Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 44 : Babak belur.


__ADS_3

Dengan cepat Dirta menghamburkan tubuhnya memeluk Elshara dengan lekat, dia tenggelam dalam rindu yang sudah beberapa tahun ini mengendap, dia frustasi, dia putus asa, dia seperti mayat hidup. Tanpa kehadiran Elshara, Dirta menjadi brutal dan tak tahu mana yang benar dan mana yang salah, sampai dia tega menawan sahabatnya sendiri dalam jeratan kisah masa lalu mereka.


Melihat Dirta dan Elshara saling memeluk dan melepas rasa rindu, Royyan mengajak Adrian dan juga Ajun untuk beranjak dari sana, dan Elshara segera menyadari tubuh Royyan mulai melimbai dari dekatnya, segera dia lepaskan pelukannya pada Dirta dan menoleh pada Royyan, sedang tangannya masih belum di lepaskan oleh Dirta.


"Royyan ..."panggil Elshara lembut.


Dengan lambat Royyan menoleh seraya dia menahan rasa perih dan nyeri di wajahnya, "Kenapa?"sahutnya pelan.


"Kamu bilang tadi ... kamu udah ni-kah? I-itu serius?"tanya Elshara dengan harapan jika apa yang dia dengar adalah sebuah kebohongan.


"Iya. Gua udah nikah hampir satu tahun, dan gua ...."


Belum sempat Royyan menghabiskan perkataannya Almira sudah melangkah untuk pergi dari sana seraya menarik Manda bersamanya, karena langkah yang terburu-buru dan Almira tidak memastikan jika di sekitarnya tidak ada benda atau siapapun, akhirnya dahinya mencium pohon besar yang ada di dekatnya.


"Aw!"ringis Almira lantang yang kemudian dia mengelus-elus dahinya, seperti biasa wajahnya sudah merangkai paras yang akan merengek, tapi beruntungnya saat ini dia tidak menangis, tetapi malah memukul pohon itu dengan kesal, "iih apaan sih nih pohon minta gue tebang,"sambungnya mengerutu.


Manda yang ada di dekatnya sontak mengernyit iba dengan apa yang terjadi pada sahabatnya, lekas Manda mendekati Almira dan menarik tangan sang sahabat untuk menyingkir dari depan pohon besar dengan dahan yang keras itu.


"Kebiasaan banget sih lu Ra, kalau ada orang berantem selalu aja mulut lu keceplosan,"celoteh Manda seraya dia melangkah pergi dari semua orang yang ada disana.


Bahkan Manda maupun Almira tidak mempedulikan jika Royyan dan semua yang ada di hadapannya serempak menoleh pada rengekan Almira, terlebih Royyan yang sudah mengukir senyum tipisnya dengan perlahan dan menghentikan perkataannya pada Elshara, dan Royyan menghentikan jawabannya hanya sampai sana, setelahnya dia melanjutkan langkahnya untuk enyah dari hadapan Elshara dan juga Dirta yang sudah sama babak-belurnya.


Elshara belum menyerah, dia terus berjalan mengejar Royyan yang sudah melangkah menjauh bersama Adrian, bahkan dia menepis tangan Dirta yang tengah memasang wajah sendunya, satu kali lagi hatinya terhantam benda yang sangat keras, rasanya sangat menyakitkan, tetapi dia tak bisa menghentikannya,


Ajun yang masih ada di sana menahan tangan Elshara dan membawa wanita yang tengah mengenakan gaun pendek berwarna putihnya ke belakang dekat dengan Dirta lagi, "stop El, biarin Royyan dulu,"pinta Ajun.


"Ta-tapi ... Royyan wajahnya terluka, gue mau ngobatin dia, gue khawatir jun,"melas Elshara.


"Dirta juga terluka, Royyan ada sekretaris pribadinya, elu gak usah khawatir dan elu ingat, Royyan udah punya istri, sudah pasti istrinya yang akan ngobatin walau istrinya sekarang lagi gak di deketnya."


"Ck ... siapa sih istrinya, pede banget jadi istri Royyan,"decak Elshara kesal seraya dia mendelikkan tatapannya ke arah lain dengan kasar.


"Istri Royyan adalah pilihan kedua orang tua dan juga kakak perempuannya Royyan,"celetuk Ajun.


Mendengar pernyataan Ajun, Elshara yang merasa dirinya lebih unggul dari siapapun seketika rapuh, bagaimana bisa dia melawan seorang wanita yang sudah sangat diterima oleh keluarga besar Royyan, tetapi beberapa menit kemudian pikirannya kembali melambung angkuh.


Gue gak peduli siapapun wanita itu, gue akan buat Royyan jatuh ke pelukan gue. Persetan sama keluarganya, selama Royyan jatuh hati sama gue, keluarganya bisa gue kendalikan.


Elshara yang lembut telah menjelma menjadi sosok yang keras dan angkuh, melihat Elshara yang lain membuat Ajun membangunkan rasa kecurigaan yang tinggi, lekas dia kayuh langkahnya mengikuti Royyan yang sudah di telan pagar tinggi bangunan ****resort**** tersebut, begitupun dengan semua orang yang tadi berkumpul menjadi penonton telah berhamburan meninggalkan pantai, meninggalkan Dirta yang tengah bersama Elshara.


Di sisi lain, Almira berayun keluar dari resort bersama Manda, sampai membuat wanita berambut sebahu itu kebingungan, dia tidak bisa menerka apa yang sedang dipikirkan oleh Almira.


"Lu mau kemana sih, ini udah malam Ra,"tanya Manda saat dia masih di tarik Almira keluar dari resort.

__ADS_1


Almira bergeming, dia terus menarik Manda keluar sampai dia di pinggir jalan dan menaiki taksi, Manda yang tak dilepaskan oleh Almira terpaksa mengikuti kemana pun wanita bertubuh mungil itu bergerak.


"Gue mau jajan ke minimarket, nanti lu yang belanja gue mau ke toilet dulu ya,"paparnya menarik dahi Manda menaik dengan kerutan yang dalam.


"Woii! Ngerjain lu ya, elu yang mau jajan, kenapa jadi gue yang belanja,"protes Manda memukul pelan lengan sahabatnya yang ada di samping kanannya.


Wanita berambut panjang ikal itu memamerkan gigi putihnya yang berjajar dengan rapi seraya dia dorong tubuhnya bersandar di dalam taksi yang masih berjalan, "pak stop disini,"pinta Almira setelah dia melihat sebuah minimarket merah yang berdekatan dengan apotek besar.


Turun dari taksi dan taksi itu segera pergi kembali ke jalanan besar yang sedang sepi, Manda dan Almira berjalan mendekati minimarket tersebut, saat tiba di depan pintu minimarket, wanita berparas imut itu menyelukkan satu tangannya ke dalam saku celana yang dia gunakan mengambil dompetnya dan mengambil sepuluh lembar uang merah dan dijatuhkan ke telapak tangan Manda.


"Nih, belanja jajanan yang gue suka dan yang lu suka, nanti kita makan bareng, oke ... bye,"ucapnya, yang segera mengayuh kakinya turun dari minimarket dan meninggalkan Manda.


Dia berlari ke samping masuk ke sebuah gang hitam yang memang tersedia kamar mandi umum dan terjaga kebersihannya. Manda yang melihat kelakuan aneh sang sahabat lekas menggeleng heran, lalu dia masuk ke dalam minimarket itu, memenuhi keinginan wanita cantik bermata kucing itu.


Almira yang bersembunyi di balik tembok bangunan apotek tersebut mulai menyubuk, memastikan Manda telah masuk ataukah belum, "baguslah udah masuk, gue harus cepet-cepet beli obat buat kak Royyan,"paparnya pelan, lalu dia berlari masuk ke dalam apotek.


"Halo kak, mau beli apa?"tanya pegawai wanita itu dengan sopan.


"Saya mau obat meredakan memar, alkohol, sama obat merah, dan plester buat luka juga,"jawab Almira setibanya dia di dalam apotek.


"Baik kak tunggu sebentar."dia segera membungkus obat-obatan itu.


Di sudut lain Manda sudah keluar dari minimarket seraya dia menenteng dua totebag besar berwarna putih, beruntungnya Almira sudah lebih dulu keluar dari apotek dan dia sembunyikan obat-obatan itu di balik kemejanya.


"Elu ke kamar mandi apa kemana sih, lama banget deh perasaan,"protes Manda lagi.


"Perasaan lu aja kali,"elak Almira.


"Bukan perasaan tapi emang lama ... gue beres belanja segini banyaknya, elu baru nongol. Eh tapi uangnya kagak habis, soalnya kebanyakan."


"Oh gampang, nanti kan kita bisa pake buat makan bareng."


"Oke lah ..."


Setelah puas berbelanja keduanya kembali mencari taksi untuk pulang ke resort lagi.


Sementara di tempat lain, tepatnya di kamar inap Royyan, Adrian membawakan banyak potongan es dan sehelai kain, lalu dia letakkan semuanya di atas meja dekat dengan ranjang di dalam kamar tersebut.


"Pak ... kompres dulu lebam-lebamnya,"ucap Adrian nampak khawatir.


Royyan yang tengah tertidur di ranjangnya dengan satu tangan dia letakkan di dahinya segera beranjak dan mendekati meja tersebut dan mengambil kain itu lalu dia bungkus beberapa balok es, perlahan dia tekankan kain itu ke beberapa luka yang terlukis di wajahnya.


"Hssssshhh ..."ringis Royyan seraya terus menekankan es itu pada wajahnya, walau rasanya perih dia tetap menekannya untuk membuat lebamnya mereda. "Istri saya pergi kemana?"tanya Royyan kemudian para Adrian yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Saya lihat nona keluar bersama temannya, tapi saya tidak tahu nona pergi kemana, nona sangat terburu-buru,"jelas Adrian.


"Baiklah. Kamu kembali ke kamarmu, saya bisa urus diri saya sendiri,"titah Royyan masih menggenggam kain berisikan es itu di tangannya.


"Apa bapak gak papa?"tanya Adrian masih khawatir.


Royyan menoleh lalu menyengguk, tanpa menunggu apa-apa lagi Adrian membalas anggukkan Royyan dan dia bergegas keluar dari kamar inap Royyan. Di luar dia melihat Almira dan Manda baru saja tiba di depan kamar inap Almira.


"Gue mau kembali ke kamar ya, ini satu totebag gue bawa ya buat nyemil, makasih traktirannya, bye ..."pamit Manda mencolek pipi Almira, kemudian dia melenggang pergi.


"Ya ... bye,"balas Almira seraya dia masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Melihat hal itu Adrian kembali ke dalam kamar Royyan, "permisi pak, nona sudah kembali,"papar Adrian.


Seketika Royyan yang semula lesu, dengan cepat bola matanya kembali membangkitkan cahayanya yang tertidur, seperti mendapatkan sebuah harapan jika malam ini dia bisa memeluk sang istri untuk meredam emosinya yang sebenarnya masih tertanam dalam jiwanya.


"Atur keadaan di luar, saya mau nemuin istri saya,"titah Royyan lalu dia melempar kain yang dia genggam ke atas ranjang dengan sembarangan.


"Baik pak."Adrian kembali keluar, menyisir setiap sudut ruang yang ada di luar.


Setelah memastikan keadaan luar aman dan tidak mendapati satu orang pun yang berada di sana, Adrian meminta Royyan keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Almira, dengan cepat Royyan masuk ke dalam kamar inap Almira dengan mulus tanpa diketahui siapapun, setelah di dalam kamar, Royyan segera mengunci kamar Almira dengan rapat, semua gorden dia tutup dengan lekat.


Almira yang baru keluar dari kamar mandi membersihkan wajahnya dari debu-debu malam sontak terkejut mendapati sang suami ada di depannya, lekas dia berlari mendekati Royyan.


"Kak ... kakak ngapain kesini, kalau ketahuan berabe nih, kamu ini gegabah banget sih,"protes Almira di hadapan sang suami yang perlahan menghamburkan tubuhnya terjatuh pada pelukan Almira. "Kak Royyan! Apa-apaan sih maen meluk-meluk aja, udah ah sana balik ke kamar kamu sebelum orang-orang menyadari kalau kamu gak ada di kamar,"tepis Almira mendorong-dorong sang suami.


Namun, Royyan terus melangkah sampai Almira melangkah mundur dengan iringan bola matanya yang melebar dan semakin membulat, seraya dia terus berusaha melepaskan tangan Royyan yang melingkari leher Almira, sampai akhirnya keduanya terjatuh ke atas ranjang bersamaan.


"Kak Royyan ... mending kamu obati luka kamu dari pada meluk aku kayak gini."Almira masih berusaha untuk menghindar walau kini tubuhnya sudah terkungkung tubuh Royyan yang ada di atas tubuhnya.


Bahkan tangan Royyan yang satu sudah beralih ke pinggang Almira dan melingkar disana semakin melekatkan dekapan Royyan, "aku lagi meredam emosi, jadi jangan bergerak,"pungkasnya begitu saja dengan mata yang terpejam menikmati aroma wangi tubuh Almira.


"Hah?! Apa hubungannya? Lagian ya, aku gak ada sangkut pautnya sama urusan kamu dengan mereka semua, kenapa jadi aku yang kena sasaran kamu,"seru Almira sembari mendorong tubuh Royyan sekali lagi, lalu dia memasang muka masamnya yang menggemaskan.


"Kamu istriku,"celetuk Royyan singkat.


Mendengar perkataan Royyan barusan, membuat Almira tidak bisa melawannya lagi, dia kembali mematung dan melenturkan tubuhnya lalu memasrahkan raganya di dekap Royyan dengan sesuka hati. Bagaimana pun keadaan mereka saat ini, memang benar yang dikatakan Royyan, mereka adalah suami-istri.


Almira terdiam dan akhirnya membalas pelukan Royyan, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria berwajah rupawan itu, menyebarkan aura hangat tubuhnya merasuki jiwa Royyan yang membutuhkan pereda emosi yang memanas dan membara.


"Pria itu yang namanya Dirta?"lirih Almira seraya dia terus masuk ke dalam dekapan Royyan yang semakin lama menjadi kian nyaman.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2