
Setelah berbagai macam gangguan dan masalah serta drama Elshara yang tidak ada habisnya, akhirnya malam pesta acara summer camp sekaligus shooting terakhir di nobatkannya pasangan terpanas dalam acara ini. Selama dua bulan ke dua puluh model melakukan shooting bersama-sama di area pantai, hutan bahkan di dalam kamar inap mereka masing-masing.
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, walau banyak masalah di dalamnya, tetapi mereka bisa melewati acara ini dengan baik, karena saat satu bahkan dua partnernya yang bermasalah dengan sigap model lain menutupinya dengan bakat mereka masing-masing. Walau sebagian besar dari mereka tidak menyukai Elshara karena sifat manja dan memanipulasi semua pekerjaan harus sesuai keinginannya.
Manda bergerak ke kamar inap Almira, dia menerobos masuk ke dalam kamar tersebut, di dalam dia tidak menemukan sahabatnya selain staff dan gaun-gaun yang sudah menggantung pada manaqueen. Di depannya sudah berdiri patung-patung itu dengan gaunnya masing-masing, kali ini Almira hanya mengatasi empat model untuk acara malam terakhir ini.
"Bos kalian kemana?"tanya Manda seraya terperenyuk di atas ranjang.
"Kak Ra lagi nyari sarapan dulu sama staff yang lain,"jawab Sara berdiri di dekat Manda.
"Ooh ... kok gak ngajakin gue sih tuh anak, tumben banget,"gerutu Manda.
"Kak Ra buru-buru tadi, soalnya tadi malam juga memang baru menyelesaikan gaun-gaun ini,"jelas Sara tersenyum dengan manis.
Tidak lama dari perbincangan kecil itu, Elshara datang ke kamar Almira dengan tegas, nampaknya dia agak kesal, tetapi entah apa yang membuatnya kesal. Manda dan staff Almira yang berada di sana menatap Elshara dengan rasa heran yang mendalam, lekas Sara mendekat menjadi dinding terdepan untuk teman-temannya.
"Ada apa ya nona Rala?"tanya Sara lembut dan sopan.
"Kenapa gaun saya tidak ada, harusnya pagi-pagi udah ada di kamar saya,"ungkap Elshara yang sepertinya hilang ingatan.
Dia melupakan jika dia sendiri yang memutuskan untuk pindah desainer karena pertengkarannya dengan Almira beberapa waktu yang lalu, malam itu Elshara meminta managernya untuk mengganti Almira dengan desainer lain dan saat itu juga posisi Elshara tergantikan oleh model lain yang sangat menginginkan gaun Almira yang sebelumnya di pegang oleh Elshara.
"Mungkin nona melupakan suatu hal, nona sudah memutuskan hubungan kerjasama dengan kak Ra saat malam dimana nona dan kak Ra terlibat pertengkaran,"jelas Sara dengan sangat hati-hati.
Seperti perkiraan Sara, gadis bermata pipih itu segera mengerutkan dahinya dengan dalam, buliran amarah yang berkumpul di dalam netranya mulai menegang dan deru napas gadis itu semakin berderai sangat kasar.
"Ya itu kan saya lagi marah aja, masa sampai di anggap serius begitu sih, lebay deh ..."katanya tidak ingin di salahkan.
Manda yang mendengar seketika membuncahkan kekesalan, tetapi dia tak punya waktu untuk meladeninya, dia sedang mengenakan gaunnya yang di bantu oleh staff Almira yang lain dan membiarkan Sara menghadapi wanita menyebalkan itu, pikir Manda demikian. Karena dia mengetahui jika Sara adalah orang yang memiliki stok sabar setinggi gunung himalaya.
"Mohon maaf nona Rala, bukannya kami tidak menghormati nona, tetapi nona mengundurkan diri dan gaun yang sebelumnya akan di kenakan oleh nona sudah di pegang model lain, hari ini hari final jadi kami tidak bisa mengubahnya dengan sembarangan,"terang Sara lagi yang masih bisa berkata lembut dan juga sopan.
"Kalian ini gimana sih, harusnya kalian berusaha dong bujuk saya untuk tetap memakai karya kalian, bukannya mencari klien lain, gak profesional banget sih,"cibir Elshara kesal yang masih saja menganggap dirinya benar.
"Kami di perintah oleh kak Ra demikian, kak Ra selalu berkata jika ada klien yang ingin mengganti desainer karena masalah pribadi maka biarkan dia pergi sesukanya, karena masih ada orang lain yang mungkin menginginkan pekerjaan kami,"balas Sara lagi.
"Ih! Apa-apaan sih tuh bos kalian, songong banget,"rajuk Elshara mengentakkan kakinya dengan kasar.
Manda yang sudah mulai geram dengan perkataan Elshara, lekas dia melangkah untuk mendekati Elshara yang tak kunjung enyah dari kamar Almira, seraya menggenggam gaunnya untuk memudahkannya berjalan.
"Lu gak sadar-sadar heran gue, ini semua karena salah elu sendiri, Ra gak memutuskan kerjasama walau elu nyerang dia cuman karena denger dia deket sama Royyan, padahal kedekatan itu bukan urusan elu, karena elu bukan siapa-siapanya Royyan. Di sini yang gak profesional itu elu!"celoteh Manda seraya menunjuk-nunjuk Elshara dengan kesal.
"Berisik lu! Ganggu aja,"tegas Elshara yang kemudian melipir pergi keluar dari kamar Almira.
Setelah Elshara memunggunginya, Manda segera mencebik dengan geram sampai wajah cantiknya menunjukkan gestur lucu, membuat semua pegawai Almira yang ada di sana tertawa, tetapi mereka sungkan akhirnya tawa itu mereka pendam dan hanya menyisakan seringaian tipis-tipis.
__ADS_1
Tak lama dari itu Almira datang bersama staff-nya membawakan beberapa sarapan untuk di santap, dia masuk ke dalam kamar inapnya dan meletakkan semua bawaannya di atas meja jauh dari gaun-gaunnya.
"Makan dulu semuanya, kerjanya lanjut nanti aja,"seru Almira.
"Baik kak Ra ..."sahut semuanya serempak.
Kebetulan Manda pun telah selesai mencoba gaunnya dan dia sudah melepaskan gaun berwarna merah muda dengan perpaduan binar-binar mutiara berwarna putih. Lalu dia mendekat pada Almira yang sudah duduk di sofa dan menyantap sarapannya bersama-sama dengan staff-nya.
"Ra ..."seru Manda.
"Apa? Udah selesai lu nyoba gaunnya,"jawab Almira seraya menyantap bubur ayamnya lengkap dengan sate telur puyuh dan juga sate ati-ampelanya.
"Tadi si cewek menyebalkan itu datang ke sini,"pungkas Manda seraya dia mendudukkan tubuhnya di samping Almira yang memang kosong tidak ada yang duduk di sana.
Karena sebagian dari staff-nya memilih untuk makan di lantai di banding duduk di sofa dengan Almira, karena mereka merasa segan jika harus duduk bersamaan dengan bos-nya, padahal Almira sendiri tidak pernah mempermasalahkan kedudukannya dengan orang lain.
"Iya kak Ra, dia bilang kenapa gaunnya gak sampe ke kamarnya,"timpal Sara setelah dia menelan bubur ayam yang masih hangat itu.
"Hah?! Ngelindur apa pikun tuh manusia, kan dia sendiri yang minta untuk putus hubungan kerja, ngaco banget sih,"ucap Almira yang beralih dengan meneguk segelas air putih dalam kemasan botol.
"Nah itu masalahnya, itu cewek kan emang agak-agak gila, apa udah gila ya,"seru Manda dengan yakin.
"Hush! Gak boleh ngomong bener, nanti elu kena imbasnya."
"B*ngk*! Sama aja dodol."Manda mendorong pundak Almira dengan pelan.
Entah mengapa Almira merasa memiliki firasat buruk tentang gaun-gaun yang sudah dengan susah payah dia kerjakan semalam suntuk bersama pegawainya. Dia takut ada yang ingin berbuat jahat atas kerja kerasnya.
Jauh dari keberadaan kamar inap Almira, Elshara berdiri di sudut yang tak terlihat oleh siapapun, tepatnya di balik dinding bangunan kamar inap yang terisi oleh seseorang yang tidak di kenalinya, dia menajamkan sorot matanya seperti siap menyambar kamar Almira dengan bara api yang membara.
"Sialan! Kenapa mereka gak pergi-pergi,"cibir Elshara seraya dia menggenggam sebuah gunting besar berwarna hitam, dia cengkeram gunting itu dengan sekeras mungkin.
Tiba-tiba ada seseorang yang merampas gunting itu dari tangan Elshara, seketika gadis bermata pipih itu terlonjak kaget dan segera menoleh untuk mengetahui siapa yang telah berani merampas gunting itu darinya. Mendadak mata pipih itu melebar, pupilnya mengembang tak percaya jika dia adalah Royyan. Sejak kapan pria berbadan tinggi itu berada di belakangnya, atau bahkan dia telah mengikuti Elshara dari sejak dia membawa gunting itu dari dalam kamar inapnya yang sepi.
Batinnya terus menerka-nerka kemungkinan yang ada, dia tak bisa mengatakan apapun selain hanya berdiam dan mengatupkan bibirnya, seperti ada lem yang menempel di sana. Perlahan dia terhenyak ke belakang dengan debur jantung yang menderai dengan hebatnya.
"Gunting tidak ada hubungannya dengan pekerjaan seorang model, kecuali elu mau berbuat hina pada orang lain,"tegas Royyan, pikirnya mungkin Elshara akan menghancurkan rancangan-rancangan istrinya.
"H-h-hah! ... e-e-elu ngomong apaan sih, gak jelas banget,"tepis Elshara, bola matanya beputar tak menentu.
Gaungan ketakutan mulai terdengar jelas di telinga Royyan, lantas dia genggam gunting itu dengan sekuat tenaganya, urat-urat tangannya sampai menonjol keluar memperlihatkan betapa kuatnya lengan kekar penuh otot itu, sehingga Elshara menelan ludahnya dengan kasar, dia ketakutan melihat Royyan dengan raut wajah tajam yang menusuk dan membuatnya menggelugut.
"Kalau gitu, gunting ini tidak apa kan kalau sampai patah?"tanya Royyan serius seraya dia terus mencengkeram gunting itu.
"Hah?!"seru Elshara masih ketakutan.
__ADS_1
Dan gunting itu akhirnya patah berkeping-keping di tangan Royyan, serpihannya berserakan di bawah, membuat Elshara terbelangah dan dia segera menutupi mulutnya yang membuka dengan kedua tangannya, tatapan getirnya tidak lepas dari sejak kedatangan Royyan.
"Gu-gunting itu masih baru, k-kok bisa lu patahin."Elshara nampak bingung, bagaimana bisa Royyan mematahkan gunting yang sengaja dia beli tadi sebelum dia menyambangi kamar inap Almira.
"Itu gak penting, mending siap-siap, jangan buang-buang waktu,"tegas Royyan yang kemudian dia berayun ke depan menuju kamar inapnya.
Hah?! Sial! Kenapa Royyan bisa tahu kalau gue mau ngancurin rancangan Ra, walau dia sepupunya Royyan, tetep aja dia nyebelin. Bisa-bisanya dia berikan gaun gue pada model lain, f*ck!
Batin Elshara mencibir seraya dia kepalkan kedua tangannya dengan kokoh.
Beruntunglah Almira menyadari hal itu, sehingga rencana rendahan Elshara tidak sampai padanya, dan terlebih Royyan datang tepat waktu dan menggagalkan rencana temannya itu. Dia sendiri tak habis pikir dengan jalan pikirannya Elshara, fokusnya menjadi terbagi ke beberapa cabang terlebih fokusnya pada Almira yang tidak bisa dia lepaskan.
Malam menjelang, sebelum ke lokasi di laksanakannya pesta malam terakhir itu Royyan menyempatkan diri untuk melimbai masuk ke dalam kamar Almira yang masih menggunakan gaunnya, sebelumnya dia tidak berniat untuk ikut serta dalam acara pesta itu karena menurutnya dia hanyalah seorang staff penyedia busana, dan dia tak perlu ikut serta dalam pesta, tetapi pihak penyelenggara memaksanya untuk ikut serta dalam pesta.
"Udah beres?"tanya Royyan setibanya dia di dalam kamar Almira.
Sontak Almira terkejut mendengar suara berat pria itu masuk ke dalam kamarnya tanpa izin, untungnya dia sudah menyelesaikan mengenakan gaunnya dan dia sekarang sedang merias wajahnya sendiri dengan lihainya, tetapi dia menghentikan jari-jarinya yang menari-nari di atas paras cantiknya dan dia menoleh dengan cepat.
"Kak Royyan! Kebiasaan ya kamu gak ngetuk pintu dulu, lagian ngapain ke sini sih, bukannya langsung ke acara aja,"pekik Almira melenggang mendekati Royyan dengan wajah yang sudah dia rias, tetapi bibirnya masih pucat.
"Deket juga gedungnya, hape kamu mana?"jawab Royyan seraya dia mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Buat apaan sih, hape aku di sana di atas nakas,"tunjuk Almira pada nakas di samping kanan ranjangnya.
Pria berambut mullet yang sudah dia rapikan itu bergegas mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, dia mulai memainkan ponsel Almira, dia memasang gps agar dia mudah untuk melacak istrinya kemanapun dia melangkah. Jiwanya benar-benar tidak tenang, sebelum dia dan Dirta benar-benar telah saling memaafkan dan melapangkan dada mereka untuk melepaskan satu sama lain.
"Aku masang gps biar kamu bisa aku lacak,"pungkasnya meletakkan ponsel Almira di atas nakas itu.
"Buat apa? Emangnya aku bakalan kabur gitu,"sanggah Almira mengernyitkan wajahnya.
"Bukan dong sayang ... udah sini selesaikan riasan wajah kamu, aku bantu."Royyan mendekat dan menarik sang istri untuk duduk di kursi depan kaca yang di depannya alat-alat rias Almira yang berserakan.
"Emangnya bisa?"tanya Almira meremehkan.
Bibir kecil itu dengan cepat menyungging, senyuman tipis dengan tatapan nakalnya merebak ke seluruh bagian wajahnya, dia ambil dua pewarna bibir yang berbeda dan satu lagi dia mengambil lipglos untuk membuat bibir menjadi cantik dan segar. Entah belajar dari mana pria gagah itu sampai tahu tentang pewarna bibir.
Setelah semuanya sudah ada dalam genggamannya, Royyan duduk di pesisir ranjang seraya menarik kursi yang tengah di duduki oleh Almira ke dekatnya dengan satu kaki terjulur ke depan melebihi posisi kursi itu berada, sehingga kursi itu menempel dengan ranjang, sedangkan kakinya yang lain dia tumpangkan di kaki kursi tersebut.
"Kata orang, seorang pria sejati kalau bisa merias wanitanya itu berarti cintanya sangat besar,"tuturnya seraya mengapit dagu Almira dan dia dongakkan wajah istrinya, lalu dia mulai mengoleskan pewarna bibir itu ke bibir sang istri.
"Jadi ..."ucap Almira, membuat Royyan menghentikan aktifitasnya.
"Jadi sekarang kamu diem, kalau kamu ngomong aku gak bisa menyelesaikannya,"jawabnya mematri tatapan Almira dengan dalam.
Bibir kecil Almira menyeringai, bola matanya pun ikut memercikkan sebuah cahaya yang dia sebut dengan api asmara, sebelum ini cahaya itu hanya bisa mengendap di dalam lumbung batinnya, tetapi kini ia memberanikan diri untuk menunjukkannya secara langsung pada si pemilik cinta.
__ADS_1
NEXT ....