Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 94 : Sadar diri! Lu itu cuman di anggap temen.


__ADS_3

Dua gadis cantik itu menelusuri jalanan sunyi yang di penuhi lampu-lampu yang berkilauan, bola matanya merekam keindahan taman yang di sinari langsung oleh sinar rembulan yang berpendaran di atas, sorot cahayanya membuat kedua gadis itu bak seorang putri kerajaan yang sedang menyambangi rakyat-rakyatnya.


Semua mata yang ada di sana terfokus pada dua gadis yang tengah berjalan menuju sebuah kursi panjang bercat coklat tua, lantas keduanya terperenyuk di atas kursi itu seraya menyeruput minuman manis nan dingin yang mereka beli sebelum memasuki taman tersebut.


"Lu gak tahu apa-apa kalau nyokap-bokap lu itu beli saham perusahaannya keluarga si top model gila itu,"tanya Manda menatapi sang sahabat.


"Ya gak tahu, gue tahunya nyokap bokap gue datang ke Bali buat urusan bisnis, ya mana gue tahu kalau bisnis itu ternyata sama perusahaan Romz fashion,"sahut Almira menyandarkan punggungnya ke kursi panjang itu.


Tiba-tiba Manda menyerukan tawa dengan nyaring, dia letakkan gelas kemasan minuman manisnya itu di samping kanan seraya menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang dia duduki dengan Almira.


"Wow!"serunya bertepuk tangan sehingga membuat Almira mengerut heran bahkan gadis itu mendelik lalu ikut menyelam dalam tawa Manda, "dia udah gak bakalan bisa songong lagi sama lu, ya kalau sama gue bisa aja sih ya, tapi kalau sama lu keluarganya bakalan mampus sih,"tambahnya puas.


"Gue gak ikut campur deh kalau urusan bisnis keluarga gue sama suami gue, pening pala gue,"timpal Almira menggelengkan kepalanya seraya menyeruput minuman manis yang memiliki rasa strawberry yang pekat.


"Ih dasar kagak berubah ini anak, dari dulu lu itu selalu menyembunyikan identitas lu sebagai putri tunggal dari perusahaan fashion terbesar di negara ini."


"Yaelah itu kan nyokap bokap gue yang kaya, lah gue cuman tukang minta doang, ya gak bisa di bilang gue banyak duit lah,"elak Almira tak ingin menyebut dirinya sebagai wanita yang beruntung dikelilingi oleh harta kekayaan.


Selang beberapa menit perbincangan kedua gadis itu berakhir bersamaan dengan para pengunjung yang semakin malam semakin menyusut, Elshara tiba di taman itu dalam keadaan berantakan, bahkan dia mengenakan pakaian serba pendek dan sepatu sneakers yang senada dengan warna kaos crop top-nya.


Dia membantai tanah dengan pijakan kuatnya, bola matanya yang terbakar amarah menyibakkan para pawana yang tengah berhembus dengan tenang, ia berjalan sesuai arahnya bergerak. Gadis dengan jiwa yang berkobar-kobar itu melakukan pemburuan langkahnya menjadi lebih gahar lagi, dia mendekati Almira dan Manda yang sedang menikmati angin malam dengan sinar rembulan yang menghangatkan.


"Sini lo!"bentak Elshara tiba-tiba saja menarik tangan Almira dengan kasar.


Pedih di hatinya bahkan peluh amarahnya bercucuran, telah mendorong gadis itu pada kemarahan yang tak bisa dia kendalikan lagi. Sementara Almira yang di tarik paksa tetap tenang, jiwa gadis bermata kucing itu nampak kuat, dia sama sekali tidak gentar dengan kemarahan wanita di hadapannya itu.


Almira tarik tangannya dalam satu kali gerakkan sehingga tubuh Elshara sedikit tergoyahkan, gadis itu mendelik kasar menghunjamkan tatapannya pada gadis cantik yang berpakaian serba panjang lengkap dengan bando kristal di atas kepalanya.


"Apaan sih lu, kerasukan iblis lu,"tukas Almira menajamkan tatapannya kesal.


Gadis bermata kucing itu masih menggenggam kemarahannya saat Elshara membawanya terjatuh ke dalam lautan dan mengakibatkan dirinya harus menjauh dari sang suami, sampai waktu harus mengejar sepasang suami-istri untuk kembali saling bertemu.


"Sialan lu ya!"Elshara mendorong Almira dengan kasar sehingga gadis mungil itu terpental beberapa langkah ke belakang, gadis mungil itu mengernyit kesal, tetapi dia masih terdiam menunggu Elshara memuntahkan segala kemarahannya, "dasar sialan lu anj*ng! Lu gak tahu diri banget tahu gak!"sentak Elshara dengan tatapan keruh.

__ADS_1


Wajah Almira terhenyak heran, menatapi Elshara dengan tatapan mengkhawatirkan, pipi kanannya menaik dengan hidung yang mengernyit, "gila lu? Apa emang udah gila dari lama,"seru Almira tak segan-segan seraya dia menyeka rambutnya ke belakang.


"Diem lu!"tunjuk Elshara getir, butiran kemarahan yang berserakan telah berkumpul di bola mata pipihnya, "berani-beraninya elu rebut Royyan dari gue."giginya mengerat, gertakannya semakin menguat. "Royyan itu punya gue!"tunjuk Elshara pada dirinya sendiri, "Royyan d'caprio Alzaro adalah milik GUE! Gak ada yang bisa miliki dia selain gue! Dan lu!"Elshara memutar jari telunjuknya menghantam dada Almira, "sebaiknya lu sadar diri, pergi jauh-jauh dari milik gue, dasar murahan! Perebut cowok orang, b*ngs*t lu!"


Kata-kata gadis itu sungguh tidak menggambarkan jika dirinya adalah seorang top model yang memiliki kemampuan modeling yang luar biasa, dia mencerminkan dirinya sebagai wanita yang haus akan segala hal, tetapi dia tidak bisa membuktikan jika dirinya bisa mendapatkan segala hal tanpa kecuali seperti perkataan yang selalu dilukis oleh bibirnya.


Namun, Almira tidak gentar atau bahkan merasa sakit hati akan perkataan gadis yang sedang di kungkung amarah itu, gadis yang tengah menguatkan deru napasnya hingga terdengar kasar bagai hewan yang mendengus, matanya memerah dan garis-garis di wajahnya meregang.


Sudut bibir kanannya menyeringai seraya dia menarik kedua tangannya untuk terlipat di depan, "lu lagi ngatain diri lu sendiri,"kernyit Almira dengan tatapannya satiris. "Lebih murahan mana, wanita yang mendekati suami orang lain secara paksa walau cowoknya gak mau, atau wanita yang menikahi suaminya secara sah secara agama dan negara, mikirnya make otak cantik ... jangan pake emosi, dan emosi lu itu salah,"tutur Almira masih menurunkan nada suaranya.


"Bacot banget lu!"sergah Elshara, tanpa segan dia layangkan satu tamparan kasar di pipi lembut Almira sehingga gadis mungil itu menumbuhkan kemarahannya menjadi menara, tatapannya nanar seraya mengelus pipinya.


Lantas dia usap pipinya dengan kasar, butiran kristal tipis di pelipisnya segera memanas, gadis itu segera menegakkan tubuhnya untuk berdiri lebih kokoh, menyiapkan dirinya untuk pertengkaran yang lebih dahsyat.


"Sadar diri lu gila! Lu siapanya kak Royyan hah?! Gue tanya lu siapanya kak Royyan! JAWAB!"pekik Almira telah dirundung amarah, kepalan tangannya sudah membulat.


Gadis di depannya mengeratkan tatapannya menjadi lebih buas lagi, matanya yang memerah semakin matang, bulir embun dengan segera menguap memenuhi bola mata pipihnya, jiwanya sakit, hatinya tercabik-cabik benda tajam yang dinamakan dengan cinta, sebuah rasa yang kuat dan siap membakar jiwa dan raga Elshara hingga menjadi serpihan abu.


Elshara menghentikan pekikkannya, lalu dia berdiri kembali sambil menyeka wajahnya dengan kasar dan mempertahankan tatapan runcingnya. Langkahnya mendekat, tetapi Almira tak gentar, gadis itu tetap berdiri di tempat yang sama dengan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan Elshara.


"Gue kenal Royyan lebih dulu, jadi yang lebih pantas bersanding dengannya cuman gue, bukan elu!"hardik Elshara mendorong Almira dengan telunjuk tangan kanannya.


"What ever, but ... now he is my husband, and you are nobody,"balas Almira tengil.


Gigi-gigi yang bertengger dengan rapi di dalam mulut Elshara kembali saling bergesekan, tatapannya semakin memburu, kakinya melangkah dengan kasar sehingga ranting yang ada di depan kakinya seketika berubah menjadi serpihan tak berguna.


"Sadar diri lu, lu itu cuman temennya kak Royyan, bahkan dia gak pernah memasukkan lu dalam daftar sahabatnya, baginya sahabat itu hanya Dirta dan Ajun, kenapa sih lu obsesi banget sama kak Royyan, dia suami gue dan lu gak berhak buat deketin dia,"ujar Almira dengan dada yang berdebar hebat.


Garis wajah Elshara mengerat, langkahnya berapi-api mendekati Almira yang tengah menajamkan tatapannya, "kalau lu gak datang ke kehidupan Royyan, semua ini gak akan terjadi, gue sudah pasti jadi satu-satunya wanita yang dia cintai, lu itu pengganggu! Dasar wanita ******!"Elshara masih belum puas mencibir gadis yang telah berhasil meluluhkan hati Royyan.


"Bacot lu jaga ya!"pekik Almira dengan nada suara seraya dia melayangkan satu tamparan keras di salah satu pipi Elshara sampai wajahnya terlempar ke samping dan menumbuhkan benih amarah di bola mata pipihnya semakin berkobar-kobar.


Namun, Almira belum selesai dengan pemburuan nya pada gadis di depannya, dia menarik lengan Elshara secara kasar untuk segera ke dekatnya, lantas dia jambak rambut Elshara tanpa ampun, "aaarghhh ...."sehingga pekikan Elshara merabung seraya mencengkeram tangan Almira yang menikam rambut-rambutnya, tetapi gadis bermata kucing itu mengerutkan dahinya dengan gigi-gigi yang saling bergesekan dengan antusias.

__ADS_1


"Yang lebih pantas di sebut wanita ****** itu elu! Elshara Danira yang tidak pernah sadar, otak itu pake buat berpikir bukan cuman pajangan b*go,"hardik Almira menarik rambut Elshara dengan kekuatan lebih kuat lagi.


"Sialan! Lepasin gue ...."teriak Elshara meraih rambut Almira dan menariknya pula.


"Akh ...."pekik Almira menguatkan tarikannya pada rambut dark blonde itu.


"Akh ... lepasin! Gue akan rebut Royyan bagaimana pun caranya,"gertak Elshara membara Almira berputar-putar di tempat yang sama.


Keduanya saling tarik-menarik rambut sehingga kulit kepala mereka terasa perih, tak lepas dari melontarkan perkataan mencibir satu sama lain, delusinya ingin mengalahkan Almira di depan semua orang dengan kekuatan dan keangkuhannya, tetapi Almira bukanlah gadis lugu yang akan mudah mengalah dengan lawannya.


Gadis mungil itu menendang satu kaki Elshara sehingga gadis itu terjatuh membentur tanah yang di baluti rumput-rumput hijau yang baru saja di potong dengan rapi, taman yang indah dan sunyi dengan ketenangan para bintang dan sinar rembulan menjadi mencekam karena pertengkaran hebat antara Elshara dan Almira.


Kunang-kunang mengelilingi kepala Elshara sampai rasanya dia ingin muntah, dia sudah tak mampu memekik dan mencibir wanita yang telah berhasil mengalahkannya, sehingga seluruh mata yang menatapnya terkatung-katung termasuk Manda yang mematung sejak pertengkaran itu di mulai, gadis berambut sebahu itu tak bergerak dari posisinya dengan bola mata yang melebar dan mulut yang terbuka.


"Gue peringatkan, sampai elu ganggu hidup gue dan kak Royyan, gue akan cabik-cabik lu dan seluruh keluarga lu,"gertak Almira mendorong dada Elshara yang masih terpekur di atas rerumputan dengan wajah merah padam.


"Bacot!"tepis Elshara seraya dia berdiri dan mendorong Almira, "gue yang akan menghancurkan hidup lu dan Royyan akan jadi milik gue,"sambungnya masih kukuh dengan pendiriannya.


"Maka akan gua pastikan lu gak akan dapat apapun,"balas Almira dengan tegas.


Mata pipih itu mengerang bersamaan dengan kepalan kedua tangannya membulat hebat, hidungnya mengerut dengan kekuatan yang lebih pekat lagi, perlahan satu tangannya melayang ke atas, angannya menggambarkan jika dia akan menampar wanita cantik di hadapannya lagi, tetapi belum habis angannya merangkai rencana untuk menghajar Almira lagi, dari arah lain Royyan menahan tangan Elshara yang melayang di udara.


Gadis itu dengan cepat menoleh dan mendapati Royyan sudah menatapinya tajam, jarum sorot matanya seketika menusuk perisai cahaya yang memanas dari dalam bola mata pipihnya, hati Elshara mencelos. Kepalan yang menguat mendadak mengendur dan melemah begitupun dengan tatapan yang semula kuat menjadi redup.


"Jangan pernah menyentuh istri gue, menyingkir dari hadapannya atau gua tarik lu sampai lu gak bakalan bisa menemui wujud gua lagi,"ancam Royyan mencengkeram tangan Elshara dengan kuat.


Lelaki itu tidak peduli bagaimana gadis itu mengerang kesakitan karena cengkeramannya yang kuat, dia mendorong tangan yang sedang dalam jeratannya mundur ke belakang.


"Akh ... Royyan! Lu apa-apaan sih, cuman gara-gara dia lu jadi kasar gini sama gue,"protes Elshara, wajahnya mengerut geram.


Royyan memalingkan wajahnya kesal, seraya dia tersenyum miring dan memosisikan dirinya tepat di depan sang istri yang mungil, sehingga gadis itu tak terlihat oleh Elshara yang sepertinya sudah siap untuk menerkam Almira hidup-hidup.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2