
Paras cantik gadis itu masih dipenuhi prahara kemarahannya pada Elshara, tangannya terlipat dengan kokoh di depan bersamaan dengan sorot matanya yang meruncing, menikam setiap benda yang ada di hadapannya.
Saat itu juga Royyan dalam keadaan masih belum sepenuhnya sadar melangkah untuk mendekati sang istri dan menghamburkan dirinya ke punggung Almira dan mendekap gadis yang menegangkan bahunya itu, kedua tangan kekarnya melekat di tubuh istrinya.
"A-pa yang kamu pikirkan sayang ... Aku sempat di bawa ke hotel sama dia, tapi ...."tuturnya lagi membuat Almira kembali membuntang dan melepaskan dekapan Royyan padanya.
Tubuh kekar yang sempat mencondong ke depan itu gegas berdiri dengan tegak dan tatapannya yang sayup-sayup padam, sedangkan Almira menajamkan sorot matanya menusuk pada binaran mentari dari bola mata kecil yang selalu menariknya ke dalam cinta yang tak pernah dia kendalikan.
"Terus, apalagi yang kamu lakukan dengannya?"rajuk Almira, sayup matanya yang selalu lembut itu seketika lenyap di telan bara api kemarahan.
"Tidak ada,"lirih Royyan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Yakin?"tanya Almira tak percaya. Dia menyipitkan matanya bahkan dia mengerutkan dahinya.
"Euum ..."Royyan bergumam seraya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Bagus deh,"seru Almira kemudian melempar tatapannya ke arah lain seraya menghamburkan helaan napasnya keluar secara kasar, dan tangan yang terlipat semakin mengerat.
Royyan kembali mendekat, satu tangannya menekan punggung kecil gadis itu dan satu tangannya yang lain mengapit dagu istrinya untuk mengarahkan lagi padanya. "Aku tidak melakukan apapun dengannya, kamu tahu kenapa aku bisa menahan semua hasrat yang sudah membakar jiwaku, sehingga aku sendiri pun kewalahan?"ucap Royyan dengan nada suara yang rendah.
"Apa?"sahut Almira menaikkan sedikit ke atas dagunya itu, perlahan tangan Royyan terlepas dari sana.
Tangan itu beralih menepuk hidung Almira dengan telunjuknya. "Kamu,"celetuknya singkat tanpa menjelaskan apapun.
"Maksudnya?"Benak gadis itu bertanya-tanya, "kok bisa aku sih?"Pertanyaan itu masih berlanjut.
Mendadak kedua bola mata kecil itu meredup, perlahan melangkah maju mendekati leher Almira, dan seketika gadis itu mematung seraya mengatupkan bibirnya dan matanya terpejam, sedangkan kedua tangannya menggantung di pinggang penuh otot milik sang suami, dengan cepat aura panas menyebar ke seluruh tubuh keduanya.
"Aroma ini, aroma mawar yang bercampur dengan aroma hangat nan manis yang tak bisa di artikan, aku sangat mengenalinya, hasrat ku segera turun kala aroma ini menghilang, jiwaku tersiksa jika aku tidak segera menghirup aroma ini,"terang Royyan membuat Almira bergidik, bulu kuduknya seketika menjadi naik.
"Kamu suka sama aroma sabun aku?"tanyanya polos, walau sebenarnya dia tahu apa yang di maksud oleh suaminya ini, "kan kamu juga pake sabun yang sama,"tambahnya begitu saja, di detik kemudian senyuman tipis mengembang di wajahnya.
Mendengar hal itu, Royyan mendengkuskan senyuman tipisnya, lekas dia tarik tubuhnya dari dekapan sang istri. Wajahnya tertunduk dan kedua tangannya menggantung di pinggangnya yang perlahan salah satunya naik dan menyugar rambut mulletnya ke belakang bersamaan dengan wajahnya tertadah ke atas mengurai helaan napasnya terlepas keluar, lantas kembali menatapi sang istri dengan dalam.
"Sayaaang ... Aku masih dalam pengaruh obat perangsang dan alkohol, kamu mau jadi pelampiasan hasrat ku?"tanyanya menggoda Almira, kedua alisnya naik dengan nakal ke atas.
__ADS_1
Almira terenyak. Deru jantungnya berhamburan dengan dahsyat, dia seka bibirnya dengan lidah yang terjulur keluar, lalu dia segera masukkan lagi lidahnya. Dia melakukan hal itu hanya untuk membasahi bibirnya yang kekeringan, lalu dia gigit bibir bawahnya.
"Itu niat kamu kan?! Kamu lari darinya dan datang padaku,"seru Almira dengan detak jantung yang berdebar tak karuan.
Senyuman miring menyembul ke permukaan paras tampan Royyan. "Kamu siap?"pungkasnya dengan sorot matanya yang tajam.
Degh!
Dia telan ludahnya dengan kasar, bibirnya kembali kering dan dia gigit lagi bibir bawahnya. "Enggak,"sahutnya menggelengkan kepalanya.
Kemudian dia putar tubuhnya untuk menghindari suaminya, dia menjatuhkan tatapannya pada keramik-keramik di bawah sembari menepuk jidatnya dengan satu tangannya yang mungil.
Bodoh! Kenapa lu ngomong begitu sih Ra, kalau kak Royyan bener-bener minta jatah sekarang, emangnya lu siap, bodoh! Bodoh banget lu Almira!
Batin Almira menggerutu seraya menepuk jidatnya berulang kali dan melangkah dengan lamban.
Dia tidak menyadari jika sang suami terus mengekorinya sambil merangkai senyuman tipisnya dan menggendong kedua tangannya di belakang. Berulangkali kedua alisnya naik ke atas, tatapannya tenggelam pada punggung kecil yang selalu menariknya pada cinta yang lebih dalam lagi.
Entah sejak kapan cinta itu tenggelam pada kedalaman yang lebih dalam dari sebuah dasar kisah, Royyan tidak pernah menyadari jika cintanya melangkah lebih cepat dari apa yang dia bayangkan. Rasanya sangat mendebarkan dan juga membahagiakan, bahagianya tak pernah mampu dia gambarkan.
Royyan menjerat tubuh Almira, menarik wanita berambut ikal di bagian ujungnya itu masuk ke dalam dekapannya lagi, setibanya mereka di dekat ranjang. Tanpa segan Royyan menaikkan tubuh Almira ke atas kedua lengan kekarnya, sehingga gadis itu terkejut hebat.
Bola matanya membulat sambil berpegangan pada leher suaminya. "Kak Royyan mau ngapain sih, aku bisa jalan sendiri ..."protes Almira dengan bola mata yang masih membulat.
"Biar kamu gak capek,"jawab Royyan singkat.
"Hah?!"bibir kanannya menaik, "capek karena apa? Kan aku gak ngapa-ngapain,"tambahnya masih kebingungan dengan penuturan Royyan barusan.
"Sekarang kan mau ngapa-ngapain,"celetuknya kemudian.
"What?! Mau ngapain?"Benak Almira terus mengumpulkan deretan pertanyaan yang menumpuk.
Satu detik kemudian Royyan menjatuhkan tubuh Almira ke atas ranjang dengan lembut, bersamaan dengan dirinya yang terbaring di samping istrinya.
Seraya membuai wajah Almira dengan lembut dan hasrat yang membakar dirinya, Royyan dekap istrinya dengan jeratan yang lebih kuat, satu tangannya menekan punggung kecil Almira dan satu tangannya yang lain berjalan di antara manik-manik piyama istrinya, sedangkan gadis itu terhipnotis oleh tatapan Royyan sehingga dia terdiam dan hanya memasati wajah Royyan dengan dalam.
__ADS_1
"Malam ini mari kita bakar hingga panas tak terkendali,"ucap Royyan yang kemudian menjatuhkan kecupan kecil di atas bibir Almira sampai istrinya mengerjap sejenak.
"Apa aku bisa menolak?"
"Tidak sayang ..."jawab Royyan mengerutkan hidungnya seraya menggesekkan hidungnya dengan hidung sang istri.
Dengan lamban dan penuh kelembutan lelaki itu membuka manik-manik dan melepaskan dari lubang kancing piyama Almira. Dan perlahan menarik piyama itu menjauh dari tubuh istrinya. "Sejak awal aku bertemu denganmu, kamu memang cantik,"lirih Royyan menenggelamkan wajahnya di antara ribuan helai rambut coklat keemasan itu.
"Kalau aku tidak cantik, berarti kamu gak akan memilihku,"cetus Almira ngasal, menggantungkan kedua tangannya di bahu lebar sang suami.
"Jika takdir tuhan sudah tertuju padamu, maka aku tidak bisa mengelak bukan?"sahut Royyan menjatuhkan kecupan kecil di leher Almira.
Bersama waktu yang berselimutkan kabut malam yang dingin, dan desir angin yang melekap malam hingga lekat, kepekatan malam menyelimuti dua insan yang sedang memadu kasih itu semakin bergairah. Gejolak jiwa yang menggebu-gebu membakar gairah keduanya pada malam yang bertemankan para bintang dan awan kumulus yang berkumpul pada bahteranya di lengkungan langit.
Royyan yang di dekap oleh obat perangsang itu semakin ganas dalam permainannya, c*um*annya semakin melekat pada bibir sang istri seiringan dengan tubuhnya yang menyatu, mempersatukan gairah keduanya pada lokap kebahagiaan. Gadis yang terkapar di bawahnya terus mengerang, menikmati apa yang suaminya berikan padanya, dia tak bisa mengelak dari jeratan Royyan.
Lelaki itu menunjukkan betapa gagah dirinya dalam segala hal. Perlahan permainannya di atas bibir mungil itu terhenti, lantas dia beralih pada telinga dan juga leher mulus Almira, menyerap aroma yang menjadikannya semakin menggila. Dalam dekapan dingin, tubuh keduanya memancarkan kehangatan yang membara, peluh berderai di pelipis kedua insan yang tengah bercinta itu.
Malam berlalu begitu saja. Mereka habiskan dengan saling memandu kasihnya tertidur pada kubangan atma yang bergejolak, baik Royyan maupun Almira, keduanya menikmati malam itu dengan khidmat. Tak ada penyesalan dari keduanya, rasanya memang terlalu ganas dari biasanya karena Royyan dalam keadaan setengah sadar, tetapi Almira sungguh bahagia bisa menerima hal itu.
...***...
Pagi menjelang dengan cepat, malam terasa lebih cepat pergi karena kenikmatan yang mereka rasakan. Perlahan sinar matahari masuk ke dalam celah-celah jendela bersamaan dengan desir angin yang berjalan dengan lembut masuk ke dalam kamar apartemen dan baju-baju yang kedua insan itu pakai berserakan di bawah.
Sedangkan Almira dan Royyan masih terlelap dalam keadaan saling mendekap. Sepertinya mereka kelelahan dengan permainan semalam. Cuitan burung-burung pengejar fajar di luar telah mengalunkan suara indahnya membangunkan para manusia yang masih terlelap walau matahari sudah bertengger di langit bersama para awannya.
Beberapa menit berlalu sepasang suami-istri itu mulai bergerak dari posisi awalnya tadi, Almira menggerakkan bola matanya, perlahan gadis itu membuka matanya dan menggeliat bahkan dia mengeratkan otot-otot tubuhnya sesaat dia membentangkan kedua tangannya.
Sembari menguap, Almira tarik tubuhnya yang hanya memakai sehelai handuk kimono untuk terduduk di samping Royyan yang masih terlelap. Bahkan lelaki itu tak ada tanda-tanda akan terbangun, satu tangannya yang menjadi bantal tambahan mengeratkan otot-otot lengannya dan menekankan lehernya semakin dalam.
"Nih manusia, dia yang ngelakuin dia juga yang kewalahan, aneh,"cibir Almira, yang kemudian melempar tatapannya ke arah lain.
Wanita berambut kusut itu turun dari ranjang dan melangkah ke depan, tepatnya keluar dari kamar menuju balkon berpagar putih, dia tadahkan tatapannya ke atas, membiarkan sinar mentari pagi menyorotinya dengan hangat, perlahan senyumannya merekah.
Royyan menggeliat di atas ranjang, merentangkan kedua tangannya dan meraba ranjang di sampingnya kosong, dia tidak merasakan ada sosok Almira di sana, lekas dia seringaikan netranya. Dalam satu gerakkan Royyan bawa dirinya untuk berdiri, sebelum melangkah dia meraih celananya terlebih dulu dan gegas memakainya, lalu dia tarik handuk kimono yang membalutnya dari sejak permainan itu usai semalam dan melemparkannya dengan sembarang, membiarkan dadanya telanjang begitu saja.
__ADS_1
NEXT ....