berwarna putih dan blazer warna langit serta celana kulot dengan warna yang senada dengan blazernya itu, sontak mengernyit mendengar jawaban sang suami.
"Masa kerja pake baju begitu."
"Aku ini pimpinan, jadi bebas."
"Ooh begitu ya pimpinan perusahaan, bisa seenaknya, hmm gitu...."jawab Almira seraya dia menganguk-angguk.
"Iya."celetuk Royyan seraya melenggang keluar dari kamar dan mengayuh kakinya berlarian di atas tangga turun ke lantai satu.
Sedang Almira masih saja ternganga mendengar jawaban dari sang suami, prilaku suaminya saat di rumah mertuanya telah lenyap. Kekesalan kembali melanda diri Almira dengan sepenuhnya.
"Iiih menyebalkan banget sih, gua ngomong banyak, dia cuman jawab satu kata doang. Gua rasa stok kosa katanya cuman satu lembar doang deh dalam otaknya."Almira menggerutu lagi seraya dia meninju-ninju angin di dekatnya. "Gue harus nanya sama Mami, ngidamnya apaan sih dapet anak menyebalkan kayak dia,"lanjutnya yang kini telah melipat kedua tangannya di depan dengan kesal.
Royyan mengunjungi gedung yang biasa. Mobil yang dia gunakan dan juga sopir masuk ke dalam gedung dengan gerbang yang tertutup secara otomatis, sehingga tidak ada yang mengetahui wajah siapa yang masuk ke dalam gedung itu termasuk sang sopir. Setelah pria dengan lengan kekar itu berganti pakaian, dia segera masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Adrian sebelumnya.
Barulah mereka melaju ke kantor perusahaan yang di bangun oleh Royyan dari nol. Sebuah perusahaan properti terbesar di ibu kota. Akses perusahaannya cukup kuat, ada anak perusahaan yang dia bangun di Paris, sehingga dia sangat mudah mendapatkan klien dari kota besar dari negara prancis itu.
"Bagaimana proyek dengan perusahaan di Paris?"tanya Royyan di kursi belakang mobil Adrian.
Sedangkan Adrian yang ada di depan tepat di samping sopir yang selalu mengenakan masker hitam itu dengan cepat menjawab pertanyaan bos besarnya, "Saya sudah siapkan jadwal seperti yang bapak inginkan."
"Hari apa?"
"Akhir pekan ini pak, tepatnya jam sebelas malam, karena klien meminta di jam itu. Jika bapak keberatan, saya akan mengaturnya ulang."
"Tidak perlu. Lakukan sesuai keinginan klien."
"Baiklah pak."
Tiba di gedung perusahaan, Adrian segera membukakan pintu mobil untuk Royyan dan lelaki bertubuh kekar itu segera keluar dan merapikan pakaiannya, lalu melangkah maju sedangkan Adrian berada di belakangnya.
Di dalam perusahaan, semua karyawan yang sedang bekerja seketika terdiam dan berjajar rapi untuk menyambut kedatangan Royyan. Serempak semua karyawan melipat kedua tangannya di depan dengan sopan dan juga wajah yang tertunduk.
"Selamat pagi pak Royyan."ucap semuanya serempak.
Royyan hanya mengangguk satu kali untuk menjawab sapaan dari para karyawannya. Sedang kakinya terus melangkah dengan langkah yang cepat memasuki lift yang tersedia di lantai satu perusahaan, Adrian menekan tombol lima belas, dimana ruangannya dan juga bosnya itu berada.
Atmosfer perusahaan benar-benar sunyi, suara karyawan yang saling mengobrol seketika senyap, setelah aroma parfume khas Royyan mulai menyebar ke seluruh penjuru yang akan dilewatinya. Para karyawan yang sedang bekerja pun seketika berdiri dari kursinya dan menunduk untuk menyambut kedatangan Royyan.
Posisi ruangan Royyan ada di dalam pintu lain di ruangan Adrian. Saat membuka pintu pertama maka akan menemukan ruangan Adrian yang di penuhi rak yang berisikan map-map dan juga berkas-berkas kerjaannya, sedangkan di sudut lain ada sebuah kulkas yang berisikan banyak sekali minuman dan juga makanan miliknya, di sampingnya ada penyedot debu otomatis untuk menjaga kebersihan ruangannya.
Di pintu kedua, tepat di belakang meja Adrian dan itulah ruangan Royyan berada, yang dilengkapi dengan sofa dan fasilitas seperti kulkas dan juga komputer khusus rancangan bangunannya serta kulkas khusus makanan dan minuman kesukaannya. Sunyi. Ruangan yang dilengkapi dengan kedap suara yang sempurna.
"Silakan kembali ke ruangan kamu,"titah Royyan setelah dia duduk di hadapan komputer khususnya itu, seraya dia menyingsingkan kedua lengan bajunya.
"Baik pak. Jika ada yang bapak butuhkan, silakan bapak panggil saya,"jawabnya dengan wajah yang tertunduk.
"Iya."Royyan sudah mulai berfokus dengan pekerjaannya.
Melihat jari jemari Royyan yang mulai menari-nari di atas monitor komputer, lekas Adrian melipir keluar dari ruangan Royyan dan kembali pada kursinya, kembali bekerja mengerjakan banyak hal yang telah menumpuk di atas meja. Tangannya mulai meraih kacamata yang ada di samping kanan laptopnya dan segera memakainya, setelah dia mulai mengetikkan sesuatu di dalam laptop seraya melihat pembukuan dalam berkas dengan map merah di sampingnya yang lain.
Gedung perusahaan mulai kembali kondusif, dan para karyawan pun mulai bekerja dengan tenang tanpa bayang-bayang rasa segan dengan kedatangan Royyan. Karena setelah pria bertubuh penuh otot itu masuk ke dalam ruangannya, maka dia akan tetap berada di sana sampai jadwal meetingnya di mulai.
__ADS_1