Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 118 : Selesai sidang.


__ADS_3

Persidangan ditutup sesuai harapan Manda, Ajun, Almira, Royyan dan juga kedua orangtua Almira. Tidak sia-sia usaha mereka untuk menggertak pimpinan Romz Fashion itu, malam itu Ressa dan Miranda bertandang ke perusahaan Romz Fashion. Membuat salah satu partner kerjanya membuntang hebat atas kedatangannya yang terbilang mendadak.


Pada malam sunyi dimana para bahana bersembunyi di teluk ketenangannya, Ressa dan Miranda terduduk di depan kedua orangtua Elshara, ketara jelas mereka tidak senang atas kehadiran Ressa dan Miranda.


"Manda adalah sahabat putri kami, jangan ikut campur, jika kalian masih mendukung kejahatan pimpinan agensi itu, saya tidak akan segan-segan mencabut semua saham saya yang ada di perusahaan anda,"gertak Ressa pada pria berbadan tegap yang kini tengah merunduk.


"Tidak ada pengecualian, kami tidak suka bermain-main. Jika ucapan sudah terburai maka hanya itu yang akan terjadi,"timpal Miranda tak kalah tegasnya dengan sang suami.


Tak ada jawaban dari pimpinan Romz Fashion itu, mereka terdiam bak patung seribu candi, hanya tatapannya saja yang kalang kabut dan bias merah menyembul ke permukaan. Dan detik itu pula Ressa dan Miranda meninggalkan keduanya, mereka tak peduli seberapa sakitnya hati kedua insan itu.


Gertakan Ressa dan Miranda ternyata ampuh menahan kedua orangtua Elshara untuk bungkam dan tidak ikut campur dalam kasus kali ini. Walau kini mereka menajamkan tatapannya pada Manda, membuat gadis itu ketakutan dan Ajun segera menyadari hal itu, lekas lelaki dengan dada seluas samudera itu bergeser ke depan Manda dan melindungi gadis itu bahkan satu tangannya ke belakang untuk menggenggam salah satu tangan yang tengah bergetar itu.


"Tegakkan punggung lo,"bisik Ajun dengan wajah yang sedikit menoleh pada Manda yang ada di belakang.


Sontak gadis itu mendongak dan menegakkan punggungnya.


"Ayo jalan, kita keluar, Royyan dan Ra udah nungguin di luar,"lirih Ajun lagi.


"Euum ..."gumam Manda untuk menjawab perkataan Ajun.


Ajun menarik Manda keluar dari ruang pengadilan, meninggalkan semua orang yang meruncingkan tatapannya termasuk Elshara. Mereka keluar dari ruang pengadilan itu dan menemui Almira dan Royyan yang sudah menunggu di ambang lorong.


"Ajun keren banget sumpah, gak bohong,"puji Almira menerbangkan ibu jarinya ke atas.


Seraya melepaskan kacamata dari matanya, Ajun menyeringai. "Dah ah capek gua,"celetuknya kemudian memasukkan kacamata itu ke dalam saku jasnya. "Kalian habis ini mau kemana?"tanya Ajun kemudian.


"Balik kantor,"sahut Royyan sembari menerjunkan satu tangannya di bahu sang istri.


"Gue sih balik butik ya, kalo lo Man,"timpal Almira.


Manda menoleh lembut pada Ajun, gemuruh di dadanya masih belum berhenti sehingga memenggal semua perkataan yang ingin dia ucapkan pada Almira, terlebih pada Ajun.


"Balik rumah kayaknya, gak ada yang gue kerjakan lagi kan."


Akhirnya gadis itu bersuara, dia berusaha untuk menyembunyikan debaran yang ada di dalam dadanya. Walau sepertinya Ajun menyadari ada yang aneh dengan sikap Manda, lantas dia tersenyum miring.


"Yaudah gue lanjut ya, bye ..."pamit Ajun melenggang menjauhi semuanya.


Sampai di ujung lorong Ajun kembali menoleh dan melambaikan tangannya. "YAN! Basket yaw!"teriak Ajun di ujung sana, kemudian dia segera melanjutkan langkahnya.


Royyan menyeringai menanggapi teriakan dari sahabatnya. Begitupun dengan Manda dan Almira yang ikut tersenyum melihat tingkah Ajun yang berbeda jauh saat dia berada di dalam ruang pengadilan.


"Temen kamu itu bunglon apa ya,"seru Almira menatapi wajah samping sang suami.


Sudut bibir kanan Royyan menyungging, lantas dia menoleh dan menenggelamkan tatapannya pada gelora cinta dari bola mata sang istri. "Gak usah heran, dia emang begitu,"ucap Royyan membelai rambut Almira.

__ADS_1


Almira mengangguk. "Eh iya, aku ketemu Dirta di dekat butik aku, kok dia gak datang sekarang, apa dia gak tahu,"tanya Almira lagi yang masih berusaha untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


Royyan menghela napasnya panjang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku gak tahu, kamu harus hati-hati, aku tidak sepenuhnya mempercayai Dirta,"ungkap Royyan.


"Kamu masih belum memaafkan semua perlakuan Dirta di masa lalu?"tanya Almira.


"Bukan, tapi ... noda tak selalu menghilang semuanya, begitupun dengan semua kejahatan yang telah dilakukan Dirta, tak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama di masa depan, kamu harus hati-hati sama Dirta dan Elshara,"pesan Royyan dengan tatapan tajamnya.


Perlahan langkah Royyan berlalu ke arah berlawan dari kepergian Ajun tadi. Almira menatapi punggung sang suami dengan heran, dahi dan hidungnya berkerut seraya dia mendekat pada Manda.


"Kenapa lu ngeliatin suami lu sampai begitunya,"tanya Manda heran.


"Sama temen sendiri sikapnya bisa begitu, kalau gue yang kayak gitu kayaknya udah di depak gue,"cetusnya.


"Heh!"Manda menepuk pundak Almira pelan, "posisi istri ada di atas posisi temen, kalau dalam pernikahan yang utamakan istri, gimana sih lu."


"Eh enggak, istri tetep di posisi kedua, yang pertama masih orangtua,"protes Almira.


"Tapi posisi elu sekarang kayak gitu, Royyan selalu menjadikan elu di nomor satu."


"Enggak juga, kadang gue di nomor sekian, yang nomor satu tetep pekerjaannya,"kilah Almira, lalu kaki mungilnya melangkah ke arah dimana sang suami melenggang.


Manda mengernyit hebat sambil dia mengeratkan kedua tangannya di pinggang. "Lu ngeyel ya," kesal Manda.


Sedangkan wanita berparas lembut itu tertawa kecil sembari berlari lambat untuk menyusul sang suami, begitupun dengan Manda yang ikut mengekori langkah sahabatnya, setiap langkahnya terurai, netranya terus mengarah kembali kemana Ajun tenggelam. Lantas senyum tipisnya terangkai dengan indah, warna merah muda membias dengan sempurna di wajah cantiknya.


Batin Manda tak henti-hentinya memuji sosok Ajun yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Ia mengalir bak air yang mengikuti pola di mana dan kemana pun ia bersirkulasi menuju pusaran terakhirnya dan kembali menguap dan menjadi benih hujan, begitupun dengan perasaan yang tengah dirasakan Manda pada Ajun, dia harap perasaannya hanyalah seuntai air yang akan kembali membenihkan hujan dan setelah hujan reda maka rasa itu akan ikut mengering.


Mentari siang mengguruhkan angin yang melangkah menuju seorang lelaki berbadan tegap yang kini telah menyimpan kacamatanya di dalam kotak berwarna hitam, lalu dia letakkan wadah hitam itu di dalam mobil.


Belum habis Ajun menyelesaikan aktifitasnya, lelaki itu sudah terseret ke belakang dan membuat netranya membuntang hebat, dia lekatkan tatapannya pada gadis cantik yang baru saja menyeretnya ke belakang dan tak sengaja membanting pintu mobilnya itu hingga berguncang.


"Apa sih El, gua mau balik, capek,"protes Ajun menatapi Elshara dengan gusar.


"Lu yang apa-apaan Jun, gue ini temen lu kan?! Kita sahabat Jun, kok lu bisa-bisanya malah bela si cewek model gak becus itu,"cibir Elshara menunjuk-nunjuk Ajun.


Mendengar kata 'gak becus' netra Ajun membeliak azmat, sungguh dia tidak terima Manda dicibir seperti itu, karena menurutnya gadis berambut sebahu itu selalu melakukan pekerjaannya dengan baik dan sekalipun tak pernah mengecewakan kliennya.


"Jaga ucapan lu El,"lirih Ajun, tatapannya berubah menjadi serius. "Kenapa elu jadi gini sih El, dulu lu gak gini, lu wanita yang lembut dan peduli terhadap orang lain, kenapa lu sekarang kayak gini sih, jujur gue gak kenal lu yang sekarang,"tambah Ajun mengerutkan dahinya.


"Bacot! Gua yang dulu udah gak ada, gua yang dulu adalah orang bodoh yang menyedihkan, harusnya gue dari dulu seperti ini, mungkin aja Royyan udah jadi milik gue!"pekik Elshara, tatapannya mengurai getir.


"Serah deh ya, bukan urusan gue lagi,"elak Ajun yang sudah mulai malas menghadapi Elshara.

__ADS_1


Pria itu berlalu kembali mendekati mobilnya yang berada di belakang Elshara, tapi belum habis Ajun menyambangi rencananya, Elshara kembali menarik Ajun ke hadapannya lagi.


"Gue belum beres,"katanya kemudian.


"Apa lagi ..."protes Ajun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dengan penuh emosi. "Gua laper, pengen makan, pengen tidur, pengen istirahat El ..."sambung Ajun.


"Itu gak penting, yang penting sekarang lu jelasin kenapa lu bela Manda sampai segitunya."


"Gak penting?! Gua mampus karena kelaparan emang lu mau tanggungjawab." Ajun menaikkan kedua alisnya tak habis pikir dengan jalan pikiran Elshara.


"Ajun! Jawab pertanyaan gue,"sentak Elshara.


"Iya! Tunggu di sini, gue bakalan jelasin, sampai lu cabut gue teror lu ya sampai ke ujung dunia mana pun,"tunjuk Ajun melangkah mendekati mobilnya, tepatnya ke pintu belakang, dia mengambil sebuah roti isi selai coklat dan satu kaleng kopi instan.


"Enggak akan,"ketus Elshara menarik kedua tangannya terlipat di depan.


Tak lama Ajun kembali seraya melahap roti isi selai itu dengan suapan besar bergantian dengan menyeruput kopi instan itu membuat Elshara berkerut bahkan dia terbelangah dan melunturkan tangannya yang ada di depan menjadi terjulur ke bawah.


"Kok malah makan sih,"protes Elshara.


"Ya orang gua lapar, ya makan lah."


Elshara menghela napasnya panjang sambil dia membuang wajahnya ke arah lain, gadis itu mencoba menahan emosinya, karena dia tahu betul jika Ajun memang tidak bisa jauh dari makanan, lelaki itu tak bisa menahan rasa laparnya.


"Yaudah lah, cepetan jawab."


"Gue pengacara kan?!" Ajun malah bertanya seraya mengunyah roti.


"Euum ..."sahut Elshara mengangguk.


"Manda klien gua, dan gua dibayar sama Manda untuk menangani kasusnya, udah itu aja. Jadi gak ada unsur gue bela Manda, gue kerja. Dan lagian emang agensi lu yang sableng makanya pengadilan memutuskan Manda yang menang, selesai,"terang Ajun tanpa memperhatikan ekspresi tidak menyenangkan dari Elshara, dia terlalu fokus dengan makanannya.


"Maksud lu agensi gue sableng?!"tanya Elshara serius.


Ajun terdongak dan melahap roti suapan terakhirnya lalu menelannya, setelahnya dia teguk kopi instan dalam kemasan kaleng itu dan meremasnya. "Lu gak perlu nanya gue, lu juga udah tahu betul kan kesalahan apa aja yang udah diperbuat agensi lu dan keluarga elu, gue cuman mengajukan tuntutan agar Manda mendapatkan hak nya dan dia keluar dari agensi, udah itu aja."


Ajun bergerak ke dekat tempat sampah yang tak jauh dari keberadaannya saat ini, dia terjunkan kemasan plastik bekas roti dan kaleng bekas kopi instannya itu ke dalam tong sampah berukuran besar dan berwarna biru.


Tatapan Elshara mencangkung, alisnya saling tertaut. Mata pipihnya menyipit menatap lurus ke depan pada objek kosong, hanya lorong kosong yang dilalui para angin yang menjadi objek tatapannya.


Sialan! Si Ajun emang gak pernah bisa gue gertak dari dulu juga. Sekarang gue harus berusaha buat mengembalikan kondisi agensi yang menurun karena kepergian Manda, terlebih rumor pimpinan yang menggelapkan honor model dan mami papi kenapa harus ikut terlibat sih, bangsat!


Elshara sibuk merangkai kekesalan di dalam batinnya ; Ajun yang berada di sudut lain menatapi Elshara dengan penuh heran, pipi kirinya menaik bersamaan dengan dahi yang berkerut dalam. "Ngapa tuh anak, kerasukan apa ya,"cetus Ajun.


Tak lama dari itu Ajun beringsut mendekati mobilnya dan masuk ke dalam sana, lalu dia melajukan mobilnya keluar dari parkiran pengadilan, lagi-lagi dia meninggalkan Elshara sendirian. Dia tak pernah segan untuk tidak memedulikan Elshara.

__ADS_1


NEXT .....


__ADS_2