Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 128 : Beli Hadiah


__ADS_3

Sara membawa kertas kekuningan itu ke dalam butik, langkahnya mengarah pada ruangan Almira. Lalu dia terpekur di dalam, bibir mungilnya mendadak jadi bisu, senyuman yang selalu ada setiap gadis itu memasuki butik seketika lenyap.


Butik adalah rumah kedua bagi Sara, dia sangat menikmati pekerjaannya, bahkan dia sangat mencintai pekerjaannya, gadis muda itu bisa menghabiskan seluruh waktunya di butik tanpa merasa rugi atau tidak memiliki waktu untuk berlibur.


Kini gadis muda itu membeku di sofa seraya memandangi kertas kekuningan yang tertidur di atas meja, jari-jemarinya bergetar hebat dan tatapannya terjatuh dengan lemah. "Ada apa ini sebenarnya?! Si-siapa yang berani mengirim hal ini kesini? Siapa yang dimaksud kertas ini." Gerombolan pertanyaan yang membekam di benak Sara terus membuncah tak henti-hentinya.


Sampai kehadiran Almira ke ruangan itu tak menggoyahkan perhatian Sara, Almira menatapi orang kepercayaannya itu dengan penuh tanda tanya, lantas Almira mendekat dan mengibaskan satu tangannya tepat di hadapan Sara.


Namun, gadis itu sama sekali tidak tergoyahkan. Tatapannya yang beku semakin mengeras dan perlahan bola matanya mengembun dengan getir, membuat Almira mengerut heran dengan tingkah Sara pagi ini.


"Sara!"panggil Almira keras.


"Hah?!"seru Sara terperanjat, dia terlonjak ke belakang.


Secara perlahan Sara melebarkan bola matanya, tangannya bergerak untuk mengambil kertas itu lagi dan menjulurkannya pada Almira. "Kak Ra ... Ini, saya tidak tahu kenapa benda ini ada di sini, saya akan segera cek cctv di luar,"beber Sara dengan suara yang bergetar.


"Apa?" Dagunya sedikit dia naikkan sembari mengambil kertas kekuningan yang mengganggu pikiran Sara.


Satu per satu huruf yang tertulis di kertas itu masuk ke dalam ingatan Almira.


Degh!


Derap jantung gadis mungil itu bergemuruh, debarannya pun menguat kala dia meremas kertas kekuningan itu hingga tak lagi berbentuk. Tatapannya terlempar pada meja kerjanya yang masih saja dipenuhi oleh tumpukan berkas-berkas dan berbagai macam rancangan yang akan segera diluncurkan dalam beberapa waktu ke depan.


"Cari tahu siapa yang datang pagi ini ke butik,"titah Almira.


"Baik kak Ra ..."sahut Sara yang segera beralih dari punggung Almira keluar dari ruangan itu.


Sial! Siapa ini? Bener kata kak Royyan, ada orang yang ingin membunuh gue, tapi siapa?


Apa yang orang ini mau? Dia ada dimana? Gue harus cari tahu.


Pertanyaan-pertanyaan itu kembali merajam jantung Almira.


Tak lama dari itu derap langkah yang sering Almira dengar perlahan bergerak ke dekatnya, bersamaan dengan pintu ruangannya yang semula tertutup, tiba-tiba terbuka dan membawa sosok gadis cantik berambut sebahu. Wajah gadis itu tampak berseri-seri, dia menghampiri Almira.


"Ra ... Lu jadi beli hadiah buat suami lu?"tanya Manda sesaat dia tiba di dekat Almira.


Senyap. Tak ada jawaban dari gadis berambut coklat keemasan itu, alis yang mengerut memberikan isyarat tak mengenakkan bagi Manda, wajah gadis bermata almond itu memiring, memastikan jika sahabatnya itu sedang dalam keadaan waras.


"Kenapa lu? Tegang banget muka lu?"tanyanya lagi mengenyakkan tubuhnya ke dekat Sofa, lantas dia mengendur ke sofa tersebut.


Almira masih saja terdiam. Manda mencebik kesal, dia tarik kedua tangannya untuk menggantung di pinggang rampingnya, lantas dia mendekat dan menggegarkan tubuh Almira. "Hey ... Lu kenapa sih, bengong mulu dari tadi."


Seketika lamunan Almira tercabik-cabik dan perlahan tenggelam entah lautan mana yang diselami oleh lamunan yang baru saja menghilang. Netra gadis mungil itu bergerak ke arah Manda.


"Sejak kapan lu ada di sini?"tanyanya polos, membuat Manda tersekat sehingga bibir kirinya menaik heran.


"Dari tadi, lu kenapa sih?"


Almira melempar helaan napasnya panjang, lalu dia bergerak ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana dengan tatapan yang masih saja kosong, ada ribuan pertanyaan yang tengah berseteru dengan dinding-dinding ketakutan jiwa gadis mungil itu.


"Ada surat yang aneh, menurut lu itu tulisan siapa?"ungkap Almira berterus terang pada Manda.


Surat yang tak lagi beraturan itu lekas dia serahkan pada Manda, surat dengan kertas kekuningan yang tadi tergeletak di atas meja kini telah berpindah ke tangan gadis bermata almond itu.

__ADS_1


"Surat apaan?"serunya sambil membuka kertas itu dan satu per satu huruf yang berjajar di atas kertas itu tenggelam ke dalam tatapan getir milik Manda.


Manda mengikuti jejak Almira yang mengendurkan tubuhnya di atas sofa. Dada Manda terasa tercengkeram dan sesak di dadanya segera menyeruak mengacak-acak hatinya. Sesekali dia melihat sahabatnya yang nampak ketakutan.


"Bentar ... Kayaknya mirip tulisan si wanita gila itu,"ujarnya sambil menyelukkan satu tangannya ke dalam tas dan dia mencari sebuah kertas yang sudah lama bersemayam di dalam tasnya itu.


Setelah menemukan kertas putih yang tampak kusut, gegas dia sejajarkan dengan kertas kekuningan tersebut. Keempat netra itu tak segan-segan untuk meruncingkan tatapannya pada kedua kertas itu, dalam keadaan berlutut keduanya memandangi kedua kertas tersebut secara bersamaan.


"Mirip,"seru kedua gadis cantik itu secara bersamaan.


"Jadi ... Berarti si Rala gitu yang neror lo?"tebak Manda menoleh pada Almira.


Bahu Almari mengedik tak tahu. "Gak tahu lah, Sara cuman nemu ini aja, gak tahu siapa yang ngirimnya." Bokong Almira mengendur ke bawah dan terduduk dilantai dengan sembarang.


Manda terdiam sejenak, mendadak pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan tentang siapa pengirim kertas mengerikan itu, darah yang melekat di atas kertas kekuningan itu masih basah, aromanya pun masih terlalu anyir.


Gadis berambut sebahu itu mengurai helaan napasnya dengan panjang sambil dia memasati wajah sahabatnya, dari dalam sana ada ketakutan yang melekat di dalam diri Manda.


"Udah lu tenang aja, pokoknya mulai sekarang kalau lu mau keluar hubungi gue aja ya, jangan sendirian, awas aja lo." Manda mencoba menenangkan Almira.


"Euum ... Bawel lo kayak kak Royyan." Almira mendelik seraya dia membingkai wajahnya dengan senyuman tipis.


"Lakik lu khawatir sama lu, wajar dia bawel."


Manda berdiri dari posisi duduknya. "Ayo ah kita ke mal, sore gua harus pemotretan lagi sama Van,"ajak Manda menjulurkan satu tangannya ke hadapan Almira.


"Lu kok sekarang sering pemotretan ya?!"tanya Almira seraya menautkan tangannya dengan tangan Manda, lalu perlahan dia bangkit dari lantai dan menyejajarkan tubuhnya dengan Manda.


"Semuanya diatur sama Van, dan gue cuman mengikuti aja, di agensi itu semua model mendapatkan pekerjaan rata, tidak ada yang diunggulkan ataupun lebih diistimewakan, keren juga lakik lu membangun perusahaan itu,"terang Manda mengambil tas hitamnya yang tergeletak di atas sofa.


"Van memang pemilik agensi itu, tapi dia ada di naungan perusahaan Royyan, jadi apa yang terjadi di dalam agensi itu atas persetujuan Royyan, begitulah,"ungkap Manda menyisir rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya.


"Ooh ..." Almira mengangguk. "Udah ayo kita ke mal, acaranya malam ini di rumah mami Rini dan papi Rian,"ajak Almira melangkahkan kakinya lebih dulu dari Manda.


Sementara Manda hanya mengekori kemanapun langkah sang sahabat bergerak. Dia bak anak ayam yang mengikuti induknya, selalu berjalan di belakang Almira, walau gadis bermata kucing itu sudah melarang Manda untuk berjalan di belakangnya, karena Manda bukanlah asisten atau bawahannya melainkan seorang sahabat.


Namun, entah mengapa Manda selalu melakukan hal itu berulang kali. Dari jiwa Manda, dia selalu menempatkan dirinya sebagai seorang teman yang merangkap menjadi asisten pribadi Almira, ribuan uluran tangan yang Almira berikan untuk Manda, membuat gadis bermata almond itu merasa sungkan untuk menyejajarkan dirinya di samping Almira.


Tiba di salah satu mal terdekat dengan butik, Almira dan Manda beringsut ke dalam mal tersebut, berjalan di antara puluhan orang-orang yang sama sekali tidak dikenalinya, kedua gadis cantik itu terus melangkah ke lokasi yang diinginkannya.


Sebuah store barang-barang mewah menjadi incaran keduanya. Tanpa segan mereka memasuki store tersebut dan segera disambut dengan puluhan bahkan ratusan barang-barang mewah yang sudah tertata rapi di etalase, sebagian ada yang tertidur di lemari-lemari transparan yang berdiri di setiap sudut bahkan tengah-tengah store tersebut.


"Mau beli apa?"tanya Manda memastikan apa yang sedang diinginkan oleh Almira.


"Euuum ..." Almira bergumam seraya berayun ke deretan jam tangan yang berasal dari berbagai macam brand terkenal di dunia. "Jam tangan apa ya, Man ..."serunya kemudian sambil menggerakkan jari-jemarinya di atas etalase jam tangan.


"Bagus juga jam tangan, lu pilih aja dulu kali aja ada yang cocok,"ujar Manda.


Perlahan Almira mengabsen satu persatu berbagai macam jam tangan yang ada di dalam etalase tersebut. Tak lama dari itu, seorang pelayan wanita berpakaian rapi serba hitam dan syal merah kecil menghiasi lehernya.


"Permisi nona ... Ada yang bisa saya bantu?"tanya pelayan itu dengan sopan.


Almira menoleh dan Manda bergeming di tempat yang sama, gadis bermata almond itu enggan untuk mengubah posisinya, dia bersandar pada etalase tersebut. "Saya lagi mencari jam tangan untuk suami saya,"pinta Almira.


"Ah baik nona, suami nona pak Royyan Alzaro kan?"cetus pelayan itu tiba-tiba saja.

__ADS_1


"Aah ... Iya,"seru Almira ragu-ragu, tetapi akhirnya anggukkan menyembul dengan nyata.


"Baik nona ... Tunggu sebentar, saya akan mengambil barang yang pas untuk pak Royyan,"pamit pelayan itu segera beranjak dari hadapan Almira dan Manda.


Pelayan itu bergerak ke sebuah pintu yang terkunci oleh kode rahasia.


"Ra ... gue mau nyari barang ke sana ya, gue juga kan mau nyari hadiah buat lakik lu,"pamit Manda yang segera bergerak ke arah lain.


Langkah gadis berambut sebahu itu tak beraturan, dia hanya mengikuti kemanapun arah angin bergerak tanpa berpikir apa yang sebenarnya yang ingin dia beli untuk hadiah ulangtahun Royyan.


Sebetulnya hari ulangtahun Royyan sudah lama terlewat sekitar satu atau bahkan dua bulan berlalu, awalnya pria kekar itu tak ingin mengadakan pesta ulangtahun atas dirinya, karena dia menganggap hal itu tidaklah penting, baginya untuk menghargai atas umur yang diberikan tuhan cukup dengan menjaga tubuhnya tetap sehat dan waras, itu sudah lebih dari cukup.


Namun, kali ini berbeda, setelah mengetahui jika Almira tengah mengandung anak mereka, terbitlah acara ulangtahun ini, untuk mengumumkan atas kehadiran putra atau putri kecilnya nanti.


Pelayan itu tiba di hadapan Almira lagi, dia membawakan empat kotak mewah berwarna hitam yang berisikan jam tangan dari dua brand yang berbeda. Pikir pelayan itu agar Almira memilih barang dari dua brand terkenal yang amat digemari oleh Royyan.


"Silakan nona ... Dua brand ini adalah brand kesukaan pak Royyan,"ungkapnya.


Bola mata Almira melebar, dia baru mengetahui dua brand ini menjadi kegemaran sang suami, jika diingat lagi memang benar, barang-barang milik Royyan hampir keseluruhannya berasal dari dua brand ternama ini, entah itu tas, sepatu, jam tangan atau bahkan sapu tangan dan dasi.


"Euum ... Saya ambil ini,"cetus Almira menggeser kotak hitam yang menduduki nomor dua dari dekatnya.


Sebuah jam tangan bergaya sederhana, tetapi kesan mewah dari jam tangan itu sangat kental, jam tangan berwarna hitam itu menampilkan gaya maskulin yang pekat.


"Pilihan yang tepat nona, sepertinya anda sangat mengetahui selera pak Royyan,"puji pelayan itu seraya mengambil jam tangan yang diinginkan oleh Almira.


Gadis bermata kucing itu hanya menyeringai sambil mengangguk ; Pelayan itu lekas membawa semua jam tangan itu dari atas etalase dan dia berikan kepada pelayan lain untuk disimpan ke tempat semula, sedangkan dirinya berayun ke arah kasir untuk melakukan transaksi.


Dari ujung store tersebut, Manda tersera-sera mendekati Almira, paras cantik milik gadis itu nampak tegang, seperti menemukan sesuatu yang tak diketahui oleh Almira. Dia terhenti di depan Almira dengan dada yang masih bergemuruh.


"Ra ... Ikut gue cepet." Tanpa menunggu jawaban dari Almira, Manda segera menarik pergelangan tangan Almira.


"Kenapa sih lu, ada apaan?"tanya Almira tanpa berusaha menepis genggaman Manda.


"Nanti juga lu akan tahu,"sahutnya masih terus melangkah dengan terburu-buru.


Sampai keduanya tiba di depan salah satu lemari yang berisikan berbagai macam tas mewah, lantas mereka bersembunyi di sana, Manda memosisikan dirinya tetap berada di belakang Almira.


Dalam keadaan masih heran dengan tingkah sahabatnya itu, netra Almira terus mengabsen satu persatu benda yang ada di depan matanya, sampai akhirnya bola mata kucingnya itu merekam dua sosok yang amat dikenalinya.


Elshara yang tengah bersama Dirta di area rentetan dasi dari berbagai macam warna dan motifnya dari berbagai macam brand pula. Gadis bermata pipih itu tampak berseri-seri, begitupun dengan Dirta, keduanya tengah asyik memilih dasi yang tentunya untuk Dirta, sedang di tangan lelaki berambut wavy bergelombang itu telah berjajar dasi yang sepertinya menjadi pilihan keduanya.


"Itu si Dirta kan sama si Rala, tumben banget mereka bareng-bareng lagi kan, bukannya mereka udah lama berpisah,"bisik Manda di telinga Almira.


"Iya juga ya, kok bisa mereka bareng-bareng lagi, apa ada sesuatu di antara mereka?"sahut Almira lirih.


Manda yang menggantung di salah satu bahu Almira gegas menegakkan tubuhnya. "Lu harus hati-hati Ra sama mereka, gue kok kayak gak enak hati ya sama mereka,"lontar Manda sama persis dengan praduga Royyan.


Almira memutar tubuhnya untuk mengarah pada Manda, memasati paras cantik sahabatnya dengan lamat-lamat, menegaskan posisi bahunya sambil sesekali dia menoleh ke arah Elshara dan Dirta yang masih belum selesai memilih-milih dasi di sana.


"Udah kita cabut aja dulu, nanti gue bilang sama Kak Royyan,"ajak Almira menarik pergelangan tangan Manda untuk menjauh dari sana.


Gadis bermata kucing itu tak ingin Elshara mengetahui keberadaannya, entah mengapa Almira sangat ingin menyembunyikan dirinya dari jangkauan gadis itu. Bait-bait perkataan yang sering terlontar dari bibir Royyan perlahan merasuki jiwa Almira, ia menjadi aba-aba setiap langkah yang akan dijangkau oleh Almira.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2