Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 13 : PRIA MISTERIUS


__ADS_3

Kirmizi mulai melukis langit dengan segala keindahan yang dia miliki, bersama senja dia bertarung melukis cakrawala, mengeja angin karena hembusan sayap para kukila jingga yang sudah mulai berbondong-bondong untuk pulang ke rumahnya masing-masing, tepat diantara pohon-pohon besar di tengah hutan. Saat burung-burung itu saling menggemakan nyanyiannya, Royyan dan Ajun keluar dari gedung perkantoran Rain Corporation. Keduanya melangkah maju ke tepi jalan, hendak menyeberang ke sana berkunjung ke salah satu kedai kopi yang tengah ramai.


"Habis ini elu mau balik?"tanya Ajun pada sahabatnya yang berada di dekatnya.


"Iya. Lanjut kerja di rumah,"


"Kagak capek lu anjir, pulang kerja langsung kerja lagi di rumah,"


"Bentar doang, cuman revisi."


"Hmm, gitu...."balas Ajun mengangguk seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Kedua pria berbadan tinggi tegap itu, berangsur menyeberang ke depan. Kebetulan jalanan sudah sangat sepi, tidak ada kendaraan yang melintas, kecuali motor dan itu pun sangat jarang. Mereka berjalan tenang di jalanan besar itu.


Dari sudut kanannya tepat di samping Royyan, agak jauh darinya, sebuah motor besar berwarna biru dengan perpaduan warna hitam tanpa nomor plat itu bersiap-siap, seraya menutup kaca helmnya, pria bertubuh agak besar itu menancap gas dan melajukan motor itu dengan kecepatan tidak manusiawi, tujuannya adalah Royyan.


Raungan suara motor itu memburu angin di sekitarnya, memerintah para angin untuk menyingkir dari hadapannya. Pria yang entah siapa itu melesatkan motornya hendak menghantam Royyan. Saat itu juga bola mata Royyan mendelik dan menyadari jika pria bertubuh besar itu mengincar dirinya, dengan sigap Royyan merangkul Ajun dan mengajaknya untuk mengambil langkah besar dan melompat jauh menghindari motor itu. Gagal! Dia telah gagal untuk mencelakai Royyan.


Royyan dan Ajun terjatuh membentur aspal pembatas jalan sehingga menyakiti kedua lutut dan satu tangannya, sampai celana itu robek dan lututnya tergores serta merasakan perih, begitupun dengan sikutnya yang telanjang.


"Aw!"Ajun meringis setelah dia terjatuh membentur aspal pembatas jalan raya dan jalan pejalan kaki.


Royyan hanya mengernyit untuk menunjukkan jika dirinya pun merasakan sakit karena benturan yang sangat keras itu, sigap dia segera berdiri dan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas motor tersebut, ingin merekam nomor plat dengan bola mata kecilnya itu.


"Sialan!"Royyan mengutuk.


"Siapa sih? Bawa motor kek kerasukan setan,"Ajun berdiri menyejajarkan dirinya dengan Royyan.


"Itu di sengaja."celetuk Royyan.


Ajun tertegun setelah mendengar hal itu dari Royyan, dan berhasil menaikkan bulu kuduknya, merinding. Kemudian dia mengingat surat-surat yang selama ini selalu rutin datang menemui Royyan. Secarik kertas tanpa pengirim itu memang mencurigakan, menerka pun tidak ada gunanya. Selama tanpa bukti hal itu belum tentu benar adanya.


"Udah ayo masuk dan langsung pulang, yang penting kita selamat."ajak Royyan sambil memutar tubuhnya melangkah maju, melanjutkan mengunjungi kafe tersebut.


"Lu gak sakit itu kaki, pulang aja langsung, orang rumah pasti khawatir lihat lu pulang-pulang kayak gini,"pungkas Ajun yang juga mengkhawatirkan Royyan.


Sedangkan Dirinya tak terlalu terluka, hanya luka kecil saja dan itu tidak terlalu menyakitkan dibanding dengan luka yang bersemayam di lutut dan sikut sahabatnya itu.


"Gampang. Dia baliknya malam,"


"Elu gak khawatir dia balik malam mulu,"jawab Ajun seraya dia melangkah mengikuti Royyan di belakang.


"Ada mata-mata gua,"


"Serius lo, dia gak marah di mata-matai begitu?"


"Dia gak akan tahu."


"Hmm, oke-oke...."


Riuh orang-orang yang berbincang di kafe tersebut membuat Royyan tidak nyaman dan merasakan pusing. Bukan karena sakit, tetapi memang Royyan kurang menyukai keramaian, apalagi kebisingan yang tidak ada habisnya. Setelah menghabiskan kopinya, dia dan Ajun segera berdiri dan keluar dari kafe dengan segera.


Di depan, Royyan telah di tunggu sang sekretaris yaitu Adrian dengan mobil hitam milik Adrian, begitupun dengan sopir pribadi Ajun yang berada di belakang mobil hitam itu.


"Yaudah, gua cabut ya."Ajun pamit seraya menepuk punggung sahabatnya itu.


Royyan menoleh seraya menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu dia mengangguk menjawab perkataan Ajun, yang kini telah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area depan kafe tersebut.


"Mari pak,"ucap Adrian mempersilakan bosnya untuk masuk ke dalam mobil setelah dia membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Di tempat biasa."


"Baik pak."jawab Ajun mengangguk sopan.


Pria dengan netra kecoklatan itu segera masuk ke dalam mobill tersebut, pintu mobil tertutup. Dan Adrian berlari ke depan masuk ke dalamnya di samping sopir pribadi Royyan. Mereka meninggalkan area kafe.


Langit semakin gelap, angin malam mulai terasa dinginnya. Hujan pun mengguyur sekitarnya hingga kuyup, jalan besar yang tidak terlalu padat ini mulai basah karena hujan. Royyan masih dalam perjalanan bersama Adrian, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gedung sederhana yang di dalamnya tak jauh berbeda dengan sebuah rumah, hanya saja rumah itu sangat tertutup, gorden rumah itu tidak pernah sekalipun terbuka, kecuali asisten rumah tangga yang bertugas menggantinya dengan yang baru.


Lekas Royyan masuk ke dalamnya bersama sang sopir, sedangkan Adrian pergi meninggalkan Royyan di sana.


Seseorang bertubuh tinggi dengan punggung yang lebar di salah satu sudut dekat pohon besar di ujung jalan, wajahnya sangat tertutup, dia menggunakan masker hitam, kacamata hitam dan juga topi sehingga wajahnya sama sekali tidak nampak, sepertinya angin saja tidak berani untuk masuk mengintip wajah pria itu. Dia terus memperhatikan gedung tersebut, kemudian dia merogoh saku celananya mengambil sebuah ponsel.


"Cari tahu apakah Royyan D'caprio Alzaro sudah menikah atau belum."titah pria misterius itu pada seseorang yang ada di balik ponsel.


"Baik pak, saya akan segera mencari informasinya."


"Bagus, lakukan dengan cepat."ucapnya lagi lalu segera mematikan ponselnya.


Pria itu menarik topinya ke bawah semakin menutupi wajahnya dengan sempurna, tak lama dia mengayuh kakinya meninggalkan gedung itu, sebelum Royyan keluar dengan penampilan barunya. Pria pemilik kaki panjang mempesona itu keluar dengan mengenakan kaos polos dan celana sederhana yang biasanya dia gunakan untuk tidur, lengkap dengan masker, topi dan kacamata yang memiliki satu warna yaitu putih.


"Sudah beres tuan,"tanya sang sopir yang diperkirakan berumur lebih tua darinya.


"Ayo."


Royyan masuk ke dalam mobil tepat di kursi samping sopirnya, tanpa mempedulikan apapun lagi, dia segera melajukan mobil putih milik Royyan itu meninggalkan gedung, menuju rumah dimana Royyan dan istrinya tinggal bersama.


Di rumah mewah bergaya klasik itu, semua pekerja sedang terduduk di pekarangan belakang sedang menikmati santap malamnya bersama, kecuali satpam yang menjaga di depan, mereka tidak punya keberanian melakukan hal itu, sebab Royyan akan segera kembali. Tidak lama mereka terduduk di sana menyantap makan malam sambil berbincang-bincang kecil, derap langkah yang menuruni tangga rumah tersebut terdengar lantang.


"Kayaknya nona muda turun, siapa yang mau nyamperin, ber-empat deh,"tanya salah satu pelayan wanita yang segera berdiri mempersiapkan diri.


"Yaudah ayo, keburu nona muda badmood."sahut pelayan lain.


"Nona mau minum?"tanya salah satu pelayan.


"Hmm...."gumam Almira mengangguk seraya dia menggeser langkahnya malas ke sofa ruang tengah dan menjatuhkan dirinya di sana.


Salah satu dari empat pelayan mengambilkan air minum dingin, dan juga air hangat. Karena Almira tidak menyebutkan dia ingin minum air apa, setelah semuanya siap pelayan wanita menghambur mendekati Almira yang kini kembali memejamkan matanya di sofa lembut nan empuk itu.


"Nona airnya,"ucapnya menyodorkan nampan berisi dua gelas air yang berbeda suhu itu.


Dalam keadaan masih mengantuk Almira merentangkan tangannya, menggeliat, menggerakkan lehernya ke kiri dan juga ke kanannya, kemudian dia meraih gelas air hangat dan meneguknya dalam satu kali tegukan hingga gelas itu kosong.


"Kerjaan udah beres semua?"lirih wanita cantik nan mungil itu sembari dia meletakkan gelas itu di atas nampan lagi.


"Sudah nona, makan malam juga sudah siap di meja, jika nona mau makan biar kami siapkan."jawabnya tertunduk sopan.


"Nanti aja kalau Kak Royyan udah pulang, aku mau nonton dulu."


"Baiklah nona, kami kembali ke belakang."


"Iya iya."sahut Almira tersenyum dan juga mengangguk.


Ke-empat pelayan itu beranjak dari sana dan melanjutkan makan malamnya lagi. Di belakang sebagian pekerja sudah ada yang menghabiskan makanannya, sehingga mereka bisa bergantian untuk menyambut Royyan.


Baru saja Almira menyalakan televisi, belum ada sepuluh menit, deru kendaraan Royyan telah memasuki pekarangan rumah megah tersebut. para pelayan itu berlari ke depan berdiri di depan pintu menyambut Royyan. Tidak dengan Almira yang bahkan tidak menyadari jika sang suami telah pulang bekerja.


"Selamat datang tuan Royyan,"


"Iya, siapkan air hangat, saya mau mandi."pinta Royyan memberikan tas hitam yang selalu dia bawa bekerja itu pada salah satu pelayan di dekatnya.

__ADS_1


"Baik tuan,"


"Silahkan kembali."


Para pelayan itu menunduk seraya mundur dari sana dan kembali ke kegiatannya, dua diantaranya naik ke lantai tiga untuk menyiapkan air dan juga keperluan mandi Royyan, sedangkan yang lainnya kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Kapan pulang?"tanya Royyan seraya dia melangkah mendekati sang istri.


Deg!


Seketika jantung Almira tunggang-langgang karena terkejut mendengar si pemilik suara berat itu telah kembali. Sontak dia dengan cepat menoleh ke arah suara itu berasal, menanggalkan satu tangannya di atas sofa seraya menggenggam remot televisi. Rambutnya yang berantakan membuat Royyan ingin terkekeh, istrinya terlalu lucu dalam keadaan baru terbangun itu, namun dia berusaha menahannya agar tidak tertawa.


"Kok udah balik sih, biasanya malam banget pulangnya?"tanya Almira dengan wajah polos bangun tidurnya.


"Kerjaannya udah selesai, kamu sendiri?"sahut Royyan sambil dia duduk di samping Almira dengan jarak yang cukup dekat.


Membuat jantung Almira serasa berlari maraton di dalam tanpa tahu bagaimana caranya untuk berhenti, napasnya tersendat karena detak jantungnya terus berdegup dengan kecepatan yang tak bisa terhitung lagi. Perlahan dia eratkan genggamannya pada remot itu seraya berusaha menonton drama kesukaannya, hanya saja kali ini fokusnya telah hilang karena Royyan ada di sampingnya.


"Tumben kerjaannya beres lebih dulu,"


"Lagi sedikit aja."pungkasnya.


Setelahnya Royyan segera bangkit dari sofa, tetapi sebelum melangkah lagi Royyan memberikan satu kotak strawberry dengan ukuran besar itu yang berisikan dua belas buah di dalamnya pada Almira, tepat di hadapan sang istri.


"Kalau suka makan, kalau enggak kasih pelayan."celetuknya gengsi.


Sebetulnya, strawberry itu memang sengaja dia beli untuk Almira, karena dia tahu betul jika istrinya ini selalu minta buah strawberry pada pelayan-pelayan di rumahnya, entah itu dibuat jus atau hanya di makan begitu saja.


Bola mata Almira melebar, garis-garis wajahnya yang sempat tegang karena merasa grogi dekat dengan sang suami, lambat laun berubah menjadi binaran cahaya kebahagiaan bagaimana mendapatkan sebuah undian berhadian uang puluhan juta secara cuma-cuma. Paras cantiknya dia bingkai dengan senyuman indahnya yang merekah bak mawar yang baru saja mendapatkan kesegerannya.


"Aaaakh.... Makasih, tahu aja pengen strawberry."ucapnya bahagia seraya dia mengambil kotak strawberry itu dengan cepat dan memeluknya sambil menghirup aroma segar yang menyebar ke rongga hidungnya.


Dengan senyuman yang masih lebar itu Almira segera membukanya dan mengambil satu buah strawberry yang merah menyegarkan dan hendak melahapnya langsung tanpa mencucinya kembali, melihat wanita dengan mata double eyelid itu melahapnya tanpa mementingkan kebersihan segera Royyan melangkah dan menahan tangannya untuk masuk ke dalam mulut.


"Stop!"sanggah Royyan.


"Akhhh.... kan katanya buat aku, kenapa gak boleh dimakan."Almira merengek seraya mengerutkan bibirnya kesal.


"Ya cuci dulu, masa mau makan gitu aja, nih gimana sih,"


"Gak papa udah kali kak, kan dari supermarket juga di-"


"Cuci dulu!"tegas Royyan sembari mengambil kembali buah tersebut dari tangan Almira dan membawanya pergi ke dapur.


Wajah Almira seketika mengerut kesal, namun karena lidahnya sudah sangat ingin memakan buah kesukaannya itu, lekas dia melangkah mengekori Royyan di belakang. Dia terus membuntuti Royyan sampai suaminya itu selesai mencuci buah-buah miliknya.


Dapur bergaya klasik dengan perlengkapan alat masak dan fasilitas dapur modern itu, merekam suami istri yang saling menyembunyikan perasaannya satu sama lain tengah berdiri berdampingan, Royyan kembali dari wastafel seraya mengambil sebuah piring dari dalam lemari piringnya yang ada di bawah dan segera menata strawberry itu di atas piring berwarna putih.


"Boleh aku makan?"tanya Almira lirih dengan wajah manja khasnya.


Membuat jantung Royyan menjadi tidak nyaman, jantungnya berdegup sangat cepat, begitupun dengan aliran darahnya yang semakin deras mengalir. Karena merasa tidak sanggup melihat kegemasan sang istri Royyan segera berpaling dan membawa dirinya menjauh dari Almira.


"Makan aja semuanya,"ucapnya seraya menaiki tangga rumahnya.


"Semuanya buat aku?"dia kembali bertanya dengan senyuman ceria mendapatkan buah kesukaannya.


Tak ada jawaban lagi, tetapi dinding-dinding putih bisu itu telah merekam senyum indah Royyan dengan bola mata yang terus bersinaran seraya membuka satu persatu kancing kemejanya, dan berangsur masuk ke dalam kamarnya. Kamar terbesar kedua setelah kamar utama yang ditempati oleh Almira.


NEXT....

__ADS_1


__ADS_2