Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 84 : Kamu telah menjadi istri sesunguhnya.


__ADS_3

"Kamu mau bukti?"tanya Royyan mengapit dagu Almira dan membawanya untuk menatap padanya.


Gadis itu bingung. Bukti apa yang di maksud oleh suaminya itu? mendengar kata "bukti" angan Almira melayang pada sebuah kejadian saat di resort Bali, dimana dia di lahap habis tanpa ampun oleh suaminya itu. Seketika jantungnya berdegup dengan kecepatan yang membuncah dan bola mata yang membuntang hebat.


"Kamu mau ngapain?"kata Almira menatapi sang suami dengan tatapan mengintimidasi, seolah dia tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Royyan.


Lelaki itu tidak menjawabnya, hanya senyuman tipis yang menggoda Almira mencuat menjadi jawaban dari perkataan Almira tadi. Royyan tak membuang waktu lagi, detik itu juga dia menarik istrinya keluar dari kamar apartemen itu. Langkahnya terus berayun dengan genggaman tangan yang semakin mengerat.


"Kak ... kamu mau bawa aku kemana lagi sih,"protes Almira mengedarkan pandangannya panik.


Di dalam gedung memang tak terlalu banyak orang, hanya segelintiran orang saja yang nampak tidak peduli dengan apa yang sedang di lakukan sepasang suami-istri itu, bahkan ada salah seorang staff apartemen tersebut yang melihat dengan mata kepalanya sendiri cincin pernikahan yang selalu tertidur itu melingkar di jari manis Royyan dan Almira.


Sekumpulan mata mengekori langkah Royyan yang menyeret Almira yang baru saja keluar dari lift, lelaki itu terus menyeret Almira tanpa memberitahu kemana mereka akan melangkah, sekuat apapun Almira untuk menepisnya, dia tetap tidak bisa memasung langkah Royyan.


Gadis itu tertatih mengikuti kemauan sang suami, karena percuma saja dia melawan, dia tidak memiliki energi sekuat Royyan membawanya kemana pun yang dia inginkan. Aroma kelam nan dingin menusuk turun ke bawah bersamaan dengan angin yang ikut penasaran dengan apa yang terjadi di bawah.


"Kamu mau bukti kan?"ucapnya lagi menarik Almira ke depannya.


Kedua sejoli itu saling berhadapan di pekarangan apartemen yang luas dengan hiasan lampu-lampu yang bercahaya di setiap sudut jalanan, sedang di atasnya rembulan tengah membulat dengan sempurna, di lengkapi dengan tanaman-tanaman hias yang di mulai dari hijau hingga merambat ke warna-warna lain seperti bunga mawar yang ikut menambahkan kesan indah di sana.


"Bukti apa? Kamu jangan gila deh,"jawab Almira yang kemudian dia melenggang dari hadapan Royyan dengan wajah yang menunduk.


Dengan sigap Royyan melekap pinggang ramping Almira, dia tarik lagi ke hadapannya. Kali ini dia tak lagi melepaskannya, satu tangannya dibiarkan tetap menongkrong di pinggang ramping itu, sedangkan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk mengapit dagu gadis bermata kucing itu untuk mendongak.


Tangan yang semula mematung segera bergerak dari tempat nyamannya, satu tangannya menepis tangan kekar yang mengapit dagunya, tetapi tak berhasil. Pria itu tetap ingin meletakkan tangannya di sana, sehingga Almira kesal dan wajahnya berkerut dengan iringan degup jantung yang berdebar kuat.


Satu tangannya yang lain mengantung di tangan Royyan yang sedang memenjara pinggang kecilnya, "kak ... kamu yakin melakukannya, kamu selalu bilang kalau urusan kamu belum selesai dengan sahabat kamu itu,"tanya Almira, saat itu dia tak sungguh-sungguh meminta Royyan melakukannya dengan cepat.


Perlahan durja dengan rahang tegas itu mengegah dan rakitan senyum yang mengembang, tangan yang mengapit dagu tadi telah berpindah ke belakang kepala gadis di hadapannya, dia tekan sampai hidungnya saling menempel.


"Aku menyembunyikan pernikahan ini karena aku takut keselamatanmu terganggu, tetapi jika karena persembunyian itu membuatmu pergi, maka aku akan membicarakannya pada semuanya jika Almira Miara Tisya adalah wanita yang sangat aku cinta,"ungkapnya seraya menjalankan tangannya yang ada di belakang kepala Almira naik ke atas.


Mata kucing yang tertunduk segera tertadah, menatapi sang suami dengan jarak yang sangat dekat, perlahan kedua tangannya yang menggantung berlayar ke leher gagah pria itu, dia menggantung di sana.


"Ini adalah bukti jika aku sangat mencintai kamu, aku tidak pernah mencintai dia, jika aku mencintainya aku tidak akan menikahi mu, untuk apa mempermainkan pernikahan yang sakral yang di tulis langsung oleh tuhan,"sambung Royyan menekan pinggang sang istri menjadi lebih melekat.

__ADS_1


Wanita itu seketika memejamkan matanya, dia sudah tak sanggup lagi menatap langsung bola mata kecil yang membinarkan percikan cintanya sehingga Almira kelelahan, tubuhnya lemas, tangan kekar yang melingkari pinggangnya telah berhasil membuatnya kehabisan tenaga.


"Bagaimana kalau wanita itu mengetahuinya?"lirih Almira.


Dia sadar apa yang akan di lakukan Elshara jika dia tahu status Almira sesungguhnya, dia membayangkan betapa brutal gadis itu, tetapi dia tak bisa melewatkan kejadian ini yang akan merubah statusnya yang hanya sepupu menjadi istri atau nyonya Alzaro.


"Aku akan melindungimu sepenuhnya,"janji Royyan seraya dia menyeringai.


Almira mengangguk sambil dia membuka matanya, kemudian dia meringankan tubuhnya. Gairah Royyan semakin membara, kedua tangan yang menempel di pinggang dan belakang kepala Almira ikut berkobar-kobar.


Keduanya tidak memedulikan jika mereka sudah menjadi tontonan ribuan mata yang lewat dan ada pula beberapa yang menetap menunggu kameranya selesai merekam keindahan yang terjadi di depan matanya.


Tanpa menunggu lama lagi, Royyan menitikkan kecupan tipis di bibir manis Almira, seketika Almira tersekat sehingga tubuhnya membeku, perlahan bola matanya ikut grogi dan mengatup, dia pejamkan matanya dengan sekuat mungkin. Satu kecupan telah selesai, Royyan melanjutkan menerjunkan kecupan kedua di bibir kanan sang istri, beberapa detik dia menetap di sana seraya menekankan kecupannya dengan kekuatan yang lebih gagah.


Dari sana Royyan berjalan ke tengah, bibirnya berjalan di atas bibir Almira yang kemudian beralih ke arah kiri, saat tiba di sana tekanan itu menjadi lebih kuat sehingga Almira menelan ludahnya, degup jantungnya terasa meledak menyebarkan hawa panas membuatnya tak bisa mengendalikan dirinya.


Royyan berhenti sejenak, dia seka bibir yang sudah melembut itu, bibir bawah Almira dia tarik ke bawah dan saat itu juga dia masuk dengan c*um*n yang bergairah lebih membakar lagi. Gejolaknya berhamburan, ********** dengan penuh kelembutan. Berulangkali dia lakukan hal itu sampai dia tak sadar jika dia sudah bermain ganas di depan khalayak ramai, membuat semua orang yang ada di sana terbelangah.


"Kita lanjut di kamar,"lirihnya tiba-tiba menghentikan permainannya seraya dia menyeringai menggesekkan hidungnya dengan hidung Almira dan hidung yang berkerut.


Pria itu tidak membiarkan istrinya untuk berjalan dengan kakinya sendiri, dia naikkan tubuh mungil sang istri ke atas kedua tangan kekarnya, lantas dia meninggalkan semua orang yang masih menontonnya, dia melimbai kembali masuk ke dalam gedung apartemen, tepatnya kamar apartemen yang dia siapkan untuk melakukan itu semua.


Niatnya dari awal memang untuk menjadikan Almira sebagai istri sesungguhnya, gara-gara Ajun, Royyan menjadi selalu terbakar nafsunya untuk melekap Almira dengan penuh cinta yang membara itu. Hanya beberapa video saja, Royyan sudah tak bisa menahannya. Maka dari itu dia menghentikannya dengan segera dan membuang semua video itu dari ponselnya.


Beberapa hari yang lalu dia menonton beberapa video yang dikirimkan oleh Ajun, tetapi dia tak bisa menyelesaikannya, angannya terus melukis paras cantik Almira dan membawanya pada cinta yang lebih menggairahkan lagi.


Dia turunkan Almira dari tangannya ke atas ranjang, bersamaan dia yang memosisikan dirinya di atas tubuh gadis itu. Tanpa basa-basi Royyan melanjutkan permainannya yang tertunda tadi di sana, selesai di melahap bibir Almira sampai gadis itu lemah dan meraung karena tubuhnya bergetar sehingga bulu kuduknya merinding.


Bukan karena takut, tapi dia sangat menikmatinya. Pria itu melanjutkan permainannya di leher mulus Almira, dia kecup leher gadis itu berulang kali, dari bagian belakang telinga sampai mengelilingi leher gadis itu, raungan Almira semakin mendesah.


Wanita yang terkapar lemas itu tetap melingkari leher sang suami dengan kedua tangannya, matanya terpejam, meresapi sentuhan demi sentuhan yang selalu dia harapkan dari suaminya. Satu tahun penuh bahkan lebih dia tidak merasakan bagaimana menjadi istri sesungguhnya dan hari ini siap ataupun tidak Almira harus menerimanya karena Royyan tidak akan berhenti sampai kepuasannya terpenuhi hingga ke puncak.


"Aaahh ..."Almira meraung, tubuhnya lemas.


Selagi dia bermain di area leher, dan kembali ke belakang telinga gadis itu, perlahan dia memisahkan kancing baju Almira dengan lubangnya, lambat laun baju ketat yang di kenakan oleh Almira melepaskan diri dari tubuh mungil itu. Tidak hanya sampai situ, tangannya masih kuat untuk melucuti pakaian bagian bawah Almira.

__ADS_1


Dengan waktu singkat keduanya sudah saling melepaskan diri dari pakaian-pakaian yang membalut tubuhnya tadi. Berangsur Royyan turun dan tenggelam di dada Almira, wajahnya meresapi hangat yang manis, dia terus turun sampai tiba di tengah-tengah dan dia tenggelam lagi di sana dengan aroma tubuh yang semakin menyala lagi.


Permainannya semakin membuncah, membuat Almira mengerang dengan kuku-kuku kecilnya menancap di bahu lebar Royyan, mendesah dahsyat, sehingga gadis itu menutupi mulutnya agar suaranya tidak terlalu meraung, sedang Royyan sama sekali tak tergoyahkan dia bermain semakin dalam dan dalam lagi, tenggelam dalam kenikmatan yang tak terkira, dia menekannya berulang kali sampai kepuasannya terpenuhi.


Dia tidak menyangka jika melakukan hal yang seharusnya dilakukannya itu begitu membahagiakan, seluruh raganya berkembang menguapkan butiran bahagia yang bercucuran, semakin dia tenggelam dalam kenikmatan yang di berikan oleh istrinya, semakin dia tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia malam ini.


Ini bukanlah napsu semata, tetapi cinta yang begitu berdebar sampai rasanya jantungku bisa meledak, tubuh yang saling melekat bahkan kita menyatu dalam setu dekapan yang lebih pekat, bibirmu yang manis dan hangat telah membakar diriku sampai aku merasakan bahagia yang tak terkira, tubuh kita yang saling menyatu membuat aku semakin sadar, jika aku sungguh mencintaimu, aku tak ingin malam ini berakhir.


Tuhan .... Izinkan malam ini lebih panjang lagi, aku belum selesai dengan rasa yang sangat membakar jiwa dan ragaku.


Batin Royyan bercengkerama dengan semesta, dia mengalirkan kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini, dia tak bisa menghentikan permainannya yang semakin dalam semakin candu. Entah rasa apakah ini, tapi sungguh tubuh yang saling melekat ini rasanya enggan untuk menemui pelepasannya walau telah mencapai puncak permainannya.


Bantal-bantal dan guling yang berada di atas ranjang tadi satu persatu di singkirkan oleh lelaki itu agar permainannya tak terganggu, peluhnya bercucuran, malam yang dingin menjadi sangat panas karena keduanya saling mengirimkan kehangatan yang azmat, keduanya hanya dilindungi oleh sehelai selimut tebal.


Malam panjang dengan hawa yang menjalar mereka lalui dengan bahagia, malam itu pula Almira telah resmi menjadi istri dari tuan Royyan D'caprio Alzaro yang sesungguhnya, bukan lagi sekedar istri di atas kertas yang tidak menjalankan tugasnya, tetapi malam ini gadis itu telah menyatukan tubuhnya dengan sang suami dan mereka telah merekam jejaknya di tubuh pasangannya masing-masing.


Apakah aku sudah menjadi istri sesungguhnya?


Malam ini terlalu panas, sehingga aku tak bisa mengatakan apapun selain menerima permainan itu dengan lapang dan aku menikmatinya.


Andai malam ini tak menemui matahari esok hari, mungkin ini akan berlanjut sampai tubuh kita kelelahan, tapi rasanya suamiku tak menemui rasa lelahnya.


Rangkaian ungkapan bahagia Almira pun menggema.


Keduanya telah mencapai puncak permainannya, dan pria gagah yang berada di atas tubuh gadis itu dan masih tenggelam itu segera melakukan pelepasan dengan sangat lembut, dia tak ingin menyakiti sang istri yang sudah dia buat lemas, bahkan raungan gadis itu tak sekuat saat awal permainannya.


...***...


Pagi menjelang, bantal dan guling serta semua pakaian Almira dan Royyan masih berserakan di bawah, malam tadi mereka akhiri permainan panas itu dengan mandi bersama, mereka membersihkan sisa permainannya sampai benar-benar bersih, karena Royyan maupun Almira sangat menjunjung tinggi kebersihan. Setelahnya mereka kembali terkapar di atas ranjang dengan mengenakan handuk kimono yang tersedia di dalam kamar apartemen tersebut.


Keduanya masih terbaring lemah di atas ranjang, permainan Royyan semalam benar-benar dahsyat. Walau ini kali pertama lelaki itu melakukannya, tetapi permainannya sungguh seperti seseorang yang sudah melakukannya berulang kali, tak ada rasa canggung atau grogi. Dia mengalir begitu saja bersama dengan pawana yang menaik ke langit meninggalkan dua sejoli yang tengah di bakar asmara.


Satu jam sudah matahari bertengger di langit, cahayanya yang memancar tak bisa tembus ke jendela balkon kamar dimana Royyan dan Almira berada, keduanya saling memeluk, sehingga tak ada yang tahu bahwa matahari sudah geram ingin membangunkannya. Tak lama dari itu dering ponsel keduanya berdering dengan lantang, berulang kali suara panggilan silih berganti masuk ke dalam ponsel keduanya.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2