Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 142 : Keterlibatan Zarina dan Nanda.


__ADS_3

Di sisi lain, Ajun yang tengah menekuk lehernya ke arah kiri dan kanannya lalu meregangkan otot-otot tubuhnya, lelaki itu tengah berdiri di balik dinding biru kelam menunggu seseorang yang sangat ingin dia bantai karena telah menyakiti wanita yang telah menarik perhatiannya.


Sorot matanya yang selalu tampil lembut kini telah bertukar dengan ketajaman yang terbakar api amarah, entah mengapa jiwanya terbakar begitu saja saat Royyan mengatakan jika lelaki itu telah menyakiti Manda.


Tak lama dari itu, derap seseorang mendekati posisi Ajun saat ini, hentakkan kaki itu dua suara yang berbeda dengan cepat Ajun sadari, jika langkah pertama adalah milik seorang lelaki yang sudah di pastikan sosok incarannya.


Perlahan bayangan hitam bergeser ke arah cahaya matahari yang sudah berada di atas Ajun saat ini, saat lelaki bertubuh kekar itu berlari ke arahnya, lekas Ajun tarik kerah baju lelaki itu dan membantingnya tanpa ampun.


"Auuuwh ...,"ringis lelaki itu berjempalitan menahan rasa sakit di tubuhnya.


Ajun bergerak mendekati lelaki tersebut dan segera menginjak dada lelaki itu dengan kasar, pijakkannya terbanting keras tepat di dada lelaki itu. Dan terdengar ringisan lelaki itu lagi, wajahnya mengernyit begar sambil dia menggenggam pergelangan kaki Ajun.


"Lu gak bisa lari, jeratan Royyan akan sampai pada akar terdalam, tanpa terkecuali,"papar Ajun mengeratkan pijakkannya di dada lelaki itu.


"Argh ... Lepasin!"tepis lelaki itu mengangkat kaki Ajun dari dadanya dan melemparnya sehingga Ajun terpelanting ke belakang.


Namun, pria berambut french crop itu sama sekali tidak terjatuh, dia masih bisa mempertahankan posisi tubuhnya untuk tetap berdiri kokoh. Langkah Ajun semakin ganas mendekati lelaki itu dan menghantam lelaki itu dengan pukulan keras yang terjatuh di pipi lelaki itu hingga lawannya kembali terbanting ke bawah bahkan berguling.


"LU! GAK AKAN LOLOS!"pekik Ajun begar dan satu pukulan kembali terjun di pelipis lelaki itu.


"Aaargh ...." Lelaki itu mencengkeram tangan Ajun hendak untuk melawan.


Hanya saja lelaki itu kalah cepat dengan ketangkasan Ajun, pria bermata downturned itu menyeret salah satu tangan lelaki itu dengan kakinya kemudian menginjaknya, sedangkan tangannya yang lain dicengkeram oleh Ajun dengan kekuatan besar yang dia miliki.


"Saya cuman disuruh nona Rala,"ucapnya lirih, sorot matanya melemah.


"Menyakitinya juga karena perintahnya?"tanya Ajun tegas sambil menaikkan satu alisnya.


"Siapa?"gumamnya tak mengingat apa yang telah dia lakukan pada Manda.


"Haah ...." Wajah Ajun terlempar kesal ke arah lain, lalu kembali lagi dengan paras yang sudah mengeras.


Lantas Ajun cengkam baju lelaki itu menggunakan satu tangannya. "Dia yang kau sakiti adalah wanita yang seharusnya gak lu sentuh!"


Satu pukulan kembali melompat ke perut lelaki itu, berulang kali Ajun menghantam perut lelaki bertubuh kekar itu tanpa merasa kasihan, dia yang terus meringis kesakitan. Wajah lelaki itu pun mengernyit dengan dalam, tetapi Ajun tak menghentikan pemburuannya, pria bertubuh tegap itu tak ingin memberikan pengampunan lebih cepat, karena ingatannya pada Manda terlalu menyakiti hatinya.


"Aaargh ...," Lelaki itu terkapar lemah, tak ada lagi tenaga untuk melawan Ajun.


"Sialan! Gitu doang udah lemah, gak seru!" pungkas Ajun yang kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain, mencari sosok yang belum dia temui sedari tadi.


Dari sudut lain mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan tiang yang dimana Elshara terkapar lemah di sana. Tak lama dari itu Nanda keluar dari mobil hitam itu membuat bola mata Ajun terbelalak, sungguh dia terkejut dengan penampakan itu semua.


Kemarahannya semakin membuncah, lekas dia kayuh langkahnya secepat angin sampai tiba di depan Nanda dan Elshara yang baru saja masuk ke dalam mobil hitam tersebut, gegas Ajun tahan pintu mobil itu yang ditahan juga dari dalam oleh Nanda.


Nanda hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki ilmu beladiri yang akan mampu melawan Ajun. Dengan kasar Ajun tarik pintu mobil yang belum terkunci itu sehingga menarik Nanda keluar dari dalam mobil, gadis itu terlempar keluar.


"Aaauwh ...,"ringisnya yang melempar wajahnya ke arah lain sebelum dia kembali mengarah pada Ajun, "Ajun! Kasar banget sih lo,"protes Nanda.


Ajun mendelik kasar pada Nanda, tetapi dia tidak menjawab apapun. Langkahnya bergerak ke kursi kemudi, dimana Zarina yang mengendalikannya. Ajun buka pintu mobil itu dan tanpa segan mengambil kunci mobil itu, dia merampasnya dari genggaman Zarina, membuat Zarina membeku ketakutan.


"Bagus lu ya! Bohong sama gua, dan nolongin pembunuh!"cibir Ajun kembali bergerak mendekati Nanda yang belum juga terbangun.


"Jun ... Gu-gue gak bermaksud bo-hong, cuman--"


"CUMAN APA?!"bentak Ajun dengan bola mata yang membuntang.


Sekujur tubuh Nanda mengerjap ketakutan, ini kali pertama gadis itu melihat kemarahan Ajun di depan matanya, netra gadis itu terjatuh lemah dengan raga yang bergetar hebat, rasa takutnya telah menyebar dan menyatu dengan aliran darahnya.

__ADS_1


"Gu-gue cuman kasian sama E-el, Jun ... Tolong gu--"


"BERISIK!"


Craang!


"Aaargh ...." Jeritan para wanita yang ada di sekitar sana pecah bahkan mereka menutupi telinganya masing-masing, bersamaan dengan bola mata mereka yang membeku, mereka terkesiap dengan tindakan Ajun.


Tiba-tiba saja Ajun meninju kaca mobil hitam milik Nanda tepatnya milik Zarina, hingga kaca mobil itu betebaran kemana-mana dan dampaknya punggung tangan Ajun terluka, goresan kaca itu telah melukai punggung jari-jemari lelaki itu.


Lantas Ajun masuk ke dalam mobil dan mencengkeram tangan Elshara di dalam dengan tatapan mata yang meruncing, membuat Elshara semakin membeku tak mampu berkutik lagi. "Ck ck ck ...,"decak Ajun tak habis pikir, wajah secantik Elshara bisa melakukan penyerangan yang merujuk pada percobaan pembunuhan.


"Ajun lepasin gue cepet!"pinta Elshara sembari menarik-narik tangannya dari genggaman Ajun.


Namun, Ajun tidak menjawabnya. Sorot matanya tertuju pada Zarina yang juga membeku, wanita itu sama sekali tidak bergerak, bahkan untuk bernapas pun sepertinya dia tak berani untuk melakukannya.


"Zarina!"panggil Ajun tegas.


"Ah i-iya ...." Zarina menoleh ke belakang dengan gerakkan lamban.


"Cepet ke rumah sakit dan obati Dirta, jika tidak lu juga bakalan ikut serta dalam kasus percobaan pembunuhan ini."


"I-iya ba--ik ...." Zarina segera turun dari mobil.


Zarina mendekati adiknya dan membawa Nanda bersamanya, kedua wanita itu tergesa-gesa mencari kendaraan umum yang bisa membawanya cepat ke rumah sakit sesuai perintah dari Ajun. Sedangkan Ajun menyelukkan satu tangannya ke dalam saku jas, dia mengambil sebuah borgol dan mengunci salah satu tangan Elshara di hand grip, sehingga gadis berambut panjang itu tak bisa kemana-mana.


Bola mata Elshara membeliak hebat, dia tarik tangannya yang terkunci borgol itu, tetapi tak ada yang berubah, hanya debaran jantungnya saja yang semakin berhamburan cepat. "AJUN! Lepasin gue Ajun ...."


Namun, kini Ajun sudah keluar dari mobil dan menghampiri lelaki yang sudah dia kalahkan tadi, pria bermata downturned itu menyeret tubuh lelaki berbadan besar itu dengan cara menggendong di punggungnya.


Ajun dudukkan lelaki itu di samping Elshara, dan Ajun memborgol lelaki itu sama seperti apa yang dia lakukan pada Elshara. Lalu pria berbadan tegap itu beralih ke posisi kemudi dan lekas melajukan kemudinya.


"Ajun! Lepasin gue! Ajun ...,"pekik Elshara tak lelah menyerukan nama Ajun dengan tatapan getirnya.


"Berisik lu pembunuh!"


Degh!


Elshara tersendat. Gadis cantik itu telan ludahnya secara kasar, tak ada lagi yang bisa dia lakukan, tenaganya sudah dirampas oleh kemarahan Ajun. Seperti yang dialami oleh Nanda begitupun dengan Elshara yang baru pertama kali melihat kemarahan Ajun pecah seperti saat ini.


Jantung Elshara tiba-tiba saja bercerai-berai kala kecepatan laju kemudi yang tengah dikendalikan oleh Ajun melesat melebihi kecepatan angin dan cahaya, debaran di dadanya membuncah begitu saja.


"AJUUUN ..."teriak Elshara terkesiap dengan kecepatan mobil itu.


Lelaki itu hanya tersenyum miring, dan dia tidak menghentikan laju mobilnya, jiwanya begitu berkobar-kobar kala mengingat jika Manda ikut menjadi orang yang terluka dalam penyerangan yang dilakukan oleh Elshara.


Sementara keadaan di rumah sakit tak kalah menegangkan, Dirta dan Manda dirawat di ruangan yang berbeda sesuai dengan kondisi dari keduanya, Manda di bawa ke ruang medical ward karena luka yang dialami Manda hanya berupa luka lebam di bagian punggung dan wajahnya dan masih terbilang ringan, hanya saja tubuh gadis itu sungguh lemah karena kehilangan banyak energi karena benturan di bagian punggung dan lehernya.


Dirta mengalami luka yang cukup serius, dia harus melewati operasi pengambilan peluru yang akan memakan waktu yang cukup lama, para dokter harus berhati-hati melakukannya karena jika tidak pasien akan mengalami syok hipovolemik akibat pendarahan parah, atau bahkan tamponade jantung dan kerusakan otak. Namun, hal itu bisa juga terjadi akibat peluru itu sendiri.


Royyan dan Almira berjaga di luar ruangan yang berbeda, suami-istri itu terpaksa harus terpisah untuk mengetahui kondisi sahabatnya masing-masing. Pria berbadan tegap itu berkelintaran di depan ruang UGD menunggu lampu di atas pintu itu mati, yang artinya operasi selesai.


Jantung Royyan berhamburan dengan kecepatan yang tak wajar, sedari tadi dia hanya menempelkan kedua telapak tangannya dan menggosoknya berulang kali dan menciptakan hangat di antara kedua tangannya itu lalu dia usapkan udara hangat itu ke wajahnya.


"Dirta ... Gue mohon bertahan, gue gak mau ada hutang budi sama lu karena nolongin istri gue, gua gak bisa mengganti apapun menggunakan uang gue tapi tidak dengan nyawa seseorang, tuhan ... Tolong selamatkan Dirta untuk kali ini, biarkan dia hidup sampai dia menemukan hal baik dalam hidupnya,"papar Royyan panjang sambil dia bertitar-titar di depan pintu UGD.


Tak lama dari itu, lampu merah yang menyala di atas pintu tersebut lekas mati dan menandakan jika operasi telah selesai. Lekas Royyan bersiap menegakkan dirinya menunggu dokter keluar dari ruang operasi tersebut.

__ADS_1


Dua dokter keluar dari ruangan itu salah satunya adalah Zarina. Salah satu dokter itu meninggalkan Royyan yang nampak akan melempari mereka berbagai macam pertanyaan tentang kondisi sahabatnya itu. Dan Zarina lah yang akan menghadapi Royyan, dan ini adalah pertemuan pertama antara Royyan dan Zarina--kakak kandung Nanda teman semasa SMA-nya.


"Bagaimana dokter?! Sahabat saya baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius yang dia alami kan dok?"tanya Royyan beruntun, dahinya mengerut melambangkan kekhawatirannya yang amat dalam.


"Semuanya baik-baik saja pak, pak Dirta selamat dan tidak ada komplikasi apapun akibat peluru itu, kemungkinan beliau akan sadarkan dalam delapan jam ke depan karena obat bius yang kami berikan, untuk hal lainnya semuanya aman,"jelas Zarina membuat Royyan merasa lega.


"Syukurlah dok, terima kasih,"ucap Royyan singkat untuk membalas penjelasan dari dokter Zarina.


Selang beberapa waktu setelah penjelasan dokter itu terburai, beberapa suster mendorong brankar dimana Dirta terbaring di atasnya dalam keadaan tak sadarkan diri serta cairan infus mengalir lewat pergelangan tangannya, bahkan sahabat Royyan itu telah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit.


"Pak Dirta akan kami bawa ke ruang rawat inap untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dipastikan jika pak Dirta akan tinggal di rumah sakit kurang lebih dari empat sampai lima hari sampai kami memastikan jika kondisinya membaik,"jelas Zarina lagi.


"Baiklah dok, lakukan apapun yang terbaik untuknya,"ujar Royyan tak melepaskan awas matanya pada brankar yang membawa Dirta.


"Baik pak, kami akan melakukan yang terbaik untuk mengobati pak Dirta, kalau begitu saya permisi dulu pak,"jawab Zarina.


Royyan mengangguk mengizinkan dokter Zarina untuk enyah dari hadapan Royyan. Setelah selang beberapa menit Zarina tenggelam ke dalam lorong putih di depannya, Royyan mulai berayun meninggalkan tempat itu, langkahnya tertuju ke lobi untuk menghampiri suster yang berjaga di bagian resepsionis.


Di sisi lain Almira yang baru saja merasa lega karena sahabatnya selamat dan tidak mendapatkan luka serius seperti apa yang dia khawatirkan sedari tadi, walau raga gadis itu masih gemetar terkejut dengan suara ledakan yang terpelanting di depan matanya, bahkan debar jantungnya masih saja tak beraturan hingga saat ini.


Almira jatuhkan tubuhnya di kursi samping ranjang dimana Manda terbaring dalam keadaan sadar, dan gadis itu kini tengai mengurai senyumannya dengan infusan menempel di pergelangan tangannya dan alat bantu pernapasan sudah terlepas darinya, hanya saja luka lebam di wajah kanannya masih belum bisa hilang.


"Man ... Sakit ya? Maaf ya gara-gara gue lu jadi harus dirawat kayak gini dan wajah lu jadi lebam begitu, padahal seorang model gak boleh melukai wajahnya karena itu adalah aset seorang model, maaf Man---"rengek Almira yang perlahan membanjiri pipinya dengan butiran bening.


"Ssstt!"desis Manda sambil dia meremas tangan Almira yang terbaring di samping tangannya. "Berisik lu. Ini bukan salah lu, berhenti menyalahkan diri lu sendiri. Lagian untuk luka lebam kayak gini akan sembuh kalau diobati dan badan gue cuman butuh istirahat dan asupan suplemen, nanti juga bakalan sembuh,"lanjut Manda dengan suara lirihnya.


Gadis bermata kucing itu masih sibuk menumpahkan tangisannya sehingga berderai membasahi sprei putih yang membalut ranjang yang tengah ditiduri oleh Manda. Tubuhnya bergetar dengan isakan yang semakin menggeliat. Wajahnya mengerut bersamaan dengan derainya dan aroma hangat mendekap gadis itu.


"Ra ... Jangan nangis dong, gue gak papa lo, lihat dong gue bisa ngomong bebas tanpa merasa sakit atau apapun itu, udah dong jangan gitu ah ...."


"Ta-tapi Man ... Ka-kalau lu g-gak--" Almira tersekat sejenak mencoba menahan sesak di dadanya, "gak terlibat sama gu-gue." Almira menggelengkan kepalanya sembari menyeka air mata yang sudah terlanjur terjatuh. "Lu gak akan ka-kayak gini ...."


"Apa sih, gak ada begitu Ra, kalau takdir gue emang begini mau gue bareng lu atau enggak ya gue akan tetap mengalami hal ini." Manda mencoba menenangkan sahabatnya, dia usap lembut punggung tangan Almira. "Udah ya ... Gue masih hidup, belum mampus,"canda Manda tersenyum lebar di hadapan sang sahabat.


Lantas Almira yang masih menangis lekas menguar tawanya sembari dia memalingkan wajahnya, tak lama kembali dan menetap mengamati tubuh lemah Manda yang terbaring di depannya.


"Lu ya, lagi sakit juga masih aja becanda, gak lucu tahu ... Lihat tuh muka lu lebam-lebam begitu, mana ada top model wajahnya lebam-lebam begitu."


Manda menyeringai seraya dia memejamkan matanya dengan gerakan lamban. "Satu minggu juga sembuh kok kalau lebam begini, gak akan bertahan lama, kalau sampai wajah gue terluka kan gue bisa minta suami lu biayain gue operasi plastik,"canda Manda lagi.


"Ish si gila!" Almira tepuk ranjang di samping tangan Manda yang terbaring lemah. "Udah ah lu malah becanda lagi."


Manda menghela napasnya, lalu dia segera menoleh pada Almira kala dia mengingat kemana perginya Ajun. "Eh iya Ajun di mana ya? Tadi kan gue bareng Ajun, dia nyariin kita gak ya?"tanya Manda dengan tatapan serius.


"Oh Ajun, tadi pas gue lagi ketakutan gue sempet denger kalau kak Royyan nyuruh Ajun buat nangkap si Rala sama anak buahnya yang berhasil kabur.


Mendengar kabar itu Manda terkesiap sehingga tanpa sadar dia bangkit dari ranjang dengan gerakan cepat tanpa memedulikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, membuat Almira membeliak khawatir dengan tindakan sahabatnya itu.


"Eh-eh ... Lu kenapa bangun, tidur aja,"desak Almira mendorong bahu Manda dengan lembut.


Namun, gadis bermata almond itu lekas menangkisnya. "Apa lu bilang tadi, Ajun nangkap dua orang berbahaya itu sendirian?" Manda mengernyit khawatir. "Terus kalau Ajun kenapa-kenapa gimana Ra?"sambungnya menyurut.


"Tenang dong, Ajun itu pemegang sabuk hitam karate dan lagian kedua orang itu gak megang senjata jadi mereka gak akan bisa nyakiti Ajun seperti dilakukan pada Dirta,"terang Almira.


Kini giliran Almira yang mengendur, nama Dirta mendadak menjadi sebuah kelemahan bagi gadis itu, bagaimana tidak? Dirta rela menggantikan dirinya terhantam peluru mematikan itu dan jika Dirta mengalami luka berat maka rasa bersalah yang berkecamuk di dalam diri Almira mungkin saja akan pecah.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2