Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 110 : Malam panas dua


__ADS_3

Wanita berambut coklat keemasan itu beralih menyeka bagian dada dan perut Royyan, bahkan sampai ke kaki panjang sang suami, setelahnya kembali lagi terduduk di samping sang suami yang masih saja membentangkan kedua tangannya yang panjang itu. Seraya menyugar rambutnya ke belakang, gadis itu kembali menyeka wajah Royyan dan membuat pria kekar itu menyeringai kan kedua bola matanya.


"Kak Royyan minum dulu,"lirih Almira dengan wajah yang tertunduk seraya menggenggam wadah kaca itu.


Royyan masih berusaha untuk sadar dengan memejamkan matanya berulang kali, lelaki itu dengan sigap mengambil alih air yang sudah mendingin itu sambil dia terbangun dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi terduduk di pesisir ranjang.


Dengan lemah dia terjunkan dengan lembut wadah itu menyentuh keramik putih, sedangkan tangannya yang lain telah menggenggam tangan sang istri membuat Almira mengerjap dan menoleh secara lembut pada Royyan.


Selesai dengan wadah itu, Royyan menggeser tubuhnya ke dekat Almira dan melingkarkan tangannya yang lain di pinggang kecil sang istri, perlahan wajahnya mendekat dengan sang istri masih dalam keadaan setengah sadar.


"Euuum ... Aroma ini yang aku inginkan, walau aku tidak sadar, tapi aku sangat menginginkan aroma ini,"ceracau Royyan, jari-jari panjangnya menjalari punggung istrinya dan menekannya hingga hidung lancip keduanya saling menempel.


"Maksudnya?"tanya Almira tegang dengan satu tangan mendorong dada sang suami.


"Ka--mu ..."celetuknya kemudian, nada suaranya benar-benar rendah, perlahan dia turunkan wajahnya menjalankan hidungnya di pipi kanan Almira, beralih ke bibir sang istri dan di sana satu kecupan singkat terjatuh.


Almira mengerjap, dadanya bergemuruh berhamburan dengan kekuatan yang lebih besar sehingga seluruh raganya terasa lemas. "Apa sih kak, gak jelas."Almira berpaling dari lelaki itu, dia berputar dan mengambil segelas air putih dan menjulurkan ke mulut Royyan.


"Nih cepet minum,"ucapnya seraya memasukkan air mineral itu masuk ke dalam mulut Royyan, pria bermata kecil itu dengan sigap menelannya dengan pasrah.


Lagi-lagi kedua tangannya terjuntai dengan lemah, tatapan lemahnya terjatuh bersamaan dengan wajahnya yang kembali tak berdaya, punggungnya ikut melemah.


"Ah-kuu sangh-aat men-chin-ta-i-mu,"lirih Royyan meracau, membuat Almira menatapinya dengan bingung.


Gadis itu menjauh dari suaminya dan segera meraih ponselnya yang berada di atas nakas, dia mencari kontak sahabatnya dan segera melakukan panggilan telepon. Tak lama dari panggilan itu masuk, Manda segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo, ngapain lu nelepon gue tengah malam begini, udah mau jam setengah dua ini,"kata Manda dari seberang telepon.


"Gue mau nanya dong, penting. Serius juga,"sahut Almira, nada suara paniknya terdengar menggebu-gebu di telinga Manda.


"Kenapa lu? Ada masalah? Atau laki lu kagak balik ke apartemen elu?"tanyanya beruntun.


"Ssst! Lu bawel,"tepis Almira berbisik, langkahnya semakin mendekati pintu keluar apartemen tersebut.


"Ya terus apa dodol."


"Lu tahu caranya menghilangkan rasa mabuk gak?"celetuknya membuat Manda kebingungan.


"Hah?! Siapa yang mabuk?"Manda bukannya menjawab dia malah melontarkan pertanyaan lain pada Almira.

__ADS_1


"Suami gue."


"What?! Why? Kenapa bisa suami elu itu mabuk, bukannya dia gak minum alkohol kan."


"Nah itu dia yang gak gue ngerti, tapi keadaan suami gue kacau banget,"ucap Almira panik, dia gigit bibir bawahnya seraya dia melangkah tak karuan kesana-kemari.


"Euuum ... Sebenarnya gua gak terlalu paham ya, tapi gue pernah denger, orang mabuk kasih air putih aja yang banyak biar dia muntah dulu, terus lu kasih air kelapa atau air jahe hangat biar perutnya enakkan,"saran Manda panjang.


Setelah mendengar jawaban itu wajah Almira semakin mengernyit. "Air kelapa? Air jahe?"Almira menggaruk-garuk semakin kebingungan. "Di mana gue nyari yang begituan tengah malam begini, mana di negara orang juga,"pungkas Almira kemudian.


"Nah itu gua gak mau mikir,"sahut Manda dengan entengnya.


"Si ******! Lu ngasih saran gak sampai tuntas, dosa lu."


Suara tawa segera menggema di telinga Almira. Di detik yang sama, terdengar suara langkah kaki dari arah ranjang bergerak ke arah lain, jiwa penasaran Almira seketika menyeruak ke permukaan. Lekas dia tinggalkan ponselnya di atas meja panjang yang diisi dengan berbagai macam pajangan mewah dalam keadaan masih menyala dan tersambung dengan Manda.


Sementara dirinya berayun ke arah suara itu berasal. Perlahan dia menyapa keramik-keramik di bawah dengan pijakannya yang menyuruk, dia pasati punggung suami yang sedang membungkuk lemah di depan wastafel. Lelaki kekar itu nampak payah tengah memuntahkan segala isi perutnya sampai hanya mengeluarkan cairan saja.


Royyan selesai mengeluarkan semua yang membuat tenggorokannya sesak, lantas lelaki itu segera menghela napasnya panjang dan mengangkat wajahnya, lalu terdongak seraya memejamkan matanya dengan kuat.


"Kak ..."panggil Almira lembut, wanita berpakaian piyama serba panjang itu datang menghampiri.


"Kamu kenapa? Sakit perutnya?"tanya Almira lirih, dia meraba otot lengan suaminya dengan lembut.


"Heuum ..."lirih Royyan memejamkan matanya, lalu membukanya lagi dengan cepat sebagai jawaban iya untuk istrinya.


"Sini duduk dulu, aku siapin air hangat."Almira menarik lembut tangan Royyan dan pinggang suaminya untuk duduk di salah satu kursi di area dapur di apartemen tersebut.


Lelaki itu tidak berontak ataupun melakukan hal yang seharusnya di lakukan karena pengaruh obat yang telah di telannya tanpa sengaja, Royyan menyandarkan tubuhnya pada kursi itu dengan punggung yang merunduk.


Tak lama dari itu, Almira datang membawakan segelas air hangat dan dia letakkan di depan Royyan. Almira mendongakkan dagu suaminya dan membawa air hangat itu ke dekat bibir Royyan. "Ini minum lagi,"katanya kemudian.


Dengan cepat air hangat itu meluncur ke tenggorokan Royyan yang kekeringan karena semua isinya telah keluar bersamaan dengan rasa mual yang mengocok perutnya tanpa ampun. Setelah air hangat itu setengahnya berpindah ke perut Royyan, Almira letakkan kembali gelasnya di atas meja.


"Udah kamu istirahat aja, kalau masih pusing aku kasih minyak angin aja ya, aku mau nyari air jahe susah, gak tahu juga ada di mana?"saran Almira saat dia hendak melangkah ke belakang sang suami.


Dalam keadaan masih lemas, Royyan membentangkan salah satu tangannya dan menarik pinggang Almira sehingga istrinya terjatuh ke pangkuannya. Seketika Almira membeliak terkejut, kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap pada Royyan.


Almira melingkarkan kedua tangannya di leher Royyan. "Udah enakkan?"tanyanya lembut, lalu dia gunakan satu tangannya untuk membuai pipi kanan suaminya.

__ADS_1


Royyan mengangguk lemah. Perlahan kedua tangan yang semula terdiam di pinggang ramping Almira segera menjalar ke punggung kecil itu dan menekannya sampai mendekatkan wajah keduanya.


"Kepalaku pusing,"keluhnya pada Almira, tiba-tiba dahinya terjatuh di pundak wanita berambut panjang ikal itu, "padahal cuman minum setengah gelas kecil, dan ..."tambahnya kemudian.


Mendengar penuturan sang suami, sontak bola mata Almira menegang dan dahi yang mengernyit hebat. Segera dia tarik bahu suaminya untuk kembali berdiri dan mendongakkan wajahnya, sorot matanya menajam pada lelaki yang belum mampu mempertahankan netranya untuk tetap terbuka dengan waktu lama.


"Minum? Kamu minum? Kenapa kamu minum, kan kamu gak biasa minum dan kamu bilang benda itu gak boleh di sentuh karena akan membuat manusia sakit, terus kenapa sekarang ma---"celoteh Almira berkepanjangan dengan selipan kemarahan dan kedua tangan yang menggenggam bahu lebar itu ikut mengeras.


Namun, penuturan kemarahan itu tak bisa di selesaikan karena dengan cepat Royyan menutupi mulut istrinya dengan sebuah c*um*n singkat bahkan lelaki itu menekankan bibirnya di atas bibir sang istri, di waktu yang bersamaan keempat mata itu terpejam dalam waktu tiga detik.


"Aku gak minum, cuman aku di paksa,"jelas Royyan seraya menyeka bibir istrinya dengan ibu jarinya secara lembut.


"Di paksa siapa?"kernyit Almira penasaran sambil dia membawa dirinya untuk berdiri.


Dengan gerakkan cepat Royyan tarik pinggang Almira dan membawanya kembali untuk duduk di pangkuannya. Gadis mungil itu kembali terduduk dengan tenang di pangkuan Royyan dan menunggu penjelasan Royyan selanjutnya dengan sabar.


"Dengarkan dulu dong sayang ..."lirih Royyan seraya menyeka rambut mulletnya ke belakang.


Almira mendelik, lalu mengurai helaan napasnya keluar. "Oke, apa?"Almira naikkan dagunya sejenak, lalu dia turunkan dengan cepat.


"Aku minum alkohol itu karena aku tahu, aku bisa menahannya sampai pulang ke rumah, tapi di dalam minuman itu bukan hanya alkohol yang kuat, tetapi ada obat yang membuat aku mudah terangsang, itu mengapa aku gak bisa menahannya dan aku langsung lari ke sini untuk menyelamatkan diri,"terang Royyan panjang lebar.


Wanita bermata kucing itu semakin tak karuan, gerombolan pertanyaan bukannya pergi malah menumpuk di benaknya yang sempit. "Terangsang?"tanya Almira dengan tatapan terlempar ke arah lain dengan bingung bersamaan dengan kedua tangannya yang terjatuh ke bawah.


Satu tangan yang terjatuh tadi segera Royyan raih dan dia genggam dengan erat, dalam detik itu pula dia menaburkan kecupan kecil di punggung tangan Almira, lalu mengapit dagu istrinya untuk mengarahkan lagi padanya. Wajah gadis itu tegang, dahinya mengernyit kuat.


"Alasan apa yang membuat kamu mengambil dan meminum alkohol itu?"tanya Almira serius.


Menyadari raut wajah sang istri terlihat tidak baik dan menarik urat-urat kemarahannya, tangan yang semula menggenggam dengan erat perlahan menjadi kendur dan melemah. "Dia Elshara,"jawab Royyan tanpa menyembunyikan apapun dari istrinya.


"What?! "pekik Almira terkejut hebat kala suaminya menyebutkan nama wanita yang sungguh membuatnya muak.


Lantas Almira menarik tubuhnya dari pangkuan Royyan, dia berdiri di arah lain jauh dari suaminya. Dia berjalan kesana-kemari tanpa tujuan seraya memeluk dirinya sendiri, tatapan lembut yang melekat dalam diri Almira tadi seketika lenyap di telan derai kemarahan Almira yang terus mengalir tanpa henti.


Wanita itu tidak akan ada kapoknya, gue diemin semakin menjadi, jadi dia mau menjebak suami gue untuk masuk ke dalam kehidupannya dengan cara menjijikkan seperti itu.


Tunggu! Lu belum ketemu sosok Ra yang sesungguhnya, mari kita berperang sampai lu mengerti posisi lu siapa di dalam hubungan ini.


Deretan kemarahan Almira bergaung dengan azmat dalam kubangan batinnya yang terbakar. Dahi gadis itu semakin mengerut saja, sampai suaminya sendiri pun enggan untuk menghampirinya. Lelaki itu beralih ke wastafel untuk membasuh wajahnya hingga kuyup, membiarkan rentetan air itu menikam wajahnya dengan lembut sampai dia mulai tersadarkan, menyingkirkan rasa pening di kepalanya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2