
Kini pria yang tengah terkapar tak berdaya itu telah telanjang dada, gadis yang tengah terduduk di atas pinggang Royyan, lekas menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja menjalari dada lebar itu. Tubuh proporsionalnya yang sempurna menggoda Elshara, berulang kali dia menjatuhkan c*um*an dalam di dada Royyan sampai berjalan ke leher lelaki itu.
Perlahan satu tangannya melangkah ke bawah hendak untuk menarik lepas celana yang masih menempel dengan Royyan, tetapi pria bermata kecil itu terbangun dan menghentikan permainan Elshara. Dalam keadaan setengah mabuk dan gairah yang membawa dirinya hingga seluruh tubuhnya bercucuran peluh gelora kelelakian nya semakin memanas, dia seret tubuh Elshara terlempar ke sampingnya.
Lantas lelaki itu segera berdiri sembari menggelengkan kepalanya dengan sadar, memaksa kesadarannya bekerja dengan baik, Royyan pukul kepalanya satu kali seraya tangannya yang lain memegangi meja yang berada di dekatnya, berulang kali lelaki itu memejamkan matanya dengan kuat untuk menyadarkan kewarasannya.
"Lu bukan Ami, jadi lu gak berhak untuk nyentuh gue, gua benci terhadap orang lain yang menyentuh gue dengan sembarangan tanpa persetujuan gua,"gertak Royyan dengan suaranya yang meracau.
Sialan! Kenapa obat itu tidak bekerja, obat perangsang tidak berguna.
Cibir batin Elshara. Dia seka rambutnya yang menghalangi penglihatannya ke belakang, langkahnya bergerak maju ke dekat Royyan, gadis itu berusaha berpura-pura menjadi sosok Almira, karena pikirnya Royyan dalam keadaan mabuk dan obat perangsang yang sengaja dia masukkan ke dalam minuman itu akan membuat Royyan melupakan apa yang tengah dia lihat saat ini.
"Kenapa sayang ..."serunya mendayu-dayu, perlahan kedua tangannya kembali dia langkahkan di antara otot-otot perutnya yang memesona. "Katanya tadi mau bermalam denganku, kenapa sekarang jadi seperti ini."Jari-jemarinya yang lentik menjeramah dada Royyan dengan penuh kelembutan seraya gadis itu tenggelam pada dekapan lelaki itu.
Dengan cepat Royyan tepis tubuh Elshara dan melempar gadis itu hingga terjatuh ke bawah. "Auuw ..."ringis Elshara, wajahnya segera terlempar dengan sinis pada Royyan, "Royyan!"pekik Elshara yang ingin segera melontarkan caciannya, tetapi dia segera mengingat.
Jika dia mencaci seperti biasa, maka Royyan akan dengan mudah pergi darinya dan rencananya untuk menarik Royyan tenggelam dalam jeratannya akan gagal total. Percuma dia membeli obat perangsang itu dan membujuk Royyan untuk meminumnya.
"Menyingkir dari kehidupan gua,"lirih Royyan yang terus memejamkan matanya berulang kali, "lu pikir, dengan keadaan gua seperti ini elu bisa menaklukkan gua hah?! ENGGAK!"pekik Royyan membawa dirinya berdiri dengan tegak, lalu dia putar lehernya, terdengar otot lehernya bereaksi.
"Ami tidak beraroma seperti ini, dan gua tahu elu El, walau penglihatan gua saat ini kabur,"tambahnya kemudian.
Seketika jantung Elshara seperti terhantam benda yang sangat besar dan menyeretnya pada kesakitan yang membuatnya sesak tak terkendali, rasa sesak itu terus bergerak maju hingga mencekal pernapasannya yang bergunduk di dadanya.
Gadis itu tertunduk lemah, butiran kristalnya pun ikut terjatuh. "Kenapa? Ke-napa ... Dia bisa menguasai hati kamu, kenapa aku gak bisa Yan ..."lirih Elshara berderai pilu, langkahnya bergerak mendekati Royyan yang masih ditinggalkan setengah kesadarannya, "aku juga mencintai kamu seperti dia mencintai kamu Royyan. WHY?! Why should it be her?! Why not me! "pekik Elshara menyambung perkataannya yang tersekat tadi seraya menggetarkan bahu Royyan.
"STOP!"Royyan memekik dengan nada suara yang meninggi sambil mencengkeram kedua pergelangan gadis itu dengan kasar, sehingga kedua bola matanya melebar dengan deru kemarahan yang membakarnya hingga merah. "Apa yang lu inginkan dengan perbuatan lu yang hina ini?"tanya Royyan kemudian dengan kemarahan, embusan napasnya yang keluar dengan kasar segera memanas.
"Gua mau lu sama gua, gua ingin bahagia!"sahut Elshara menatap Royyan dengan getir, dia tarik kedua tangannya dari jeratan Royyan dan membawa tubuhnya ke belakang seraya mencengkeram rambutnya frustasi.
"Lu mau bahagia?" Alis Royyan menaik ke atas dan sorot matanya yang tajam terlempar mematri mata pipih yang tengah berderai hingga isaknya terdengar pilu.
__ADS_1
"IYA! Gua bahagianya sama elu Royyan! Kenapa lu gak pernah ngerti, ayolah Yan ..."balas Elshara menggebu-gebu melangkah untuk mendekati Royyan lagi.
Dengan sigap Royyan bergerak menjauh dari Elshara. "Bagaimana dengan kebahagiaan gua?"
"Hah?!"seru Elshara terpekur, mendadak lidah dan mulutnya tidak bisa bekerja dengan baik.
Ribuan kristal masih berjatuhan dari bendungan matanya.
"Iya. Lu menginginkan gua karena ingin memenuhi kebahagiaan lu, lantas ... Bagaimana dengan kebahagiaan gua, apa gua gak berhak untuk bahagia? Jadi .... Menurut lu yang berhak bahagia hanya elu, pikir! Pikir pake otak lu! Jangan pake keegoisan elu! GILA!" Royyan melempar wajahnya dengan kasar.
Perlahan lelaki itu melangkah ke dekat ranjang tepatnya ke lantai dimana kemeja, jas dan dasinya terpekur di sana, lekas dia raih kemejanya dan segera memakainya. "Camkan ini!"ancam Royyan menunjuk Elshara dengan getir, "ini kali terakhir gua ketemu sama elu, sampai lu temui gua lagi, gua gak akan segan-segan untuk menghancurkan bisnis keluarga lu dan membongkar semua kejahatan yang telah di lakukan kedua orangtua elu!"sambung Royyan.
Tanpa basa-basi lagi, pria berkaki panjang itu segera melahap langkah besarnya keluar dari kamar hotel dan membanting pintu kamar hotel itu, bersamaan dengan kedatangan Adrian yang terengah-engah.
Sepertinya Adrian baru selesai berlari, bola matanya membulat, dadanya kembang kempis seperti kehabisan oksigen. "Bapak tidak apa-apa? Pak Royyan terlihat kacau, maaf pak saya telat mendatangi bapak,"ucapnya kemudian segan.
"Gak masalah, urus wanita gila itu, saya mau ke tempat istri saya,"sahut Royyan parau.
"Jangan masuk. Dia tidak memakai pakaian, tunggu di kamar kamu sampai terdengar dia meninggalkan kamar hotel saya, dan bersihkan semua benda yang berhubungan dengannya, kalau bisa bakar semuanya,"titah Royyan mendelik tajam pada pintu hotel yang tertutup.
Setelahnya Royyan kembali melangkahkan kakinya bahkan dia sedikit berlari untuk meninggalkan tempat yang membuatnya muak. Meninggalkan Adrian yang masih terpekur di tempat yang sama saat Royyan meninggalkannya, bola matanya mendadak membeku pada dinding-dinding bercorak bunga-bunga hitam di depannya.
"Pak Royyan bau alkoholnya kuat, tapi kan bapak gak minum alkohol, kenapa beliau jadi kacau setengah sadar begitu?"kernyit Adrian berkacak pinggang seraya dia melangkah ke dekat pintu kamar hotel itu. "Terus tadi pak Royyan bilang wanita itu tidak memakai pakaian?! Maksudnya si top model itu mau ..." Fantasi Adrian mengangkasa pada hal-hal yang menggelitik jiwanya, lantas lelaki itu segera bergidik ngeri, serasa ada yang berjalan lamban di lehernya.
Bergegas Adrian mempercepat langkahnya untuk menuju ke kamar hotelnya tanpa menoleh terlebih dahulu pada pintu kamar Royyan yang tertutup rapat, suara pergerakkan lambat terdengar jelas di telinga Adrian mengarah lebih mendekat. Lekas dia kayuh langkahnya lebih cepat lagi dan masuk ke dalam kamarnya.
Di situasi yang berbeda, Royyan berjalan terhuyung-huyung dan terjatuh di depan pintu apartemen dimana Almira tinggal. Keadaan pintu itu nampak hening begitupun dengan sekitarnya, gedung itu sungguh sunyi bahkan dari perjalanan para gegana malam. Dalam keadaan setengah sadar dan netra yang berkunang-kunang pudar, Royyan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu berbahan kokoh itu, sedang di samping pintu itu ada bel yang berfungsi dengan baik.
Sontak Almira yang baru saja keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk secara di tekan-tekan terperanjat, wajahnya menegang, menyerukan rasa takut yang tiba-tiba saja menguasai dirinya.
"Siapa itu?"tanya gadis bermata kucing itu pada dirinya, netranya mengerang takut, lantas dia menelan ludahnya dengan kasar sambil dia menjatuhkan handuk putih tebal itu di salah satu pundaknya.
__ADS_1
Royyan masih mengetuk pintu dengan kekuatan yang lebih besar lagi. "Ssayyaaang ..."ceracau Royyan menempelkan dahinya dengan pintu itu.
Dengan langkah gagap, Almira berayun dan membuka pintu itu dengan gerakkan yang sungguh lamban dan bergetar. Rasa penasarannya kuat karena sungguh dia tidak mengenali suara siapakah itu, terlebih cara bicaranya yang tidak jelas.
Saat pintu itu perlahan terbuka, tubuh Royyan ikut ambruk ke depan dan terjatuh di bahu istrinya, membuat Almira terperanjat hebat hingga bola mata dan tubuhnya membeku sejenak dengan kedua tangan melayang ke atas dan ikut mematung.
Netranya terjatuh pada leher suaminya yang melemah bersamaan dengan tubuh Royyan yang menjadi berat bagi Almira. "Kak Royyan ... Kamu kenapa sih?"tanya Almira dalam posisi yang sama.
Tak ada jawaban, lelaki itu terus masuk ke dalam leher dan rambut setengah kering Almira, dan kedua tangan yang terjuntai di bawah segera merekat dengan pinggang gadis itu, seketika tubuh Almira kembali menegang terlebih di bagian lehernya. Royyan mendorong istrinya untuk masuk dan menendang pintu itu hingga tertutup rapat dan terkunci secara otomatis.
Almira dorong dengan kuat bahu sang suami seraya dia terus berjalan mundur karena Royyan terus mendoronganya ke belakang, dengan bola mata yang menatapi punggung Royyan dengan tegang. "Kak Royyan ini sebenarnya kenapa sih, bisa berdiri dengan bener gak, berat tahu,"protes Almira.
"Euuum ..."Royyan malah bergumam tanpa menjawab penuturan Almira lagi, dia terus mendorong sang istri sampai keduanya terjatuh bersamaan ke atas ranjang, tubuh kekar itu berhasil membelenggu tubuh mungil Almira.
"Ah kak Royyan!"pekik Almira mendorong Royyan sampai terlempar ke samping.
Pria itu kembali terkapar dengan kedua tangan yang telentang, kedua bola mata kecilnya terpejam dengan tenang. Kancing kemeja yang terbuka setengahnya mempertontonkan dadanya yang bergerak maju mundur. Almira segera berdiri dan memasati wajah sang suami, kedua tangan yang menggantung di belakang tubuhnya mendorong gadis itu untuk mendekati wajah suaminya.
"Ini cowok kenapa sih?"kernyit Almira mengembuskan napasnya masuk ke dalam pori-pori wajah halus sang suami.
Perlahan netranya mengarah ke bagian lain dari wajah dengan rahang tegas itu, aroma alkohol menyengat dari mulut suaminya, segera dia tarik wajah dan dirinya ke belakang dengan kernyitan di wajahnya dengan dalam, lantas dia menutupi mulut dan hidungnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Kok kak Royyan bau alkohol sih, kan dia gak minum begituan, kok bisa,"seru Almira bertanya-tanya dengan kejanggalan ini.
Kedua tangannya dengan cepat menggantung di pinggangnya sambil dia tak henti-hentinya memasati wajah lemah sang suami, mencoba menerawang kejadian apa saja yang terjadi selama dirinya tak ada di dekat Royyan, deru napasnya terlempar keluar dengan kuat bersamaan dengan tatapannya yang menajam.
Tanpa basa-basi lagi, Almira melipir ke area dapur dan mengambilkan segelas air putih dan sebuah wadah kaca berukuran besar yang berisikan air hangat dan handuk putih berukuran kecil.
Dengan lihai gadis kecil itu menyeka tubuh suaminya, terlebih di bagian wajahnya bahkan dia melepaskan kemeja yang tak terpakai dengan benar itu dan juga sepatu, lalu dia menarik suaminya ke atas agar tertidur di bantal dengan benar.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih, tubuh kak Royyan juga berkeringat kayak gini, kenapa sih?"gerutu Almira seraya dia menyeka wajah sang suami dengan lembut.
__ADS_1
NEXT ....