Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 135 : Racun Arsenik?


__ADS_3

"Man ... Ada apa sih, kenapa lu berubah jadi ganas gini sih,"tanya Almira yang masih kebingungan.


Manda menoleh kasar pada Almira yang berdiri di sampingnya. "Suster ini bersekongkol dengan seorang wanita di depan pintu, dan wanita itu entah memasukkan apa ke dalam air, dan ada kemungkinan bubur dan makanan lain pun sudah diracuni,"jelas Manda sambil menekankan kakinya lebih kasar lagi di atas dada di suster itu.


"Aaauuuh ..."ringis suster itu tak berdaya sambil menggenggam kaki jenjang Manda.


Almira terenyak ke belakang, sungguh dia terkejut dengan penjelasan Manda barusan, dia terjatuh di atas ranjang seraya dia melempar tatapan jengah pada makanan yang berserakan di lantai mengotori lantai berkeramik putih itu.


"Cepetan jawab!" Manda menekan dada suster itu dengan kekuatan yang lebih besar lagi.


"Aarrghh ... I-iya no--na,"pasrah suster wanita itu.


Manda melepaskan kakinya dari dada si suster, langkah Manda bergerak dan berlutut di hadapan suster yang masih terbaring lemas, cekikan Manda telah menguras seluruh energinya, bahkan dia masih terbatuk-batuk dan bola matanya memerah, dia berusaha mengembalikan seluruh udara yang sempat tercekal mengisi rongga-rongganya hingga menyelinap masuk ke dalam dada.


Tanpa segan Manda tarik kerah baju suster itu dan membuat si suster terduduk dengan lemas, tatapannya masih kabur. "Katakan! Siapa wanita itu,"tanya Manda sekali lagi, jika kali ini suster itu tidak menjawabnya maka Manda akan melakukan hal lebih kasar dari ini, pikiran gadis itu sudah berkabut dengan kekesalan.


"Saya tidak tahu siapa wanita itu, tetapi dia menyuruh saya memasukkan serbuk racun ke dalam bubur dan dia menaruhnya juga di dalam air minumnya, jeruk itu pun telah direndam oleh air racun,"jelas suster itu merunduk sampai wajahnya benar-benar tidak terlihat.


"Sialan!"gerutu Manda melempar kerah baju si suster dengan kasar. "Racun apa itu? Dan apa akibatnya?"tanya Manda penasaran dengan racun apa yang digunakan wanita misterius itu.


"Itu adalah racun arsenik sejenis karsinogen yang berwarna abu-abu, perak atau putih, racun itu tidak berbau dan tidak berwarna, ini racun yang sangat berbahaya karena racun ini digunakan untuk peleburan tembaga, dalam hitungan menit bisa membuat nyawa seseorang lenyap,"terang suster itu dengan terperinci.


"Lalu ... Kenapa lu malah kasih ke orang lain, lu t*l*l!"gertak Manda geram sambil dia melayangkan pukulan kasar di kepala suster itu.


Wajah suster itu terlempar ke samping dengan hina, suster itu seketika menjelma menjadi budak yang tak berdaya untuk melawan tuannya, kemarahan Manda tak bisa dipungkiri lagi. Manda beralih pada Almira yang nampaknya masih terkejut dengan apa yang terjadi, Manda peluk tubuh gadis itu yang mematung.


"Kita harus cek cctv rumah sakit ini, gue yakin si Rala, tubuhnya bener-bener mirip dengan wanita itu,"tekad Manda memeluk Almira dengan erat.


"Man ... Kali ini---gua bener-bener takut,"rengek Almira menenggelamkan wajahnya di dada Manda.


"Udah tenang aja, di sini ada gue, gue bakalan bilang semua ini sama Royyan dan dia akan melakukan sesuatu yang akan membuat suster ini trauma,"sahut Manda menggebu-gebu.


Suster yang masih tertunduk lemas di bawah segera bergeser dan memeluk kaki Manda. "Tolong nona ampuni saya, saya akan menebus semua kesalahan saya, saya hanya sedang membutuhkan uang, tolong kasihani saya,"pinta suster itu memelas.


Tanpa segan Manda tendang suster itu dengan begar dan masih memeluk Almira yang tengah menangis kecil di dadanya. "Berisik! LU HAMPIR BUNUH SAHABAT GUE!"hardik Manda geram, "kalau gue gak tahu, mungkin aja lu udah bunuh Ra, suster sialan! Hanya karena uang dari wanita itu, lu rela ambil nyawa orang lain, lancang banget lu! Mau menggantikan tugas malaikat maut,"tambah Manda gusar.


Krieet!


Ketiga wanita yang ada di dalam ruangan inap itu segera menoleh ketika mendengar derap kaki seseorang, suaranya begitu renyah memijak keramik-keramik putih di sekitar sana. Almira segera melepaskan dekapannya dan menyeka wajahnya dari air mata yang membasahi pipi tirusnya itu.


Dalam keadaan masih tersedu-sedu, gadis mungil itu meraba-raba bayangan hitam berkaki panjang yang perlahan bergerak masuk ke dalam ruangan inap itu. Langkahnya begitu lamban, sampai akhirnya paras tampan Royyan membuntang kala melihat nampan, mangkuk, gelas pecah, jeruk yang bergelinding yang berserakan di bawah.


"Kak ..."panggil Almira lirih sambil menyeka sedunya, tetapi tangisannya terlalu dalam sehingga sedunya tak ingin segera melepaskan diri dari gadis itu.


Netra Royyan bergerak ke arah suara yang memanggilnya, tatapan nanarnya memberikan isyarat kelimpungan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang inap milik istrinya itu. Lelaki itu masih terus melangkah lambat sampai akhirnya dia memutuskan untuk berjongkok dan menyentuh bubur yang sudah berserakan di atas lantai berkeramik putih itu.


Perlahan dia bawa ke dekat hidungnya, dia mencoba menghirup aroma bubur putih itu, aroma bubur hangat yang baru saja matang masih melekat di dalam bubur itu, tetapi di detik terakhir ada aroma lain yang mengganggu pemikiran Royyan, walau dia tidak tahu aroma apa itu, tetapi aroma itu bukan berasal dari bubur tersebut.


Royyan ambil sehelai tisu dari dalam saku jasnya, dia membersihkan bekas bubur dari telunjuknya dengan tisu tersebut, lalu dia lempar tisu itu untuk menemani bubur putih yang sudah tak layak untuk di makan.


"Ada apa ini? Kenapa bisa berantakan begini?"tanya Royyan tegas sambil dia memahami situasi yang ada di sana.


Terlebih saat bola mata kecil itu merekam seorang suster yang tak berdaya terduduk dengan wajah tertunduk dan telinganya memerah, batin Royyan semakin memangku beberapa kemungkinan, jika ada sesuatu hal yang tidak mengenakan telah terjadi dari sana.

__ADS_1


"Sayang ... Ada apa ini?"tanya Royyan lagi memasati wajah sang istri dengan penuh rasa khawatir.


Gadis kecil itu tidak menjawabnya, langkahnya bergerak cepat untuk menghampiri Royyan yang berada di tengah-tengah ruangan, dia menghamburkan tubuhnya memeluk sang suami dengan erat. Sekali lagi dia menangis dalam pelukan dada Royyan, sedunya kembali memberat membuat Royyan semakin kebingungan.


"Kenapa?! Aku baru pergi empat jam, kenapa sudah berantakan seperti ini?" Royyan masih berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi di sana.


Namun, istrinya tidak bisa menjawabnya, gadis itu sungguh terkejut sehingga bibirnya kelu dan hanya memuntahkan tangisannya sekencang mungkin, pipinya kembali basah karena ribuan kristal yang berlomba-lomba berhamburan dalam sekejap dada lelaki itu basah karena air mata sang istri.


Menyadari tangisan sang istri bukan tangisan biasa, lekas dia dekap istrinya dengan penuh sambil dia menjatuhkan sebuah kecupan hangat di pangkal kepala Almira. "Tenang sayang ... Ada aku sekarang, tenang dulu ya ...."pinta Royyan lembut mengusap pungguh Almira penuh kasih sayang.


Kemudian bola mata kecilnya bergerak ke arah Manda yang nampak menahan suster itu untuk tetap di sana, sementara suster tersebut bergeming bagaikan patung yang tak bisa bergerak atau memiliki kuasa untuk melarikan diri.


Manda dengan segera menyadari jika Royyan menunggu jawaban darinya, lantas dia bergerak ke dekat Royyan sambil dia tidak melepaskan tatapannya pada suster tersebut.


"Suster itu disuruh seseorang untuk meracuni Almira dengan racun arsenik, untungnya gue tahu saat cewek itu ngasih serbuk racun ke dalam air minum, itulah kenapa kamar ini berantakan karena gue lempar nampan itu,"jelas Manda tanpa ragu-ragu.


Senyap. Tak ada jawaban dari Royyan, karena lelaki itu masih berusaha untuk menenangkan istrinya, dia masih memeluk istrinya dan pelukannya semakin mengerat. Namun, garis-garis wajah ketampanannya mengerang, ada ketegangan sebuah kemurkaan yang meringkuk di balik kelopak matanya yang memerah.


Sesekali Royyan mengelus rambut istrinya dan berbisik. "Tenang sayang ... Aku gak akan meninggalkan kamu lagi, maaf ...."bisik Royyan di telinga sang istri.


"K--kak ... A-ku tak-kuuut ...."ucap gadis itu lirih dan dekapannya semakin melekat, tubuh keduanya benar-benar menempel, tak ada celah untuk angin menyelinap masuk ke dalam lorong antara tubuh Almira dan Royyan.


"Shuuut ..."desis Royyan lembut sembari membelai rambut dan punggung sang istri. "Kamu bisa nunggu aku bentar kan sama Manda,"katanya kemudian.


Almira menghentikan tangisannya dan dekapannya ikut terlepas, saat itu juga Royyan membungkuk di hadapan sang istri dan menyeka wajah Almira dengan lembut, mengeringkan wajah istrinya dari air mata yang membasahinya.


"Tunggu ya ... Aku gak akan pergi lagi, aku mau nelepon Adrian,"pinta Royyan tenggelam dalam tatapan ketakutan istrinya.


"Euum ..."gumam Almira mengangguk.


Bola mata kecilnya kembali melesat pada Manda yang berada di sampingnya. "Jangan biarkan dia lepas,"titah Royyan pada Manda.


"Tenang aja, gak akan gue lepasin,"tekad Manda menggebu-gebu.


Bibir kanan Royyan menaik sedikit memiring, lantas Royyan kembali keluar ruangan tersebut. Dan betul saja, dia segera melakukan panggilan telepon dengan Adrian, sosok yang selalu dia andalkan dalam pekerjaan apapun, entah itu urusan kantor ataupun urusan pribadi seperti saat ini, itulah mengapa Royyan menjamin kehidupan Adrian sepenuhnya, bahkan keluarga Adrian telah dijamin kehidupannya Royyan.


"Cek cctv rumah sakit, cari seorang wanita, jika butuh informasi hubungi Manda,"titah Royyan pada Adrian.


"Siap pak."


"Bagus, selesaikan dengan segera,"katanya lagi yang segera mematikan panggilan teleponnya.


Setelah panggilan telepon itu terputus Royyan tidak hendak kembali ke ruangan tersebut, dia masih tetap melakukan telepon dengan seseorang, dan dia adalah seorang teman saat kuliah yang sekarang menjabat sebagai pimpinan rumah sakit tersebut.


"Halo Yan ... Tumben lu nelepon gini, biasanya langsung datang aja ke ruangan gue."


"Datang ke ruangan dimana istri gue dirawat, sekarang, cepet!"pinta Royyan tak sabar.


"Weiiiits ... Santai dong lu, ada apa nih? Gue masih ngurus laporan rumah sakit nih."


"Cepetan! Sebelum gue obrak-abrik rumah sakit lu!"ancam Royyan sambil dia melempar tatapannya masuk ke dalam ruangan itu.


"Oke-oke ... Segera gue kesana, sabar dulu lu, jangan aneh-aneh, rumah sakit gue nih."

__ADS_1


"Udah makanya cepetan, lama lu!"


"Iya!"


Lelaki itu tak kunjung kembali ke dalam ruangan inap sang istri, dia masih berkelintaran di depan pintu ruangan itu, jiwanya begitu berkobar-kobar dengan kepalan tangan yang membulat dengan hebat. Jiwanya menderu dengan kekuatan yang hampir membuatnya frustasi, kemarahannya sudah berada diambang batasnya.


Tidak ada maaf untuk siapapun kali ini, anda menggemakan lonceng peperangan, maka dari itu mari kita berperang, wanita ataupun lelaki mari bermain dalam semburan api! Siapapun yang mengusik duniaku maka duniamu akan hancur di tanganku.


Tekad Royyan bergaung dengan agung. Dia berkelintaran sambil memutar lidahnya ke samping dan berkacak pinggang dengan kokoh di sana, sampai akhirnya pimpinan rumah sakit itu tiba dalam wajah yang ketakutan.


"Kenapa Yan?! Kayaknya lu lagi marah, please jangan buat rumah sakit rata dengan tanah,"tanya pimpinan rumah sakit itu sedikit bernada bergurau.


Pria dengan rahangnya yang tegas itu menoleh kasar pada salah satu temannya semasa dia menduduki bangku perkuliahan. "Masuk! Dan lihat betapa kacaunya di dalam,"tukas Royyan bernada dingin.


Nada suara yang amat dihindari oleh siapapun, karena saat itulah Royyan tengah mendekap kemarahannya yang tak ada yang mampu merelai kemarahan seorang Royyan D'Caprio Alzaro, jiwa senyap sang Royyan mampu mencekal semua pertahanan semua orang.


Maka dari itu, pimpinan rumah sakit itu segera berlalu masuk ke dalam ruang inap Almira, dan segera disambut dengan lantai yang sudah dikotori oleh makanan yang tertumpah, keadaan ruang kamar VVIP itu sungguh buruk, bahkan dia melebarkan bola matanya tak percaya jika ada kekacauan seperti ini di pasien VVIP-nya.


"Ini ada apa?! Kenapa berantakan seperti ini,"seru pimpinan rumah sakit yang tengah mengenakan stelan dokternya lengkap dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Netranya melayang pada suster yang kini terduduk tak berdaya di samping Manda. "Kamu kenapa duduk disitu,"sambungnya mulai mendekat.


Saat itulah, seorang pria sebaya dengan Royyan itu mendapati Almira yang masih menyisakan sedu kecilnya, jiwanya semakin tersayat. Tatapannya kembali melesat kepada Royyan yang kebetulan sudah kembali masuk ke dalam ruangan itu.


"Itulah kenapa gue manggil lu kesini,"timpal Royyan dengan tatapan dinginnya yang mencekam.


Seketika seluruh area sudut itu menjadi sangat menakutkan, terlebih saat Royyan meruncingkan tatapannya pada siapapun yang ada di dalam sana, kecuali pada sang istri. Lelaki itu bahkan tak menatap Almira secara langsung, dia tak bisa menahan emosinya jika mata kecilnya bertemu dengan mata kucing sang istri, jiwanya seakan tercabik-cabik oleh rasa sakit akan kekecawaan pada dirinya sendiri.


"Coba jelaskan, ada apa? Suster gue ada salah, dia melakukan kesalahan?"tanyanya sambil menunjuk suster tersebut.


"Bubur itu berisi racun mematikan, yang dibawa oleh suster bodoh lu itu untuk membuat istri gue mati!"gertak Royyan mendesah kasar.


"Hah?!" Pimpinan rumah sakit itu terbelangah, dia tak percaya jika salah satu susternya melakukan tindakan bodoh di rumah sakit yang selalu dia jaga citra baiknya.


Langkah lelaki berbadan bagus itu mendekati susternya. "Kamu ikut saya ke ruangan,"tegasnya menghunus tubuh lemah suster tersebut.


Dengan langkah gontai dan wajah yang tertunduk tak berdaya suster itu segera mencuar, berdiri di belakang pimpinan rumah sakit tersebut. Sedangkan pria itu sempat menghentikan langkahnya di depan Royyan.


"Sorry banget Yan ... Gue gak tahu apa-apa kalau ada suster gue yang melakukan hal keji seperti ini, gua akan interogasi dulu dan setelah itu gue bakalan cabut izin prakteknya dari rumah sakit ini,"janjinya penuh keyakinan.


Degh!


Jantung suster itu bergemuruh, ingin menyangkal pun dia telah tertangkap basah, semakin dia bersuara maka kemarahan semua orang yang ada di sana bisa saja membuncah, apalagi tatapan Royyan sudah membuat dirinya kehilangan rasa percaya diri, semua keyakinannya telah dirampas oleh lelaki berbadan kekar itu.


Royyan bergerak mendekati sang istri dan tanpa segan menaikkan tubuh mungil istrinya ke atas kedua lengan kekarnya, Almira sempat melebarkan bola matanya sebelum akhirnya dia memeluk leher suaminya dan memilih untuk terdiam dan membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia inginkan.


"Gue gak peduli apapun konsekuensi yang lu berikan sama dia." Tatapannya meruncing pada suster yang kini sudah tak bisa dilihat lagi wajahnya, "yang jelas gue cuman mau tahu siapa wanita itu, gua akan balik lagi kesini untuk cek cctv, dan ... Istri gue mau gue bawa balik, dan yang lainnya lu urus aja,"sambung Royyan.


Tanpa menunggu jawaban dari pimpinan rumah sakit itu, Royyan segera beringsut dari ruangan yang berantakan itu keluar, dan Manda mengekori Almira dan Royyan dari belakang. Ketiganya berjalan ke lift terdekat dari ruangan itu, kebetulan ruangan Almira berada di lantai tiga rumah sakit tersebut.


"Kak ... Aku bisa jalan, turunin aja gak papa,"pinta Almira lembut.


"Diem. Jangan banyak berontak." Sorot mata lelaki itu melesat jauh ke depan dengan ketajaman yang selama ini dibenci oleh Almira.


Seketika bibir kecil itu mengatup diwaktu yang bersamaan, bola matanya terlempar jauh sampai bertemu dengan bola mata almond yang sepertinya nampak ketakutan juga. Manda segera menggeleng untuk memberikan isyarat agar tidak banyak bicara saat keadaan seperti ini, lekas Almira mengangguk kecil dan merekatkan pelukannya di leher Royyan, gadis mungil itu tenggelam di tengkuk mulus sang suami.

__ADS_1


Ketiganya sampai di depan lift dan segera terbenam masuk ke dalam lift itu, lekas Manda bergerak ke dekat deretan tombol dan menekan tombol angka satu yang secara otomatis akan mengirimnya ke lantai satu rumah sakit itu.


NEXT ....


__ADS_2