
Hari esok bertandang dengan cepat, di hari setelah perjalanan malam panas nan panjang itu Almira dan Royyan sama sekali tidak keluar dari gedung apartemen, satu hari penuh mereka habiskan bersama dengan melakukan pekerjaan secara online, menonton film bersama bahkan memasak bersama, mereka meminta seseorang untuk membelikan bahan masakan yang di butuhkan.
Seperti pagi ini, di saat cahaya matahari sudah menghamburkan sorot cahayanya membangunkan para bunga yang masih tertidur termasuk menerobos masuk ke celah-celah jendela yang sedikit terbuka, cahayanya yang tak bisa di elak lagi membuat Royyan yang masih mendekap istrinya segera terbangun, langkahnya dengan sigap turun dari ranjangnya.
Dia menggeliat sejenak merentangkan otot-otot tubuhnya yang merasa kaku, dada telanjangnya terbentang dengan gagah, dan punggung yang melebar terurai tak kalah gagahnya. Pria itu bergegas keluar dari kamar, langkah gontainya berayun ke area dapur yang masih berantakan karena pesta kecil tadi malam.
Sepasang suami-istri itu menghabiskan dua kotak pizza penuh daging extra keju dan beberapa minuman cola serta minuman manis yang berasal dari buah-buahan atau hanya sekedar perisa saja. Jika yang lain dalam kalangannya, mungkin mereka akan menghabiskan malam dengan makanan dan minuman memabukkan, tetapi Almira dan Royyan, tidak.
Mereka tak pernah sekalipun menyentuh minuman yang menyesatkan itu, keduanya sudah merasakan kehidupan di luar negara, tetapi mereka tetap mempertahankan personalnya tetap baik dengan menghindari mengkonsumsi benda-benda yang seharusnya di musnahkan, seperti alkohol.
"Rumah atau gudang barang bekas? Berantakan banget,"cetus Royyan berkacak pinggang, netranya mengabsen satu persatu piring, gelas, dan beberapa alat masak yang kotor, "gimana bersihinnya?"tanyanya pada diri sendiri seraya mengedarkan ke arah lain.
Tak lama dari celotehnya, Almira terbangun, dia melangkah lamban mendekati sang suami yang berdiri di depan wastafel yang sudah di penuhi peralatan kotor, gadis itu menyeringai seraya menyeka rambutnya ke belakang.
Tiba di belakang tubuh kekar sang suami, gadis itu menghamburkan dirinya melingkari Royyan dengan pelukan hangat, dia menempelkan salah satu pipinya di punggung lebar itu seraya matanya terpejam menyerap aroma khas dari tubuh sang suami, beberapa detik kemudian wajah kecil itu menoleh sambil melontarkan senyuman hangat.
"Cari orang lain aja buat bersihin itu semua,"saran Almira masih mendekap sang suami dengan erat.
"Iya sayang, kita pikirkan nanti aja,"pungkasnya seraya dia membalik tubuhnya.
Dekapan Almira mengedur, tetapi kedua tangannya masih menongkrong di pinggang sang suami. Lalu dia mendongak ke atas, karena postur tubuh Royyan jauh lebih tinggi dari istrinya ini, sedangkan kedua tangan Royyan sudah menjalar ke pinggang Almira.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?"tanya Almira polos, dia masih belum memahami apa yang coba di jelaskan sang suami padanya melalui sorot matanya yang berbinar-binar.
"Hari ini aku akan keluar menemui semua orang, kamu tunggu dulu di rumah jangan keluar, nanti saat aku melakukan konferensi pers, baru kamu keluar bareng sama aku,"tuturnya lembut dengan satu tangan yang membelai wajah Almira dengan lembut.
"Kamu yakin? Ada banyak orang yang mendukung hubungan kamu dengan Elshara, mungkin kamu akan mendapatkan hujatan juga seperti mereka melakukannya padaku, but i'm ok, aku gak terlalu memedulikan komentar orang lain."
"Ini hidupku dan hidupku itu kamu,"papar Royyan mengernyitkan hidungnya seraya mencolek hidung Almira.
Wajah yang tertadah tadi seketika menjatuhkan tatapannya, warna merah muda dengan cepat menyeruak menguasai paras cantik itu bersamaan dengan dekapannya yang mengendur. Melihat hal manis itu, Royyan segera menyembulkan senyuman gemasnya, lantas kedua tangan yang menggantung di pinggang Almira segera dia rekatkan dan menaikkan Almira ke atas meja yang berkeramik di belakang tubuh gadis mungil itu.
Dia terjun dengan lembut di sana, setelah berada di atas, Royyan mendekat seraya menarik sang istri semakin mendekatinya, gadis itu tak lagi merasa canggung ataupun terkejut dengan tindakan sang suami sehingga dengan lihainya dia menaikkan kedua tangannya menggantung di bahu lebar itu.
"Hidupku ada di tangan tuhan, bukan di tangan mereka yang tidak berkontribusi terhadap hidupku, apa yang kamu cemaskan sayang? Bukankah ini yang kamu inginkan?"tutur Royyan lagi lembut sambil dia mendekatkan wajahnya dengan sang istri dan tangan yang melingkari pinggang Almira semakin merekat.
"Ya emang aku yang minta, tapi aku ...."balasnya seraya melayangkan tatapannya ke arah lain dan tangan yang menggantung itu segera turun ke bawah, ke dada lebar Royyan, "takut ada banyak hal yang terjadi setelah kita publik status kita yang sebenarnya,"tambahnya merunduk ke bawah, tatapannya redup.
__ADS_1
Lekas Royyan apit dagu sang istri dia bawa menengadah pada tatapannya yang terjatuh dan tenggelam dengan telaga cinta yang ada di dalam bola mata kucing itu, "urusanku dengan Dirta udah selesai, tetapi jika ada sesuatu hal yang terjadi, akan aku pastikan orang itu akan rata dengan tanah, aku akan pastikan dengan tanganku sendiri,"pungkas Royyan dengan yakin, kemudian dia menyeringai seraya menjatuhkan kecupan kecil di bibir Almira.
Bukan Royyan jika dia tidak melanjutkannya, pria itu menjatuhkan kecupannya lagi di area tulang leher sang istri, dari sana dia beralih ke belakang telinga Almira setelah dia menyingkirkan rambut coklat keemasan milik sang istri, dia menyerap semua aroma yang ada di sana. Bukan hanya wangi tetapi aroma itu bisa menarik gairah Royyan menggila.
Merasakan dekapan Royyan yang mengerat dan tekanan kecupan Royyan pada lehernya semakin terasa lekat, segera Almira dorong dada Royyan ke depan untuk menghentikan permainan suaminya, jika tidak dia akan kembali ke ranjangnya dan aktifitas hari ini akan terhambat.
"Ih kak Royyan, geli tahu ...."protes Almira menganjurkan bibir bawahnya dengan bola mata yang mengedar tak beraturan.
Lelaki itu tertawa kecil, dekapannya pada tubuh sang istri pun terlepas dan berpindah ke samping Almira menempel dengan meja berkeramik marmer itu, lantas dia jatuhkan kecupan kecil satu lagi di bibir Almira sehingga gadis itu mengerjap, menyembulkan warna merah muda di wajahnya semakin jelas lagi.
"Kamu takut lanjut di ranjang lagi kan?"godanya menaikkan kedua alisnya ke atas.
Dengan mudah pikirannya terbaca oleh lelaki kekar di hadapannya, seketika Almira menyeringai malu, sehingga dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.
"Kak Royyan nyebelin,"lirih Almira.
Senyuman Royyan semakin melebar, dia memiringkan wajahnya ingin menyibuk binaran merah mudah di wajah sang istri, tetapi itu tidak berhasil. Karena gadis itu menutupinya dengan penuh, lantas pria itu menghamburkan dirinya yang masih telanjang dada memeluk sang istri.
"Jangan pergi lagi ya ... aku takut apapun terjadi padamu, jangan jauh dariku karena kalau kamu jauh aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik,"paparnya lembut melekap tubuh Almira.
Gadis itu menjatuhkan dekapan tangan pada wajahnya dan segera membalas pelukan Royyan, dagunya terjatuh ke bahu sang suami, "kenapa kamu sangat menginginkanku?"tanya Almira, dia masih belum mempercayai sepenuhnya, walau dia sudah melakukan hal intim itu selama dua hari ini.
Seketika gadis itu menyeringai dengan lebar, tak ada kata bahagia yang bisa mengungkapkan betapa bahagianya Almira kini, rasanya seluruh raganya menyebarkan aroma wangi dan para bunga tumbuh di segala sudut ruangan di sekujur tubuhnya.
Pagi itu mereka lalui dengan romantis, tubuh yang saling tertaut bertahan lebih dari satu jam. Posisi itu membuat mereka kecanduan dan enggan untuk terlepas, sampai matahari menggalakkan sinarnya mereka tetap berada dalam posisi yang sama. Mereka tak tergoyahkan, sampai seseorang mengetuk pintunya dan saat itulah dekapan mereka mengendur.
Royyan berlari ke kamarnya untuk mengambil bajunya dan segera memakainya, lalu dia kembali keluar mendekati pintu apartemen yang dari kemarin sore tertutup, sedangkan Almira berayun ke ruang tengah melabuhkan tubuhnya di atas sofa dan menyalakan televisi besar itu.
"Halo tuan, saya yang akan membereskan rumah tuan,"ucap seorang wanita yang sudah berumur, wanita itu mengenakan pakaian serba tertutup bahkan dia mengenakan kerudung berwarna hitam.
"Ya, masuk aja,"sahut Royyan mempersilakan masuk wanita berumur empat puluh tahun-an itu.
"Baik tuan,"sahutnya melimbai masuk ke dalam kamar apartemen tersebut.
Wanita itu segera beralih ke dapur yang berantakan, sedangkan Royyan kembali ke dalam kamarnya dan menutupi pintu dengan rapat, Royyan bergeming di dalam, tak ada suara yang terdengar.
Tak lama dari itu pria itu sudah rapi dengan pakaian jas dan dasinya, dia berangsur mendekati sang istri dan menjatuhkan kecupan manis di kening Almira, "aku mau ke kantor dulu ya,"pamitnya membelai rambut Almira dengan lembut.
__ADS_1
"Hmm ..."Almira mengangguk, yang kemudian dia meraih tangan kanan Royyan untuk di kecup punggung tangannya, "mau hari ini konferensi pers-nya, tadinya aku mau ke butik hari ini,"tambahnya kemudian dia mendongak.
"Kalau sempet ya hari ini, jangan kemana-mana, suruh asisten pribadi kamu yang ke sini."Pria itu berdiri dengan tegak tanpa melepaskan jeratannya pada salah satu tangan Almira.
"Iya .... kirimin aku makanan ya, aku laper,"rengek Almira mengelus-elus perutnya yang ramping.
Senyuman pria itu menyungging, tangannya yang terjuntai lekas dia alihkan ke atas perut Almira dan dia mengelusnya, "mau diisi makanan atau bayi aja sekalian,"cetusnya menggoda Almira.
Sontak mata Almira membuntang, lantas dia meranggul dengan kernyitan wajah yang dalam, lekas dia tepis tangan sang suami dari perutnya, lalu dia cengkeram salah satu tangan sang suami hingga Royyan meringis.
"Aaw ..."ringis Royyan berpura-pura seolah cengkeraman sang istri menyakitinya, pada nyatanya cengkeraman Almira terlalu lembut. "Kok jahat sih suami sendiri di cengkam begitu,"tambahnya dengan senyuman manisnya.
Gadis itu mencebik membuang mukanya, bukan karena kesal, tetapi karena rasa malunya sudah tak bisa dia kendalikan, wajahnya sudah tak bisa menahan warna merah muda yang membakar wajahnya sampai terasa menguap.
Melihat istrinya tersipu malu, lekas dia terperenyuk di samping sang istri dan mendekapnya lembut dari arah samping, dagu lancipnya dengan lamban mengalir ke bahu yang terbalut piyama panjang Almira.
"Apa kamu enggak mau memilikinya, bukankah pernikahan mendambakan malaikat kecil hadir di tengah-tengahnya,"bisik Royyan memasang wajah polos ibanya.
Degh!
Jantung Almira terhantam debur jantung yang berhamburan tak beraturan. Bukannya tidak menginginkannya, tetapi Almira masih belum terbiasa dengan kedekatannya bersama sang suami, hubungan intim yang lebih lekat itu membuat jiwa dan raga Almira terasa terbakar sehingga dia tak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya sendiri.
Durja yang menguapkan merah mudah itu menoleh dengan lembut, dia elus tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya, "aku malu kak ..."lirihnya membalas penuturan Royyan tadi dengan wajah yang tertunduk.
Segera Royyan mengunci dagu sang istri untuk terdongak dan wajahnya mengalir ke dekat sang istri, "kenapa masih malu, bukankah kita sudah melakukannya lebih dari satu kali, kita sudah saling tahu satu sama lain,"ungkapnya yang mengarah pada hal intim seraya dia mengusap bibir lembut sang istri dengan lirih.
Degh!
Lagi-lagi derap jantung Almira berhamburan tak karuan sehingga raganya merasa lemas dan jiwanya terkatung-katung. Ingin rasanya dia tenggelam ke dalam lautan dan merendam rasa merah yang membakar jiwa dan raganya, tetapi tatapan Royyan mengunci dirinya di sana untuk tetap terdiam.
Netra yang saling mengunci itu segera terputus karena dering ponsel Royyan menggema dengan lantang, pria kekar itu mengerjap, seraya beranjak dari sofa dia menjatuhkan kecupan kecil di pipi tirus Almira, lalu dia mengangkat panggilan telepon itu.
"Ya, halo,"ucap Royyan seraya dia melimbai keluar dari kamar apartemen dengan satu tangannya yang lain penuh dengan tas yang biasanya dia bawa ke kantor dan sebuah gulungan kertas rancangannya yang dia cetak dari komputer khusus dia merancang.
Setelah berada di luar, Royyan masih melanjutkan panggilan teleponnya sambil dia melangkah untuk meninggalkan apartemen dengan menaiki lift yang ada di lantai dimana kamar apartemennya berada.
"Ada apa?"tanya Royyan pada seseorang yang meneleponnya.
__ADS_1
"Bapak ke kantor hari ini?"tanya Adrian yang berada di balik ponsel.
NEXT ....