Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 41 : Gosip Elshara dan Royyan.


__ADS_3

Royyan tiba seorang diri di resort yang dia sewakan untuk acara summer camp, tiba di sana dia disambut oleh beberapa pegawainya untuk mengantarkannya ke kamar yang sudah dia pesan sebelumnya. Kakinya bergerak ke depan mengikuti pegawai yang bertugas untuk mengantarkan tamu ke kamar yang sudah di pesan, Royyan sendiri memilih kamar dengan nomor 1207 di kelas satu dan jauh dari jangkaun para model ataupun **staff** yang bertugas dalam acara summer camp tersebut.


Dia tidak suka suasana ramai seperti yang semua orang tahu Royyan adalah si pecinta sunyi dan ketenangan, tetapi bukan karena hal itu saja, melainkan ini dia lakukan agar bisa menemui istrinya di sana tanpa ketahuan oleh siapapun yang mengenalinya.


Sebuah bangunan megah dua puluh lima meter dari keberadaan laut yang luas dengan warna biru yang menyegarkan, di bawah langit dengan sinarnya yang agam. Resort itu memiliki 1500 kamar yang terbagi menjadi kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Sedangkan para model dan staff sengaja di tempatkan di area kanan yang di mana di sampingnya adalah sebuah hutan rimba yang terawat dengan baik.


"Ini kamar tuan, jika ada yang anda butuhkan lagi, silakan hubungi saya,"ucap pegawainya itu setelah dia memasukkan kedua kopernya masuk ke dalam kamar dengan pintu kaca yang tidak transparan.


Kaca itu memantulkan pemandangan di area pekarangan kamarnya yang dilengkapi dengan pajangan patung pahatan dan beberapa tanaman hijau yang terawat dengan baik, tetapi tidak bisa menembus area dalam kamar.


"Silakan kembali bekerja,"titah Royyan yang sudah masuk ke dalam kamar yang dilengkapi dengan kasur king berukuran besar.


"Baik pak, selamat beristirahat,"seru pegawai itu, kemudian dia seret kakinya keluar dari kamar dan keluar dari pagar kamar itu.


Perlahan pegawai pria itu menghilang dari tatapan Royyan, segera pria dengan wajah lelahnya menutup pintu kamarnya dengan rapat. Lalu dia lempar tubuhnya ke atas ranjang setelah dia melepaskan semua tas yang menempel di tubuhnya termasuk jaket denim yang dia gunakan. Lambat laun dia pejamkan matanya, dia ingin beristrirahat dulu sejenak sebelum memulai pekerjaannya di esok hari.


Hanya saja semesta sepertinya tidak pernah membiarkan Royyan untuk bersantai walau hanya dalam satu detik saja, baru saja Royyan memejamkan matanya, ponselnya sudah berdering lagi. Panggilan masuk dari beberapa orang silih bergantian melakukan panggilan telepon, pria bertubuh lemas itu bergerak ke jaket denimnya yang terjuntai di atas kursi sofa yang ada di samping kanan ranjangnya. Segera dia angkat telepon dari kakak perempuannya.


"Royyan, cepet kamu cek portal gosip,"pungkas Aneu tanpa menjelaskan disana ada apa.


"Ngapain? Males ah, capek,"balas Royyan dengan suara beratnya yang memang tengah kelelahan.


"Cepetan, kamu ngapain sama wanita itu lagi, kamu mau Dirta makin brutal lagi, sekarang iya dia cuman ngancem tapi kalau misalkan melakukan hal lebih dari itu setelah melihat portal gosip itu gimana?"


Royyan mengernyit heran, "ada apa disana?"Royyan kembali bertanya.


"Elshara menggandeng tangan kamu kan? Nah, di artikelnya kalau kamu pacaran sama Elshara, cepetan kamu luruskan,"jelas Aneu.


"Oke."


Panggilan telepon dengan cepat berakhir.


"Sial!"cibir Royyan seraya membuang napasnya dengan kasar.


Saat itu juga Royyan keluar lagi dari kamar inapnya, kakinya berlari dari sana sampai ke area lobi dan ternyata di sana sudah banyak wartawan yang sedang mengerubungi Elshara yang tengah bersama manager dan beberapa staff acara tersebut.


"Nona kenapa baru muncul sekarang? Apakah pak Royyan menyembunyikan nona karena noan sakit atau bagaimana nona?"


"Sejak kapan kalian berpacaran?"


"Kalian pasangan yang sempurna nona cantik dan tuan tampan."

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan secara tersembunyi seperti ini, padahal kalian ini sama-sama orang terkenal?"


Seperti biasa para wartawan itu tidak mempertanyakan kebenaran gosip itu, mereka langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang akan mengundang banyak perhatian dari seluruh penjuru negeri ini. Sedangkan Elshara nampaknya dia bahagia digosipkan dengan Royyan, karena memang ini adalah keinginannya. Wanita bermata pipih itu hanya tersenyum manis, seolah memang benar jika dirinya berpacaran dengan Royyan, mulutnya yang selalu berbicara panjang lebar pada Royyan rupanya tak berguna jika di hadapkan dengan para wartawan itu.


"No comment ya,"pungkas Elshara seraya dia tersenyum dan berjalan menjauhi para wartawan.


Royyan yang sudah melihatnya sedari tadi merasa geram, "dasar tidak berguna,"kutuk Royyan.


Kakinya bergerak maju dengan langkah yang tegas dan berdiri di hadapan Elshara, seketika senyum yang terlukis di wajahnya memudar, bola matanya pun seperti kebingungan apa yang ingin dia tatapi, segera dia menoleh pada para wartawan dan juga pada Royyan yang sudah menampakkan wajah tegas yang dingin dan agak menakutkan.


"Sudah puas kalian bergosip?"tegas Royyan.


Membuat semua wartawan yang ada disana mematung, bahkan kamera pun ikut turun. Royyan menggeser Elshara ke belakang tubuhnya, dan dia berdiri di depan para wartawan yang perlahan sudah mulai memberanikan dirinya mewawancarainya lagi.


"Dengarkan baik-baik, Elshara adalah sahabat saya saat SMA, dia sempat menghilang karena kecelakaan pesawat, dan baru-baru ini saya menemuinya lagi, diantara kami tidak ada hubungan spesial seperti yang kalian fitnahkan pada saya, dan status itu tidak akan berubah, Elshara sahabat saya. Jangan banyak bergosip, gunakan waktu kalian pada hal-hal baik, stop mengusik hidup saya,"tegas Royyan dengan tatapan tajamnya yang khas.


Setelah mengeluarkan kekesalannya, lekas Royyan berayun kembali ke area di mana lokasi kamar inapnya berada tanpa mempedulikan Elshara yang masih ada disana dengan beberapa staff-nya. Ketara jelas wajah Elshara menjadi muram, sepertinya dia tidak senang Royyan memperlakukannya seperti itu.


Kenapa sih Royyan? Tidak akan berubah kamu bilang, lihat aja nanti, status kita akan berubah, dari sahabat dan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai dan aku akan pastikan kamu hanya akan mencintai aku.


Batin Elshara menggema dengan kegigihan yang tak pernah padam.


Gosip itu dengan cepat turun dan tenggelam sebelum Almira mengetahuinya, karena dia di butik dengan berbagai macam pekerjaan sampai dia sendiri pun lupa untuk makan dan mengurus dirinya sendiri. Dua pensil terselip di telinganya, sedangkan bando yang dia gunakan di atasnya tertancap banyak jarum yang dia perlukan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan langkah gontai dan fokus tatapannya tidak teralihkan dari gaun pengantin itu Almira mendekati meja dan mengangkat panggilan telepon itu.


"Iya, siapa ini?"ucapnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Suami kamu,"celetuk Royyan di balik ponsel itu.


Deg!


Almira mengerjap tertegun, seketika fokusnya terpecahkan dan langsung melihat layar ponselnya, dan memang benar itu Royyan yang meneleponnya. Tanpa sadar dia menutupi mulutnya dengan bola mata yang sedikit melebar lalu pelan-pelan dia kembalikan ponselnya ke dekat telinga.


"Ada apa?"


"Kerja yang fokus jangan lihat portal berita tidak berguna,"celetuk Royyan kemudian.


Membuat Almira mengerut heran, menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya yang sedang dipenuhi dengan pekerjaan-pekerjaannya. Dalam kebingungan lantas dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasakan gatal, lalu dia seret langkahnya kembali ke kursinya dan duduk di sana.


"Apaan sih, mulai deh ngomongnya ngaco, kalau gak penting gak usah nelepon dah ah, kamu bikin kepala aku makin pening tahu gak,"omel Almira yang kemudian menyandarkan kepalanya di kursi putarnya.

__ADS_1


"Kalau ada gosip tentang aku jangan percaya, kerja aja, nanti Adrian ke tempat kamu."


"Hah?! Mau ngapain?"seru Almira bertanya-tanya.


"Tunggu aja."Setelah mengatakan itu Royyan segera mematikan ponselnya.


Mendengar suara telepon tertutup Almira segera menjauhkan ponselnya dari telinganya dengan wajah yang mengerut geram, menanapi layar segiempatnya dengan darah yang mendidih dan bergejolak hingga meletup-letup membuyarkan ide-ide cemerlangnya yang sudah berkumpul di dalam otaknya, lalu dia letakkan ponselnya di atas meja lagi, memburu napasnya keluar dari dalam dirinya kesal.


"Maksudnya apa? Woii ...."seru Almira frustasi. "Ada apa sih? Siapa juga yang mau lihat portal berita, gak ada waktu buat lihat begituan,"sambung Almira masih menggerutu seraya melipat kedua tangannya di depan dalam keadaan masih terduduk.


Baru beberapa detik Royyan memutuskan teleponnya, Sara mengetuk pintu dan membawa Adrian masuk ke dalam ruangannya, Almira mempersilakan Adrian duduk di sofa dan dia melimbai kesana duduk di depan Adrian yang selalu berpakaian rapi dengan rambut yang tertata dengan rapi pula dan juga lengkap dengan masker hitam dan topinya yang berwarna coklat susu.


"Ada apa? Disuruh bos kamu kan kesini?"ucap Almira menduga-duga.


"Iya nona, saya dipinta bapak untuk menanyakan kapan anda berangkat ke Bali?"jawab Adrian langsung tanpa basa-basi lagi.


Almira yang segera menyandarkan punggungnya ke sofa yang dia duduki segera menjawab pertanyaan Adrian, "hari minggu, besok staff saya yang akan pergi duluan, kenapa? Tapi ngapain kak Royyan nanyain hal itu, padahal kan dia udah tahu, cuman emang staff saya di undur satu hari,"beber Almira sembari mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan yang masih terlipat di depan tubuhnya.


"Bapak meminta saya untuk mendampingi nona ke Bali, biar saya yang urus untuk penginapan dan juga tiket pesawatnya."


Mendengar jika Adrian bersedia untuk mengurus tiketnya, seketika Almira melukis wajahnya dengan senyum ceria seperti ada cahaya di ruang gelapnya yang berantakan, banyak yang harus dia kerjakan sehingga dia sendiri pun bingung pesan tiketnya bagaimana, beruntungnya Royyan mengirim Adrian untuk mengurusnya.


"Baguslah, thankyou Adrian. Saya akan berangkat hari minggu, kalau bisa cari pesawat yang terbangnya jam sembilan atau jam satu jangan yang terlalu pagi, takutnya saya kesiangan,"pinta Almira penuh harap.


"Baik nona, saya akan berusaha untuk mendapatkannya."


"Oke."


...***...


Pulang ke rumah besar, Almira yang baru tiba di ruang tengah dan di sambut oleh kedua belas pelayannya, segera memerintah beberapa pelayannya untuk mengikutinya ke kamar untuk membantunya mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Bali.


Tiba di kamar, Syani menyiapkan satu koper sesuai perintah dari Almira sendiri, sedangkan Almira menyiapkan barang bawain lainnya yang akan dia masukkan ke dalam tas yang akan dia gendong.


"Nona mau bawa baju apa aja? Apa ada acara khusus yang mengharuskan nona menggunakan gaun mewah?"tanya Syani setelah dia selesai mengemas pakaian santai Almira.


"Hmm ... bawa aja satu deh, buat jaga-jaga, kalau kurang gampang tinggal beli aja disana, aku gak bisa bawa banyak barang soalnya bawa gaun-gaun dari butik juga,"pungkas Almira sesaat setelah dia selesai memasukkan make up dan keperluan lainnya ke dalam tas yang akan dia gendong.


"Baik nona,"sahut Syani yang segera melanjutkan pekerjaannya.


Acara kemas mengemas pun selesai. Almira hanya membawa satu koper dan satu ransel berukuran sedang, dia tidak bisa membawa banyak barang karena muatan pesawat yang dia tumpangi hanya memperbolehkan penumpangnya membawa dua koper dengan berat masing-masing 30kg. Begitupun dengan kelima staffnya yang tersisa membawa koper dengan jumlah dan berat yang sama.

__ADS_1


Selama dua bulan Almira maupun Royyan harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat itu, sembari menikmati keindahan kota Bali yang menjadi pionir negara ini. Rasanya bukan hal yang sulit, karena Almira maupun Royyan sudah menjalani hubungan seperti ini selama satu tahun. Namun, mereka melupakan bahwa di Bali semua orang yang terkait ada di dalamnya.


NEXT ....


__ADS_2