Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 124 : Kejadian kedua


__ADS_3

Dalam ruangan kubus yang memeluk sunyi, Almira terbangun dari pejaman matanya. Dia mengarik ponsel yang terbaring begitu saja di atas meja kerjanya, Almira mencari kontak Manda dan lekas melakukan panggilan telepon dengan sahabatnya itu.


"Man ... Lu kemana?! Lu baik-baik aja kan?"tanya Almira beruntun sambil menahan rasa pusing yang mengendap di kepalanya.


"Iya gue baik-baik aja, katanya Adrian mau nyariin apa yang elu mau Ra, tadinya gue juga mau nyari juga,"jelas Manda bernada lirih.


"Oh itu ... Gak papa kali, gue tinggal minta sama kak Royyan,"balas Almira melempar punggungnya lagi ke kursi yang tengah dia duduki.


"Sorry ya Ra, gue lagi ngobatin Ajun."


"Hah?!" Almira kembali menarik tubuhnya untuk terduduk dengan tegap. "Ada apa sama Ajun, emangnya kalian ngapain?" Lagi-lagi pertanyaan Almira beruntun.


"Tadi kan gue mau nyari apel yang lu mau, terus gue telepon Adrian dan Adrian mau nyariin, dan gue juga sama mau nyari juga, pas sampai mal-nya eh gue diganggu sama orang-orang gaje dan Ajun nolongin gue, sekarang Ajun babak belur gue jadi ngerasa bersalah banget, sumpah,"terang panjang Manda.


"Ada-ada aja deh, terus sekarang lu gak kenapa-kenapa kan? Kondisi Ajun sekarang gimana?"


"Ajun baik-baik aja, cuman luka memar di wajahnya aja, gue juga baik-baik aja. Gue kayaknya gak bisa balik lagi ke butik lo deh Ra."


"Udah gak usah mikirin gue, urus dulu Ajun, kasian tuh anak babak belur nolongin ceweknya,"celetuk Almira menggoda Manda.


"Hoi! Cewek apaan sih, udah ah lu kagak jelas, bye bye ..."sahut Manda yang kemudian mematikan ponselnya.


Almira menyeringai dan menidurkan lagi ponselnya di atas meja, lalu dia terbangun dari kursinya. Langkahnya bergerak ke luar, angannya mendambakan sebuah oksigen yang lebih luas lagi, rasanya di dalam ruangannya sudah dia hirup seluruh oksigen yang ada di sana.


Membentangkan kedua tangannya hingga merasakan otot-otot di tubuhnya dan rileks menguasai diri gadis itu. Netranya mengedar ke arah lain dan melihat sosok penjual sosis bakar, seketika air liur gadis itu menjadi deras.


"Ih sosis bakar, mau ah ..."desisnya melangkahkan kaki keluar dari butik.


Tiba di sana, Almira segera memesannya, kebetulan penjajal sosis itu baru buka dan belum terlalu banyak pengunjung yang mungkin saja membuat Almira merasakan pening yang lebih pekat lagi.


"Sosis bakarnya dua ya pak,"pinta Almira di hadapan food truck yang terparkir tak jauh dari keberadaan butiknya.


"Baik nona, tunggu sebentar ya."


Penjajal sosis itu lekas memanggang sosis itu di atas pemanggangan. Dia membalik sosis itu terus berulang sampai matang, lalu dia lumuri dua sosis yang sudah matang itu dengan saus tomat, saus sambal dan tak lupa mayonaise yang membuat sosis bakar itu terasa lebih nikmat.


"Silakan nona, selamat menikmati."


Tanpa basa-basi Almira lekas mengambilnya. "Terima kasih pak,"katanya kemudian menyodorkan selembar uang kertas berwarna hijau.


Almira bergerak kembali ke butiknya. Penjajal sosis itu berdiri di seberang jalan butik milik gadis mungil itu, lantas Almira menyeberangi jalanan besar itu dengan berseri-seri, uap panas mengepul ke udara dan menggoda lidah Almira hingga air liurnya membanjiri rongga mulutnya.


Halimun hitam samar-samar menghampiri Almira. Dari kejauhan motor besar dengan pria kekar berbadan besar kembali menjadi bayangan hitam di sekitar Almira, helm lelaki itu tertutup amat rapat, sehingga tak diketahui siapa dibalik lelaki itu. Almira masih terus melangkah tanpa memedulikan ke sekitarnya.


Tepat di ambang jalan depan butik Royyan sudah menunggu istrinya yang tampak tak memperhatikan jalannya. Pria bermata kecil itu terus memperhatikan sang istri, yang tak sengaja dia mengedarkan pandangannya dan terhenti pada sosok lelaki bermotor itu.


Motor dan pria itu lagi, bukankah dia orang yang sama dengan orang yang neror gue waktu itu. Kenapa dia ada di sini, siapa yang diincarnya kali ini.


Batin Royyan meraba-raba kemungkinan.


Netranya secara bergantian memasati lelaki itu dengan bengis dan menatapi sang istri dengan penuh kelembutan. "Sayaang ... Cepetan jalannya,"pinta Royyan lembut melangkahkan kakinya ke depan sedikit ke jalan raya.


Tatapan gadis itu terlempar ke hadapan sang suami yang menyerukan panggilannya. "Iya ..."sahutnya kemudian.


Di detik yang sama, motor besar itu melaju dengan kecepatan tidak wajar, motornya berjalan sempoyongan layaknya orang yang sedang dalam pengaruh alkohol. Arahnya menuju Almira yang masih di pertengahan jalan.

__ADS_1


Royyan menyadari ada yang tidak beres dengan hal itu, lekas lelaki itu membulatkan bola matanya sambil mengambil langkah besar dan menarik pinggang sang istri dan membuat sosis bakar yang didambakan istrinya itu segera terjun bebas ke bawah.


Motor itu melesat bagaikan pebalap ke arah dimana Almira berada tadi dan melindas sosis bakar yang terjatuh tadi. Sementara Almira hanya mematung kala Royyan menariknya bahkan menggendongnya, lelaki kekar itu mendekap kaki istrinya di area perutnya dan membawanya ke pesisir jalan.


"Aaah ..."rengek Almira menganjurkan tubuhnya ke depan.


Benih-benih embun mulai berdatangan ke bola mata kecoklatannya. "Kak Royyan ... Sosisnya jatuh ...."sambung Almira sendu, bibirnya menganjur ke depan dengan kesal.


Motor besar itu melesat jauh ke depan, sesekali lelaki bertubuh besar itu menoleh ke belakang, tetapi dia tidak berani untuk kembali karena Royyan terus meruncingkan tatapannya tanpa ada kedipan di antaranya sambil menurunkan istrinya dari lengannya.


Tubuh tegapnya melangkah maju, tatapan bengisnya merajam deretan nomor yang tertera di punggung motor besar itu. Satu tangannya tetap mendekap istrinya yang tampak akan menangis, dia dekap punggung istrinya untuk menenangkannya.


Sedangkan tangannya yang lain menyeluk ke dalam saku celana, mengambil ponselnya. Dengan sigap Royyan menghubungi Adrian.


Seperti biasanya Adrian segera mengangkat panggilan telepon dari sang bos.


"Halo pak."


"Cari motor besar dengan nomor plat B 7656 YA,"titah Royyan.


"Baik pak. Ah iya pak, apel sekai-ichi ada di bagasi."


"Oke."


Panggilan telepon berakhir dengan cepat, tetapi alis Royyan yang saling tertaut masih mengeras, tatapannya terus terlempar ke arah dimana pria berbadan besar itu melajukan kendaraannya.


Almira mendorong sang suami dan melepaskan dekapannya. "Kak Royyan ...."pekik Almira memukul punggung suaminya dengan kasar.


"Aw ..." Royyan meringis dan menolehkan tatapannya pada Almira yang berada di belakangnya. "Sayang kenapa sih mukul-mukul,"protes Royyan mengarahkan tubuhnya pada Almira.


Royyan membungkukkan tubuhnya menyibuk ke wajah istrinya yang menggemaskan ; Dia usapkan ibu jarinya di atas bibir lembut Almira sambil dia melengkungkan sebuah senyuman.


"Iya sayang maaf ... Kalau gak gitu kamu bisa jadi mangsa motor tadi,"ucap Royyan membuai wajah Almira.


Wajah yang tertunduk lemas tadi segera menyembul dan mendapati tatapan penuh cinta dari suaminya tengah mengalir begitu derasnya, bersamaan dengan memori kejadian beberapa waktu lalu saat Dirta menyelamatkannya.


Netranya tiba-tiba saja bergerak ke arah motor itu menghilang, dahinya mengerut.


Lagi. Ada yang aneh, kenapa dalam waktu dekat ini kejadian sama terus berulang-ulang.


Ah, mungkin hanya kebetulan aja kali ya, lagi pula gue gak kenal sama orang yang bawa itu motor.


Bait-bait kecemasan berkumpul menjadi kabut tebal di dalam batin gadis itu. Dia terdiam dalam waktu yang lama, membuat sang suami menatapinya dengan heran.


Lantas, tanpa aba-aba Royyan menaikkan tubuh istirnya ke atas kedua lengan kekarnya dan memecah pikiran-pikiran Almira hingga berserakan tak beraturan. Mata kucing itu menoleh pada sang suami yang kini tengah menaikkan kedua alisnya dengan heran.


"Apa yang kamu pikirkan?"tanya Royyan sembari membawa istrinya kembali masuk ke dalam butik.


"Hah?!"seru Almira bimbang, dia belum berani untuk menceritakan kejadian itu dengan jelas pada sang suami.


Lekas Almira gelengkan kepalanya. "Enggak ada, lagian kamu ngapain gendong aku sih, aku bisa jalan."


"Kamu bandel. Jadi harus aku bawa seperti ini,"pungkas Royyan.


Seketika bibir gadis itu terkatup dan membiarkan suaminya membawa dirinya ke dalam ruangannya sambil didekap pikiran-pikiran gelap tentang pertanyaan siapa orang itu. Jika itu adalah ketidaksengajaan, mengapa terjadi dua kali? Terlebih pria itu tak pernah berbalik untuk mempertanyakan kondisi Almira layaknya orang yang merasa bersalah karena ketidaksengajaannya.

__ADS_1


Lamunan Almira semakin dalam saja, sampai dia tidak menyadari jika dirinya sudah memasuki ruangan pribadinya di dalam butik itu dan suaminya telah menurunkannya untuk berdiri dengan kakinya sendiri.


"Tunggu di sini, aku mau ganti sosis kamu,"pamit Royyan yang segera beringsut keluar dari ruangan Almira.


"Euum ..." Hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut gadis itu.


Almira beralih ke sofa yang sengaja dia sediakan untuk para klien yang ingin menemuinya secara langsung tanpa perantara Sara. Gadis mungil itu mengendurkan tubuhnya di atas sofa, tatapannya kabur pada bayangan-bayangan kelam dari lumbung batinnya.


Menumpas pikiran gadis itu hingga membuatnya terasa berat. Energinya tiba-tiba saja terkuras oleh pikiran beratnya. Berulangkali dia meraba-raba kemungkinan dari kejadian ini, tetapi tidak ada satu pun yang memberikannya jawaban.


"Gak mungkin kan kalau kebetulan terjadi dua kali dalam jangka waktu yang berdekatan pula,"pikir Almira, netranya terlempar pada langit-langit kosong di ruangannya bersamaan dengan punggung yang terlempar ke belakang.


Helaan napas mendadak terlempar keluar dengan terburu-buru. Kedua tangannya mencangkung di atas perut rampingnya. "Gue harus hati-hati, kejadian ini sudah dua kali dan dua-duanya gue beruntung karena ada yang menyelematkan."


Deretan pikiran-pikiran yang terurai dari mulut Almira semuanya terekam oleh Royyan tanpa menyisakan sebuih pun dari celotehan istrinya sambil menggenggam apel sekai-ichi dan sosis bakar.


"Ada yang disembunyikan Ami ternyata,"seru Royyan pelan.


Kaki panjang itu segera berayun masuk ke dalam ruangan dan bergerak ke dekat istrinya yang kini telah memejamkan matanya tanpa menyadari keberadaan suaminya. Royyan terperenyuk di sofa dengan lembut, tangannya dengan sigap meletakkan semua makanan yang menjadi keinginan istrinya itu di atas meja, sedangkan dia melempar punggungnya untuk bersandar pada sofa tersebut.


"Kamu sakit?"tanya Royyan sembari memainkan ponselnya.


Degh!


Debaran jantung Almira seketika berhamburan tak karuan, dia tidak menyadari jika sang suami sudah ada bersamanya, lekas di buka bola matanya dan menegapkan dirinya. "Kapan kamu kembali lagi?" Almira malah balik bertanya.


"Barusan,"sahut Royyan singkat.


"Oh gitu ..."


Tangan gadis mungil itu mulai bergerak ke sosis bakar yang sudah dia idamkan sedari tadi, tanpa menunggu apapun lagi, dia tenggelamkan sosis bakar itu ke dalam mulutnya yang sudah dipenuhi air liur.


Dengan bahagia, Almira kunyah sosis bakar itu dengan suapan besar. Entah mengapa gadis itu sangat menginginkan sosis bakar, sebelumnya Almira tak begitu menyukai makanan satu ini, dia lebih memilih untuk mengunyah strawberry ukuran besar yang berwarna merah merekah.


"Kejadian apa yang kamu maksud?"celetuk Royyan begitu saja tanpa menoleh pada istrinya.


Degh!


Layaknya sebuah benturan benda keras dengan lantai berkeramik, dan keramik itu perlahan retak. Seperti itulah suara debaran jantung gadis bermata kecoklatan itu, bahkan sosis yang sudah lunak dikunyahnya seakan sulit untuk tertelan ; Dia jilati bibirnya sembari menahan rasa pedas yang mengepung lidahnya.


"Kamu ngomongin apaan?"tanya Almira pura-pura tidak mengerti apa yang coba ditanyakan suaminya.


"Kapan terjadinya?" Royyan kembali melontarkan pertanyaan lain dalam posisi yang sama.


"Hah?!" Netranya berkelintaran tak karuan, lalu dia meletakkan sosis bakar yang masih tersisa kembali ke atas meja.


"Jawab. Jangan mencoba untuk berbohong,"tegas Royyan yang kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


Almira telan ludahnya secara kasar. "Bohong kenapa?! Aku gak ngerti kamu lagi ngomongin apa,"jawab Almira sembari beranjak dari sofa, dia bergerak ke dekat sang suami untuk melintas menuju keluar ruangannya.


Wanita yang memiliki tinggi badan 165 sentimeter itu hendak untuk meninggalkan sang suami dan mangkir dari semua pertanyaan Royyan. Bukan karena tak ingin suaminya mengetahui apa yang terjadi padanya, gadis itu hanya tidak ingin pertengkaran sang suami dengan Dirta berkelanjutan.


Dengan alasan inilah, Almira membiarkan kejadian itu mengendap di dalam batinnya. Jika dia mampu, dia ingin sekali menyembunyikannya hingga akhir, tetapi rasanya sangat mustahil menyembunyikan sesuatu dari sang suami. Royyan bukan tipe yang mudah untuk ditipu.


Netranya yang tajam mampu membongkar ruang hitam yang tersembunyi dari bilik-bilik persembunyiannya, kilatan matanya mampu merobek apapun yang telah mengendap dan terdiam jauh dalam lumbung batin siapapun.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2