
"Sembarangan kamu, gak boleh ngomong begitu, pamali kata orangtua juga,"protes Almira melipat kedua tangannya di depan.
Lelaki itu sengaja menyandarkan tubuhnya ke lemari kaca itu seraya meruncingkan tatapan nakalnya pada sang istri yang tengah memberengut di depan, kedua tangan yang semulanya terlipat segera terjulur meraih salah satu lengan Almira yang mengeras, lantas dia menarik sang istri kembali masuk ke dalam dadanya yang telanjang.
"Kenapa kamu marah sayang,"ucap Royyan mengapit dagu sang istri dan mengarahkan pada sorot matanya, "kan yang gak hidupnya aku, bukan kamu, kenapa kamu yang marah,"lanjut Royyan menjatuhkan hidungnya ke atas pipi kanan sang istri, sedangkan satu tangannya yang lain melingkar di pinggang Almira dengan erat.
Sontak bola mata Almira menatap nanar sang suami, angan-angan ketakutannya kembali merasuki gadis itu sehingga tubuhnya bergetar, merinding. Dia tarik tubuhnya dari dekapan sang suami, wajahnya masam dengan mulut yang menganjur ke depan, lantas dia membalik tubuhnya membelakangi Royyan.
"Tahu ah, mau marah pokoknya sama kamu,"gerutu Almira melipat kedua tangannya di depan.
Lekas Royyan melahap langkahnya dengan suapan besar, memblokir langkah sang istri, dia bentangkan kedua tangannya agar sang istri tak memiliki jalan untuk meninggalkannya di sana. Kedua tangannya menempel di kedua pipi sang istri dengan senyuman merekahnya.
"Maaf ..."seru Almira yang kemudian dia jatuhkan kecupan kecil di kening sang istri dengan lembut.
"Janji dulu sama aku,"ucapnya kemudian melambungkan jari kelingkingnya di depan mata kucing kecoklatan itu.
Almira yang tertunduk segera mendongak dengan kedua tangan yang melempai, sorot matanya melesat masuk ke dalam binar cahaya dari bola mata Royyan yang menatapi sang istri dengan penuh cinta.
"Apa?"seru Almira menatapi sang suami dengan serius.
Bola mata Royyan terjatuh pada kelingkingnya, memberikan sebuah isyarat untuk menautkan jari kelingking sang istri dengan kelingkingnya yang sudah berdiri ke atas, lekas Almira menautkan jari kelingking tangan kanannya ke jari kelingking Royyan dengan erat.
"Apapun yang akan terjadi di masa depan, jangan sekalipun kamu,"ujar Royyan seraya menyentuh lembut hidung lancip sang istri sehingga mata kucing itu terpejam beberapa detik, "pergi dari aku, benang merah telah tertaut dengan jarimu, kemana pun kamu melangkah, aku akan menemukanmu, bagaimana pun caranya,"sambung Royyan.
"Kalau kamu gak menemukanku?"tanya Almira penasaran, sorot matanya meredup hanya pada bola mata kecil yang sedang menatapnya.
Lelaki itu menyeringai seraya membelai rambut Almira dengan kelembutan yang membara, ia tak melepaskan tatapannya pada mata kucing yang selalu menariknya masuk dalam lautan cinta yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Seperti yang kamu tahu, aku bisa terjun ke laut tanpa harus berenang, aku akan tenggelam bersama hilangnya kamu dalam hidupku,"celetuk Royyan enteng.
Degh!
Hantaman keras meninju dada Almira hingga terasa sesak, ribuan pisau tajam menikam diri wanita itu sampai tubuhnya bergetar merinding. Wajahnya berkerut, lalu dia menepis kedua tangan sang suami dari rambutnya.
"Kak Royyan! Stop ngomong yang aneh-aneh, itu namanya bunuh diri,"sanggah Almira memberengut.
"Kan itu terjadi kalau kamu gak ada di dekatku, jadi semua itu tergantung di tangan kamu,"pungkas Royyan dengan senyuman kecil.
"Hah?! Kok jadi aku sih,"protes Almira tak terima.
"Iya lah, jadi pastikan kamu gak pernah pergi dari aku, oke sayang ...."jawab Royyan seraya melimbai ke lemari yang menampung pakaian-pakaian santainya.
Gadis itu terdiam. Tangannya yang menggantung dengan sembarangan seketika menaik ke kepalanya untuk menggaruk bagian mana pun karena tak ada bagian yang merasakan gatal, ia hanya kebingungan dengan penuturan Royyan.
__ADS_1
Mungkin bait-bait yang terangkai dari mulut suaminya itu hanya sebuah candaan, tetapi relung batin Almira menaut kata-kata itu menjadi gapura ketakutan yang mungkin terjadi di masa depan. Almira kembali bergidik menepis segala pikiran-pikiran buruknya, kepercayaan dirinya untuk tetap bersama sang suami kembali melambung tinggi, melebihi gapura ketakutan yang sempat tumbuh tadi.
Almira mengekori kemanapun sang suami melangkah, perkataan Royyan membuat gadis itu enggan untuk menjauh, walau hanya beberapa sentimeter saja. Kakinya meraba setiap jejak yang diciptakan oleh langkah Royyan, sampai pria itu selesai mengambil berbagai macam pakaian yang menurutnya dia butuhkan nanti saat berada di Paris, lekas dia menoleh dan menatapi sang istri dengan senyuman manisnya.
"Kenapa kamu ngikutin aku terus dari tadi, bukannya bantuin suaminya packing baju,"tanya Royyan berkerut heran.
"Katanya aku gak boleh jauh-jauh, jadi aku ikuti kamu lah, kemana pun kamu pergi,"kilah Almira menyengih.
Royyan terbelangah dengan jawaban dari istrinya, helaan napas panjang dengan lekas berderai keluar, kemudian kedua tangannya naik ke atas pinggangnya dan menetap di sana, "gak gitu juga, kamu ya, kalau deket-deket di dalam rumah gini, bisa-bisa aku tarik kamu ke atas ranjang dan ...."goda Royyan, membuat Almira terhenyak.
Bola mata Almira terjatuh ke bawah menyembunyikan warna merah muda di paras cantiknya, kakinya mengendur ke belakang sembari netranya kembali menyembul menatapi sang suami sedang tersenyum nakal padanya, netra Royyan meraba-raba bagian dada Almira yang tengah sedikit terbuka dan kedua kaki jenjang Almira yang telanjang.
"NO! Awas ya kamu,"tunjuk Almira menatapi sang suami dengan nanar.
Dengan satu gerakkan, satu kaki jenjang itu berputar lalu berlari enyah dari hadapan sang suami. Membuat Royyan tertawa puas telah berhasil menumbuhkan merah muda di paras cantik sang istri, kepala kecil Royyan menggeleng seraya dia menyugar wajahnya dengan lembut.
"Takut, tapinya ngeyel,"lirih Royyan tersenyum miring sembari dia bersandar pada meja kaca yang memiliki banyak laci yang menampung berbagai macam aksesoris miliknya dan juga milik Almira.
...***...
Binar mentari pagi masih bersembunyi di pangkuan kaki langit, laut di seberang sana masih menidurkan ombaknya hanya beberapa langkah kecil sang anak ombak yang sudah bermain bersama gelap. Dalam rumah mewah itu, Royyan turun dari lantai tiga menggunakan lift seraya membawa satu koper besar berwarna hitam menuju lantai satu.
Deretan pelayan sudah menunggu di bawah, salah satu pelayan segera menghampiri Royyan, dan hendak mengambil koper yang baru saja di lepaskan dari genggaman lelaki itu.
Dengan sigap Royyan menarik kopernya dari pelayan itu, dia tak ingin membuat pekerja wanitanya mengerjakan pekerjaan berat, pelayan wanita itu tubuhnya terlalu kecil. Bahkan kopernya lebih besar dari tubuh pelayannya.
"Panggil satpam,"titah Royyan sembari memainkan ponselnya.
"Baik tuan,"sahut pelayan tersebut.
Pelayan wanita itu segera berlari keluar untuk memanggil satpam, tak lama dari itu dia kembali bersama satpam yang sedang bertugas saat itu, Royyan mempekerjakan empat satpam dalam satu hari, dan mereka bekerja secara bergiliran untuk menjaga keadaan rumahnya tetap aman dan tenang.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu,"tanya satpam berpakaian putih dan hitam khas-nya itu.
"Tolong bawakan koper saya ke mobil,"titah Royyan yang belum melepaskan sorot matanya pada layar pintar yang berada dalam genggamannya.
"Baik tuan,"sahut satpam tersebut.
Tanpa menunggu lama, satpam tersebut segera membawa koper berukuran besar itu keluar dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil sesuai perintah dari tuannya, sedangkan Royyan masih berdiri di depan tangga yang terhubung langsung dengan lantai dua.
"Jika ada sesuatu yang harus kalian kerjakan dan pekerjaan itu berat, minta bantuan satpam. Jangan di lakukan sendiri,"ucap Royyan kemudian.
"Baik tuan,"sahut semua pelayan yang berada di sana serempak.
__ADS_1
Beberapa detik dari itu, Royyan melangkah keluar mendekati mobil hitam miliknya yang sudah siap untuk melaju di bawah matahari yang masih tertidur, samar-samar embun tebal menyingsing dari dedaunan dan ribuan bidang yang ada di muka bumi.
"Semuanya sudah siap?"tanya Royyan pada Adrian yang ada di seberang panggilan teleponnya.
"Sudah pak, semuanya sudah siap dan sebagian staff sudah ada yang berangkat untuk memastikan lokasi lebih dulu di sana,"jelas Adrian seperti biasanya, terperinci.
"Oke. Saya akan segera menuju bandara."
"Baik pak."
Panggilan telepon terputus, bersamaan dengan Almira yang membawakan jam tangan dan jas yang terlupakan oleh Royyan, wanita yang berpakaian piyama biru serba panjang itu mendekati Royyan yang sudah menatapinya dari sejak wanita itu menuruni tangga.
"Kenapa gak pake lift, naik turun tangga kan capek,"ucap Royyan seraya dia melangkah mendekati sang istri yang baru saja tiba di ambang pintu.
"Pengen aja lewat tangga,"sahut Almira, seraya menarik satu tangan Royyan dan memakaikan jam tangan tersebut, lalu di lanjutkan dengan memakaikan jas, "biar badan aku sehat,"sambung Almira setelah dia menyelesaikan pekerjaannya.
Lantas dia melangkah mundur dengan wajah yang masih setengah mengantuk. "Sebenarnya aku ada satu pertanyaan, cuman aku lupa, gara-gara kamu,"tanya Almira menyembunyikan kedua tangannya ke belakang.
"Nanya apa?"jawab Royyan seraya dia kembali fokus dengan ponselnya.
"Soal pagelaran fashion mana yang akan kamu hadiri?"ucapnya kemudian.
Aktifitas Royyan terhenti, pesan yang baru saja di ketiknya seketika ikut berhenti, lekas dia masukkan ponsel itu ke dalam saku yang ada di jasnya, langkahnya mendekati sang istri yang menjauhinya.
"Bukannya kamu udah tahu kalau aku mau ke acara pagelaran fashion yang sama seperti yang akan kamu hadiri,"jawab Royyan melesatkan sorot matanya masuk ke dalam binar mata kucing itu.
Dengan wajah yang tertunduk Almira merelai helaan napasnya keluar dan bibir yang menganjur, "Iya sih, tapi kan aku mau denger kamu ngomong kalau kamu mau ke sini, mau ke sananya,"lirih Almira nyaris berbicara sambil mengunyah.
Sorot mata Royyan terjatuh pada bibir kecil yang biasanya dia selalu sentuh, tetapi pagi ini dia belum melakukannya, dari sejak aroma dingin melekap rumah megahnya, lelaki itu sudah di sibukkan dengan berbagai macam keperluannya.
Kedua tangan kekarnya yang panjang mengarik kedua lengan sang istri dan menariknya mendekati tubuh kekar itu, tetapi gadis itu tidak bergerak, wajahnya masih tertunduk. Deretan keramik putih itu lebih menarik di banding wajah tampan sang suami, tangan yang menggantung di belakang ikut mengeras.
"Jadi aku harus ngomong lagi, walaupun kamu udah tahu?"Royyan malah bertanya lagi, membuat Almira mengeras tak habis pikir.
Wajah yang tertunduk segera mendongak dan menajamkan tatapannya pada sang suami, "kok malah nanya sih, ha-"sahut Almira kesal yang tak sempat dia selesaikan.
Bola matanya membulat hebat dan kedua tangannya yang tersembunyi di belakang tubuhnya pun ikut mematung bersamaan dengan jatuhnya sebuah c*um*n yang melahap habis bibir kecilnya yang masih polos itu, rasanya masih manis, aroma pasta gigi yang sama menyebar ke rongga hidung keduanya.
Dengan lihainya salah satu tangan kekar Royyan mengunci tangan Almira di belakang dan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk menekan kepala Almira agar permainannya semakin dalam dan lekat, keduanya saling menempel dan gadis itu memejamkan matanya dengan kuat.
Royyan menghentikan permainannya, jika banyak waktu yang dia miliki, tanpa segan dia akan menarik istrinya kembali ke ranjang dan melanjutkan permaiannya lebih dalam dan lama lagi, sayangnya dia harus meninggalkan Almira dalam beberapa waktu karena pekerjaannya.
NEXT ....
__ADS_1