Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 22 : Mencari gaun.


__ADS_3

Aroma mawar menyebar ke seluruh penjuru ruangan kamar utama yang kini dihuni oleh sepasang suami-istri secara bersamaan. Gemerencik air dari dalam kamar sudah tak lagi terdengar, mungkin saja Almira telah menyelesaikan acara mandi dan berendamnya. Hampir satu jam lebih dia menghabiskan waktunya untuk memanjakan tubuhnya yang kelelahan sehabis bekerja seharian ini.


Ada banyak sekali hal yang harus dia selesaikan dalam satu hari, wanita mungil itu menyelesaikan lima gaun kliennya. Dia bukan hanya sebagai pakar mode melainkan ikut terjun menyiapkan pola dan juga menjahit gaun itu, untuk memastikan bahwa gaun rancangannya menjadi sebuah gaun yang sempurna untuk digunakan ditubuh kliennya.


Almira yang tengah mengenakan handuk kimono itu berjalan keluar dari kamar mandi seraya dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil berwarna putih dengan kualitas bahan terbaik.


Tetesan dari rambutnya terus mengekori langkahnya sampai dia tiba di tengah-tengah ruangan kamar yang luas itu, saat bersamaan Royyan keluar dari ruangan kerjanya tanpa sehelai kain baju apapun, dengan santainya dia mempertontonkan tubuh indahnya itu pada Almira.


"Kak Royyan! kamu udah gak punya baju apa, bisa gak sih kalau ada aku bajunya di pake,"pekik Almira sembari dia menutupi kedua matanya dengan rekat.


Royyan yang hendak melewati istrinya tanpa bertanya ataupun menyapanya karena pikirannya yang tengah kalut. Seketika menghentikkan langkahnya, mendengar teriakan Almira membuat sudut bibirnya menaik dengan merekah. Ada pikiran-pikiran nakal yang tumbuh dalam benaknya.


Lantas dia berputar dan berayun mendekati istrinya, tanpa ragu dia genggam kedua tangan Almira membawanya ke bawah dengan jeratan yang erat. Tahu tangannya di genggam dengan erat, pejaman mata wanita bermata pipih itu semakin mengerat.


"Akhh ...."teriakan Almira kembali memecah keheningan yang tercipta di sana. "Lepasin atau aku tendang ya, aku gak becanda ya kak,"sambungnya seraya menarik kedua tangannya dari belenggu sang suami.


Apalah daya, Almira wanita bertubuh mungil dengan sentuhan tangan yang lembut, energinya tak cukup mampu melawan kebugaran seorang Royyan yang memiliki tubuh dipenuhi dengan otot-otot yang kekar dan stamina yang kuat, tak semudah itu untuk mengalahkan Royyan. Pemilik sabuk merah silat ini memiliki energi yang sangat mumpuni. Kedua sudut bibir Royyan menaik, melontarkan senyuman tipis yang indah dengan tatapan nakalnya.


Rambut basah itu sungguh menggoyahkan pertahanan Royyan, dari ujung kepala hingga ujung kaki Almira, membuat Royyan semakin bergairah. Ludah pun semakin sulit untuk di telannya, dada putih yang nampak lembut di hadapannya semakin menarik Royyan untuk tenggelam di sana.


Royyan! Sadar. Ini bukan saatnya, kalau elu lakuin sekarang, yang ribet elu sendiri, rencana elu akan hancur berantakan, karena yang elu jaga itu bukan cuman istri elu, tapi anak elu. Sabar! Almira Miara Tisya akan tetap jadi istri elu, sampai kapan pun itu, jadi bersabar lah.


Untuk memusnahkan gairah yang bergejolak, Royyan menarik tangan Almira sampai dia tenggelam dalam dekapannya. Pria bermata kecil itu membenamkan wajahnya di tengkuk yang menyebarkan aroma mewar yang segar. Sontak Almira terperanjat hebat sehingga dia membuka matanya dengan gerakan cepat dan tentu saja degup jantungnya berdetak dengan derap yang memburu.


Wanita yang rambutnya masih basah itu mematung sejenak, pelukan Royyan terlalu hangat sehingga membuatnya nyaman, walau jantungnya terus berdetak dan membuatnya sedikit lemas, tubuhnya tidak memberikannya energi untuk menepis dekapan sang suami.


Apa ini? Kenapa tiba-tiba meluk, tangan gue kenapa gak bisa gerak, mampus! Ayo Almira ... elu harus melawannya, jangan diem dodol, elu harus melawannya. Dia emang suami elu, tapi itu bukan sesungguhnya, ayo tepis ALMIRA!


Sedang Royyan mendekap Almira semakin mengerat, memblokir kedua tangan istrinya yang terjuntai ke bawah, satu tangannya yang berada di punggung Almira, menekannya hingga melekatkan dekapan. Sedang tangannya yang lain melingkari pinggang kecil wanita berambut coklat keemasan itu, tak luput dari tekanan yang membuat Almira tidak bisa berkutik.


Pria berambut mullet itu tenggelam dalam tengkuk setengah kering milik Almira dengan lukisan senyuman manis di wajahnya.


"Kak Royyan gak lagi kerasukan setan kan?"tanyanya dengan tubuh yang mematung, namun di detik selanjutnya Almira mengguncang tubuhnya sebagai upaya dirinya untuk melepaskan diri.


"Kamu harus terbiasa melihat aku tanpa sehelai baju, karena aku suami kamu,"celetuknya dengan mata yang terpejam dan pelukan yang semakin tenggelam dalam kenyamanan.


"Heh! Jangan ngaco deh, kita bukan suami istri sesungguhnya, kamu lupa sama perjanjian yang kamu buat sendiri, pernikahan kita tidak ada yang tahu, jadi aku bukan istri kamu yang sesungguhnya,"pekik Almira seraya dia terus berusaha melepaskan dekapan Royyan dari tubuhnya, kedua tangannya menongkrong di pinggang Royyan, "Udah ah cepetan lepasin, aku gak ngizinin kamu buat meluk aku ya,"tambahnya sembari mendorong Royyan.


Tetapi dekapan Royyan tak kunjung melemah, malah sebaliknya, dekapan itu semakin mengerat. Royyan berdiri tegak dan menenggelamkan tubuh Almira pada pelukannya semakin dalam, menekannya menjadi lebih melekat dengannya.


"Akhhh ... Kak Royyan! Lepasin ih,"teriak Almira masih berusaha mendorong tubuh Royyan menjauh darinya.


"Tetap seperti ini, sebentar aja. Aku mohon ...."pinta Royyan seraya menggenggam satu tangan Almira dan membawa ke belakang tubuhnya.


"Enggak mau. Lepasin atau-"


Belum habis Almira berucap, Royyan dengan sigap menyergap perkataan istrinya, "Atau aku akan membawa kamu ke ranjang, dan kamu gak akan bisa kabur,"potong Royyan melembutkan pelukannya, dengan kedua tangan yang menjalari punggung yang tengah terbaluti handuk kimono berwarna putih.


Deg! Deg! Deg!

__ADS_1


Bibir Almira mengatup dengan pejaman mata yang kuat. Tubuhnya bergetar namun dia merasakan hangat yang tak bisa tergambarkan. Nyaman? Iya, Almira merasakan kenyamanan itu. Sesungguhnya sepasang suami-istri ini mengalami hari yang berat, tetapi mereka tidak saling membagi, terbatas oleh rasa gengsi dan perjanjian pernikahan yang tertulis di atas kertas. Pelukan ini bisa membantu meringankannya.


Almira memilih untuk diam dan menikmati pelukan itu, membiarkan tubuhnya menjadi target sandaran suaminya. Dia mulai memejamkan matanya, merasakan hangatnya tubuh Royyan, aroma khas suaminya melekat dengan dirinya. Setelah lebih dari delapan bulan dia tinggal bersama Royyan, Almira sudah menngenali aroma itu dengan baik.


Perlahan, aku akan menunjukkan betapa aku mencintai kamu. Mungkin saat itu pertemuan kita singkat dan secara nyata rasa itu memang tidak tumbuh dengan baik. Tetapi aku sudah jatuh cinta padamu, dan pernikahan ini telah memperkuat rasaku padamu, tunggu sebentar lagi.


Batin Royyan kembali memantulkan rangkaian perasaan yang hanya tuhan dan dirinya yang tahu.


Dengan balutan angin yang baru saja melintas, dekapan Royyan akhirnya lepas dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, tiba di depan pintu tangan kirinya meraih handuk kimononya yang berwarna putih lalu dia beringsut masuk ke dalam kamar mandi dan pintu tertutup dengan rapat.


Melihat sang suami berlalu begitu saja setelah memeluknya tanpa izin, wajah Almira mengerut, kemudian dia melempar handuk kecilnya ke arah lorong kamar mandi. Bola matanya meruncing seraya dia memburu deru napasnya sendiri.


"Iish ...."geram Almira yang kemudian mengepalkan kedua tangannya di atas sejajar dengan pipi tirusnya, "Meluk gak pake izin, udah itu melengos gitu aja, dasar cowok gila!"sambungnya kesal sembari meninju angin di hadapannya.


Netranya memicing lalu memutar tubuhnya, melangkah mendekati ranjang, menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang. Kemudian dia meraih ponselnya yang ada di atas nakas, dia berselancar di sosial media yang dia gunakan, begitu saja dia tenggelam dalam kelananya di sosial media, dan melupakan jika dirinya belum berganti pakaian. Bahkan rambut basahnya, menyimbahi bantal yang dia tiduri sekarang.


Baru dua puluh menit dia menjelajahi sosial media, panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya. Dari karyawannya yang dia tugaskan untuk mencari gaun yang akan dia kenakan di acara pelelangan dua hari lagi.


"Ada apa?"sahutnya setelah dia menerima telepon masuk tersebut.


"Saya sudah menemukan gaun yang cocok untuk ibu, apa ibu ingin melihatnya? Saya menemukan gaun ini dari koleksi ibu sendiri, ini adalah rancangan yang ibu buat untuk acara award tahun lalu di Paris, tetapi ibu tidak menggunakannya,"jelas seseorang di balik ponselnya.


Wanita berkulit seputih susu itu terdiam, menyelami memorinya untuk mengingat gaun seperti apa yang dimaksud oleh karyawannya itu. Setelah sekian detik dia terdiam, akhirnya dia mengangguk dan mengingat gaun apa itu.


"Iya itu aja, siapkan secepatnya ya."


"Baik bu, saya akan siapkan segera."


Seraya mengeringkan rambutnya dan mengenakan handuk putih yang menggantung dipinggangnya, Royyan menggelengkan kepalanya. Menyelami lekukan betis putih Almira, handuk kimono yang digunakan Almira sedikit terangkat dan memperlihatkan betapa indahnya kaki jenjang Almira, kaki bagian atasnya nampak jelas menggodanya.


"Kenapa belum pake baju, tidur di ranjang lagi, kamu mau aku ...."serunya yang telah memalingkan tatapannya pada benda lain.


Almira mengerjap dan segera terbangun dari ranjang dan bergegas berlari ke dalam ruangan pakaian itu dengan bola mata yang melebar dan wajah yang berkerut kesal, seraya dia melempar ponselnya ke atas ranjang dengan sembarang.


"Kak Royyan! Awas aja ya kamu,"ancamnya di dalam ruangan pakaian itu.


"Aku tunggu,"sahut Royyan di luar, dia tengah membiarkan angin malam menggodanya, tubuh propsorsional itu terlihat sangat sempurna, menongkrong di sana seraya mendongak menatap langit malam dengan mata yang terpejam.


...***...


Hari telah berganti, seperti biasanya sepasang suami-istri ini sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rumah mewah yang sebesar itu dihuni oleh sepasang suami-istri yang lebih sering terlihat bagaikan orang asing yang saling berbagi tempat. Para pelayan yang bekerja disana, sesekali bergosip membicarakan bagaimana hubungan dua bos-nya itu.


"Tuan dan nona, suami istri kan ya? Kok kayak yang gak keliatan seperti itu,"pungkas salah satu pelayan yang sedang menyirami pekarangan bunga yang sangat di sukai oleh Almira.


"Tuan dan nona kan sama-sama sibuk, dan lagi katanya mereka nikah karena perjodohan,"sahut Syani yang tengah menyapu di dekat pelayan itu.


"Oh pantesan, dan lagi kita kan di larang membicarakan kalau mereka udah nikah,"ujarnya mengangguk.


"Turuti aja, apapun itu pasti tuan dan nona punya alasan, kenapa pernikahannya tidak boleh diketahui oleh siapapun."

__ADS_1


Setelah perbincangan kedua pelayan itu berakhir, Royyan keluar lebih dulu dan segera memasuki mobil hitam yang biasa di kendarainya dengan bantuan sopir. Tak lama dari itu Almira pun ikut keluar dari rumah mewah itu, penampilannya sudah sangat sempurna bak detektif yang bertugas untuk mencari informasi penting. Kacamata hitam, topi putih dan masker hitam itu tak pernah dia lupakan kala dia meninggalkan rumah besar itu.


Royyan menyiapkan sopir dan juga mobil untuk istrinya pergi keluar rumah, tetapi Almira tidak pernah sekalipun menggunakannya, sampai sopir itu tidak memiliki pekerjaan dan akhirnya dia di pindahkan ke perusahaannya menjadikan sopir di kantor, sedang Almira kukuh tetap ingin mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir.


"Dasar keras kepala,"cibir Royyan lembut.


Kata-kata itu yang selalu terlontar dari bibir kecilnya, dari segi fisik memang Royyan yang lebih unggul, tetapi si kuat itu tidak mampu melawan keyakinan Almira. Keteguhan hati Almira tidak bisa tergoyahkan.


Tiba di butik, Almira sudah di sambut oleh orang kepercayaannya yaitu Sara. Paras yang selalu tenang dan nampak berseri-seri itu tiba-tiba saja berubah menjadi kepanikan. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah Sara.


"Kenapa? Aku baru juga datang, muka kamu udah kayak begitu,"tanya Almira seraya dia berlalu melewati Sara, masuk ke dalam butik.


"Maaf kak Ra, gaun yang akan digunakan besok malam, ada yang menginginkannya,"jelasnya hati-hati.


"Hah?!"seru Almira terkejut.


Dia menoleh dengan kernyitan dahi yang kuat, membuat Sara tertunduk lemas dan bibirnya yang membeku, tubuhnya bergetar hebat. Takut Almira meradang dan memecahkan amarahnya saat ini juga. Sedangkan tatapan Almira semakin meruncing, dia marah bukan tanpa sebab, tidak ada lagi gaun yang bisa dia gunakan untuk besok malam selain gaun itu.


"Kenapa bisa sih, kamu gimana bawa gaun itu sampai di taksir orang lain, kamu gimana sih Sara,"sesal Almira melangkah maju dengan pijakan yang tegas.


"Maaf kak Ra, saya ingin membawanya ke ruangan kak Ra dan kebetulan customer datang dan meminta gaunnya. Saya sudah berusaha menjelaskannya, tetapi beliau tetap menginginkan gaunnya,"beber Sara panjang dengan nada suara yang lembut, berhati-hati agar Almira tidak semakin membuncah.


"Yaudah mana orangnya."Almira menghentikkan langkahnya.


"Ada di ruangan Vip kak Ra,"sahut Sara berjalan mendahului Almira dan menuntun bos-nya itu melipir ke arah kanan menuju ruangan Vip berada.


Keduanya masuk ke dalam ruangan tersebut, dan di dalam sudah ada seorang wanita paruh baya yang berpakaian modis tengah memperhatikan gaun berwarna cerulean dengan lapisan kain transparan yang lembut, gaun dengan ekor panjang itu memang sangat indah, terlebih aksen di bagian dadanya yang menggunakan manik-manik berkilauan dari manik berkualitas tinggi.


"Permisi nyonya,"sapa Almira mencoba menurunkan seidkit emosinya.


"Ah halo."wanita paruh baya itu menoleh dengan senyuman lebar, seraya melangkah mendekati Almira, "Saya sangat menyukai gaun ini, apakah saya bisa memilikinya, untuk putri saya yang akan menghadiri acara penting,"sambungnya lagi dengan ceria, netranya memercikan kebahagian seorang ibu yang ingin melihat putrinya terlihat cantik.


Masa gue kasih sih, terus besok gua harus pake apa, lagian si Sara bukannya di sembunyikan malah terang-terangan, kan gua yang pusing nyari gaun lagi. ****** nih si Sara.


Wanita yang mengikat rambutnya seperti kuncir kuda itu menghela napasnya panjang. Wajahnya tidak menunjukkan rasa senang sama sekali.


"Sebenarnya gaun ini tidak saya jual, karena gaun ini saya rancang tahun lalu dan akan saya gunakan malam besok,"jelas Almira dengan hati-hati.


"Oh begitu ya, tapi saya sangat menginginkannya, saya akan bayar dua kali lipat, atau jika tidak saya akan bayar tiga kali lipat, tolong ya nona."wanita paruh baya itu tetap memohon pada Almira.


Sayang sekali. Gaun itu sangat cocok untuk dipakainya besok malam, tetapi bagaimanapun Almira adalah seorang perancang busana, yang menjual rancangannya pada pelanggan. Sejenak dia tercenung sembari menatapi dalam gaun itu, kecantikan gaun itu ternyata memang tak pernah menjadi miliknya, dari tahun lalu Almira sangat menginginkannya, tetapi tak kunjung mendapatkan kesempatan. Hari ini pun terulang kembali.


"Oke. Sara akan urus segalanya."


"Terimakasih nona, rancanganmu sangat bagus dan sempurna untuk putri saya."


Almira melontarkan senyumannya yang sebenarnya dia tidak memiliki gairah untuk tersenyum. Selanjutnya dia berputar dan meninggalkan wanita paruh baya itu dengan Sara untuk menyelesaikan transaksi atas gaun itu. Sedangkan dia berayun dengan kesal memasuki ruangannya, dia lempar tas kecil yang berisikan barang-barang berharganya itu ke sofa.


"Terus gue pake baju apa, gila!"gerutu Almira berkacak pinggang di hadapan sofa, "Ah tahu ah bodo amat gak mau mikir gua, capek,"sambungnya masih kesal, lalu dia berayun ke sofa dan terbaring di atasnya.

__ADS_1


Terjuntai lemah, menatap langit-langit kosong yang tidak memberikannya solusi apapun. Tumpukan berkas-berkas rancangan yang telah di pesan oleh kliennya itu sedari tadi hanya menontonnya, sedang wanita bermata pipih itu masih terpejam dengan kekesalannya seraya dia berpikir bagaimana caranya menemukan gaun untuk acara penting itu dalam waktu satu malam.


NEXT ....


__ADS_2