Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 49 : Almira bertemu dengan Ajun.


__ADS_3

Tetapi harapan Almira segera dikhianati oleh hasil yang terjadi di depan matanya, saat tubuh Almira menghadap Royyan lagi, pria berkaki panjang itu mendorong pinggang Almira ke bawah dan tertidur di sofa, "aaaah ..."tentu saja Almira berteriak dengan kencang saat tubuhnya tiba-tiba saja terjatuh dan satu tangan Royyan yang lain berada di bawah kepala Almira.


"YA!"pekik Almira sekali lagi seraya dia memukul-mukul dada Royyan.


Pria bermata kecil itu hanya merespon dengan mengerjapkan matanya seraya memalingkan wajahnya ke samping kanannya, ingin menutupi kedua telinganya pun tak bisa, karena kedua tangannya tengah menyentuh sang istri, tangan yang ada di pinggang Almira pun segera beralih menempel di sofa samping kepala Almira, dia jadikan tumpuan agar tubuhnya tetap memiliki jarak dengan Almira.


"Ssst ... jangan berisik, ada orang yang denger dan kita bisa ketahuan, inget kan waktu itu, aku bilang jangan sampai kita ketahuan sebelum aku meyakini kalau kamu aman dulu,"desis Royyan seraya menarik tangannya dari belakang kepala Almira lalu dia gunakan tangan itu untuk membelai rambut sang istri.


Dengan dahi yang berkerut kesal dan napas yang memburu cepatnya, bibir mungil itu segera menimpali perkataan Royyan, "ya lagian kamu, main dorong aja, kan kaget. Jangan macem-macem ya, awas aja kamu."


"Hmm ..."gumam Royyan menaikkan kedua alisnya ke atas lalu kembali dia turunkan ke semula.


Di luar kamar inap Royyan yang tertutup dengan rapat, dan Adrian ada di depan pintu menjaga bos-nya yang sedang bersama wanita pujaan hatinya, tiba-tiba pimpinan penyelenggara dan pimpinan agensi datang berkunjung dengan niat ingin membujuk Royyan untuk memberikan mereka satu kesempatan lagi, sedang Ajun ada di belakang yang kebetulan saja datang bersama mereka.


"Kami ingin bertemu dengan pak Royyan, apa bisa pak Adrian?"pinta pimpinan penyelenggara itu dengan sopan.


Sontak bola mata Adrian menegang, tubuhnya mematung. Ini kali pertama otaknya tidak bisa bekerja dengan baik, dia kebingungan harus berbicara apa, karena Royyan sedang tidak bisa di ganggu, lantas Adrian menoleh pada Ajun yang ada di belakangnya, menatapi Ajun dengan dalam sampai pria bermata downturned itu kebingungan, tetapi beberapa detik kemudian dia menyadari apa yang di maksud oleh Adrian.


"Hmm ..."Ajun segera bergumam seraya dia melangkah maju dan berdiri di samping Adrian, "Royyan gak bisa di ganggu dulu, biar saya yang ngomong ya, kalian kembali saja ke pekerjaan kalian, lanjutkan ******shooting****** dengan tenang, Royyan biar saya yang urus,"sambung Ajun dengan penuh keyakinan.


"Maaf, kamu siapanya pak Royyan ya?"tanya pimpinan agensi yang sepertinya meremehkan Ajun.


Adrian segera menjawabnya dengan cepat dengan ketegasan, "pak Ajun adalah sahabat pak Royyan, beliau ini lebih dekat dari nona Rala." Sepertinya Adrian merasakan keangkuhan dari pimpinan agensi itu, sehingga nada bicara Adrian pun lebih tegas dengan dilengkapi wajahnya yang tajam.


"Ah saya kira siapa, soalnya Rala yang dekat dengan pak Royyan pun tidak bisa membujuknya,"kilah pria paruh baya itu segera menurunkan wajah angkuhnya yang tadi dengan penuh keyakinan menampakkan diri.


"Nona Rala hanya berteman dengan pak Royyan selama satu-dua tahun di masa lalu, kemudian nona Rala hilang karena kecelakaan pesawat, dan baru dua minggu ini mereka bertemu lagi, sudah jelas kan mana yang akan lebih di dengar oleh pak Royyan,"tegas Adrian lagi, semakin memojokkan sang pemimpin agensi itu.


Wajah pria paruh baya dengan rambut yang tipis itu semakin memerah menahan rasa malu yang tidak bisa dia sembunyikan, Adrian telah menghantam keyakinan pria paruh baya angkuh itu. Sungguh Adrian sangat membenci orang-orang yang merasa dirinya tinggi dari orang lain, menurutnya semua manusia memiliki hak yang sama di bumi sang pencipta ini, pelajaran ini dia dapatkan dari Royyan yang tidak pernah melihat manusia dari betapa tinggi jabatannya melainkan dari bagaimana orang itu memandang dunia.


Di tengah-tengah pertikaian batin antara Adrian dan pimpinan agensi itu, Ajun melipir masuk ke dalam kamar inap Royyan dengan posisi yang memunggungi, lalu dia tutup kembali pintu itu dengan rapat.


"Si Adrian serem juga, bener-bener ya didikan si Royyan, persis banget kayak lu Yan ..."ucap Ajun sembari dia berputar menghadap pada Almira dan Royyan yang masih dalam posisi yang sama.


Sontak Ajun terbelalak sehingga membuat lututnya lemas, lalu dia turunkan lututnya dan bersila di sana. Pria bertubuh sedikit berotot itu terdiam membeku di sana menikmati drama romantis gratisan di depan matanya.


"Pantesan elu anteng ya dan Adrian jaga di luar, ternyata ..."serunya seraya bersila dan menopang dagunya.


Deg!


Seketika Royyan dan Almira menoleh, mendapati Ajun yang tengah menyeringai seraya melambaikan tangannya, tentu saja Almira segera terbangun mendorong Royyan dan terduduk di sofa dengan wajah yang tertunduk dan memerah. Namun, tidak dengan Royyan, wajahnya tetap saja datar dia begitu tenang.


"Sejak kapan lu ada disini?"tanya Royyan berpindah posisi ke sofa satu lagi yang hanya memuat satu orang.


"Baru sih ... eh Ami tenang aja, gue sohibnya dan gue tahu semuanya tentang elu,"jawab Ajun mencoba mencairkan suasana yang membeku.


Mendengar hal tersebut, wajah yang tengah tertunduk malu itu segera mendongak dan menatap dengan dalam pada Royyan yang ada di sofa samping kanannya, mencoba menyalurkan beberapa pertanyaan tentang apa saja yang dia ceritakan pada Ajun.


Sadar jika dirinya terus di tatap sang istri, Royyan segera mengangguk seolah mengirim sebuah jawaban jika dirinya akan menjelaskan segalanya nanti, karena sekarang dia akan membahas suatu hal dengan Ajun, lantas Almira mengangguk dan tidak memberikan lukisan wajah serius seperti barusan.

__ADS_1


"Elu jangan panggil bini gue Ami, panggil Ra ..."protes Royyan yang tidak terima nama panggilan sayangnya pada sang istri di gunakan oleh Ajun.


Rupanya Ajun nampak puas melihat sosok Royyan yang tengah di landa rasa cemburu, padahal hanya karena perihal nama panggilan saja. Pria berambut french crop itu mengalunkan tawanya yang renyah sambil dia berjalan mendekati Almira dan Royyan, lalu dia duduk di hadapan Royyan di sofa yang berdiri di samping kiri Almira.


"Sorry ... lu cemburuan juga ternyata,"kata Ajun setelah dia duduk si atas sofa.


"Yaudah. Elu mau ngapain?"Royyan mencoba menepis rasa cemburunya sambil dia menghenyakkan tubuhnya ke belakang bersandar pada sofa.


Sedangkan Almira hanya terdiam dan mendengarkan percakapan Royyan dan Ajun seraya dia memainkan ponselnya, berbincang lewat pesan bersama Manda yang juga merasa khawatir tentang kelangsungan acaranya.


"Ra udah bujuk suami lu belum nih?"Ajun malah bertanya pada Almira yang tengah sibuk mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya.


"Udah ... cuman gak tahu di dengar gak tahu enggak, dia kan batu ..."sahut Almira seraya menunjuk suaminya dengan mata yang masih terfokus dengan ponselnya.


"Tuh ... kata bini lu, elu itu batu Yan ...."canda Ajun masih menyimpan tawanya dalam kantung mata cerianya.


Pria bermata kecil itu lekas mengembuskan napasnya, membuangkan rasa kesalnya bersama deru napasnya itu, lalu dia menyugar wajahnya sampai menyibakkan rambut bergaya mullet-nya itu ke belakang sambil dia usap sedikit kasar tengkuknya, lalu dia tersenyum seraya dia memasati wajah sang istri, seketika percikan cinta itu keluar dengan nyata di bola mata Royyan, dan Ajun melihatnya dengan jelas, sontak pria bertubuh kecil dengan bingkai otot-otot kecil di tangannya merias wajahnya dengan senyuman lagi.


"Jadi keputusan elu mau gimana?"tanya Ajun lagi.


Seraya menoleh pada Royyan.


Royyan segera menggerakkan mulutnya, "oke. Lanjut aja shooting-nya, tapi jangan ada kostum badut itu, udah itu aja."


"Yaudah sana elu konfirmasi, kasian orang-orang nungguin elu di luar,"usul Ajun.


"Si b*ngk*, gue bukan yang punya resort."


"Suruh Adrian, dia tahu apa yang harus di lakukan,"paparnya kemudian dengan tenang.


Dengan hembusan napas yang dalam Ajun beranjak dari sofa menuju keluar dari kamar inap Royyan lagi, sangat hati-hati dia keluar dari kamar, jangan sampai pintu itu terbuka lebar yang akan membuat masalah baru muncul lagi.


"Gimana pak Ajun?"tanya pimpinan penyelenggara itu penuh harap.


Sedangkan pimpinan agensi itu tidak terlihat lagi di sana, entah kemana kah perginya manusia berkepala besar itu. Ajun yang baru tiba di luar segera melambungkan pertanyaan di benaknya kemana pria paruh baya satunya lagi seraya dia berdiri di samping Adrian.


"Lanjut aja, tapi turuti apa permintaan Royyan, tadi dia ngomong begitu,"jawab Ajun.


Seketika wajah muram tadi berubah menjadi cahaya yang bermekaran di setiap garis-garis wajah pria paruh baya itu, senyumannya yang tenggelam dengan cepat kembali ke permukaan bersamaan dengan bola mata yang melebar dengan ceria. Perlahan dia berjalan mendekati Ajun dia membungkukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih-nya pada Ajun yang telah berhasil membujuk Royyan.


"Terima kasih pak Ajun, tanpa bapak mungkin kami disini enggak tahu mau bagaimana kelanjutan acara ini, saya sudah bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini sampai akhirnya bisa melakukan proses shooting,"ungkapnya dengan penuh rasa bersyukur.


"Bukan saya, tapi istrinya yang berhasil membujuk Royyan, saya cuman membantu menyampaikannya saja,"jawab Ajun keceplosan.


"Hah?!"seru pria paruh baya itu nampak sedikit tersekat.


Begitupun dengan Adrian yang ada di sampingnya yang ikut terperanjat dengan perkataan Ajun. Adrian menoleh dengan wajah yang berkerut dan jantung yang berdetak dengan sangat cepat, takut pertanyaan lain muncul dari pimpinan penyelenggara itu yang tak bisa dia jawab.


Ajun dengan segera menyadari aura di sekitarnya mulai berubah dan mencekam, bola matanya berputar ke kiri dan kanannya tidak karuan, dia melihat sosok Adrian yang nampak tegang, lalu Ajun menarik napasnya lalu membuangnya pelan, dia mempersiapkan jawaban yang bisa di terima oleh akal semua orang.

__ADS_1


"Istri pak Royyan ada di sini?"dan benar saja pria paruh baya itu mempertanyakan hal yang sama seperti apa yang dipikirkan oleh Ajun dan juga Adrian.


Ajun berusaha tenang menjawab pertanyaan pria paruh baya itu, "lewat telepon lah, zaman serba canggih begini, apa sih yang enggak bisa kalau cuman sekedar komunikasi,"kilah Ajun.


"Oh begitu, tapi tahu dari mana istrinya masalah disini?"tanyanya lagi.


"Royyan emang bicaranya sedikit, tapi kalau sama istrinya dia ngomong banyak, membahas kuda lahiran juga jadi mereka,"dalih Ajun lagi.


Jawaban Ajun sungguh mengundang gelak tawa Adrian dan pimpinan penyelenggara itu, sampai pria paruh baya itu melupakan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, bisa-bisanya Ajun menjawab pertanyaan serius ini dengan jawaban eksentrik di saat dia sendiri sedang tegang takut dia membongkar siapa istri dari Royyan sesungguhnya.


...***...


Malam tadi pemotretan benar-benar gagal, semuanya di rundung rasa ketakutan yang tak bisa mereka singkirkan, untuk menelan minuman saja rasanya sangat sulit. Semua yang masuk ke dalam mulut terasa pahit, bahkan angin sekalipun rasanya sama saja, getir. Kecuali Manda yang sudah mengetahuinya dari Almira, lewat pesan singkatnya Almira memberitahu keputusan Royyan.


[Lu tenang aja, kak Royyan udah tenang kok, dia tidak mencabut izinnya.]


Begitulah isi pesan Almira pada Manda, wanita bertubuh tinggi proporsional itu segera menepis rasa khawatirnya dan tertidur dengan nyenyak malam tadi. Pagi ini dia terbangun dalam keadaan segar dan siap untuk kembali bekerja, dia beranjak dari ranjangnya masuk ke dalam kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya.


Di saat matahari mulai menyingsing, semua staff sudah bersiap-siap untuk melakukan shooting lebih cepat, melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda tadi malam. Di sudut pantai, Elshara yang tengah di rias oleh perias khususnya dan juga beberapa staff Almira yang bertugas di sana nampak sibuk merias wanita berambut panjang lurus itu.


Lantas pimpinan agensi menghampiri top model nomor satunya itu, dia bertandang di sampingnya dengan posisi berdiri, "Rala, kali ini tolong bekerja lah dengan profesional ya, dan jangan minta kostum badut lagi,"pintanya dengan tegas, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap hangat dan juga berhati-hati pada Elshara.


"Iya ... kalau aku tahu bakalan kayak gini, aku gak bakalan maksa juga kali,"elak Elshara dalam posisi mata yang terpejam dan perias itu merias mata Elshara dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa gak tahu kalau pak Royyan sangat tidak menyukai kostum itu, katanya kamu sahabat dekatnya pak Royyan, untung ada pak Ajun yang membantu meluruskannya,"ucapnya seraya berkacak pinggang.


"Haduuh ... ya mana aku tahu, jelas Ajun tahu, karena mereka berteman udah sangat lama, sebelum aku datang mereka udah berteman."


"Yaudah lah, sekarang kamu shooting di tepi pantai ya, nyentuh air, gak papa kan?"


"Hmm ..."Elshara bergumam menyetujui jadwalnya dengan cepat, dia tak lagi merengek meminta hal lain.


Menurutnya untuk menyentuh air laut sedikit saja, mungkin dia bisa melakukannya dan melawan rasa trauma itu dengan baik.


Mendengar jawaban pasti dari sang top model, lekas pria berambut tipis itu memutar langkahnya meninggalkan Elshara dengan para staff yang tengah mempersiapkannya untuk melakukan shooting.


"Oh iya nona Ra kemana? Dari semalam kok gak lihat dia ya,"tanya Elshara yang ternyata menyadari Almira yang tiba-tiba saja menghilang di telan masa pada malam itu.


"Nona Ra ada di kamarnya, dia sedang menyempurnakan gaun untuk malam terakhir acara nanti,"jawab Sara yang memang melihat Almira sedang bekerja di dalam kamarnya tadi, sebelum dia dan beberapa staff lain bekerja bersama Elshara.


"Oh gitu, pantesan aja gak keliatan,"seru Elshara mengangguk.


"Apa nona Rala ingin menemuinya?"tanya Sara seraya merapikan beberapa bagian gaun panjang yang di kenakan oleh Elshara.


"Ah tidak, saya cuman penasaran,"tolak Elshara.


Sara mengangguk, lalu dia berlanjut melangkah ke area lain untuk beralih pada model pria yang sudah selesai berganti pakaian dan dia segera membantunya merapikan pakaiannya, seraya sang model di rias oleh periasnya. Setidaknya satu model akan dikerubungi oleh empat sampai lima orang untuk mempersiapkan para model itu dengan penampilan sempurnanya.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2