
"Bosen ah pertanyaan lu itu mulu,"elak Ajun, yang kemudian dia melangkah maju ke depan.
Gadis itu semakin geram, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Kemudian dia langkahkan kakinya untuk mengejar pria berbadan lebih tinggi darinya, dia berlari sampai berdiri di hadapan temannya itu, dia rentangkan kedua tangannya dengan tatapan yang melesat masuk ke dalam cahaya mata Ajun yang getir.
"Jawab dulu! Lu itu gak pernah jawab, elu selalu ngelak. Gue temen lu kan? Kenapa lu gak jujur aja sih, ada apa sebenarnya."Elshara tidak menyerah untuk mengetahui kebenarannya.
Ajun menghela napasnya panjang seraya dia berkacak pinggang, dia bertekad untuk menyelesaikannya hari ini, lelaki itu sudah lelah menyembunyikan segalanya dan membuat dirinya terpenjara oleh apa yang dia ketahui.
"Oke. Lu denger baik-baik,"katanya menatap lurus pada Elshara dengan serius.
Elshara mengangguk, lalu dia turunkan tangannya yang mengapung ke atas tadi. Jiwanya tak sabar dengan jawaban Ajun, harapannya melambung tinggi pada penuturan Ajun yang akan segera membongkar semua yang ingin di ketahui oleh Elshara.
"Ra itu ..."sambung Ajun dengan nada suara yang tegas, seolah dia benar-benar akan mengatakannya dengan jelas, "ya sepupunya dodol!"celetuknya kemudian sambil mendorong tubuh Elshara ke sampingnya, membuat gadis itu terbelangah kesal dan membeku sejenak.
Sementara Ajun sudah melangkah lebih dulu ke mobilnya yang terparkir di sebelah kanan dari gedung sirkuit itu, setelah sadar Elshara segera menoleh kasar pada punggung Ajun yang mulai tenggelam masuk ke dalam mobil yang selalu dia kendarai selama ada di Jakarta.
Dengan dahi yang berkerut geram Elshara memekik, "AJUUUUN!"nada suaranya melengking menggetarkan kaca-kaca yang menempel dengan bangunan di sekitar sana seraya mengapungkan kepalan kedua tangannya.
"Iiih ... Ajun awas lo ya, bener-bener lu ya! Gue nungguin jawaban yang bener, dasar anak gila lo Jun!"cibir Elshara menikam jalanan beraspal di sana dengan kaki jenjangnya yang terbalut oleh sepatu heels berwarna merah merekah.
Mobil yang di kendarai oleh Ajun segera melenggang ke dekat Elshara, di sana Ajun membuka kaca mobilnya untuk menyapa Elshara, "lu bawa mobil kan ya, jadi gua duluan ya, bye El ..."ucapnya tanpa merasa bersalah atas apa yang barusan dia lakukan, senyumannya merekah seraya melambaikan satu tangannya.
"Bodo amat."Elshara mengelokkan wajahnya ke arah lain sambil melipat kedua tangannya di depan.
"Oke deh, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, lu ini kan bukan gue,"seloroh Ajun membingkai wajahnya dengan senyuman tipis, kemudian dia lajukan mobilnya menyatu dengan jalanan besar bersama para mobil yang juga mengikuti laju mobilnya.
Mendengar perkataan Ajun yang terakhir membuat Elshara kembali menoleh dengan kasar, "si anj*ng Ajun, gue sumpahin lu gak bakalan dapet cewek. Sumpah ya lu gak ada sisi romantisnya kek kayak Dirta, b*ngs*t banget sih tuh cowok, padahal Royyan yang dingin dan keras aja masih ada sisi manisnya."Elshara menggerutu, menghela napasnya panjang. Mencoba untuk mengembalikan moodnya yang tidak membaik.
Selagi Elshara menggerutu, Royyan telah berhasil menyeret Almira ke sebuah bangunan gedung apartemen dimana Almira menyewa tempat tinggal selama beberapa waktu ini, gadis itu terbelalak. Sungguh dia terkejut, bola matanya terlempar pada pria yang menyeretnya masuk ke dalam lift.
"Kak Royyan, k-kok ke sini. Kakak kan gak pernah kesini, e-emangnya ini gedung apartemen siapa?"tanya Almira terbata-bata karena detak jantungnya berdebar dengan cepat.
"Gedung apartemen baru milik perusahaan ku,"celetuknya tanpa menoleh pada Almira yang masih dia kunci pergelangan tangannya.
Degh!
Raga gadis bermata kecoklatan itu mematung sejenak, dia sama sekali tidak menyangka jika gedung apartemen yang jauh dari keberadaan gedung perusahaan milik suami dan ayah mertuanya itu ternyata masih menjadi milliknya. Almira terhenyak ke belakang, dia menatapi punggung lebar di hadapannya dengan pergelangan tangan yang masih terkunci.
What? Terus percuma dong gue kabur ke sini, kalau masih tetep di bawah naungan kak Royyan, sebenarnya gedung apartemen kak Royyan itu ada berapa sih, perasaan banyak banget. Bener kata Manda, power kak Royyan gak bisa di remehkan.
Monolog batin Almira tercekal karena lift itu tiba-tiba berhenti di lantai dua belas dimana kamar apartemen gadis itu berada, Royyan seret Almira dengan lembut ke lorong di bagian kanan dari lift tersebut.
__ADS_1
"Kak Royyan sebenarnya mau ngapain sih, dari tadi nyeret aku terus, tapi gak ngomong-ngomong."Almira tarik tangannya sampai akhirnya terlepas.
Bertepatan dengan langkah kaki Royyan yang terhenti di sebuah kamar dengan nomor 1409, sedang di samping kamar itu adalah kamar apartemen yang di sewa oleh Almira, netra gadis itu semakin membuncah.
Apa jangan-jangan kak Royyan emang tahu kalau gue ada di sini, tapi ... kenapa dia gak pernah nyamperin gue ke sini, terus kenapa dia harus melakukan itu di sirkuit buat mancing gue keluar dari persembunyian?
Pertanyaan demi pertanyaan melambung di permukaan batin Almira, menguap menjadi benih gelisah yang perlahan membangunkannya bendungan kepanikan yang lebih membuncah lagi, sehingga dia tidak sadar jika langkahnya terus mengekori Royyan, fokusnya terpasung pertanyaan batinnya.
Pria itu melangkah dengan lahapan yang lebih besar lagi, menarik istrinya masuk ke dalamnya kamar itu bersamanya, gerakkannya sangat cepat sampai mengunci kamar pun Almira tidak menyadarinya.
"Ini adalah gedung baru yang resmikan tahun lalu dan aku emang belum memberitahu siapapun termasuk kamu dan mami papi,"jelas Royyan menyeret Almira dan mendudukkan istrinya di atas ranjang, dia tekan kedua bahu sang istri agar gadis itu terduduk dengan nyaman di ranjang berukuran besar itu.
"Kamu tahu aku ada disini?"akhirnya pertanyaan yang memasung waktunya tadi termuntahkan ke hadapan Royyan.
Lelaki dengan balutan otot di sekujur tubuhnya itu menganjurkan lututnya menjadikannya sebagai tumpuan, dia genggam kedua tangan sang istri mengedarkan aroma hangat yang selalu di rindukan oleh gadis cantik berambut ikal itu.
"Aku selalu tahu di mana pun kamu berada,"lontarnya yakin, wajahnya tertadah pada paras cantik yang ada di atas.
Netra Almira terjatuh pada bendungan ketampanan di depannya, tanpa sengaja dia menelan ludah gairahnya, melesat pada bibir kecil yang selalu memberikannya rasa manis yang membuatnya kecanduan.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?"lirih Almira menarik tangannya dari jeratan Royyan dan dia sembunyikan di belakangnya.
Pria itu menyunggingkan senyuman nakalnya, derasnya cinta yang mengalir di bola matanya membuat gadis di hadapan pria itu mematung pada tatapan yang tengah menguncinya, kedua tangannya yang menganggur gegas dia naikkan ke atas paha kecil nan ramping Almira.
Lantas dia terhenyak ke belakang, dia duduk di lantai dengan keramik putih yang mengkilap itu dan wajahnya tertadah pada Almira berkerut, tak lupa mulut gadis itu terbuka. Tubuhnya semakin terpasung kenyataan jika dia telah tertipu oleh rencana dari suaminya.
"Ih kak Royyan jahat!"bentak Almira, lalu gadis itu memancang dari posisi duduknya. "Bikin orang panik, aku panik kata Ajun kamu mau bunuh diri gara-gara bawa mobil kayak di kejar siluman harimau putih, tahu-tahunya akal-akalan kamu doang, tahu ah aku mau pulang,"sambungnya kesal, segera dia beringsut dari hadapan sang suami yang masih terperenyuk di lantai yang dingin.
Melihat istrinya beralih darinya, Royyan segera berdiri dan kembali menahan tangan Almira tetap bersamanya, "eiiits ... kata siapa kamu boleh pergi,"gumam Royyan menarik istrinya kembali masuk ke dalam dekapannya, satu tangannya mengunci pinggang ramping Almira dengan kuat, membuat gadis itu mematung dengan wajah yang mengernyit. Sedangkan tangannya yang lain dia gunakan untuk mengapit dagu Almira, tetapi gadis itu dengan cepat menepisnya.
Fantasinya merakit beberapa kemungkinan yang ingin di lakukan oleh suaminya, dia mendelik kesal, bukan karena tak ingin menatapi ketampanan sang suami sampai matanya kenyang, tetapi karena dia masih mengingat betapa sakitnya dia saat berada dalam terkaman laut.
"Aku masih belum memaafkan kamu, jadi jangan macem-macem, kalau kamu macem-macem aku tendang kamu,"ancam Almira memalingkan wajahnya ke arah lain seraya melipat kedua tangannya di depan.
Lantas Royyan miringkan kepala kecilnya menyilik paras cantik memesona sang istri dan dengan cepat senyumannya berkembang. Tangannya yang sempat terabaikan tadi dia gerakkan untuk mengapit dagu indah Almira.
Terpaksa Almira harus menoleh dan mempertemukan netranya dengan mata kecil sang suami, kali ini dia tidak lagi menepisnya karena kedua tangannya di penjara oleh dekapan Royyan.
"Apa yang harus aku lakukan biar kamu mau memaafkan suami kamu yang bodoh ini,"ujar Royyan dengan suara beratnya yang melembut dengan wajah yang mendekat, dia letakkan hidungnya di atas pipi Almira dan mata yang terlayang.
Harapannya amat tinggi, dia benar-benar tuli tentang apapun yang berurusan dengan cinta ataupun perasaan yang harus dia ungkapkan melalui lisannya. Ini adalah kelemahan terbesar Royyan, dari dulu dia memang tak bisa mengungkapkan perasaannya melewati lisannya, mau itu perasaan cinta, sedih, senang ataupun takut.
__ADS_1
"Gak tahu,"elak Almira.
Sebenarnya dia juga tak tahu apa yang dia inginkan dari suaminya itu, dia hanya merasa tersakiti karena sang suami masih mengkhawatirkan Elshara di saat dirinya sendiri pun membutuhkannya. Dia hanya ingin menjelaskan jika dirinya bisa melakukan kegilaan dan membuat Royyan merangkak ke dekatnya dan hal itu memang berhasil membuat Royyan frustasi, tetapi Almira belum memikirkan sampai sejauh itu.
Apa yang diinginkan oleh Almira? Apakah sebuah pengakuan jika hubungan mereka adalah suami-istri yang saling mencintai bukan hanya sekedar saudara sepupu. Dia lelah harus mengenalkan diri sebagai saudara dari suaminya sendiri, terlebih Dirta sudah tak lagi meneror Royyan. Setelah Elshara kembali Dirta sudah mampu menggunakan otaknya dengan sehat lagi.
"Kamu harus kasih tahu apa yang kamu inginkan dari ku sayang ... aku akan lakukan apapun untuk membuatmu kembali padaku,"bisik Royyan yang bergerak ke belakang telinga Almira dan kedua tangan yang mencangkum tubuh mungil itu ikut mengerat, melekatkan tubuh sepasang suami-istri tersebut.
Almira menoleh ke samping kanannya di mana Royyan menenggelamkan wajahnya, menerima berbagai macam aroma yang berhamburan dari tubuh sang suami, tangan yang semula terkunci perlahan terlepas dari jeratannya, kemudian kedua tangan mungil milik Almira melekap dengan dada lebar Royyan.
"Apapun? Kamu yakin?"tanya Almira, kedua alisnya naik ke atas, dia tidak yakin jika suaminya itu akan menuruti permintaannya.
"Tentu aja, kenapa enggak,"balas Royyan, dekapannya pada sang istri melemah.
"Oke ..."serunya dengan bola mata berputar-putar mengamati setiap benda yang ada di dalam kamar itu.
Dari benda-benda mewah sampai benda yang hanya berfungsi sebagai pajangan saja, kemudian langkahnya melimbai ke arah jendela besar yang memiliki kemampuan anti peluru, di luar sana suasana kota malam hari terlihat sungguh indah, berwarna-warni lampu menyala menerangi bumi, di saat bulan tak membulat dan hanya dihiasi beberapa bintang yang tengah bermain bersama awan-awan hitam yang hampir tak nampak.
"Kalau aku minta publik hubungan kita, emangnya kamu bisa? Enggak kan? Jadi sepertinya kamu gak akan bisa memenuhi apa yang terlontar dari mulut kamu,"ucapnya meremehkan Royyan.
Almira menolehkan wajahnya setipis mungkin, lantas dia menyeringai saat dia melihat sang suami terdiam, Royyan membisu sejenak dengan wajah yang terakuk. Lalu gadis itu menghela napasnya panjang, dia puas telah membuat Royyan menampilkan wajah bingung yang teramat dalam.
Namun, beberapa detik setelah Almira kembali melempar pandangannya ke hadapan luar merekam langit hitam yang dingin dan bisikan angin yang berhembus kuat, Royyan mencugat seraya dia berjalan ke dekat Almira yang melipat kedua tangannya di depan.
Senyumannya berkembang dengan meriah, lantas dia mencondongkan tubuhnya untuk memeluk sang istri dengan kehangatan yang sudah sangat ingin dia kirimkan pada istrinya, dagunya mencangkung di bahu gadis berambut coklat keemasan itu.
"Bisa. Kenapa harus tidak,"celetuknya membuat bola mata Almira melebar, tubuh gadis itu membeku beberapa detik ke depan.
Lekas dia putar tubuhnya menghadap pada Royyan, dia terdongak dan tenggelam dalam tatapan Royyan yang mencairkan segala cinta yang membeku di sana. Tangan yang sudah menongkrong di dada Royyan segera dia tekan dan mendorong sang suami menjauh darinya, tetapi kedua tangan kekar itu tak lepas dari dekapannya pada pinggang Almira.
"Yakin? Gak becanda kamu?"serunya tak percaya sampai dia menggelengkan kepalanya.
"Why? if that's what you want, i will do it,"tutur Royyan penuh keyakinan.
Seketika detak jantung Almira berhamburan dengan cepat, dia tak menyangka jika Royyan akan melakukan apa yang dia minta, tatapannya mendadak menjadi bisu, lalu gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain dia terpejam dan bibirnya terkatup.
Kok malah di kabulin sih, kan gue becanda doang.
Apa bener? Kalau kak Royyan nolong itu cewek cuman karena dia punya trauma?
Apa gue salah ya, ah enggak! Gue kan cuman mau dia tahu kalau si cewek gila itu cuman mencari perhatian dia aja, cuman laki gue aja bego, pake acara percaya sama muslihatnya cewek stress itu.
__ADS_1
Selagi Almira merangkai batinnya dengan deretan celotehnya, Royyan memperhatikan istrinya itu dengan bibir yang tersenyum dengan lembut seraya dia memasangkan cincin pernikahan yang ditinggalkan Almira di rumahnya pada jari manis yang seharusnya. Dan Almira tidak menyadari jika jarinya sudah melingkar lagi cincin yang selalu dia tatap dengan penuh harap.
NEXT ....