Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 69 : Gadis misterius.


__ADS_3

Van sangat pandai bermain di air, dia mengendarai jetski itu hanya menggunakan satu tangannya, para kameramen dan beberapa staff yang melihat kedekatakan mereka nampak puas karena pasangan acara summer camp itu terlihat bagaikan pasangan sungguhan yang sedang di mabuk asmara.


Sementara di bagian daratan Almira dan staff-nya tengah merapikan beberapa barang-barangnya yang berserakan karena mengurus penampilan Manda dan Van. Elshara yang tidak berkepentingan pun ikut serta ada di sana, yang tengah bersama Ajun dan juga Royyan, tetapi kali ini Adrian tidak ada di samping Royyan.


Pagi tadi, Royyan membebaskan Adrian untuk melakukan hal pribadinya sebelum mereka kembali ke Jakarta dan melakukan aktifitas seperti biasa. Seperti perkataan Almira, Adrian adalah pekerja yang gigih dan setia, Adrian pantas mendapatkan sebuah hadiah yang sepadan untuk kinerjanya. Maka dari itu pagi-pagi Adrian telah bersiap dengan pakaian santainya, tidak memakai jas formal seperti yang dia pakai biasanya, dia keluar dari resort dan sampai detik ini dia belum kembali.


"Van sama Manda kalau jadi pasangan beneran cocok kayaknya,"seru Ajun merangkai wajahnya dengan senyuman hangat.


"Ya. Chemistry mereka sangat bagus,"timpal Royyan dengan wajah datarnya.


Tetapi tidak dengan Elshara yang nampak kesal dengan pujian kedua sahabatnya yang tidak tertuju padanya, hatinya menciut dengan geram, dia ingin menjadi pusat perhatian, tapi dia tidak bisa melakukannya. Kali ini semesta tidak berpihak padanya, wajahnya muram bahkan memerah padam, dia melipat kedua tangannya di depan dengan tegas.


Ajun menyadari jika Elshara dalam keadaan hati yang tidak baik, lantas dia yang berada di tengah-tengah Royyan dan Elshara menoleh ke arah kirinya dimana Elshara berada.


"El ..."panggil Ajun pelan.


"Kenapa?"sahut Elshara sama pelannya dengan bibir bawah yang maju ke depan.


"Dirta kok akhir-akhir ini gak pernah nyamperin elu, kalian berantem ya?"tebak Ajun yang selalu tepat sasaran.


"Gak tahu, udahlah biarin aja dia, lagian dia itu jahat udah bikin hidup Royyan gak tenang,"jawabnya mencibir Dirta.


"Ya kan dia kayak gitu gara-gara elo."


"Heh! Itu bukan urusan gue ya, orang dia yang neror, kenapa jadi gue yang ikut di salahkan,"sanggah Elshara tidak terima, bahkan dia mendorong Ajun sampai membentur tubuh Royyan yang berada di dekatnya.


Lantas Ajun terkekeh melihat Elshara yang sangat mudah terpancing emosi, wajahnya begitu bahagia melihat Elshara yang muram bahkan terbingkai dengan kemarahan. Kemudian dia merangkul Royyan yang postur tingginya lebih dari dirinya, dia menyeret Royyan menjauh dari Elshara.


"Lu terima aja Dirta, dia sudah banyak berkorban buat cintanya sama elu, waktunya terbuang sia-sia hanya karena elu,"teriak Ajun saat dia sudah menyeret Royyan dan memunggungi Elshara.


Elshara berkerut kesal, bahkan dia mengepalkan kedua tangannya yang terjuntai ke bawah dengan geram dan deru napasnya berderai dengan kasar. Hatinya masih di selimuti jiwanya yang egois, dia belum benar-benar memahami apa arti dalam sebuah cinta, dia masih berpikir jika cinta maka dia harus dimiliki.


Di bagian lain Royyan melimbai ke area tempat dimana menyewa wahana lain, yaitu banana boat yang bisa di naiki sekitar enam orang, jumlah yang pas untuk di naiki bersama. Ajun yang berdiri di tengah-tengah nampak terselap, lalu dia berlari mendekati Royyan yang tengah berbincang dengan petugas di sana.


"Lu mau ngapain?"tanya Ajun berkerut heran.


Pria gagah yang tengah memakai celana santai di atas lutut itu menoleh seraya dia memakai rompi pelampung berwarna hitam, di sana bukan hanya warna hitam, ada juga warna-warna lainnya, tetapi Royyan lebih memilih warna hitam seperti sifatnya yang hitam mencekam.


"Udah cepet pake,"titah Royyan menggerakkan bola matanya pada rompi-rompi yang berjajar di dekat petugas.


"Gratis ya,"seru Ajun seraya melenggang mendekati salah satu rompi berwarna orange.


"Ya,"sahut Royyan singkat. "Ajak Manda, Van dan Elshara juga."

__ADS_1


"Oke siap bos,"sahut Ajun memberikan hormat pada Royyan.


Seketika Royyan tersenyum miring dan melanjutkan memakai rompi pelampungnya, lalu Royyan mengambil satu rompi pelampung lagi dengan warna yang sama dengannya. Kemudian dia beralih dari sana mendekati Almira yang tengah mengenakan pakaian santainya dengan lengan panjang dan sedikit ketat sampai perut rampingnya terlihat sangat indah.


Tiba di sana Royyan menggenggam bahu gadis bertubuh mungil itu dan memutarnya dalam satu ketukan, membuat Almira terhenyak dengan bola mata yang membulat dengan hebat sedang kedua tangannya mematung sejenak sebelum akhirnya terjatuh begitu saja dan membiarkan angin meniupnya.


"Apa?"tanya Almira yang belum mau melepaskan bola matanya yang membulat seraya dia mengedarkan kepalanya mencari sosok orang-orang yang memperhatikan mereka, "kamu gak takut kalau ada banyak wartawan yang merekam kedekatan kita, gimana kalau mereka nyangka kita bukan hanya sekedar sepupu, seorang sepupu gak melakukan hal manis kayak gini,"celoteh Almira seraya dia mengikuti pergerakan tangan Royyan yang memakaikannya rompi pelampung.


Royyan sendiri hanya tersenyum miring seraya dia memakaikan rompi pelampung pada istrinya, tanpa mengucapkan satu patah kata apapun. Setelah selesai baru lah Royyan mulai menggerakkan bibirnya.


"Muka kita agak mirip kan? Jadi mereka pasti akan percaya jika kita memang saudara,"paparnya yang masih menggenggam bahu Almira dan sedikit mengelusnya dengan lembut.


"Ya emangnya bisa percaya gitu aja, Manda aja awalnya gak percaya kita cuman temenan,"tepis Almira yang kemudian mendorong Royyan dari dekatnya.


"Karena Manda sahabat kamu, jadi dia tahu dari pergerakkan kamu, sama seperti Ajun."Royyan menarik tangannya ke dalam saku celana dan tenggelam ke dalamnya.


"Bisa aja ngeles,"ujar Almira menyeringai, lalu dia berputar untuk melanjutkan merapikan barang-barangnya.


"Yaudah, aku tunggu di tepi sana ya ... cepet bereskan pekerjaan kamu dan, nanti kamu duduk di kursi nomor dua di belakang ya, aku akan ada di belakang kamu,"beber Royyan seraya mengelus rambut Almira dan dia berlalu.


"Hmm ..."


Tak lama Royyan berlalu pergi, Manda yang baru selesai shooting menghampirinya bersama Van dan sepasang kekasih dalam kamera itu menghampiri Almira yang kebetulan telah selesai mengemas barang-barangnya.


"Ra, lu mau naik banana boat juga?"tanyanya saat Almira masih membungkuk dan kemudian memberikan koper biru itu pada Sara dan satu staffnya yang lain.


"Iya kita juga di datengin Ajun ngajak main bareng wahana banana boat, selesai shooting main lagi, gratis pula. Karena Royyan udah bayar sepuasnya ...."terang Manda dengan antusias.


Manda sangat menyukai wahana permainan air, tetapi sebetulnya dia tidak tahu caranya berenang, sudah berulang kali Almira mengajarinya berenang. Namun, entah mengapa sahabatnya itu tak kunjung mahir bermain di dalam air, berbeda dengan Almira yang memang memiliki kemampuan berenang yang cukup baik, tetapi tetap saja Royyan masih lebih unggul dari siapapun yang ada di sana.


Dari kejauhan Almira melihat Ajun dan Elshara yang sudah mendekati Royyan, perlahan gadis berambut panjang lurus dark blonde itu naik ke atas banana boat lebih dulu, dia duduk di bagian paling depan, karena dia pikir Royyan akan duduk di belakangnya. Padahal Royyan berdiri di sana bukan karena ingin menaikinya, tetapi menunggu orang untuk menempati posisi itu lebih awal.


Saat Elshara sudah terduduk dengan tenang bahkan dia melontarkan senyuman manis nan bahagianya, Royyan justru berayun menjauh dari sana, dia mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana bagian kirinya. Lekas wajah Elshara menumbuhkan muram dan kesal di waktu bersamaan, dia hendak turun dari banana boat lagi untuk mengikuti Royyan.


Namun, Ajun dengan sigap menahannya dan membiarkan Elshara tetap duduk di sana, demi menjaga Elshara dengan tenang, Ajun mengorbankan dirinya untuk duduk di belakang Elshara. Dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Royyan, tujuannya adalah Almira. Royyan ingin merasakan bermain wahana air bersama sang istri tanpa di ketahui oleh siapapun dan ini adalah caranya untuk mengelabui semua orang tentang statusnya dengan Almira.


"Udah duduk aja, kita akan segera meluncur,"papar Ajun setelah dia duduk di belakang Elshara.


"Heh! lu kenapa duduk di belakang gue, itu tempat Royyan,"protes Elshara sedikit menoleh ke belakang.


"Kata siapa Royyan mau duduk di sini, dia lebih suka di belakang,"pungkasnya.


"Oh yaudah gue pindah ke belakang deh."Elshara mulai bergerak untuk kembali turun.

__ADS_1


Dengan sigap Ajun menahan pinggang Elshara, ini kali pertama kekuatan tangannya keluar sampai otot-otot tangannya tergambar dengan jelas, "bisa diem gak sih lu, udah deh lu jangan buat Royyan bad mood, kalau sampai Royyan bad mood yang ada si Royyan kagak bakalan naik."


"Tapi ... kan, gue pengen deket Royyan,"desak Elshara memelas seraya menoleh kecil pada Ajun.


"Royyan sambil jagain sepupunya si Ra, soalnya dia gak bisa berenang,"celetuknya berbohong.


Bohong dikit gak papa lah ya, dari pada nih anak mengacaukan keinginan Royyan yang mau bermesraan sama istrinya di belakang, tahu banget gue, maunya apa tuh anak es.


"Oh gitu,"sahut Elshara mengangguk, begitu saja dia percaya pada Ajun.


Di bagian lain Royyan nampak menggenggam ponselnya, dia menjauh untuk mengulur waktu agar semua orang terlebih dulu untuk naik ke banana boat itu dan dia akan menyusul menempatkan dirinya di bagian paling belakang. Pria berwajah dingin itu lekas mencari kontak Adrian, dan dia segera melakukan panggilan telepon dengan sekretaris pribadinya itu.


"Halo pak, apa bapak membutuhkan sesuatu?"ucap seseorang dari balik ponsel.


"Di mana?"Royyan malah balik bertanya dengan bola matanya yang tidak lepas dari Almira yang mulai berjalan bersama Manda dan juga Van mendekati banana boat yang dia sewa.


Terdengar di telinga Royyan, sekretaris pribadinya itu nampak beralih, pergerakkannya sangat jelas berayun ke arah lain, "saya lagi di toko oleh-oleh pak, saya ingin membelikan beberapa barang untuk kedua orangtua saya,"jelasnya.


"Baiklah. Setelah selesai, tolong carikan rumah di daerah Jakarta, terserah pilihanmu."


"Rumah? Rumah seperti apa yang bapak inginkan? Saya akan carikan yang pas untuk bapak,"tanya Adrian penasaran. Dia tidak ingin melakukan kesalahan apapun, maka dari itu dia selalu bertanya terus-menerus sebelum dia melakukan pekerjaannya.


"Beli sesuai apa yang kamu suka, fokuskan pada seleramu,"kata Royyan lagi, membuat Adrian semakin di rundung kebingungan.


Sebenarnya apa yang diinginkan oleh bos-nya ini, dia bukanlah seorang yang mahir membaca pikiran seseorang. Dia adalah pria muda yang gigih dan penuh kehati-hatian. Terdengar garukan lembut di area rambutnya, Adrian ganar, dia sama sekali tak mengerti apa yang coba di perintahkan oleh atasannya itu.


"Selera saya tak terlalu bagus pak, bagaimana jika bapak tidak menyukainya,"kelit Adrian.


"Carikan rumah di daerah deket perumahan rumah saya sekarang, selebihnya terserah padamu."


"Ba-ik pak, saya akan segera carikan."


"Saya tutup teleponnya."


Tanpa menunggu jawaban dari Adrian lagi, Royyan sudah menutup panggilan teleponnya. Di sana Adrian, fokusnya mulai menghilang karena perintah Royyan yang mendad. Setiap Royyan memberinya perintah Adrian tak bisa melepaskan pikirannya begitu saja sampai perintah itu belum dia penuhi, tanggungjawabnya pada pekerjaannya sangat kuat.


"Rumah? Pak Royyan mau cari rumah yang kayak gimana? Selera pak Royyan sangat tinggi, bagaimana bisa beliau meminta sesuai selera gue yang jauh lebih rendah darinya,"celoteh Adrian di depan berbagai macam pajangan yang di buat dengan cara di pahat dengan baik.


Dari balik kaca yang berisikan beberapa karya seni pahatan lain yang berkelas tinggi, berdiri seorang wanita berpakaian serba putih, dengan kacamata hitam dengan kaca yang besar bertengger di atas hidungnya, penampilannya sungguh menarik perhatian Adrian, fokus pria itu kembali teralihkan padanya.


"Hai nona dokter,"sapa salah satu penjaga toko tersebut, sepertinya dia sangat mengenali wanita bertubuh tinggi kecil itu.


Pergelangan tangannya memanglah sangat kecil, tetapi tubuhnya cukup tinggi, hanya saja masih tetap berada di bawah postur tubuh yang dimiliki oleh Adrian, yang masih memperhatikan wanita berambut sepinggang bergelombang itu menelusuri setiap deretan karya seni pahatan di depannya.

__ADS_1


Gadis itu terlihat menyeringai seraya melepaskan kacamata hitam yang menutupi mata cantiknya, dia tidak menjawab sapaan dari si penjaga toko, dia masih terus melimbai ke depannya untuk mencari suatu hal yang menurutnya menarik.


NEXT ....


__ADS_2