Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 60 : Maaf?


__ADS_3

Matahari yang menyorot bumi dengan kegagahannya mendadak mengirim awan-awannya untuk menjadi payung semua orang yang ada di hutan itu, di bagian lain tetap melakukan shooting dengan baik tanpa memedulikan pertikaian panas di area kanannya, tepatnya di area Almira dan para staffnya berada.


"Tolong jauhi gue, gue mohon banget sama elu El, gue mau hidup tenang bersama istri gue, sekarang gue bakalan ngomong kalau gue mencintai istri gue melebihi apapun, selama ini gue nyakitin dia karena gue takut Dirta akan menyakitinya karena masalahnya adalah elu, jadi sekarang gue pribadi minta tolong buat jauhi gue dan hiduplah dengan tenang bersama Dirta, gue mohon El,"tutur Royyan panjang dengan wajah yang memelas.


Ini kali pertama Elshara, Ajun maupun Dirta melihat wajah Royyan setakut ini, sebelumnya pria bertubuh gagah dan kekar itu selalu menampilkan wajah kejam nan dingin dan terkadang tak peduli pada apapun.


"Maksudnya apa? Dirta?"tanya Elshara yang masih belum mengerti dengan perkataan Royyan.


Lantas Elshara menoleh dengan kasar pada Dirta, dia langkahkan kakinya mendekati Dirta yang sekarang tertunduk, rupanya lelaki kasar dan keras itu masih punya rasa takut dan rasa bersalah. Netranya terpejam dengan kuat, dia tak bisa mengelak lagi jika apa yang telah dia lakukan selama ini pada Royyan adalah sebuah tindakan kriminal.


Bagaimanapun dia sudah berusaha beberapa kali untuk melenyapkan Royyan karena dia tidak berhasil menemukan istri Royyan. Dirta masih terbilang beruntung karena Royyan tidak melakukan apapun untuk membalasnya, dia hanya berusaha untuk menyembunyikan Almira dari semua orang.


"Apa yang dikatakan Royyan barusan, apa yang elu lakuin, Dirta jawab!"darah Elshara mendidih sampai meletup-letup, dia terus menggegarkan tubuh Dirta dengan deru napas yang kasar.


"Maaf! Gue salah! Gue cuman mau balas perbuatan siapapun yang udah nyakiti elu El, gue sayang sama elu, gua cinta sama lu, gue neror Royyan dan berusaha melenyapkannya, tapi gue gak berniat melenyapkannya, gue cuman mau memberikan rasa khawatir, udah itu aja, gue gak-"jelas Dirta dengan wajah yang tertunduk dan tak bisa dia selesaikan.


"Cukup! Gue kecewa sama elu Dir, kenapa lu lakuin itu sama sahabat elu sendiri,"tepis Elshara dengan tatapan kesalnya.


"El ... gue cinta banget sama lu, gue lakukan itu semua karena elu."


"Tapi tindakan elu salah Dirta! Royyan tidak melakukan kesalahan apapun, dia hanya mencoba untuk membuat semuanya baik-baik aja gak ada yang lain,"tutur Elshara.


"Maaf ..."lirih Dirta, wajahnya semakin merunduk lemah.


"Minta maaf sama Royyan dan istrinya, karena elu udah mengganggu kenyamanan mereka."


Rasanya malu dan gengsi jika dia harus minta maaf pada Royyan dan istrinya yang tidak dia ketahui siapakah wujud istri dari Royyan, pencariannya selama ini hanya berbuah kelabu, selama itu Dirta tidak bisa menemukan sosok istri dari Royyan.


Upaya Royyan rupanya berhasil dengan baik, rumah pribadinya pun tidak pernah di jumpainya.


Di saat Dirta yang tengah mengumpulkan keberanian untuk mengakui kesalahannya pada Royyan, pria berbadan kekar dengan rambut mulletnya itu segera mengambil ponselnya dari dalam saku jas-nya, dia mengetikkan sesuatu yang dia kirimkan pada Almira yang berada di belakangnya.


[Usir kita semua.]


Saat itu juga ponsel Almira berdering, lekas dia buka ponselnya dan mendapati pesan dari sang suami yang ada di hadapannya, dia berkerut heran. Namun, dia tetap membukanya dan membaca pesan itu.


[Kenapa harus aku?]


[Cepet! Aku capek.]


Mendapat balasan seperti itu kerutan di wajahnya semakin dalam, kesal hatinya semakin meningkat dengan teguh. Gertakkan giginya terdengar ngilu di telinganya, lalu dia hembuskan napasnya kasar sehingga terdengar oleh Royyan, dan pria itu menyeringai. Lagi-lagi dia puas telah berhasil membuat sang istri kesal.


"Udah selesai kan? Mending kalian cabut dari sini, urus aja urusan kalian, gue gak mau tahu,"tegas Almira dengan tangan terlipat di depan.


Semua yang ada di sana menoleh pada Almira serempak, terutama Dirta dan Elshara.


"Kita mau selesaikan ini ya nona Ra,"pinta Elshara memelas.


"Bodo amat! Gue gak ikut campur sama urusan kalian, udah sana cabut! Pergi ...."bentak Almira dengan sorot mata tajamnya yang membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.


Satu persatu beranjak dari sana meninggalkan area Almira dan staff-nya menjadi hening seperti tadi, termasuk Royyan yang juga mulai melangkah pergi dari hadapan Almira, tetapi sebelum melangkah dia menyelukkan tangannya mengambil sebuah coklat berbentuk kotak dengan kemasan berwarna ungu yang dia julurkan ke belakang tubuhnya seraya dia melangkah dengan pelan.

__ADS_1


Lekas Almira menyambar coklat itu dan dia sembunyikan di balik tubuhnya, dia genggam dengan erat bersamaan dengan senyumannya yang menaik dengan ceria. Wajahnya yang berkerut tadi perlahan berkembang bak setangkai bunga mawar yang mendapatkan tetesan embun di pagi hari yang menyegarkannya.


Manda yang tak jauh dari keberadaan Almira segera mendekat dan menjulurkan wajahnya ke depat telinga sang sahabat yang nampaknya tengah berseri-seri, punggung Almira yang sedari tadi dia tatap sudah menjelaskan betapa bahagianya wanita itu.


"Ciee ... di kasih coklat sama su ...."bisik Manda meledek Almira, dia sengaja tidak menyelesaikan perkataannya agar tak ada yang mengetahui status Almira di hidup Royyan itu siapa.


Walau dia berbisik sangat pelan, tidak menutup kemungkinan jika ada yang mendengarnya dan penyamaran Almira dan Royyan akan terbongkar dengan cepat.


Almira yang mendengar hal itu tersipu malu, dia dorong sikutnya ke belakang mendorong Manda untuk segera menjauh darinya, lalu dia berputar menghadap Manda.


"Sssstt ...."desis Almira meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di atas bibir.


Wanita berambut coklat keemasan itu melimbai ke dekat Sara yang tidak goyah dengan pertengkaran tadi karena Almira memintanya untuk fokus pada kerjaannya, karena jika tidak begitu maka pekerjaan ini tidak akan pernah selesai. Almira sudah bosan dengan pekerjaan ini, dia sudah sangat ingin menyelesaikannya dan segera menikmati liburannya.


Ya! Memang Almira berniat untuk berlibur beberapa hari setelah pekerjaannya selesai dengan acara ini bersama para staff dan juga Manda, dan sebetulnya dia belum sempat memberitahu pada Royyan tentang rencana liburannya karena sebelumnya dia pikir Royyan tidak akan peduli apapun yang dia lakukan.


Namun, berbeda dengan kali ini. Almira pikir dia harus memberitahu rencana liburannya ini. Sehingga malamnya setelah pagi, siang dan sore dia lewati dengan berbagai macam pekerjaan, Almira kembali ke dalam kamarnya dalam keadaan yang payah.


Tubuhnya telah kehilangan banyak energi, lantas dia kayuh kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam dengan sabun beraroma mawar kesukaannya.


Tidak memerlukan waktu yang banyak seperti biasanya, Almira segera keluar dari kamar mandi setelah mengenakan piyamanya berwarna biru pudar dengan lengan panjang dan juga celana panjang. Di sana Almira benar-benar menutupi tubuhnya dengan sempurna tidak seperti di rumah, dia kerap mengenakan piyama serba pendek untuk membuatnya nyaman saat tertidur.


Lantas dia melempar tubuhnya ke atas ranjang seraya dia menggenggam ponselnya, dia hendak mengirimkan suaminya sebuah pesan, untuk memberitahu perihal liburannya bersama staff dan sahabatnya, Manda.


Belum selesai Almira mengetikkan semua apa yang ada di dalam pikirannya, Royyan terlihat sudah masuk ke dalam kamar wanita mungil dengan bola mata kecoklatan itu dengan tenang, bahkan pria itu sembari melepaskan jas dan juga dasinya, lalu dia lempar dengan sembarangan ke sofa yang ada di dalam kamar itu.


"Heh! heh ... heh ... main masuk kamar orang aja, makin berani ya kamu,"protes Almira yang segera melempar ponselnya dan duduk bersila di atas ranjang.


Tanpa menunggu apapun lagi, Almira seret langkahnya mengekori sang suami yang sudah karam ke dalam kamar mandi, dan saat itu juga wanita bermata kucing itu mendengar gemercik air berjatuhan dengan derasnya.


"Beneran lagi numpang mandi, ada-ada aja sih tuh manusia, anak siapa sih,"celoteh Almira seraya dia berkacak pinggang.


Selang beberapa puluh menit dari air berjatuhan, Royyan keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian piyamanya, rupanya totebag berwarna hitam yang dia bawa masuk ke dalam kamar mandi adalah piyamanya dan beberapa perlengkapannya.


"Gak ada air di kamar kamu, sampai numpang di kamar orang lain, di kamar cewek lagi,"papar Almira sengaja menggoda sang suami, sedangkan dia sendiri sibuk dengan ponselnya.


Dia keasyikan berselancar di sosial media miliknya, jari-jarinya dengan lihai menggeser layar ponselnya mencari sesuatu yang membuatnya menarik dan bertahan dalam posisi duduk seraya bersandar ke bantal yang menempel dengan punggungnya.


Seperti biasanya Royyan tidak menjawab, dia malah mendekat dan menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang dan langsung memeluk sang istri, pria itu menyandarkan kepalanya di perut sang istri dengan kedua tangan yang melingkari Almira dengan erat. Dan kali ini Almira tidak lagi terkejut dengan perlakuan Royyan padanya, dia bergeming dan tetap fokus dengan ponselnya.


"Tadi Dirta gak melakukan apapun kan sama kamu?"tanyanya kemudian dengan mata yang terpejam.


"Enggak dong, kamu gak tahu ya istri kamu ini pernah menghajar beberapa pria, dan Dirta bukan masalah, tenang aja ...."jawab Almira, kali ini dia mengabaikan ponselnya, dia letakkan ponselnya di atas nakas di dekatnya.


Dengkusan senyum berhembus lembut masuk ke dalam pori-pori tangan Almira yang tengah di genggam oleh Royyan, perlahan bola mata yang terpejam itu membuka dan menaikkan kepalanya ke dada Almira dan dia melanjutkan tidurnya di sana dengan satu tangan yang masih memeluk sang istri.


"Baguslah. Karena kalau dia nyentuh kamu atau nyakiti kamu, dia akan aku kubur hidup-hidup,"lirih Royyan.


"Hah! Kriminal dong namanya,"sahut Almira berkerut, kemudian satu tangannya dia letakkan di bahu Royyan dan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk membelai rambut Royyan.


"Itu hanya kiasan aja sayang ...."

__ADS_1


Degh!


Sayang? Rasanya terdengar agak mengganjal mendengar kata itu dari mulut Royyan, Almira belum terbiasa dengan sebutan itu. Entah mengapa jantungnya berdebar sangat cepat begitu saja, dan wajahnya memerah seperti udang rebus dengan hawa panas yang menyeruak ke seluruh raga wanita yang tengah memeluk seorang pria pemilik kaki panjang itu.


"Jangan manggil sayang ah, rasanya aneh tahu,"protes Almira tersipu malu.


Sontak Royyan tertawa lembut, kemudian dia terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk, tanpa segan dia menggenggam kedua tangan Almira dengan erat, sedangkan tangannya yang lain mengapit dagu Almira dan mendongakkan wajah istrinya untuk tertadah pada sorot matanya.


"Kenapa? Kamu mau aku panggil istriku?"goda Royyan menaikkan kedua alisnya ke atas lalu dia turunkan lagi seraya sudut bibirnya menyungging.


Degh! Degh! Degh! ....


Ada sebuah debaran yang membara di balik dada Almira ia tak berhenti untuk terus berdetak dengan sangat cepat tanpa merasa lelah walau napas Almira sering tersekat dan terbatasi karenanya, lambat laun tubuh Almira bergetar lemas, perkataan Royyan benar-benar menggoyahkan pertahanan Almira untuk tetap teguh.


"Heh! Enggak, jangan ..."tepis Almira menurunkan tangan Royyan dari dagunya, "manggil biasa aja kan bisa, kenapa harus ganti nama panggilan."


"Hmm gitu, tapi aku tetep mau manggil sayang ..."Royyan masih saja menggoda istrinya sampai wajah sang istri benar-benar merah.


Lalu pria berbadan kekar itu terhenyak ke bantal di samping Almira dan menidurkan dirinya di sana seraya melipat kedua tangannya di depan dengan mata yang terpejam dan sudut bibir yang naik.


"Iih kok gitu sih."Almira merengut gemas.


Namun, tak lama dari itu Almira menjatuhkan tubuhnya tertidur di atas dada Royyan, seketika kedua tangan yang terlipat itu segera meleleh dan beranjak untuk mendekap sang istri dengan kehangatan yang tiba-tiba saja menguap keluar dari lautan cintanya.


"Tadi itu aku mau ngirim pesan sama kamu, mau ngomong sesuatu,"tutur Almira seraya mengelus-elus dada bidang Royyan.


"Kenapa gak temui aku dan ngomong langsung."


"Mana bisa aku begitu, kita kan masih bersembunyi, kalau ketahuan sama semua orang kan berabe."


"Oke. Mau ngomong apa?"sahutnya dengan dekapan yang semakin erat seraya dia memiringkan tubuhnya.


Terpaksa Almira mengubah posisinya menjadi tertidur di lengan kekar sang suami dan dia mendekap tubuh Royyan, begitupun dengan Royyan yang melakukan hal sama dengan Almira. Kedua tangannya dengan lihai melingkari pinggang sang istri dan perlahan satu tangannya menjalar ke punggung Almira dan menekannya untuk melekatkan dekapannya semakin erat.


"Habis acara ini selesai, aku gak langsung pulang ya ..."


"Kenapa? Ada yang mau kamu kerjakan di sini?"


"Bukan kerjaan sih, aku cuman mau liburan aja satu minggu sama staff aku dan Manda juga,"terang Almira dengan suara yang perlahan memudar.


"Mau aku siapkan mobil sama sopirnya untuk keperluan kamu disini?"tanya Royyan yang segera membuka matanya dan turun ke bawah menatapi sang istri dengan dalam.


Wajah yang nampak kelelahan itu ternyata sudah meredup bersamaan dengan pejaman mata yang semakin lekat dengan alam bawah sadarnya. Wajah cantik itu kembali menarik sudut bibir Royyan naik ke atas dengan tipis, tak lama dari itu Royyan membelai wajah Almira dengan lembut.


"Hmm ... bo-leh,"lirih Almira yang sepertinya sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


"Oke, maaf jika aku gak bisa menemani kamu nanti ya ... sayang,"bisik Royyan di telinga Almira, kemudian dia kecup pelipis sang istri dengan lembut.


Dingin memeluk sepasang suami istri yang tengah memandu cintanya dengan hangat, bukan hanya hangat, tetapi rasanya sangat membara sampai keduanya tak merasakan dinginnya angin yang bergerak dari laut ke dalam kamar-kamar di resort tersebut.


Keduanya terlelap dalam posisi saling mendekap, mereka berderai dalam balutan cinta yang perlahan semakin jelas, dan Royyan lebih tegas lagi dengan perasaannya begitupun dengan Almira yang sudah tidak malu atau bahkan segan lagi untuk menunjukkan rasa kasih, sayang dan cintanya secara gamblang tertumpah pada Royyan.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2