
Malam menjelang, dengan iringan sang hitam dan aroma dingin yang menyengat Dirta tiba di resort milik Royyan, dengan berpenampilan rapi lengkap dengan jas berwarna abu dan kemeja putih serta dasi yang senada dengan jas yang di pakainya. Dia melenggang masuk ke dalam resort melesat masuk ke dalamnya sampai tembus ke laut yang ada di belakangnya.
Tiba di sana, dia menyeret pandangannya ke segala penjuru yang ada di sana, dia hanya menemukan kegaduhan dan wajah-wajah muram yang sunyi dan juga mencekam, seorang wanita yang menggunakan headphone datang menghampiri, ah bukan ... dia hanya datang untuk sekedar melintas, tetapi Dirta menghentikan langkahnya.
"Ada apa ini? Kok kayaknya pada murung semuanya,"tanya Dirta yang meminta kejelasan padanya, karena sejatinya Royyan tidak benar-benar menjelaskan apa yang terjadi dengan detail.
"Oh ini ... para sponsor ada yang mengundurkan diri karena Manda out dan menghilang, dan sampai sekarang Manda belum diketahui keberadaannya ada di mana,"terangnya.
"Kenapa dia keluar?"Dirta masih terus mengorek informasi dari salah satu staff acara tersebut.
"Awal masalahnya selalu dari Rala, dia selalu mengambli hak orang lain, Rala mengambil posisi Manda dengan seenak jidatnya dan pimpinan agensinya bodoh mau aja nuruti anaknya yang manja gak ketulungan itu, malah marah-marah sama Manda dan akhirnya Manda out karena udah terlalu murka dia dan sponsor yang mendukung Manda perlahan mengundurkan diri, ah udah lah saya sibuk, kamu kalau ada kepentingan sama orang yang ada di sini, cari aja sendiri,"beber panjang staff wanita itu yang kemudian dia beranjak dari hadapan Dirta.
Tersisa lah Dirta yang termengung sambil dia mengayuh kakinya berjalan ke area yang tengah melakukan pemotretan dengan berbagai properti di sampingnya sebagai pelengkap dari konsep acara, di sisi kanan Dirta melihat pria bermata biru dengan wajah tampan yang nyaris sempurna seperti Royyan, bedanya Royyan memiliki warna mata coklat.
Managernya yang berdiri di sampingnya terus berceloteh membujuk anak didiknya itu, "Van, kenapa kamu jadi gak profesional gini, biasanya juga kamu selalu melakukan pekerjaan apapun gak pernah pilih-pilih partner, sekarang kenapa jadi gini Van? Kasian pimpinan penyelenggara, dia pening tuh sponsor pada undur diri karena tahu Manda out,"bujuk pria berbadan tinggi, tetapi kecil itu.
"Saya bisa saja melakukannya, asal partnernya juga memenuhi kualitas, Rala itu bener-bener model yang buruk, dia pandai berpose seorang diri tapi untuk pose layaknya pasangan dia gak mampu, dia itu maunya sama pak Royyan Alzaro, itu sudah sangat jelas,"bantah Van yang tengah terduduk di kursi lipatnya.
"Van, kamu itu model teratas di agensi, jadi coba lah ajarkan Rala karena Manda bener-bener gak bisa di temukan."pria berambut klimis itu masih berusaha membujuk Van.
"Manda adalah orang yang profesional dan cepat mengerti, saya mau partner saya itu Manda tidak ada yang lain."
"Tapi Van, top model teratas harus sama top model teratas juga dan Rala ada di posisi pertama di agensi itu."
"Saya tidak peduli dengan peringkat, terkadang peringkat hanya angka yang tidak memiliki arti, yang saya butuhkan adalah kualitas, sudah! Jangan mencoba membujuk saya lagi atau saya juga akan ikut keluar seperti Manda,"tukasnya dengan selipan ancaman.
Telinga Dirta sangat jelas mendengarnya, lekas dia melanjutkan langkahnya berayun sampai ke dekat pohon besar dengan daunnya yang rindang, dia menyusuri area di sana sampai ada orang yang mendekati Dirta dan berdiri di hadapan pria yang tak kalah tampannya dengan para model di sana.
"Dirta?"tanya seseorang itu.
Dirta menoleh dan tanpa sadar dia mengangguk dengan tatapan limpungnya.
"Syukurlah kamu datang, tolong kasih tahu Rala untuk melakukan jadwal dengan baik, saya sudah bingung harus bagaimana lagi, karena saya juga harus cari Manda,"pintanya penuh harap.
"Bukannya Royyan ada di sini, kenapa dia tidak mencoba membujuk El, hmm ... Rala Rala."Dirta malah balik bertanya.
"Pak Royyan itu orang sibuk, dia bisa datang dan pergi tanpa ketahuan, sekarang pun pak Royyan tidak ada di sini lagi meeting di luar, dan pak Royyan sebenarnya selalu menghindari Rala,"terangnya lagi.
Dirta tergemap seraya dia tarik tangannya mencangkung di pinggangnya dengan deru napas yang berhembus lembut, dia katupkan bibirnya. Royyan masih seperti dulu, dia selalu menghindar dari Elshara dan membuat Elshara menjadi pahit hati.
Melihat Elshara yang nampak murung jiwa Dirta terasa tersayat dengan benda yang sangat tajam, wajah Elshara tertunduk lemah terduduk di atas kursi lipatnya, wajahnya memerah dengan kelopak mata yang membengkak. Pria bermata kecil itu melimbai mendekati Elshara, berdiri di sampingnya dengan tegak.
Sebelum berjalan ke depan, Dirta menyelukkan tangannya ke dalam saku jas yang dia pakai, mengambil susu coklat yang dulu menjadi kegemaran Elshara, dia sodorkan susu coklat itu tepat di depan mata Elshara. Sontak Elshara terdongak dengan wajah murungnya, melihat Dirta ada di hadapannya lekas dia berdiri dan bola matanya yang layu tadi seketika terbangun dan tersenyum ceria.
"Dirta ...."Elshara menghamburkan dirinya masuk ke dalam dekapan Dirta dan dia mengabaikan minuman kesukaannya.
__ADS_1
"Why? Gue di telepon Royyan, makanya gue nyempetin ke sini,"ucap Dirta membalas pelukan Elshara.
Tidak menjawab. Elshara menghamburkan air matanya menimpa pundak Dirta dan lingkaran tangannya pada leher Dirta semakin mengerat dan wajahnya tenggelam di tengkuk Dirta, dari suara tangisannya yang samar-samar dengan angin perlahan membesar dan raungannya terdengar pilu di telinga Dirta.
"Se-muanya menyalahkan aku, dan Ro-Royyan dia tidak peduli, apa aku memang tidak menarik un-untuk-nya,"rengek Elshara yang masih bersama isak tangisnya.
Sekali lagi sayatan kenyataan merobek hati Dirta yang masih terluka dan masih terlihat menganga, tetapi Dirta berusaha untuk membuat Elshara nyaman padanya, pengorbanan dalam cinta salah satunya adalah rasa sakit yang ada di dalam hati yang selalu datang dan pergi sesukanya, bahkan sayatan itu tidak pernah memberitahu kapan datang dan bersemayam dalam waktu yang cukup lama.
Dirta membawa Elshara terduduk kembali di kursinya, dan satu kakinya berlutut di hadapannya seraya meletakkan susu kotak rasa coklat itu di pangkuan Elshara, seraya menggenggam salah satu tangan Elshara, wajah sendunya mendongak dan memasati wajah cantik yang selalu dia cintai, sedangkan satu kakinya mencangkung dengan kokoh.
"El ... kamu harus tahu ada hal yang kamu bisa dapatkan dan ada yang tidak bisa kamu paksakan untuk kamu miliki, kamu boleh berusaha dan terus mencoba apa yang kamu inginkan, tetapi tidak dengan merebut milik orang lain, itu sebuah kesalahan,"terang Dirta dengan lembut.
"Aku melakukan itu karena aku mau menarik perhatian Royyan, karena dia terus memperhatikan Manda, aku cemburu ..."kilah Elshara masih dengan isakannya.
"Gue gak tahu ada hubungan apa antara wanita yang bernama Manda itu dengan Royyan, karena setelah lu gak ada, gua menjauh dari Ajun dan juga Royyan, tapi kata Ajun mereka tidak ada hubungan apapun, hanya sekedar orang yang pernah bertemu dan tidak ada yang lain dari itu,"beber Dirta lagi dengan panjang.
"Kenapa Royyan mudah memperhatikan wanita lain, tetapi gue enggak? Apa yang salah sama gue Dirta ... kata orang-orang gue cantik, tapi dari dulu sampai sekarang Royyan masih aja mengabaikan gue, bahkan dia mencintai istrinya yang baru dia kenali, kenapa kesempatan itu gak pernah datang sama gue,"oceh Elshara dengan wajah muramnya yang nampak semakin gelap.
Itu pun pertanyaan yang ingin gua lontarkan sama lo El, kenapa gue gak pernah mendapatkan kesempatan di hati elu. Padahal Royyan sudah jelas-jelas mengatakannya dengan gamblang bahkan tindakannya pun sudah menjelaskan segalanya bahwa dia memang tidak pernah memilih elu, tapi lo masih aja mencintainya. Batin Dirta berceloteh, rasa sakitnya menjerit dan menggetarkan jiwanya yang terasa getir.
Wajah masamnya segera dia tepis dan mengubahnya menjadi paras tampan yang lebih ceria, kemudian dia hembuskan napasnya panjang yang memiliki tekanan yang berat itu.
"Ini adalah pekerjaan, lo harus bertanggungjawab atas apa yang udah lu setujui, jadi kembali lah bekerja dan jangan mengacaukannya lagi, bukan karena gue membela Manda, tetapi gua sayang sama lu dan cinta gue sama lu masih sama seperti dulu, kalau lu terus berulah maka agensi yang akan mendapatkan kerugian besar,"beber Dirta, pribadi Dirta kembali baik, sosok Dirta yang keras tapi peduli pada orang lain telah kembali.
"Jadi gue yang salah?"tanya Elshara menampilkan wajah manjanya yang berusaha dia buat sepolos mungkin.
"Hmm ..."gumam Dirta seraya dia mengangguk.
Tangisan Elshara telah berakhir, isaknya yang masih mengganjal di tenggorokkannya pun kini sudah sepenuhnya luruh di telan bersamaan dengan susu kotak yang meluncur ke dalam mulutnya. Setelahnya dia jauhkan susu kotak darinya dan sekali lagi menghamburkan tubuh beraroma vanilla itu memeluk Dirta, melingkari leher pria dengan rambut wavy bergelombang sekali lagi dengan erat.
Dengan cepat Dirta membalas pelukannya, dia meresapi setiap aroma yang berhamburan di udara, dia hirup sampai masuk ke dalam hidungnya dan merasuki jiwanya yang kesakitan.
Tidak apa kamu menyebutkan nama pria lain, selama kamu bisa senyum aku bisa menahannya, melihat mu tersenyum, tertawa bahkan menangis itu jauh lebih baik dari pada aku tidak bisa melihat mu sama sekali, itu jauh lebbih menyakitkan dari rasa cinta yang tak pernah terbalaskan. Sekali lagi batinnya menggema bertarung dengan hatinya yang teriris-iris.
"Maaf ... gue gak bisa balas cinta lo, gue enggak tahu kenapa gue sangat mencintai Royyan, tapi gue menyayangi lo sebagai sahabat,"lirih Elshara di telinga Dirta.
"Hmm ... tersenyum lah, tertawa lah atau bahkan menangis lah di pundak gua, tapi jangan pergi lagi,"sahut Dirta sama lirihnya dengan Elshara.
"Hmm ..."Elshara bergumam seraya dia mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Dirta.
...***...
Esok hari, kegaduhan masih berlanjut. Manda dan Almira malam itu tak kunjung kembali ke resort, mereka memutuskan untuk menginap di hotel dekat dengan lokasi summer camp sesungguhnya, dalam jadwal yang di ketahui Manda, hari ini mereka semua akan berpindah lokasi ke salah satu hutan yang terawat dan menyimpan segala keindahan hijau di dalamnya dan dilengkapi dengan danau yang luas dan membiaskan warna hijau yang jernih dengan perpaduan warna biru yang alami.
Pagi bertandang dengan cepat, Manda dan Almira sudah terbangun dari tidurnya dan kedua insan yang sudah bersahabat lebih dari tujuh tahun itu duduk di kursi yang tersedia di balkon kamar hotelnya, seraya menikmati sinar matahari pagi yang hangat mereka menyeruput segelas kopi hangat dan memiliki rasa manis yang pas, tetapi tidak dengan Almira dia memilih untuk meminum susu dengan sentuhan rasa strawberry.
__ADS_1
"Elu kagak di cariin Man?"tanya Almira seraya menggenggam gelas berisikan susu kesukaannya.
"Gak tahu, kan gue matiin datanya dan juga kartunya gue lepasin dari hape,"jawab Manda tenang seraya memutar-mutar cangkir kopi dengan asap yang masih mengepul itu di udara.
Seketika Almira terpegun mendengar jawaban sahabatnya itu, bagaimana bisa Manda berpikir sampai sejauh itu, kemudian dia letakkan gelas tinggi yang ada dalam genggamannya tadi ke atas meja seraya dia memutar tubuhnya menjadi menghadap pada Manda di samping kanannya.
"Weh gila lo, pinter juga lo bisa mikir sampai kesitu,"ucap Almira dengan wajah manjanya yang selalu terlihat polos alami.
"Iya dong, Manda gitu lo."
"Dih pede banget lo, eh iya ... ngomong-ngomong keadaan staff gue di sana gimana ya?"Almira segera kembali ke dalam kamar dan mengambil ponselnya, dia segera melakukan panggilan telepon dengan Sara.
Tidak lama sambungan telepon itu tersambung, Sara terdengar segera mengangkat telepon dari atasannya itu.
"Halo kak Ra, kak Ra ada di mana? Dari semalam kok gak bisa dihubungi?"tanya Sara beruntun, suaranya terdengar masih bergetar, sepertinya dia baru bangun tidur.
"Saya aman kok, kerjaan di sana gimana? Beres kan?"jawab Almira yang mengkhawatirkan keadaan di resort.
"Di sini aman kok kak, nona Rala pun sudah kembali bekerja dengan baik dan tidak banyak permintaan lagi setelah kedatangan temen cowoknya,"jelas Sara di balik ponsel.
"Temen cowok? Siapa? Pak Royyan, Ajun atau Dirta?"pikirannya tiba-tiba saja tidak tenang, ada sedikit getaran rasa sakit di hatinya, bayangan temen cowok Elshara dalam benaknya tertuju pada Royyan.
"Saya tidak tahu nama yang kak Ra sebutkan tadi, yang jelas bukan pak Royyan karena saya hanya mengenali pak Royyan."
"Oh syukurlah ..."serunya pelan, dia berucap seperti mengunyah angin, tidak jelas.
"Hah?! Apa kak Ra? Maaf saya kurang mendengarnya."
"Ah enggak-enggak, sekarang lagi ngapain? Bukannya jadwal camp-nya hari ini kan?"
"Iya kak, nanti saya dan teman-teman yang lain akan mempersiapkan segalanya, kita ketemu di lokasi aja kak Ra."
"Oke. Nanti share aja lokasinya."
"Siap kak Ra."
Setelah selesai berbicara dengan orang kepercayaannya, Almira kembali ke kursi dekat dengan Manda, kopi hangat yang tadi tertidur di dalam cangkir telah mengosongkan diri, dan Manda sudah mulai mengotak-atik ponselnya, memasukkan kartu sim-nya lagi ke dalam ponsel. Satu menit berlalu, dua menit, tiga menit bahkan lima menit berlalu kartu sim itu terpasang, dan berbagai macam notifikasi masuk ke dalam ponsel Manda secara beruntun sampai terdengar penging di telinga.
Sehingga Manda melemparkan ponselnya ke atas meja dekat dengan cangkir bekas kopinya, dia tarik kedua kakinya ke atas dan membentuk posisi bersila, lalu dia menopang dagunya dengan kedua tangannya yang sikutnya dia letakkan di atas lututnya sendiri.
Almira yang berada di belakangnya tertawa lepas, sampai dia memukul-mukul lembut pundak Manda yang mematung dengan bola mata yang membuntang dan iringan derap jantung yang berdebar hebat.
"Mampus gak tuh, baru satu hari di tinggal, notifikasi lo udah kayak apa, mana kagak berhenti-berhenti lagi dari tadi,"ledek Almira seraya mendorong punggung Manda dengan lembut.
NEXT ....
__ADS_1