
Akhirnya para wartawan itu tak lagi berbicara secara serempak, tetapi tidak dengan para kameramen yang tiada hentinya merekam dan memotret Ajun yang juga memiliki wajah tampan, hanya saja lelaki itu tak terlalu mementingkan penampilannya, bahkan pakaiannya pun hanya sekedar mengenakan kaos polos dan celana berbahan halus saja berwarna gelap tanpa mengenakan jaket atau pakaian lain yang membuatnya modis.
Lelaki itu mulai menggerakkan mulutnya untuk menjawab semua pertanyaan dari wartawan itu, "oke gini ya, Royyan dan nona Ra memang sudah menikah di tahun kemarin, mereka sudah lebih dari satu tahun menjalani pernikahan ini,"jelas Ajun dengan sangat hati-hati, dia masih takut untuk menjelaskannya dengan gamblang.
"Lalu kenapa saat itu pak Royyan bilang jika nona Ra adalah sepupunya,"tanya salah satu wartawan yang berada di sebelah kanan.
Ajun menoleh pada wartawan tersebut, "untuk itu saya tidak bisa menjelaskannya dengan jelas, tetapi yang saya tahu Royyan melakukan itu semua untuk melindungi istrinya."
"Melindungi dari apa pak Ajun?"tanya wartawan di sebelan kirinya.
Ajun kembali menoleh pada wartawan tersebut, "intinya Royyan pernah punya masalah dengan seseorang, dan seseorang itu meneror Royyan akan mencelakai istrinya, inilah alasan kenapa Royyan menyembunyikan pernikahannya."
"Kapan pernikahan mereka di adakan?"
"Saya tidak tahu karena saya saat itu sedang sibuk bekerja."
"Apakah pak Ajun sudah mengetahuinya sejak lama?"
"Tentu saja saya mengetahuinya, sudah ya saya harus bekerja,"jawab Ajun seraya dia beranjak dari para wartawan itu.
Para wartawan itu masih terus mengejar Ajun dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Ajun sudah kehabisan akal untuk menjawabnya, itulah mengapa lelaki itu memilih untuk menghindarinya. Pekerjaannya jauh lebih penting dibanding harus melayani para wartawan yang selalu kehausan dan entah kapan mereka akan merasa dahaganya terpenuhi.
Di tempat lain terjadi hal yang sama dengan Manda, jawaban gadis itu sama persis dengan apa yang di lontarkan oleh Ajun di tempat lain. Di depan gedung agensi para wartawan sudah menunggu Manda dan Elshara, hanya saja Elshara memilih untuk tutup mulut karena memang dia tidak mengetahui apapun tentang hal itu, tersisa lah Manda yang baru saja tiba di agensi.
"Nona Manda tunggu, nona sahabatnya nona Ra kan? Apakah anda mengetahui hal ini semua,"tanya salah satu wartawan tersebut.
Manda menoleh dan menghentikan langkahnya yang masih berdiri di samping managernya, "mengetahui apa nih,"jawabnya pura-pura tidak mengerti mengapa para wartawan mendatangi gedung agensinya.
"Soal hubungan nona Ra dengan pimpinan perusahaan Rain Corporation pak Royyan Alzaro,"cetusnya lagi.
"Oh mengenai hal itu, awalnya saya memang tidak mengetahuinya, tapi saat di Bali baru lah saya mengetahuinya."
"Nona Ra memberitahu anda? Apa benar mereka sudah menikah?"tanya wartawan yang lain.
"Pak Royyan sendiri yang memberitahu saya dan mereka memang sudah menikah satu tahun lebih."
"Lantas mengapa mereka menyembunyikan pernikahannya, mereka pasangan besar, mengapa itu kira-kira nona Manda?"
Manda menghela napasnya terdahulu sebelum menjawab pertanyaan lagi, "untuk hal itu saya tidak mengetahuinya dengan jelas, intinya pak Royyan punya beberapa hal yang harus dia selesaikan sebelum status pernikahannya terungkap,"jelas Manda dengan harap jawabannya itu adalah akhir dari pertanyaan dari para wartawan.
Namun, ternyata semua pemikiran Manda meleset, para wartawan itu tidak kehabisan akal untuk melontarkan ratusan pertanyaan lain yang membuat Manda membuntang sampai napasnya tercekal karena terkejut tak lagi mampu menjawab semua pertanyaan itu.
"Karena apa nona?"tanya wartawan di sebelah kanannya.
__ADS_1
"Apa benar karena permasalahannya dengan seseorang, seperti yang di katakan oleh pak Ajun?"tanya wartawan di sebelah kirinya yang terus menyodorkannya sebuah mic kecil pada Manda.
"Apakah nona mengetahui seseorang yang telah mengganggu pak Royyan?"
Rentetan pertanyaan para wartawan itu membuat kepala Manda seakan ingin meledak, pertanyaan itu tak habis-habis, segera gadis itu berjalan dari hadapan semua wartawan seraya dia menjawabnya, "untuk hal itu saya tidak tahu apapun, saya hanya tahu jika mereka saling mencintai dan pernikahan mereka di sembunyikan karena ancaman seseorang, saya tidak tahu siapa orang itu dan saya tidak ingin ikut campur terlalu dalam masalah sahabat saya, tolong mengerti."
Setelahnya Manda segera berjalan dengan cepat masuk ke dalam agensi, dia tak lagi memedulikan apapun pertanyaan yang terlontar dari para wartawan tersebut, mulutnya sudah sangat lelah menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang tidak menemui akhirnya. Selagi dia berjalan ke dalam gedung, mulutnya tak henti berceloteh.
"Gila itu para wartawan kagak ada beresnya, capek gue. Pake nanya siapa orang yang nerornya lagi, parah,"ungkapnya sesaat setelah dia masuk ke dalam lift seraya menggelengkan kepalanya, "kepo banget sih jadi orang, mereka mau nikah kek, mau sepupuan atau apapun itu kan bukan urusan mereka."Manda masih belum selesai dengan celotehnya.
Managernya yang baru menekan tombol lantai yang mereka tuju lantas menyeringai mendengarkan celoteh anak yang dia atur segala aktifitasnya itu, "itu kan kerjaan mereka Man, kalau enggak begitu mereka gak di gaji lah, gimana sih kamu,"pungkasnya memberikan gambaran pekerjaan dari para wartawan itu.
"Iya gue juga tahu, tapi kan mereka bisa bertanya sewajarnya aja, itu sih namanya overdosis,"celetuknya tak mau kalah.
Sang managernya itu lekas mencuatkan tawanya, "ngaco lu, overdosis lagi, emangnya minum obat overdosis,"sahutnya seraya mendorong tubuh Manda dengan lembut.
Gadis itu pun tak kalah, dia pun ikut tertawa dengan managernya yang sudah dia anggap sebagai orangtua keduanya, walau umur mereka tak terlalu jauh, mereka hanya terpaut umur tiga tahun saja dan sang manager memang lebih tua dari Manda.
Keduanya tiba di lantai yang mereka tuju untuk menemui pimpinan agensi untuk membicarakan beberapa proyek yang akan di tangani oleh Manda dan para klien itu hanya menginginkan Manda tidak dengan yang lain.
Belum habis keduanya menjelajahi lorong putih yang memiliki lampu terang di setiap ruas ruangan, Elshara dengan wajah merah padamnya menyeret dirinya dengan kemarahan mendekati Manda, lantas gadis bermata almond itu mengernyit mencoba menerawang apa yang terjadi dengan rivalnya itu.
Gue tahu nih mau ngapain nih anak mami papi, gue gak akan mengalah, lu nampar gue, dan gue bakalan lakukan lebih dari itu, awas aja.
"Gue perlu ngomong sama elu,"gertak Elshara yang mengeratkan gigi-giginya.
"Kita gak ada kepentingan, mau ngomongin apa lu, gue mau ketemu pimpinan, gak ada waktu,"sanggah Manda mendelik malas, kemudian dia melangkah meninggalkan Elshara.
Tentu saja gadis itu marah karena dia terabaikan, dia menoleh dengan kasar, kakinya melangkah dengan gusar dan menarik salah satu tangan Manda, tanpa bicara lagi dia seret Manda dengan kasar ke area lain.
"Eh apa sih lu! Lu lagi kerasukan setan lagi, lepasin woii!"berontak Manda menarik-narik tangannya.
Hanya saja pegangan Elshara cukup kuat. Sehingga di sebuah pintu ruang tangga darurat dia menghentikan pemburuannya, di sana Manda pun di lepaskan, lantas dia mendongak dengan tatapan yang memacak dan deru napas yang begar masih bersemayam dalam dirinya.
"Lu!"tunjuk Elshara dengan tatapan getirnya dan suara yang meninggi, "sejak kapan lu tahu kalau si Ra itu istrinya Royyan, Jawab!"tambahnya sehingga dadanya sesak dan menyekat aliran napasnya.
"Saat di Bali,"jawab Manda tenang.
"Bohong! Lu pasti tahu dari awal mereka menikah kan? Jawab aja!"nada suaranya semakin meninggi.
"Mau lu percaya ataupun enggak, bukan masalah buat gue. Ya lagian kenapa lu harus semarah itu, Royyan cuman temen lu kan? Bukan cowok lu,"papar Manda dengan suara yang lembut.
"Berisik lu anj*ng!"bentak Elshara mendorong Manda dengan kasar.
__ADS_1
"Woii! Santai dong."Manda menepis tangan Elshara dengan cara yang lebih kasar sehingga gadis itu terpental ke belakang. "Lu kenapa sih, gua tanya sekali lagi, emangnya lu siapanya Royyan sampai lu semarah ini, lu punya hak apa atas hidup Royyan,"sambung Manda dengan nada suara yang lebih tegas.
"Siapapun gue bagi Royyan itu bukan urusan elu! kasih tahu sahabat lu itu, dia udah rebut cowok orang, itu artinya dia itu pelakor! Ra itu pelakor! Dasar wanita murahan!"cibirnya yang kemudian dia meludah ke sebelah kirinya.
"Hello ...."Manda mengibaskan satu tangannya di hadapan Elshara, "bangun nyonya. Lu kalau mimpi jangan berkepanjangan, Royyan gak pernah jadi cowok lu apalagi jadi laki lu, jadi Ra bukan pelakor. Yang ada lu yang pelakor karena deketin suami orang lain,"timpal Manda tak mau kalah dari Elshara.
"Diaam ...."Elshara memekik sampai Manda terhenyak terkesiap dengan teriakan gadis yang mencondongkan tubuhnya dengan mata yang terpejam, lalu Elshara segera membuka matanya lagi dengan debur napas yang lebih berapi-api lagi.
Dia bakar setiap pawana yang melewati dirinya, tatapannya bukan hanya tajam, tetapi mampu mencabik-cabik apapun yang ada di hadapannya bersamaan dengan bola mata yang awalnya hanya mengembun dan memerah, tapi kini embun itu dengan cepat meleleh berhamburan membasahi pipi gadis itu hingga pilu.
"Royyan cuman punya gue!"pekiknya lagi seraya menunjuk-nunjuk Manda dengan kasar, mendorongnya hingga terhenyak ke belakang.
Gadis berambut sebahu itu hanya menatapi Elshara dengan penuh kegetiran, dia merasa iba dengan air mata yang bercucuran berserakan di pipi gadis itu, tetapi rasa kesal dan kemarahannya jauh lebih besar lagi di banding rasa ibanya, segera Manda tepis tangan Elshara yang tak henti-hentinya mendorong dirinya.
"Apapun yang terjadi, Royyan akan jadi milik gue, gak ada yang bisa miliki dia. Kasih tahu temen lu, jangan main-main sama gue, gua akan buat perhitungan sama dia,"tegas Elshara dengan tekanan suara yang mengerat.
"Hah?! Perhitungan? Lu gila atau emang akal lu udah rusak, Ra istri sah secara agama dan negara, apa yang mau lu perhitungkan, sadar diri Rala ... kalau lu itu cuman temennya Royyan, dan lu gak ada hak untuk itu semua, dan asal lu inget terakhir kali lu hajar Ra yang masuk rumah sakit itu elu, bukan Ra,"balas panjang Manda mengernyitkan wajahnya geram.
"Siapa yang peduli dengan kertas sampah begitu, gue akan rebut Royyan, lihat aja."
"Oh ya, kalau emang lu mampu, dari dulu lu bakalan dapetin Royyan, tapi nyatanya elu gak dapet kan?"cetus Manda ingin menyadarkan jika semua pikirannya itu salah.
"Aaaaaarrrghhhh ...."Elshara kembali berteriak seraya mencengkeram rambutnya kasar, tubuhnya condong ke depan sampai melengkung.
"Dih stress ..."cibir Manda lirih, wajahnya mengernyit dengan dalam.
Lantas Manda berangsur dari hadapan wanita itu, dia mengayuh kakinya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Elshara yang perlahan tersungkur ke bawah, membawa dirinya ke dalam sayatan yang lebih pilu, dia menggila. Penampilannya sungguh kacau dengan rambut yang dia acak-acak sendiri.
Tangisnya pecah, serpihan pilu berserakan di dalam lokap batinnya, mereka saling bergesekan satu sama lain melukai hati Elshara yang telah melepuh beberapa waktu lalu, dan kini gadis itu kembali menyayat hatinya sendiri dengan rasa perih yang lebih menyakitkan lagi. Angannya berkabung, asap hitam mengepul di seluruh bagian dalam dari raganya yang sakit.
"Aaaaaargh ...."Elshara masih terus berteriak tanpa menyerukan celotehnya ataupun mencibir orang yang telah merenggut cinta yang selalu dia perjuangkan.
Raganya tersungkur ke bawah, cengkeramannya pada angin semakin ganas lagi. Butiran kristal bukan hanya menitik, ia sudah menjelma menjadi cucuran air yang melebihi lebatnya hujan beberapa waktu yang lalu. Ia tak henti-hentinya membanjiri pipi gadis yang tengah merapuh itu.
Suaranya terdengar sangat jelas ke ruangan pimpinan agensi tersebut, pria paruh baya itu segera keluar dari ruangannya dan mengabaikan Manda yang baru saja mau memasuki ruangannya, karena malam tadi dia memintanya untuk menemuinya di ruangan.
"Lah pak katanya manggil saya,"tegur Manda sesaat pimpinannya itu melenggang melewatinya.
"Temui saya nanti,"cetusnya tanpa menoleh pada Manda.
"What? "seru Manda kesal, dahinya berkerut geram seraya kedua tangannya dia tadah ke atas, lantas dia turunkan tangannya dan menggantung di pinggangnya yang ramping.
NEXT ....
__ADS_1