Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 19 : Undangan lelang perhiasan.


__ADS_3

Pertikaian tentang satu kamar sudah tidak menjadi masalah lagi bagi Almira. Sekeras apapun dia menolaknya, tetap keputusan Royyan tidak akan bisa berubah. Ketika mulutnya sudah berucap, maka hanya hal itu yang akan terjadi.


Di dalam kamar yang dilengkapi dengan kedap suara itu nampak sunyi, sepasang suami-istri itu masih tertidur dengan tenang di bawah selimut yang sama, hanya ada dua guling yang menjadikan pemisah keduanya. Mata pipih dan mata kecil itu saling berhadapan dalam keadaan sama-sama terpejam, sedang rambut wanita bermata pipih itu tembus ke tangan Royyan yang berada di atas salah satu guling.


Tak lama, detik ke tujuh dan menit ke dua puluh lima tepat pada jam tujuh, Royyan membuka matanya, kemudian dia terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk seraya dia menggeliat, melenturkan otot-ototnya. Kali ini dia terbangun dengan pakaian lengkap, tak seperti biasanya.


"Akhhh ...."teriakan Almira menggema, menggetarkan dinding-dinding telinga Royyan yang hendak membuka bajunya di hadapan Almira, seraya dia menutupi mata dengan kedua tangannya.


Telinganya terasa berdenging, Royyan menghentikkan aktifitasnya dan segera menutupi telinga seraya dia mengernyitkan hidung dan juga dahinya. Kaos putih polos itu kembali turun dan menutupi perut sixpack sempurnanya lagi.


"Apa sih?"tanya Royyan seolah dia tidak mengetahui mengapa Almira berteriak sedemikian rupanya.


"Mau ngapain kamu, jangan macam-macam ya, awas aja aku lapor polisi nih,"rajuk Almira seraya menunjuk-nunjuk suaminya yang berdiri tegak di hadapannya.


Pria berambut mullet itu tersekat, menghenyakkan kepalanya ke belakang, kemudian dia berkacak pinggang dengan terus menatapi istrinya di hadapannya. Lalu Royyan tanpa segan memecah keheningan dengan tawanya yang renyah, sebuah tawa yang pecah sampai bulir percikan air mata di sudut kelopak mata terjun ke pelipisnya.


"Kamu becanda. Kamu sadar ngomong kayak gitu?"ujarnya kemudian setelah dia selesai dengan tawanya dan raut wajahnya sudah kembali seperti semula, dingin dan serius.


Duh ni orang, diem serem, ketawa makin serem anjir. Baru pertama gua lihat dia ketawa sampai kayak gitu. Tapi tetep aja, wajahnya kembali ke semula dengan secepat kilat. Gimana gak takut gue.


"Emangnya kenapa? Kalau akunya gak mau, bukannya itu tindakan kekerasan?"jawab Almira dengan wajah polosnya.


"Gua laki lu. Kita udah nikah sah secara agama dan juga negara, kamu pikir polisi akan menanggapi laporan konyol kamu, hah?"sahut Royyan melangkah maju mendekati Almira seraya menangkup kedua pipi tirus wanita bermata pipih itu dengan kedua tangannya yang lebar.


Seketika Almira membeliak. Kali ini dia kembali melihat sosok lain dari Royyan, kedua tangannya menongkrong di atas kedua lengan kekar sang suami yang masih menggenggam kedua pipinya dengan lembut.


"Tapi kan gak ada yang tahu kalau kita udah nikah? Jadi laporan itu bisa saja di kabulkan,"jawab Almira masih kukuh, seraya dia menurunkan kedua lengan Royyan dari pipinya.


"Ada buku nikah."celetuk Royyan kembali menempelkan kedua tangannya di pinggang.


Secuil obrolan tadi malam masih melekat di benak Royyan, kekonyolan Almira mampu membuat tawa Royyan sudah merekah di pagi hari. Pria bertubuh bugar itu menyugar wajahnya seraya dia tertunduk dan senyuman itu cukup lama bersemayam di wajah yang selalu serius itu.


Polisi mana yang mau menangani kasus seorang suami yang memaksa istrinya, ini cewek emang kadang-kadang bikin sakit perut gue.


Pagi yang menyegarkan. Bukan karena embun pagi yang tebal, melainkan wajah cantik istrinya yang telah membuat paginya menyenangkan. Setelah cukup puas memandangi wajah istrinya yang masih tertidur dengan lelap, lantas Royyan mengayuh kakinya menuju kamar mandi seraya dia membuka baju dan melemparnya ke dalam keranjang cucian di dekat pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Gemerencik air yang menimpa lantai berkeramik putih dari shower yang ada di dalam kamar mandi itu terdengar jelas keluar, membangunkan Almira yang tadi masih terlelap. Dia menggeliat, merentangkan kedua tangannya dengan bebas, dan rambutnya yang bagaikan singa itu segera dia rapikan dan bergegas turun dari ranjangnya, berayun ke lorong menuju kamar mandi.


"Kak Royyan lagi mandi kayaknya,"serunya dengan mata yang masih mengantuk, bahkan dia masih menguap dan mengeluarkan bulir air mata di pelipisnya, dengan suara yang masih parau.


Baru saja Almira berpindah ke balkon yang baru di bukanya, pintu kamar berwarna putih agak gelap dari pintu yang lainnya terdengar menggema, memantulkan ketukan seseorang yang ada di balik pintu tersebut. Segera Almira mengayuh langkahnya mendekati pintu dan bergegas membukanya.


"Kenapa?"tanyanya setelah dia membuka pintu itu.


"Maaf nona, apa yang ingin nona dan tuan makan untuk sarapan, pagi ini?"tanya Shani salah satu pelayan yang bertugas menyiapkan makanan di dapur.


"Hmm .... Apa ya?"pungkasnya memutar bola matanya ke pintu kamar mandi, dimana Royyan masih mandi di dalam. "Nanti aku kasih tahu ya, lewat telepon, kak Royyan masih mandi."sambungnya.


"Baiklah nona, kami akan menunggunya."


"Oke."sahut Almira menyeringai.


Pelayan itu pergi setelah Almira menutup pintu kamarnya kembali. Sedang Almira mengelibat ke depan pintu kamar mandi, saat suara air itu sudah tak terdengar lagi.


"Kak Royyan ...."panggilnya dengan suara manjanya yang khas.


Hening. Tidak ada jawaban dari Royyan, bahkan suara deru napas pun tidak terdengar oleh telinga Almira. Lantas dia segera mengerutkan mulut tipis berwarna merah merekah, perona alami bibir wanita cantik itu. Setelah itu Almira memutar tubuhnya untuk meninggalkan pintu kamar mandi.


Belum habis empat langkahnya dia lahap, bayangan seseorang segera muncul di depan Almira, aura dingin pun mulai merebak ke sekelilingnya. Tetesan air terdengar lembut, wanita dengan rambut yang masih sedikit kusut itu segera kembali berputar menghadap ke pintu kamar mandi lagi. Tetapi bukan pintu kamar mandi yang dia lihat, melainkan perut sixpack sempurna milik suaminya yang dia lihat. Perut yang sering orang bilang dengan sebutan roti sobek itu, terpaksa terlihat oleh mata suci Almira.


Perlahan dia bawa naik bola matanya menatapi sang suami yang tengah mengeringkan rambutnya yang kuyup dengan sehelai handuk putih yang tebal, seraya dia menelan ludahnya. Sedangkan di tubuhnya hanya menggantung sehelai handuk putih tebal di pinggang, pria bertubuh tinggi itu terus berjalan maju.

__ADS_1


"Ada apa? Kamu mau mandi?"katanya terus melangkah ke depan ke ranjangnya.


"Iya tapi nanti aja, aku ke butik agak siangan, aku cuman mau nanya, mau makan apa? Tadi Shani ke sini,"jawab Almira mengekori Royyan di belakang dengan menciptakan jarak di antara dirinya dengan Royyan.


"Nasi goreng seafood."paparnya seraya dia duduk di ambang ranjangnya.


Almira mengangguk seraya memejamkan matanya sejenak. Lalu dia melipir ke arah samping meja riasnya, di sana ada alat panggilan otomatis jika dia membutuhkan bantuan asisten rumah tangganya dengan cepat.


"Eum .... Mau nasi goreng seafood dua ya, jangan lupa buahnya juga,"tutur Almira di depan alat yang berwarna hitam itu.


"Baik nona. Apakah nona mau minum susu, teh atau jus buah asli?"jawab seseorang di bawah sana.


"Aku mau jus strawberry, pisang dan susu ya."


Baru saja Almira menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba saja Royyan mendekat tepat di belakangnya. Tubuh Royyan benar-benar menempel dengan punggung Almira, membuat wanita yang masih mengenakan pakaian tidurnya kembali membulatkan bola matanya dan mematung. Sedang Royyan dengan tenangnya mengambil alih alat tersebut sedang tangannya mencangkung di atas meja rias yang berada di samping mereka.


"Saya mau kopi susu hangat sedikit panas."


"Baik tuan, kami akan segera menyiapkannya."


Lekas Royyan menyimpan alat itu kembali ke tempatnya. Dan Almira masih mematung seraya mengatupkan bibirnya yang bergetar, dengan iringan derap jantung yang berdetak dengan sangat cepat, sampai lututnya terasa lemas.


"Aku mau mandi,"celetuknya, kemudian Almira berlari langsung ke kamar mandi tanpa menoleh pada Royyan terlebih dahulu, dan tanpa membawa handuk pula.


Melihat Almira nampak salah tingkah, Royyan otomatis merakit senyumannya sembari dia mengeringkan rambut. Bola matanya pagi ini lebih bersinar dari biasanya, tubuh yang setengah kering itu melimbai ke ruangan pakaian untuk mengganti pakaiannya.


Angin yang berderai di sekitarnya nampak terburu-buru kembali keluar dari kamar Royyan dan Almira. Ia meninggalkan sepasang suami istri yang tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Royyan yang telah selesai mengenakan kaos putih dan celana hitam dipadukan dengan jas santai berwarna senada dengan celananya segera keluar dari ruangan pakaian dengan rambut yang sudah tertata dengan rapi.


Sekilas netranya itu menoleh pada pintu kamar mandi yang masih tertutup, denting air yang seharusnya bersuara pun tidak terdengar, beralih dari pintu kamar mandi dia melihat handuk milik istrinya itu masih menggantung di jemuran pakaian yang ada di dekat kamar mandi.


Sampai lupa bawa handuk. Apa yang dia lakukan di kamar mandi, mandi tanpa bawa handuk gitu? Atau jangan-jangan cuman mau lari aja dari gua.


Gema batin Royyan seraya dia menggeleng dan melukiskan senyuman tipisnya.


Almira yang tengah berkaca di kamar mandi sambil dia mencuci wajahnya seketika tercenung memperhatikan pantulan dirinya sendiri di kaca. Lalu dia menoleh dengan kasar pada pintu yang tertutup dengan rapat sembari dia terus menggosok wajahnya yang penuh sabun dan juga menampilkan wajah tidak senang.


Gara-gara elu gue lupa bawa handuk dongke! Gak ada rasa bersalahnya banget dari malam bikin jantung gue terus disuruh olahraga, sedangkan dia tenang banget begitu, gak adil! Awas aja lu ya, nanti gua yang akan buat jantung lu kayak simulasi lari maraton.


Setelah puas dia menggerutu tanpa bersuara, hanya wajahnya yang memancarkan kekesalan, segera dia mencuci wajahnya sampai bersih dari sabun-sabun, dan bergegas keluar untuk mengambil handuk, lalu dia kembali ke dalam kamar mandi, kali ini dia benar-benar masuk ke dalam ruangan shower untuk membersihkan tubuhnya yang selalu menguapkan aroma wangi.


Di bawah, lantai satu rumah megah yang terdiri dari empat lantai itu, menampilkan banyak sekali lukisan mewah dan guci-guci pahatan yang sulit dimiliki oleh sembarangan orang di bagian dinding dan juga sudut ruangan tengah. Di sana Royyan tengah terduduk di sofa panjang dengan tenang sembari membaca sebuah koran pagi ini, ditemani dengan segelas kopi susu yang telah dipesannya tadi.


Tiba-tiba pikirannya menjalar ke sebuah ponselnya yang menganggur terbaring di atas meja, segera dia raih dan menelepon sekretaris pribadinya. Tiba-tiba saja dia mengingat bahwa dalam waktu dekat ini ada sebuah acara pelelangan perhiasan bergengsi di kalangannya.


"Halo pak, apa bapak sudah siap untuk berangkat?"ucap Adrian di balik ponsel itu, suaranya terdengar lembut namun tetap tegas.


"Acara pelelangan perhiasan itu, bagaimana?"tanya Royyan langsung tanpa menjawab pertanyaan dari Adrian.


"Undangan sudah tiba di tangan saya pak, nanti saya akan serahkan pada bapak."


"Oke. Saya akan kabari jika saya sudah ingin keluar dari rumah,"


"Baik pak."


Sesingkat itulah obrolan paginya dengan orang kepercayaannya. Dan dia melanjutkan aktifitas membaca korannya lagi, setelah dia menyeruput kopi dengan asap yang masih mengepul ke udara.


Beberapa menit berlalu Royyan menghabiskan waktu membaca koran dan juga meneguk kopi hangatnya karena menunggu Almira sampai istrinya itu bersiap dengan cantik. Aroma parfume khas milik Almira mulai turun dan menyebar ke seluruh ruangan termasuk masuk ke dalam hidung lancip Royyan.


Pria berambut mullet itu segera menoleh dan mendapati Almira sudah mengenakan gaun chery blossom di atas lutut dengan lengan panjang dan belahan di bagian sikut sampai ke pergelangan tangannya serta rok yang bergelombang.


"Kamu kok belum makan? Udah lebih dari jam tujuh lo ini,"ucap Almira seraya dia merapikan rambutnya yang mengenakan sebuah jepitan besar berbentuk pita berwarna senada dengan gaunnya, setelah dia menyelesaikan meraba tangga.

__ADS_1


"Meeting masih lama, jadi gak masalah,"jawabnya seraya dia melipat koran dan melemparnya ke atas meja di hadapannya.


Lantas pria yang bermata kecil itu berayun dari sofa mendekati istrinya yang masih ada di dekat tangga penghubung antara lantai satu dengan lantai dua rumahnya.


"Kamu ngantor kalau ada meeting doang apa?"kernyit Almira mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Enggak juga."


"Terus sekarang kenapa belum berangkat?"


Karena kamu terlalu lama di kamar mandi, semedi lu. Encok pinggang gue nungguin elu selesai mandi biar sarapan pagi bareng. Untung cantik, cantik banget lagi pagi ini, tiap hari sih cantiknya, tapi kenapa sekarang jantung gue berasa lari maraton sih.


Batin Royyan memang seberisik itu, tetapi mulutnya tidak bisa mengungkapkan rasa seberisik batinnya. Dia melenggang berjalan lebih dulu dari Almira tanpa menjawab pertanyaan Almira. Membuat wanita berkulit putih itu geram dan kesal sampai dia mengepalkan tangannya ke udara dan hendak meninju angin, namun dia urungkan karena Royyan sudah pasti menyadari apa yang dilakukannya.


Sabar Almira .... Sabar.


Dua piring nasi goreng seafood yang berisikan udang kecil dan juga udang besar sebagai toping, sosis dan beberapa toping seafood lainnya sudah bertengger di atas meja. Di samping telah tersedia segelas air putih dan buah-buahan yang sudah terkupas dan siap di santap, kecuali di samping piring Almira ada satu gelas jus permintaannya tadi.


"Hari ini aku pulang telat ya, ada sesuatu yang mau aku lakukan."izin Almira seraya dia menyuapi mulutnya dengan nasi goreng itu.


"Oke. Jangan malam-malam."


"Iya kalau ingat."


Tiba-tiba suasana menjadi terasa mencekam. Almira yang tengah mengunyah makanannya segera mendongak dan menoleh pada Royyan, dan ternyata pria dengan tatapan tajam itu sudah melihat sang istri sedari tadi, karena jawaban Almira yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Jangan ngeliatin kayak gitu, kenapa sih?"kernyit Almira menghenyakkan tubuhnya ke samping.


"Pulang jam berapa?"cetusnya setelah Royyan kembali menyantap sarapan paginya.


"Ya gak tahu, kan perginya juga belum."


"Yaudah terserah."


Kan mulai penyakitnya. Tadi kayak marah kalau gue pulang malam, nah sekarang kayak kagak peduli. Tahu ah gue pusing, nih orang perasaan makannya makanan manusia, tapi kenapa berbeda.


Setelah berceloteh dalam batinnya, Almira memicing kesal dan menyendok nasi goreng itu dengan suapan besar dan segera dia luncurkan ke dalam mulutnya sehingga mulutnya penuh dan berusaha untuk dia kunyah sampai habis.


Setelah perbincangan kecil itu, keadaan berubah menjadi hening. Almira tidak lagi berbicara karena kesal dengan jawaban Royyan. Sehingga dia menutup mulutnya untuk berbicara lagi, mulut itu hanya dia gunakan untuk mengunyah makanannya hingga lenyap, sampai ke jus dan buah-buahan, ludes semuanya.


Meja makan pun sudah bersih dari makanan, dan Royyan sudah keluar dari rumahnya, lalu segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh sopir pribadinya. Seraya pria berkulit kuning langsat itu mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


"Awasi istri saya, jangan sampai lengah."ucap Royyan dengan tegas.


"Baik bos. Saya sudah bersiap di gang rumah pak bos,"jawab seseorang di balik telepon itu.


"Bagus. Lakukan dengan baik."


"Siap bos."


Royyan segera mematikan ponselnya dan menatap lurus ke depan sembari dia menghenyakkan punggungnya ke belakang bersandar disana.


"Ayo jalan."titahnya pada sopir.


"Baik pak."jawab sang sopir seraya bersiap melajukan mobilnya.


Ketakutan itu masih bersemayam dalam diri Royyan. Surat ancaman menambahkan kekhawatirannya, terutama pada istrinya yang tidak tahu permasalahan ini. Untuk saat ini hanya sebuah surat dan juga seseorang yang berusaha melenyapkan nyawanya, tetapi pria bertubuh penuh otot itu sudah berpikir jauh ke depan. Matanya terpejam dalam isi kepala yang sangat berisik, banyak sekali yang dia pikirkan.


Dimana keberadaan Dirta?


Setelah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah ada kabar. Aktifitasnya sama sekali tidak terbaca. Gua harus menemukannya, sebelum hal buruk terjadi pada gua dan Ami. Apapun itu gua akan lindungi Ami.

__ADS_1


Sekumpulan pertanyaan yang selalu berhasil mengambil alih perhatian dari Royyan.


NEXT ....


__ADS_2