Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 65 : Malam setengah panas.


__ADS_3

Almira tiba di kamar inapnya, dia bersusah payah untuk kembali ke resort, walau sulit mendapatkan taksi di tengah malam di Bali karena terlalu banyak orang yang berkeliaran saat malam hari mengakibatkan kendaraan umum penuh, menggunakan aplikasi online pun tetap tidak membuahkan hasil.


Namun, akhirnya Almira berhasil kembali ke dalam kamar inapnya. Dia tutup semua kaca yang ada di dalam kamarnya dengan rapat, hatinya yang tengah gusar menyeret langkah dengan kasar menjatuhkan bokongnya ke ranjang, lalu dia tarik tubuhnya untuk terbaring dengan pasrah di sana.


Matanya memang terpejam, tetapi alam bawah sadarnya dengan segera kabur dan membuat Almira kesulitan untuk masuk ke dalam lubang kantuknya. Dia terus saja terjaga, dia terpaksa terbangun lagi membawa dirinya untuk berdiri berayun ke arah kamar mandi.


Tiba-tiba suara langkah kaki yang dikenalinya berhembus menyentuh hati Almira yang tengah membeku dengan kesal, dia tarik matanya untuk berputar bersama tubuhnya, melihat apakah benar praduga hatinya.


Saat itu juga Almira membuntang melihat Royyan sudah masuk ke dalam kamarnya dan tengah mengunci kamarnya dengan rapat, lalu dia buka jas yang dia gunakan dan melemparnya dengan sembarangan ke lantai.


"Heh! Main masuk kamar orang aja, keluar kamu! Aku gak mau ngomong ataupun ketemu sama kamu, udah ah sana,"ucap Almira melangkah mendekati Royyan.


"Kamu ngusir suami kamu,"tuturnya seraya dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan telentang dan mata yang terpejam.


"Iya. Jadi udah sana cepetan ke kamar kamu, lagian ngapain udah pulang sih, pestanya belum selesai,"sahut Almira tegas, lantas dia menarik tangan Royyan dan membuat tubuh pria itu terduduk dengan malas.


"Kenapa kamu marah-marah sih, kemarin juga kan kita tidur bareng."Royyan menarik tangan Almira sampai sang istri terjatuh di pangkuannya, lalu dia himpit kedua kaki Almira seraya mendekapnya dengan erat.


Wajah cantik itu benar-benar merah padam, bahkan dia enggan untuk menatapi sang suami sendiri, dia membuang mukanya, karena tubuhnya sudah terpenjara jeratan pelukan Royyan, sehingga dia bergeming tak bisa melakukan apapun.


"Bukannya udah nyaman ya jalan sama sahabat kamu, ngapain nyamperin aku, udah sana sama sahabat kamu lagi, lebih enak dan nyaman kan di banding sama aku, dansanya juga asyik kan? Suap-suapan lagi,"omel Almira tiada hentinya seraya berusaha untuk berdiri melepaskan dekapan Royyan, tetapi semuanya nihil, Royyan selalu berhasil menarik tubuhnya kembali ke pangkuannya.


Royyan menyeringai, kemudian dia mengapit dagu Almira dan menariknya untuk menghadap padanya, dia lesatkan sorot matanya masuk ke dalam bola mata kecoklatan yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.


"Kamu juga kan sama top model itu, impas kan?"celetuknya membuat Almira semakin geram.


Sekaligus Almira tarik tubuhnya berdiri dan melepaskan dekapan Royyan yang sedari tadi mengunci tubuhnya, lalu dia menoleh dan meruncingkan tatapannya, cinta itu bercampur dengan rasa cemburu yang telah menghanguskan hatinya yang membara.


"Ya itu aku lakukan karena berawal dari kamu, kamu yang pertama melakukannya, iya kau tahu kita masih harus berpura-pura untuk tidak saling dekat di luar, tetapi bukan berarti kamu bebas dekat dengan cewek lain, apalagi itu Rala yang jelas-jelas suka sama kamu,"omel Almira melangkah mundur menjauhi Royyan.


"Jadi kamu balas dendam?"


"Ya enggak ... aku cuman menghargai ajakannya aja, karena dia klien aku, lagian yang di ajak dansa sama Van bukan cuman aku, banyak yang lain juga, gak kayak kamu yang hanya dansa dengan sahabat kamu itu."Kepala Almira semakin merasakan pening karena kemarahannya sudah semakin mendidih di atas kepala.


"Kamu cemburu?"tanya Royyan yang mulai beranjak mendekati Almira.


Namun, wanita bermata kucing itu dengan sigap menjauh dan menyembunyikan kedua tangan yang berusaha Royyan raih ke belakang dengan wajah yang terbuang ke samping.


"Ya iyalah. Make nanya lagi, kamu bilang cinta sama aku, tapi kamu deket sama wanita lain, mesra banget lagi,"rajuk Almira yang kemudian menarik wajahnya menatapi sang suami yang tengah tertunduk, wajahnya meredup bersamaan dengan punggungnya yang tertunduk, "sekarang kamu jujur, siapa yang kamu cinta?"tanya Almira penuh ketegasan.


"Kenapa kamu masih mempertanyakannya?"wajah yang merunduk itu segera terdongak.


"Jawab aja bisa kan?"pekik Almira.


Perlahan Royyan mencoba melangkahkan kakinya mendekati Almira, tapi Almira terus melangkah mundur mendekati pintu utama kamar inapnya, langkah itu tidak berhenti karena Royyan pun tidak menyerah untuk mendekati istrinya.


"Kamu,"ungkap Royyan dengan tegas.

__ADS_1


"Bohong!"


"Kenapa aku harus bohong, kamu masih mikir kalau aku suka sama El, aku udah bilang, kalau aku suka sama El sudah dari dulu aku mendekatinya tanpa mempedulikan Dirta,"terang Royyan sekali lagi dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Ah udahlah, aku gak akan percaya, sekarang kamu keluar dari kamar aku,"sanggah Almira seraya menunjuk ke pintu keluar.


"Apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya kalau aku sayang dan sangat mencintai kamu? Aku akan lakukan apapun untuk kamu."


"Gak ada! Aku mau kamu keluar dari kamar aku,"pekik Almira.


"Gak mau!"bantah Royyan, kemudian pria itu melenggang ke arah kamar mandi.


Seketika Almira membuntang kesal dengan mulut yang terbuka, lalu dia mengembuskan napasnya kasar, lantas dia berlari mengejar sang suami yang sudah mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak Royyan! Kamu jangan ngeyel dong, udah ih cepetan keluar, nanti banyak yang menyadari kedekatan kita,"teriak Almira mengarik tangan Royyan dan menariknya keluar lagi dari kamar mandi.


"Pintunya sudah aku kunci, dan gak akan ada yang sembarangan masuk ke kamar kamu."


"Bodo amat lah, yang jelas kamu keluar se-"


Belum habis Almira memuntahkan kekesalannya, Royyan sudah lebih dulu menarik tubuh Almira dan masuk ke dalam jeratan pelukannya yang erat, lalu dia naikkan tubuh Almira ke atas kedua lengan kekarnya.


"Aaaaaah ...."teriak Almira sesaat dia sudah menggantung di lengan Royyan, tanpa sengaja kedua tangannya melingkari leher sang suami.


"Kamu kalau cemburu berisik, ngomel mulu, sekarang ikut aku,"ujarnya seraya mendekatkan wajahnya dengan paras cantik sang istri.


"Aku mau membuktikan sesuatu?"


"Apa? Jangan aneh-aneh, terus ngapain harus ke kamar mandi?"tanya Almira membuntang dengan tegang.


Tubuhnya seperti terpaku dan membeku, bahkan matanya pun sulit untuk berkedip, apalagi jantungnya yang sudah berdegup sangat cepat, bersamaan dengan aliran darahnya yang berderai dengan dahsyatnya.


"Karena aku butuh air,"celetuk Royyan seraya berayun tenggelam ke dalam kamar mandi dan dia menutup pintu kamar mandi dengan menendang pintu itu sampai tertutup.


"Hah?! Maksud kamu apa sih, udah ih turunkan aku sekarang juga,"seru Almira kebingungan, sembari dia mengayuh kakinya di udara agar Royyan kesulitan dan menurunkannya.


Namun, Royyan bukanlah lelaki lemah. Tubuhnya yang tidak pernah kehabisan energi itu tetap kokoh memangku Almira sampai tiba di bawah shower, dan saat itu lah Royyan baru menurunkan tubuh Almira sambil dia membuka shower dan alat itu segera menghujani tubuh kedua insan yang ada di bawahnya hingga kuyup tak terkendali.


"Aaaaah ...."lagi-lagi Almira berteriak sambil dia bawa kedua telapak tangannya ke atas untuk membantu menepis air yang mengguyurnya, "kak Royyan matikan gak showernya, baju aku basah!"


"Sengaja."Royyan menarik kedua tangan Almira ke belakang tubuhnya, membuat tubuh keduanya saling berdekatan.


Pria bertubuh tinggi itu tak segan mendekatkan wajahnya sehingga melanggar hidungnya dengan hidung lancip sang istri, seketika jantungnya mengerjap sekejap sampai dia melebarkan kedua bola matanya.


Dengan langkas semua air yang berjatuhan dari shower itu mengguyur pakaian Royyan dan juga Almira hingga kuyup tak tertolong, Almira berusaha membuka matanya dengan bulat walau air itu tak berhenti mengairi wajahnya, tetapi Royyan sepertinya dia tak tergoyahkan, kedua netranya masih saja bertengger terbuka dengan tegas seraya satu tangannya menggenggam kedua tangan Almira di belakang tubuhnya sedangkan satu tangannya yang lain menekan kepala Almira sehingga melekatkan dahinya dengan dahi wanita pemilik mata kucing itu.


"Dengar!"tegasnya dengan serius, tetapi tiba-tiba c*uman Royyan pada Almira mengalir dengan deras sampai wanita di hadapannya tak bisa mengelak.

__ADS_1


"Katanya dengar, kenapa malah---"protes Almira berusaha melepaskan diri, tetapi itu hanyalah usaha yang sia-sia.


Namun, mendadak jeratan Royyan pada kedua tangan Almira melemah, lekas dia tarik tangannya ke depan dan menggantung di dada Royyan, dia hendak untuk mendorong suaminya untuk menjauh darinya. Hanya saja gerakannya terlalu lamban, karena sudah di dahului oleh pria bermata kecil itu yang menarik tubuhnya, mengunci pinggang kecil itu sampai melekat, benar-benar menempel, air yang berjatuhan di atas pun kesulitan untuk mengalir.


"Aku harus c*um kamu berapa kali biar kamu percaya kalau aku sangat mencintai kamu, apa aku harus melakukan lebih dari itu, seperti apa yang dilakukan suami-istri pada umumnya?"celoteh Royyan seraya dia membuai wajah Almira dengan penuh kelembutan, dia seka air yang terus menghujani tubuh sang istri dan tentu dirinya pula.


"Kak Royyan ... lepasin aku, kita udah terlalu lama diguyur sampai kuyup kayak gini, nanti sakit. Ini udah malam,"sahut Almira susah payah berbicara karena shower itu tidak berhenti mengirimnya ribuan butiran air, seraya menggegarkan tubuhnya.


Bukannya menuruti, Royyan malah semakin menyengkelit tubuh Almira dengannya sedangkan tangannya yang lain mengunci dagu Almira dengan jari telunjuk dan ibu jari dari tangannya yang lain sehingga Almira memejamkan matanya karena dia tidak bisa membiarkan air itu memberikan perih di matanya.


"Kamu cemburu?"tanyanya sekali lagi.


"Iya! Aku udah jawab, kenapa kamu masih tanya sih."Almira menepis tangan Royyan dari dagunya, lalu dia menundukkan kepalanya dengan kilat, dia tak bisa menahan hunjaman air dair shower itu.


"Kamu mau bukti?"


"Bukti apa lagi sih, udah jelas kamu emang nyaman kan sama El, kamu tinggal jujur a--"


Royyan enggan untuk mendengar perkataan Almira yang masih menyebut dirinya mencintai Elshara, dia tidak menunggu lagi, segera dia lesatkan sebuah kecupan lagi di bibir Almira yang dia dongakkan wajahnya. Dia tidak jera untuk mengapit dagu Almira agar dia lebih mudah untuk menyerap rasa manis dari bibir kecil nan tipis itu.


"Euummm ...."Almira bergumam, karena untuk berbicara dia tidak mampu bahkan mendorong tubuh Royyan pun tenaganya mendadak terbenam.


Pria bertubuh penuh otot itu tak membiarkan bibirnya lepas dari kelembutan yang terkirim dari bibir milik Almira, bukan hanya sebuah kecupan, tetapi ciuman yang sangat bergairah dan mampu membangunkan api-api asmara sehingga berkobar-kobar. Dia sangat menikmati sentuhan lembut itu sampai hatinya menggebu-gebu, Royyan masih belum berhenti dia semakin menyelam dalam ciuman yang semakin ganas lagi.


Sedangkan Almira dia terdiam dan terpaksa membiarkan sang suami menciumnya lagi dan lagi dengan tekanan yang semakin lama semakin mendalam, sesekali dia merasa oksigennya di rampas oleh aktifitas Royyan padanya, di tambah air yang meluncur dari shower itu tidak jua berhenti, membuat seluruh raganya kehilangan banyak energi untuk menepis segala tindakan Royyan.


"Aku tidak akan mencium wanita yang tidak aku cintai,"lirih Royyan di sela-sela dia menghentikan aktifitasnya.


"Hmm ..."Almira bergumam seraya dia membuka matanya yang terpejam tadi.


Tangan yang menongkrong di pinggan Royyan tadi perlahan beranjak ke atas di depan dada bidangnya, dia kumpulkan energi yang tersisa untuk mendorong Royyan darinya, dia masih berkeinginan untuk menjauhinya dan menyelamatkan dirinya dari terkaman Royyan malam ini.


"Udah selesai?"tanya Almira polos seraya dia mendongak menatapi sang suami.


"Belum."Royyan luncurkan sentuhan lembut dengan tenaga yang lebih besar lagi.


Dia buka mulutnya untuk melahap bibir manis itu semakin dalam dan saat itu juga jiwa lelakinya terbangun, dia tangkup wajah sang istri, menariknya, sehingga tekanan di bibirnya semakin lebih bertenaga. Aktifitasnya ini bertahan lebih dari dua puluh menit, sehingga bibir Almira melembut dan merasakan kelu karena terlalu pegal melayani gairah sang suami yang tidak mudah padam.


Setelah puas melembutkan bibir sang istri, Royyan matikan showernya dan air yang mengguyurnya tadi segera berhenti dan meninggalkan tubuh Almira yang menggigil, wanita berparas cantik itu memeluk dirinya sendiri dengan wajah yang tertunduk. Angannya berkelana yang ingin melawan sang suami lagi dan berceloteh sampai pagi.


Namun, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Saat ini pun energinya telah di serap oleh Royyan. Kali ini yang terjatuh adalah butiran kristal yang mengembun dan juga memanas di bola mata kecoklatannya, perlahan tangisannya bersedu-sedu.


"Kak Royyan jahat! Harusnya aku yang marah sama kamu, kenapa kau yang di hukum,"rengek Almira yang terakuk.


Royyan yang telah berjalan keluar dari kamar mandi meninggalkan Almira yang masih terdiam di bawah shower karena kedinginan sama sekali tidak gentar untuk melanjutkan langkahnya sembari dia melucuti kemeja dan juga kaos putih yang dia kenakan dan menyisakan tubuh kekarnya bak roti sobek tak lupa lengan yang di penuhi otot-ototnya yang gagah.


Tak lama pria bermata kecil itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk kimono berwarna putih yang telah di sediakan oleh resort sebagai fasilitas kamar, dia berayun dengan gagahnya mendekati Almira lagi yang kini masih saja terakuk dengan punggung yang bergetar. Dia bukan hanya kedinginan, tetapi juga menangis dan kemarahan yang membuncah di hatinya yang merangkam.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2