
Saat sinar matahari menyuruk ke dalam celah-celah jendela yang terbuka dari sebuah bangunan yang beraroma kelam di suatu bangunan yang mendekap banyaknya jeruji besi. Ajun berhadapan dengan para polisi yang dari kemarin menjadikannya tumbal ribuan pertanyaan tentang kasus yang dilaporkan oleh lelaki berbadan tegap itu.
Dalam ruangan kedap suara dengan pencahayaan yang redup, Ajun berdiri di samping polisi untuk menginterogasi Elshara yang tertunduk lemah, gadis cantik itu membeku bagaikan patung yang dipajang di mal-mal besar atau di butik-butik.
Paras cantiknya mengendur begitu saja saat sinar yang dihasilkan dari lampu-lampu itu menyorotnya, tetapi dari bilik-bilik redupnya sinar di wajahnya, di sana sama sekali tidak tampak rasa bersalah ataupun menyadari kejahatan yang telah dilakukannya.
Sudah lebih dari enam jam Elshara terduduk di hadapan dua polisi dan Ajun, ratusan pertanyaan sudah terlontarkan, dan gadis itu menjawabnya dalam keadaan setengah sadar, karena sebagian jiwanya telah lari entah kemana, tatapannya kosong dengan punggung yang meringkuk lemah.
"Bawa tahanan ke dalam sel kembali,"titah salah satu polisi yang ada di dekat Ajun.
Dua polisi yang berada di luar segera masuk dan membawa Elshara kembali ke dalam sel, gadis itu di masukkan ke dalam sel khusus bagi tahanan yang ditangguhkan, karena proses sidang masih berlanjut, dan Ajun yang melihat sahabatnya dalam keadaan payah lekas mencelos, dia menghela napasnya panjang sambil memeluk dirinya sendiri.
El ... Lu kenapa harus kayak gini sih, jujur gua kasihan dan gak tega lu diseret seperti itu, tapi kejahatan harus mendapatkan hukumannya, sorry ... Gue gak bisa bantu apapun, selain membantu proses sidang berjalan lancar.
Batin Ajun bergumam, lantas lelaki itu menyugar wajahnya kasar dan menyeretnya ke belakang seiringan dengan helaan napasnya yang terbuang keluar.
"Bagaimana pak Ajun?"tanya salah satu polisi yang masih menyusun hasil laporan interogasi yang baru saja selesai.
Ajun yang berdiri di belakang polisi itu gegas bergerak ke depan dan terduduk di kursi yang semula diduduki oleh Elshara, dia tarik kedua sikutnya ke atas meja dan menautkan jari-jemarinya lalu dia letakkan dagunya di atas kedua tangan yang sudah saling bercantum.
"Tahanan harus melakukan pemeriksaan dokter kejiwaan terlebih dahulu, baru kita bisa menentukan jadwal sidangnya,"ujar Ajun kala dia mengingat perkataan Nanda jika Elshara mengidap gangguan mental OLD (Obsessive Love Disorder).
OLD (Obsessive Love Disorder) adalah kondisi mental seseorang yang mengalami perasaan obsesi cinta yang tidak sehat terhadap orang yang disukai. Sebuah perasaan yang kuat dan tidak mau melepaskan diri dari orang yang dicintainya, dan inilah yang terjadi pada Elshara karena obsesinya yang besar terhadap Royyan, jiwanya menyetir dirinya untuk melakukan hal-hal yang di luar kendalinya.
"Ada apa dengan tahanan itu pak Ajun?"tanya salah satu polisi yang lain.
"Bukankah wanita itu teman Pak Ajun,"seru polisi lainnya yang juga masih berada di dalam ruang interogasi.
Ajun mengurai napasnya keluar dengan lembut dan menurunkan tangannya menjadi terbaring di atas meja dengan sembarangan. "Iya dia teman saya, dan kata dokternya jika dia mengidap gangguan mental OLD (Obsessive Love Disorder),"jelas Ajun seperti apa yang dia ketahui. "Jadi kita gak bisa sembarangan menjatuhkan hukuman pidana padanya, dan korban pun masih dalam penanganan dokter,"sambung Ajun.
"Ah benar, itu berarti kasus ini merujuk pada UU KUHP pasal 44 jika pelaku yang mengalami gangguan mental, gangguan jiwa dan sejenisnya tidak bisa dipidanakan,"sahut salah satu polisi di depannya.
"Itulah kenapa tahanan harus melewati proses pemeriksaan kejiwaan terlebih dulu, jika terbukti ada gangguan mental maka sudah jelas tidak akan ada tindak pidana,"urai Ajun lagi.
"Oke baiklah pak, kami akan mempersiapkan dokter khususnya."
"Eh tunggu, panggil dokter Zarina dari rumah sakit pusat kota, karena dia dokter pribadinya,"sanggah Ajun saat para polisi itu membereskan meja interogasi tersebut.
"Baik Pak, kami akan segera memanggilnya."
"Oke." Ajun segera bangkit dari kursi, "kalau ada apa-apa panggil saya, jangan Royyan, dia sedang mengurus banyak hal, jangan bebani sahabat saya dengan persidangan pelaku,"pinta Ajun pada beberapa polisi di sana.
Para polisi di sana hanya mengangguk dan segera menyetujui permintaan Ajun, setelah itu lelaki berambut french crop itu segera keluar dari gedung kepolisian. Tiba di luar gedung kepolisian, betapa terkejutnya Ajun kala dia melihat ratusan kamera dengan para wartawannya sudah menyambutnya dengan kamera flash yang bergemuruh.
Mampus! Gue lupa lagi, para wartawan pasti sudah mengetahui kasus ini. Mereka kan selalu tahu apapun yang terjadi.
Batin Ajun kembali berujar.
"Mau kabur udah terlanjut mata mereka lihat gue, ah sial!"bisik Ajun.
Terpaksa dia melangkahkan kakinya, melanjutkan perjalanannya menuju parkiran dimana mobilnya terparkir di sana, dan untuk menuju ke sana lelaki itu harus melewati ratusan wartawan itu.
Tubuh Ajun bergerak keluar menemui para wartawan yang sudah berbicara berbagai macam hal dalam waktu yang bersamaan, suara mereka menyatu dengan suara kamera flash dari kameramennya, membuat Ajun tak mampu mendengar apapun selain suara riuh yang berkesinambungan dan telinganya tak mampu mencerna apapun yang masuh ke telinganya.
"Stop! Tenang dulu ... Kalau bicara semua saya harus jawab apa,"tegas Ajun mengedipkan matanya beberapa kali sambil menggeleng.
Seketika semuanya senyap, kecuali kamera yang masih terus bekerja, para kameramen tak bisa menghentikan pekerjaannya begitu saja. Namun, para wartawan sudah terdiam dan saat inilah kesempatan Ajun untuk mengatakan sesuatu dan segera berlari dari hadapan para wartawan itu.
"Kasus ini masih dalam tahap persidangan jadi tunggu kelanjutannya saja ya,"pungkas Ajun yang segera melangkahkan kakinya untuk menjauh.
__ADS_1
Bukan wartawan namanya jika tidak memburu targetnya untuk mendapatkan sebuah informasi yang bisa mereka bawakan dalam sebuah artikel online atau dibawakan di dalam berita televisi.
"Apakah benar pak Ajun, jika nona Rala top model dari agensi besar melakukan percobaan pembunuhan?"
"Iya Pak, bagaimana kronologinya?"
"Apa bapak ada di lokasi kejadian?"
"Lantas bagaimana kondisi korban?"
"Siapa korbannya pak?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja terlontar kehadapan Ajun sampai lelaki itu menghentikan langkahnya dan menghela napasnya panjang. "Saya gak bisa menjawabnya, semuanya akan dijelaskan oleh pihak kepolisian, saya di sini hanya membantu sahabat saya Royyan untuk mengurus persidangan,"kilah Ajun.
Ajun tak ingin mengatakan apapun tentang kasus ini, dia hanya takut salah mengatakan suatu hal yang mungkin saja akan memperkeruh suasana, dan ketegangan yang berkelintaran di dalam kehidupan Royyan akan semakin berkabut, dan Ajun tidak menginginkan hal itu terjadi.
...***...
Dalam ruang inap VVIP dimana Dirta meringkuk di sana, Royyan dan Almira datang bertandang untuk melihat kondisi lelaki itu. Dari hari kemarin pria bermata kecil itu terus saja terlelap membuat sepasang suami-istri itu khawatir dengan kondisinya, tetapi dokter Zarina telah menjelaskan jika kondisi Dirta baik-baik saja dan organ dalam tubuh Dirta pun sangat baik, tidak ada yang rusak akibat peluru itu.
Dirta yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dalam keadaan miring karena lokasi lukanya ada di bagian punggung, segera menoleh karena menyadari kehadiran Royyan dan Almira ke tempatnya. Setelahnya Dirta segera bergerak untuk duduk sembari dia meringis menahan rasa nyeri yang masih terasa berderit di punggungnya.
Royyan dan Almira yang melihat tindakan Dirta spontan berlari untuk mendekati Dirta. "Lu ngapain duduk sih, punggung lu lagi sakit,"protes Royyan menggenggam pundak Dirta dan membantunya untuk terduduk dengan benar.
"Iya Dir, udah baring aja,"timpal Almira meringis seolah merasakan rasa sakit yang di derita oleh Dirta.
Dirta menggeser tubuhnya ke arah kiri mencari posisi nyaman untuknya duduk di hadapan Royyan dan Almira, setelah sekian lamanya akhirnya Dirta bisa berbicara dengan Royyan dalam keadaan baik, tidak seperti saat di sebuah restoran beberapa waktu lalu dalam kecanggungan yang tiba-tiba saja tercipta.
"Gue udah aman kok, kalian gak perlu khawatir begitu, sebentar lagi juga sembuh,"cetus Dirta menyeringai, jauh dalam mata kecilnya itu ada sebuah bendungan rasa bersalah yang masih berkecamuk dalam jiwa Dirta.
Royyan menyeret sebuah kursi ke dekat nakas dan menarik istrinya untuk duduk di kursi itu, sedangkan dirinya tetap berdiri di belakang sang istri. "Lu kena peluru, mana mungkin kita gak khawatir, dan ... Makasih banyak lu udah menyelamatkan istri gue,"pungkas Royyan sembari menjatuhkan tatapan lembutnya pada pangkal kepala istrinya.
"Itu kan di masa lalu, gue udah ngomong kan kalau masalah lu waktu itu udah gue maafin dan semuanya sudah terlewat,"papar Royyan yang tidak mengerti maksud dari perkataan Dirta.
Tatapan Dirta mendadak terjatuh ke bawah tepat pada lipatan selimut yang menyembunyikan kedua kakinya yang panjang. "Elshara datang ke restoran dan meminta gue untuk menghubungi para penjahat itu untuk melakukan penyerangan sama kalian, sasaran utamanya dalah Ra,"jelas Dirta dengan tatapan sendunya.
Terpantau sorot mata Royyan menajam dengan kerlingan nanar yang mencekam, Almira sudah menyadari jika kemarahan tengah menyelimuti suaminya, lekas dia remas lembut tangan Royyan seraya dia mendongak pada suaminya itu.
Royyan menoleh dan menggeleng, lantas tilikannya kembali pada Dirta dan melepaskan genggaman Almira yang tengah bertaut. "Kenapa lu gak bilang kalau ada yang dia rencanakan?"tanya Royyan tegas.
"Sorry yan ... Nyatanya cinta gue sama El masih aja terlalu besar, gue takut El kenapa-kenapa karena gue tahu, lu gak akan melepaskan siapapun yang udah mengusik kehidupan orang-orang tersayang lu,"akunya dengan suara yang semakin mengendur.
"Ujungnya tetep sama kan?! El tetap akan kembali pada hukuman atas semua tindakannya, lu cuman memperlambat tapi sama sekali tidak membebaskannya dari hukuman dan sekarang malah lu yang berada di rumah sakit,"imbuh Royyan melipar kedua tangannya di depan.
Dirta menggerai napasnya panjang, bait-bait penuturan Royyan memang benar, Dirta hanya memperlambat hukuman untuk bertandang pada Elshara, tetapi dia tidak mampu menghentikan hukuman itu.
Lantas dia sugar wajahnya secara kasar, renungannya melesat jauh pada kebodohan yang sudah terlanjur dia ukir. Lagi dan lagi Dirta melakukan kesalahan yang membuat dirinya tak mampu berkutik.
Dirta menoleh pada Royyan dengan penuh harapan. "Yan! Gue mohon lu maafin El ya, gue minta tolong bebaskan El dari jeratan hukum, di-dia cuman jatuh cinta seperti gue mencintainya, jangan sakiti El to--"pinta Dirta penuh harap.
Cepat-cepat Royyan memotong perkataan Dirta dengan sorot netranya yang tajam. "Stop! Jangan bicara lagi."
Royyan bukanlah seorang yang berhati besar yang akan dengan mudah memaafkan semua orang yang melakukan kesalahan terlebih yang mengincar nyawa istri tercintanya bahkan anaknya pun sudah terenggut karena kejahatan Elshara. Mendengar permohonan Dirta, jiwa Royyan membara betapa bodohnya sahabatnya ini, entah sampai kapan Dirta akan bersikap seperti ini.
Pria yang tengah menegakkan bahunya itu lekas menoleh pada Almira yang mematung di kursi. "Sayang, keluar dan temani Manda, aku mau ngomong sama Dirta,"ucap Royyan lembut.
Degh!
Wajah Almira menoleh kaku, netranya terlempar pada bola mata kecil milik suaminya, lalu dia menoleh ludahnya sambil dia bergantian menatapi Royyan dan Dirta. "Euum ... K-kak,"sahut Almira terbata-bata.
__ADS_1
"Gak papa, aku gak akan membunuhnya di rumah sakit,"celetuknya tersenyum miring.
Bola mata Almira melebar, tetapi kakinya tiba-tiba saja memimpin alam bawah sadarnya sehingga dia beringsut dari kursi dan melangkah keluar dari ruangan itu. Setelah Almira menutup pintunya, Royyan gegas duduk di kursi yang semula diduduki istrinya.
"Gue bukan orang yang penuh belas kasihan, tidak ada kesalahan yang bisa dimaafkan jika itu menyangkut nyawa,"tegas Royyan mencondongkan tubuhnya ke depan dan menautkan jari-jemarinya, perlahan netranya yang semula ada di bawah lekas terlempar dan menetap di bola mata kecil milik Dirta. "Dan El udah merenggut nyawa,"sambungnya meruncingkan kerlingannya.
Wajah Dirta mengeras heran, lelaki itu tidak mengerti, nyawa siapa yang sedang diungkit oleh sahabatnya itu. "Maksud lo? Nyawa siapa? Ra selamat, dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,"tukas Dirta polos.
Royyan mendengkuskan tawa sinisnya sambil dia melempar wajahnya ke arah samping, lalu punggungnya memancang tegak. "Istri gue pernah kecelakaan karena ulah El dan dia membunuh anak kita yang ada dalam kandungan istri gue,"terang begar Royyan.
Saat kemarahan Royyan membuncah beberapa waktu lalu, Dirta memang belum mengetahui pasal dari kemarahan sahabatnya itu, bahkan dia tidak berani bertanya. Pikirnya jika Royyan marah karena suatu hal yang berkaitan dengan tindakan Elshara, tetapi lelaki berambut wavy bergelombang itu tak pernha berpikir jauh sampai dengan kabar keguguran dari Almira.
Dahi Dirta menyusut tak percaya, dadanya yang bergemuruh tiba-tiba melambat. "A-apa?"serunya masih tak percaya.
Pria berkaki panjang itu bangkit dari kursi dan menjatuhkan kursi yang dia duduki tadi, kursi itu terlempar jauh ke belakang karena Royyan menendang kursi itu sampai membentur dinding di belakangnya.
"Asal lo tahu, El elu itu juga mencoba meracuni istri gua! Dan dengan bodohnya lu minta gue untuk memaafkan penjahat seperti dia,"kerat Royyan berkacak pinggang.
Royyan melangkah ke dekat Dirta dengan gigi yang mengerat. "Jangan pernah berharap dia bisa bebas, cukup Dir! Gue udah kecewa sama lu, mulai saat ini mari kita saling tidak mengenal."
"Yan sorry ... Gue gak tahu apa-apa soal itu." Dirta turun dari ranjangnya, dia memaksa dirinya untuk berdiri sambil meringis menahan rasa sakit yang memanas di punggungnya. "Kalau gue tahu ada hal lain yang dilakukan El, gue gak akan berani meminta itu sama lu Yan, gue minta maaf." Netra Dirta terjatuh lemah ke bawah yang perlahan dia berlutut di hadapan Royyan sambil meraba rasa sakit yang menjalar di punggungnya.
Sontak Royyan tercengang dengan tindakan Dirta. Bola matanya membeku sejenak, menatap iba pada Dirta. Lelaki berambut mullet itu sesungguhnya mengetahui siapa Dirta, lelaki berambut wavy bergelombang itu memiliki hati yang besar dan mudah iba terhadap orang lain, itulah mengapa rasa cintanya lebih besar, walau dia telah berulang kali disakiti oleh perasaannya itu.
"Gue emang yang mengawali rencana El, tapi setelahnya gue gak pernah tahu apapun lagi, dan saat itu gue pikir El minta buat hubungi para penjahat itu bukan untuk mengarah sama elu,"jelas Dirta begitu saja saat dia berlutut.
Royyan bergeming di tempatnya, pria bermata tajam itu setia menunggu semua penjelasan Dirta selesai. Dirta letakkan kedua telapak tangannya di lantai untuk membantunya menopang tubuhnya yang ruai.
"Setelah gue tahu jika sasarannya Ra, gue datang ke gedung tua yang lu bakar untuk memastikan siapa yang ada dibalik penyerangan itu, di sanalah gue tahu jika El yang mengendalikannya, dan gue gak ada keberanian untuk ngomong sama elu dan akhirnya gue memilih untuk diam,"jelas Dirta. "Tapi setelah kemarahan lu saat itu, gue ...."
Ingatan Dirta tiba-tiba saja masuk ke dalam kabut pekat yang mengelilingi angan-angannya, ia tenggelam pada sebuah kejadian yang telah dilewati beberapa waktu lalu. Setelah kemarahan Royyan saat itu, Dirta menemui Elshara di restoran barunya karena Elshara sendiri yang meminta untuk menemuinya di sana.
Dalam sebuah ruangan VVIP yang di lengkapi dengan kedap suara dan sofa empuk dengan berbagai macam warna yang cantik, Elshara duduk di sofa bundar berwarna biru cerah dengan sandaran punggung yang sama empuknya. Sementara Dirta ada di depannya lengkap dengan pakaian chef-nya.
"Ada apa? Kenapa lu mau ketemu sama gue?"tanya Elshara setelah dia berhasil meneguk segelas anggur merah.
Tanpa basa-basi Dirta segera menjawab pertanyaan Elshara. "Hentikan sekarang, atau kamu akan menyesal. Kamu tidak akan mampu menangkis kemarahan Royyan, sasarannya bisa saja kepada orangtua kamu,"saran Dirta serius, dia hanya tidak ingin wanita yang dia cintai akan mengalami hari-hari buruk karena kemarahan sahabatnya.
Namun, Elshara tiba-tiba saja tertawa kecil sambil dia menyandarkan punggungnya pada kursi yang tengah dia duduki, seolah dia tidak peduli dengan konsekuensi yang akan dia terima di masa yang akan datang.
"Ayolah Dirta ... Lu jangan kaku begini, lu pernah melakukan kejahatan seperti ini kan?"
"Gue cuman gertak dan tidak berniat melakukan pembunuhan, tapi kamu ... Sudah membuat istrinya Royyan celaka."
Elshara mengeras, wajahnya tertoleh kasar pada Dirta yang ada di hadapannya. "Berhenti bilang jika Ra itu istrinya! Royyan itu sukanya sama gue Dirta! Dari dulu Royyan itu suka sama gue,"teguh Elshara dengan tatapan nanarnya.
"El! Stop beranggapan seperti itu, Royyan gak pernah suka sama elu, karena dia ketemu Ra dari sejak lu masuk ke dalam kehidupan persahabatan kita,"gertak Dirta yang segera berdiri dari kursi.
"BERISIK! Mending lu keluar dan jangan pernah ganggu gue lagi,"berang Elshara mencanang, deru napasnya terdengar kasar.
Melihat kemarahan Elshara membuat Dirta enggan untuk menghadapinya lagi, lelaki itu tersenyum miring. "Oke fine, urus diri lu, gue capek." Dirta melenggang dari hadapan Elshara dengan perasaan dongkol.
Sementara Elshara kembali duduk di kursinya, dia menyandarkan tubuhnya ke sofa itu dan mengambil gelas anggur yang berisikan anggur merah yang tersisa tadi, lalu dia teguk isinya sampai tak tersisa.
Drrt!
Nanda :
Lu mau minta tolong apa?
__ADS_1
NEXT ....