Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 130 : Rumah Sakit


__ADS_3

Malam berganti dengan kilatan cahaya yang ditulis oleh pena langit secara langsung, ia menari-nari bersama kerlipan bintang-bintang, dan di bawahnya Royyan yang baru saja mengendurkan tubuhnya untuk duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia di taman kecil di dalam gerbang rumah besar itu.


Punggungnya terenyak ke belakang mengarungi malam dan angin yang menusuk tulang-tulangnya, derit ngilu di dalam kulit terus menyerukan rasa dingin yang pekat. Saat-saat itu, dimana semua para tamu undangan sudah pulang setelah menikmati malam pesta ulangtahun Royyan, Almira dengan langkah gontai mendatangi sang suami yang masih saja mengurai wajahnya dengan kasar.


"Kamu kenapa ada di sini, ini udah malam, ayo masuk,"ucap Almira setibanya dia merekam jejak netra kecil sang suami.


Lelaki itu menoleh dengan lembut, surainya tersibak oleh angin bersamaan dengan ulasan senyum tipisnya yang memesona, dia menepuk bangku di sebelahnya untuk memberikan isyarat agar sang istri datang ke sana dan duduk bersamanya.


Tubuh ramping Almira perlahan berayun dan terjatuh tepat di atas bangku yang tadi ditepuk lembut oleh Royyan, punggungnya menempel di lengan kekar sang suami yang tengah terbentang ke arahnya.


Satu kecupan kecil meluncur di pipi Almira, seketika Almira mengerjap dan secara kontan menoleh ke arah sang suami, lagi-lagi lelaki itu hanya mengirim senyuman kecilnya dan hidungnya mengerut, perlahan wajahnya melangkah ke dekat Almira dan mempertemukan hidung lancip keduanya saling bersentuhan.


"Kenapa kamu keluar, aku bentar lagi masuk,"kisik Royyan menyirami wajah Almira dengan embusannya yang lembut.


Wanita bermata kucing itu sempat mendorong dada lebar lelaki itu sampai akhirnya dia mengeluarkan sebuah surat dari kertas kekuningan itu, debur jantungnya berhamburan tak karuan, ia berlari bak para kuda yang berhamburan.


"Ini ... Aku mau ngomong ini dari tadi, cuman gak sempet,"katanya pelan menyodorkan kertas itu ke dekat Royyan.


Dalam sekejap, durja lelaki itu berubah secara penuh, ruang kelam perlahan menyelinap masuk ke setiap pori-pori lelaki itu. Dengan debaran di dada semakin membuncah, Royyan ambil kertas itu seraya dia menegakkan posisi duduknya dengan benar.


"Ada seorang pria berbadan besar datang ke butik mengirim kertas itu, semuanya terekam di cctv,"terang Almira sesaat Royyan membuka kertas itu.


Alangkah terkejutnya pria berambut mullet itu kala melihat beberapa tetes darah menghiasi ujung kertas itu. Dahinya mengeras dan gigi-giginya mengerat, lantas dia cengkeram kertas itu sekuat tenaga yang dia miliki.


"Kamu tenang aja, aku yang akan urus ini,"pungkas Royyan memasukkan kertas itu ke dalam saku celananya.


Kemudian dia menarik pinggang Almira untuk memerintah istrinya naik ke atas pahanya, dengan sigap Almira naik ke atas paha sang suami dan melingkari leher lelaki itu, tubuh gadis bermata kucing itu dengan cepat menganjur dan melemah di sana dalam dekapan Royyan.


"Aku takut ..." Suara lirih gadis itu perlahan menyelinap masuk ke rongga telinga Royyan, "ada apa sebenarnya? Aku harus bagaimana?"lanjut Almira memejamkan matanya, merekam ketakutan dari balik dinding hatinya yang bergetar.


Royyan usap punggung sang istri dengan lembut, wajahnya tenggelam di ribuan helai rambut coklat keemasan itu, netranya terlayang dengan helaan napas yang panjang. "Kamu gak perlu takut, tidur dengan nyenyak sayang ... Besok kita akan ke rumah sakit untuk periksa kandungan kamu,"pinta Royyan mencoba menenangkan jiwa Almira yang nampak telah merasakan ketidaknyamanan.


"Euum ..." Pelukan Almira semakin menguat.


Begitu pun dengan Royyan yang melekatkan tubuhnya dengan sang istri lebih pekat lagi. Aura panas menyebar ke seluruh bagian tubuh Almira, dan gadis itu terlelap dalam posisi terduduk di pangkuan sang suami, sedangkan sorot mata lelaki itu menggambarkan sebuah amarah yang berdebar-debar.


Mengoyak angin dengan tatapannya yang meruncing, merajam setiap deru yang menghampirinya. Lalu dia menaikkan tubuh Almira yang perlahan semakin memberat ke atas kedua lengan kekarnya dan membawanya pergi dari sana menuju rumah besar milik kedua orangtuanya.


Malam ini sepasang suami-istri ini memutuskan untuk menginap satu malam di sana, keadaan di luar sana semakin bahaya untuk Almira terlebih kandungan wanita itu masih menginjak usia satu bulan. Royyan tak ingin mengambil risiko lebih buruk jika membawa istrinya pulang malam itu juga.


...***...


Tepat saat matahari menghunus muka bumi, Almira dan Royyan tiba di sebuah rumah sakit besar yang berada di pusat kota, keduanya masuk ke dalam sebuah ruangan seorang dokter kandungan.


Di dalam, Almira membaringkan tubuhnya di atas brankar, menghela napasnya panjang sampai menemukan rasa lega yang membuat hatinya terasa leluasa untuk bernapas. Sedangkan Royyan ada di bagian lain di dalam ruangan itu tengah menonton istrinya tengah di USG oleh dokter pilihannya.


"Usia kandungannya menginjak lima minggu, dan janin dalam keadaan sehat, untuk sekarang mungkin belum terlalu terlihat ya pak Royyan, janin masih bertumbuh kembang. Untuk itu beli susu merk ini dan beberapa vitamin untuk membantu memperkuat kandungan,"papar dokter tersebut memberikan secarik kertas yang berisikan beberapa hal yang harus dibeli untuk menjaga kandungan Almira tetap sehat.


"Baik dokter,"sahut Royyan singkat.


Dokter tersebut berayun keluar dari ruangan yang hanya dipisahkan oleh tirai biru, lantas Royyan berayun mendekati istrinya dan menariknya untuk terduduk dengan benar, masih di atas brankar.


"Semuanya baik-baik aja, jadi jangan banyak pikiran ya sayang, anak kita ..."pinta Royyan dengan lembut sambil mengelus perut istrinya yang masih tampak ramping, "butuh ibu yang sehat dan bahagia.

__ADS_1


"Euum ..."gumam Almira mengangguk pelan.


Pemeriksaan kandungan pertama berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan apapun dan dari siapapun, sampai akhirnya sepasang suami-istri itu berayun keluar dari rumah sakit dan terdiam di parkiran rumah sakit tersebut.


Drrt!


Getaran ponsel Royyan kembali bertalun, telapak tangan yang lebar itu segera mengambil ponsel itu dari dalam saku jasnya, sedangkan genggamannya pada sang istri tidak terlepas.


"Ada apa?"ucap Royyan pada seorang pria yang ada di balik panggilan telepon itu.


"Maaf pak, meeting akan segera dimulai kurang lebih sekitar tiga puluh menit lagi."


"Oke, saya sebentar lagi ke kantor, setelah ..."sahut Royyan yang sengaja dia hentikan perkataannya karena perhatiannya teralihkan pada Almira yang bergeming di sampingnya.


Genggamannya tiba-tiba saja terlepas dan menarik punggung Almira masuk ke dalam dekapan dadanya, Almira bersandar di sana dengan nyaman. Gadis bermata kucing itu melingkari tubuh sang suami dengan lekat, tak lupa senyuman indahnya menghiasi paras cantiknya itu.


"Saya mengantarkan istri saya pulang,"lanjutnya yang kemudian menyapukan sebuah kecupan hangat di dahi Almira, seketika bibir kecil milik gadis itu mengembang.


"Baik pak, euum ... Mengenai penyelundupan orang kita ke komplotan penjahat itu ...."


Mendengar hal itu lekas Royyan melepaskan dekapannya pada istrinya, sebelum pergi dia sempat menoleh pada Almira, mematri tatapan istrinya dengan jeluk. "Aku ada obrolan penting dulu,"pamitnya kemudian melenggang dari hadapan istrinya.


Arah kaki pria berbadan tegap itu terhenti di ujung gerbang keluar dari rumah sakit itu, sedang Almira hanya menatapi sang suami dengan polos tanpa ada pikiran-pikiran aneh yang menguasai diri gadis itu.


"Pasti urusan kantor,"duganya tenang.


Derap kabut kelam perlahan bergeser melahap setiap angin yang datang menghampirinya, dalam kebisuan ia menjelma menjadi sebuah gulungan awan hitam yang berkumpul di dekat gadis bertubuh mungil itu, menatapi punggung cantik gadis itu dengan penuh ambisi.


Satu motor yang sama dan orang yang sama tengah mempersiapkan dirinya di belakang gadis itu, deru motor itu menggerung mematahkan harapan sinar matahari untuk membuat setiap insan yang ada di bawahnya merasakan kebahagiaan.


"AAKHH ...." Teriakan Almira memecahkan keributan yang diciptakan oleh para pawana yang tengah melintas.


Raga gadis mungil itu terpental ke depan dan menggelesar jauh, perutnya berbenturan dengan benda keras di bawah, darah berambai-rambai di pelipisnya karena sempat membentur badan mobil yang ada di depannya, serta di bagian betisnya. Sepertinya kandungannya bereaksi dan mengeluarkan darah itu.


Gadis itu mengerang menahan rasa sakit yang luar biasa, dia telentang menatapi langit dengan tatapan kabur, derai napasnya mengurai kesakitan, bibirnya kelu. Tangannya terjulur ke arah sang suami berada, tetapi dia tak mampu menyerukan nama sang kekasih jiwanya. Sementara motor itu sudah melarikan diri melesat jauh keluar dari rumah sakit.


Royyan yang berada jauh dari sana, segera melebarkan bola matanya, degup jantungnya berhamburan dengan kesakitan yang menggetarkan tubuhnya hingga tak berdaya. Tanpa menunggu lama, Royyan kayuh langkahnya dengan kecepatan yang dia mampu---memangku istrinya dengan getaran tangan yang tak bisa dia relai.


Dia usap wajah sang istri dengan penuh ketakutan, perlahan derai menguasai diri. Tetesan butiran kristal dari bola mata kecil itu terus berjatuhan menimpa wajah istrinya. "Sayang ... A-apa yang kamu rasakan, maaf ...."ucap Royyan terbata-bata mengusap wajah istrinya yang berlumuran darah.


Suara paraunya melekat di tenggorokannya bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat, bibirnya pun ikut bergetar mendekap kekesalan hatinya yang tak mampu menjaga istrinya.


"K-k-kak ..." Suara gadis itu semakin lirih.


Rintihan Royyan semakin menyesakkan dadanya, wajahnya memerah terlempar pada gerbang kosong dimana motor itu berlalu dengan cepat sampai Royyan tidak menyadari keberadaannya. Lalu kembali ke arah sang istri dan gegas menaikkan tubuh sang istri yang berlumuran darah dan tampak lemah berlari ke dalam rumah sakit kembali.


"A-an-a ..." lirih Almira terbata-bata dengan tatapannya mulai membalam dan tangannya terjuntai dengan lemah ke bawah.


"Sssst ... Jangan banyak bicara dulu,"desis Royyan dengan suara yang bergetar.


Di dalam rumah sakit.


"Dokter! Suster! Tolong! CEPET!"pekik Royyan panik, dadanya bergemuruh tak karuan.

__ADS_1


Seketika seluruh awak rumah sakit mendekat, beberapa suster datang menghampiri untuk melihat kondisi gadis yang tengah dalam pangkuan suaminya. Setelah melihat betapa memprihatinkan kondisi gadis itu, beberapa suster segera berlari mengambil brankar, dan Royyan segera menjatuhkan tubuh istrinya di atas sana dengan sangat lembut.


Salah satu suster itu segera memasangkan alat bantu pernapasan, suster lainnya mendorong brankar ke area unit gawat darurat, begitupun dengan Royyan yang ikut berlari sembari menggenggam tangan istrinya yang melemah.


Sesekali pria kekar itu menyeka air mata yang terus berjatuhan tanpa ada rasa lelah, rintihannya menciptakan sedu yang amat memilukan. "Sayang ... Bertahan, aku mohon ...."pinta Royyan sungguh-sungguh sehingga sesak di dadanya semakin membuncah sambil menggenggam salah satu tangan istrinya dengan penuh harapan.


"Ka-kamu ingat kan,"ucap Royyan sedikit tercekal, "jika kamu pergi dalam kondisi apapun aku akan ikut bersamamu,"sambung Royyan dengan pilu.


Almira yang tengah terkapar tak berdaya sedikit menggerakkan bibirnya untuk tersenyum, tetapi sepertinya dia tidak sanggup melakukannya, sehingga gadis bermata kucing itu hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban untuk sang suami yang tengah menghamburkan ribuan butiran kristalnya.


Tiba di depan ruang unit gawat darurat, salah satu suster menahan dada Royyan untuk tetap berada di luar. "Maaf pak, bapak tunggu di luar, istri bapak akan baik-baik saja,"pinta suster itu.


Sorot mata Royyan mematung, fokusnya hanya pada sang istri yang di bawa masuk oleh para suster. Dia terdiam di depan pintu UGD yang sudah tertutup rapat oleh suster tersebut. Tubuh lelaki itu tersungkur ke bawah dan berguling menyandarkan punggungnya pada pintu tersebut.


Tak lama dari kebisuan Royyan yang terus-menerus meneteskan air matanya tanpa henti, dokter yang berpakaian rapi siap melakukan operasi melenggang ke dekat Royyan, lekas Royyan berdiri dari bawah dan menahan langkah sang dokter.


"Dokter ... Tolong selamatkan istri saya,"pinta Royyan penuh harap.


"Baik pak, tolong tenang dulu, kami akan berusaha untuk menyelamatkan istri bapak,"imbuh dokter, lantas dokter itu segera masuk ke dalam ruang UGD bahkan dia sedikit berlari masuk ke dalam ruang operasi.


Raga Royyan terjatuh lagi dengan lemah ke bawah, kedua lututnya terangkat, tangannya menyerana di atas lutut, sedangkan wajahnya tenggelam di antara lututnya itu. Punggungnya merunduk dengan segala ketakutan yang berkecamuk dalam jiwanya.


Dia mencengkeram hatinya dengan kasar bersamaan dengan hidungnya yang mengerut dalam. Tak lama dari itu, sorot matanya mencekam. Tangannya mengepal hingga tumpat, membuncahkan kemarahan melalui kerlingan matanya yang meruncing. Dadanya bergemuruh, jiwanya berambisi untuk menemukan siapa lelaki bermotor itu, lantas dia melempar embusan napasnya dengan kasar.


Sambil menyeka air mata yang baru saja menyurut, Royyan ambil ponselnya yang sempat dia masukkan ke dalam saku celananya saat dia berlari tadi. Jari-jemarinya bergerak mencari nomor Manda.


"Halo ... Kenapa Yan?"


"Gue mau minta tolong,"ucap Royyan dengan nada suaranya yang tegas.


"Iya, kenapa?"


"Tolong datang ke rumah sakit dan jaga Ami,"pinta Royyan bergerak kesana kemari tak sabar melahap langkahnya sendiri.


"Hah?! Ra kenapa?"


"Gue jelasin nanti, yang jelas lu datang cepetan, dan jangan pernah ninggalin Ami sampai gue kembali,"tegas Royyan menggebu-gebu.


"Ah iya oke ..."


Pria berbadan kekar itu berkelintaran dengan gelisah di tempat yang sama, sesekali dia menyugar wajahnya hingga ke belakang lehernya secara kasar, embusan napasnya yang berat terus terlempar keluar penuh ambisi.


Saat tubuh lelaki itu bersandar pada pintu yang masih tertutup rapat, sosok Manda tiba dengan tersera-sera menghampiri lelaki itu, napas gadis itu masih tersekat karena dia terburu-buru untuk tiba di rumah sakit yang telah diberi tahu oleh Royyan.


"Ada apa Yan?"imbuh Manda dengan mata yang memerah.


Mendengar suara yang tak lagi asing di telinganya, Royyan segera bangkit dan menghampiri Manda, sorot matanya menajam dan menjatuhkan cengkeraman lembut di kedua lengan Manda, seketika gadis bermata almond itu mematung.


"Gue ada urusan, tolong jaga Ami, dan gue mohon lo jangan kemana-mana sampai gue kembali, tolong gue ..."pinta Royyan iba.


"Ah i-iya." Manda mengangguk tegas tanpa ada keinginan untuk menanyakan banyak hal tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya.


"Thankyou ... Gue akan segera kembali,"pamit Royyan melekukkan tatapannya dengan penuh rasa lega.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2