Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 75 : kamu pikir cuman dia yang mau di tolong


__ADS_3

Melepas kepanikan Ajun, Dirta dan Manda di daratan bersamaan dengan sorot matahari yang memudar, langit di atas telah berubah menjadi jingga bersamaan dengan Almira dan Elshara yang terpaut jutaan air yang tak mampu terhitung. Elshara sengaja melakukan hal membahayakan itu karena dia tahunya jika Almira tidak bisa berenang, dia melakukan tindakan kriminal ini untuk menyingkirkan Almira.


Piciknya wanita itu, sengaja menenggelamkan dirinya agar tak terlihat jika dirinya lah yang membuat insiden ini terjadi. Almira yang berada jauh dari Elshara segera menyembul ke permukaan di saat dia sudah merasa telah kehabisan napasnya, sedangkan wanita picik itu berenang menjauh dari area Almira agar terlihat jika dirinya di seret ombak, padahal dia adalah perenang yang baik.


"Uh ..."seru Almira saat dia menghirup udara jingga yang segar.


Dia gerakkan kakinya agar tubuhnya mengambang. Melihat kedalaman laut yang semakin dalam maka semakin gelap dan menyeramkan, Almira sempat lemas dan ketakutan, tetapi dia bisa berhasil membawa tubuhnya berenang ke permukaan, gadis itu menyeka air yang membasahi wajahnya sampai semuanya turun dan kembali pada pangkuan laut.


"Cewek psikopat!"cibir Almira yang masih mengatur pola pernapasannya.


Royyan yang berada di tengah-tengah kedua gadis itu bergerak ke arah Almira berada, dia kayuh kakinya dan air mendorongnya mendekati sang istri, dan beruntungnya Almira selamat. Gadis bermata kucing itu mengambang di lautan lepas, sepertinya dia celingukan mencari sesuatu yang bisa menyelamatkannya karena tubuhnya sudah terlalu banyak kehabisan energi, dia sudah tak mampu berenang lagi.


"Ami ... are you ok? "tanya Royyan menangkup wajah Almira dengan lembut, napas yang masih tersendat itu melukis wajah dengan kepanikan yang dalam.


Almira menggangguk, wajah pucat nya tersenyum lemah. "Kak ... aku lemes,"adu Almira menggerakkan kedua tangannya ke atas bahu Royyan.


"Ayo kita ke tepi dulu,"ajak Royyan menggenggam pinggang sang istri.


Royyan mendorong tubuh Almira untuk berenang kecil menuju daratan yang memang masih terlalu jauh, mereka sekarang berada di tengah-tengah. Tiba-tiba Elshara berteriak seolah dia akan tenggelam, dia sengaja menenggelamkan wajahnya berulang kali dengan kedua tangannya yang menyembul ke atas membuat Royyan menoleh menatapi Elshara dengan iba.


Elshara sungguh terkejut karena ternyata Almira bisa berenang, dan rencananya sepenuhnya gagal total, gigi yang mengerat menunjukkan betapa kesal dirinya.


Sialan! Si Ajun bohongi gue, awas aja lu ya Jun.


Tatapan mata kucing itu melesat ke arah Elshara berada, dan dia melihat kejanggalan. Elshara memang sengaja melakukan hal itu agar perhatian Royyan teralihkan padanya, dan usahanya berhasil, Royyan berputar dan melepaskan dekapannya pada Almira.


"Aku harus selamatkan El, dia trauma laut, kamu masih bisa berenang kan?"ujarnya yang tidak melihat butiran embun yang meleleh di pelipis sang istri.


Segera Almira tahan tangan kekar sang suami, lalu dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Jangan kak ... dia bisa berenang, bahkan tadi pas di dalam air dia berenang bagaikan duyung, dia sengaja melakukan itu biar kamu berpaling dari aku,"ungkap Almira dengan nada suara yang lemah.


Royyan mengerut, "kamu lihat itu, dia hampir tenggelam. Kamu jangan berpikiran jahat,"tepis Royyan menarik tangan Almira yang mengunci pergelangan tangannya.


"Kak! Kamu ini bodoh apa gimana sih, aku sampai terjatuh karena dia narik aku, dia itu mencintai kamu dan dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu,"bentak Almira dengan wajah yang meredup padam.


Di belakang keduanya Elshara masih berusaha menenggelamkan dirinya sendiri, "Roy-yan ... tolong ...."


Royyan termangu bingung. "Aku tahu kalau dia emang mencintaku, tapi gak mungkin kan dia berpikiran untuk membahayakan dirinya sendiri."


"Dia itu gila! Apa sih yang enggak akan dia lakukan."walau tubuhnya lemah, Almira masih bisa membuat nada bicaranya menguat.


"Ami ... ini demi kemanusiaan."


"Kamu pikir aku enggak lelah, kamu pikir cuman dia yang mau di tolong, aku juga mau kak! Karena aku udah lelah, kaki aku udah lemes buat berenang, dan kamu malah mau nolong wanita itu."


"Sayang tolong ... kamu adalah perenang yang handal, dan aku gak tahu Elshara bisa bertahan sampai mana,"balas Royyan membuat wajahnya menjadi mengiba sembari dia berputar dan berenang ke dekat Elshara.


Gadis bermata pipih itu mengedipkan sebelah matanya seraya senyumannya menyungging, lalu dia tenggelam. Dia berakting bak aktris profesional, dia melemaskan tubuhnya sampai tubuhnya memberat dan akhirnya masuk ke dalam lautan, dan Royyan yang tertipu segera menyusul Elshara masuk ke dalam dekapan lautan.


"Wanita gila! Awas aja ya kamu kak Royyan, akan aku pastikan kamu gak akan menemukan aku karena kamu lebih memilih dia."butiran kristal yang berjatuhan segera dia seka dan dia berenang ke daratan.


Baru saja tiba lima meter dari daratan, tubuhnya mulai lelah, dia gelengkan wajahnya dengan kasar, menampar dirinya sendiri untuk tetap bertahan dan segera pergi dari laut itu. Dan beruntungnya Ajun bersama timsar tiba tepat waktu, para timsar itu turun ke lautan dan menaikkan Almira ke perahu.


"Ra ... lu gak papa?"tanya Ajun berlutut di samping Almira yang bersandar dengan ruai.


Almira mengangguk lesu, nyaris tidak terlihat. Tak lama dari itu, Ajun berlari ke dalam kapal pesiar yang di kendarai oleh salah satu anggota timsar, dia mengambil satu botol air mineral dan segera kembali pada Almira lalu memberikannya.

__ADS_1


"Minum dulu,"ujarnya menarik pinggang Almira agar gadis itu terduduk.


Tangan mungilnya bergerak mengambil air mineral itu dan meneguknya sampai habis, berenang dalam waktu yang lama telah menguras cairan di dalam tubuhnya, setelah air itu berpindah ke tenggorokkannya, dia berikan botolnya pada Ajun.


Dengan cepat kesadaran Almira kembali dengan utuh, pandangannya yang sempat kabur mendadak terbuka dan melihat Ajun yang telah menyelamatkannya dengan jelas. "Manda dimana?"tanyanya lirih.


"Manda tadi lagi sama Van di dermaga, soalnya gue nyari timsar dulu,"jelas Ajun.


Anggukan lembut tertuah, Almira menoleh lagi dengan tatapan sendu pada Ajun. "Bawa gue ke Manda ya, badan gue lemes banget."


"Iya, lu tenang aja, bentar lagi nyampe daratan."


Tak perlu memakan waktu yang lama, kapal pesiar berwarna putih itu sudah tiba di daratan, Ajun menuntun Almira turun dari kapal dengan menggendongnya di punggung, tak jauh dari mereka Manda dan Van sudah menunggu, terlebih Manda yang memasang wajah pilunya, air matanya masih berjatuhan.


"Ra ...."Manda berlari mendekati Ajun yang baru beberapa langkah menenggelamkan kakinya di antara jutaan pasir di sana.


Ajun menurunkan Almira dari punggungnya, "gue duluan ya, gua harus cari Royyan dan El dulu,"pamit Ajun yang kemudian dia berlari kembali naik ke kapal pesiar.


"Makasih Jun,"ucap Almira dengan suara lesunya.


Terlihat Ajun mengangguk seraya menyeringai sesaat dia tiba di atas kapal pesiarnya. Kapal itu mulai berjalan di atas air, melesat ke tengah lautan, dan Royyan bersama Elshara belum kunjung menyembul.


Almira segera mengabaikan apapun yang ada di sana, dia berputar menghadap pada Manda dengan wajah tertunduk, rasa sesak mulai menyeruak sekujur tubuhnya dan embun-embun yang sudah terkumpul di bola matanya dengan cepat meleleh.


"Gue mau pulang,"rengek Almira seraya dia menghamburkan tubuhnya memeluk Manda.


"Kita ke rumah sakit dulu ya, lu pasti lelah kan berenang di lautan,"saran Manda seraya membalas pelukan Almira dengan lega.


"Enggak ..."Almira menggeleng dan mengeratkan dekapannya pada leher Manda, "gue mau pulang ke Jakarta, gu-gue ... mau pulang."


"Gue gak peduli."Almira melelehkan pelukannya dan membawa dirinya berdiri dengan tegak seraya dia menyeka butiran kristal yang membasahi pipinya pun membuat tubuhnya bergetar.


"Ada apa?"tanya Manda penasaran.


Manda melihat sorot mata Almira menajam, ambisinya menggebu-gebu. Segera Manda berpaling dari Almira, dia menyelukkan tangannya ke dalam saku celana untuk mengambil ponsel, tetapi tiba-tiba dia menyadari jika Van masih ada di sana, lekas dia mendekati Van dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku.


"Van, lu bisa bantu gue enggak?"pinta Manda.


"Bantu apa? Kalau gue bisa ya gue bantu."


"Cari tiket pesawat ke Jakarta hari ini, Ra kayaknya gak tenang, dia kalau udah begitu gak bisa di tahan,"terang Manda yang sesekali menoleh pada Almira yang menatapi lautan dengan sorot mata yang meruncing tajam.


"Yakin?"tanya Van tak percaya, melihat Almira yang baru saja kelelahan karena berenang dalam waktu yang lama, apakah wanita itu memang setangguh itu. "Ra kan baru keluar dari laut, apa tubuhnya gak akan kenapa-kenapa?"dahinya mengerut khawatir.


Manda menggeleng kuat dengan sorot mata yang sama khawatirnya dengan Van, "tapi anaknya maksa mau balik hari ini, kalau gak di turuti bisa menggila dia,"jawab Manda.


Van menghela napasnya, lalu melakukan panggilan telepon dengan managernya yang mengatur segala aktifitasnya selama di Bali maupun di Jakarta dan tempat-tempat lainnya.


"Halo kak, tiket udah ada belum?"


"Udah, buat hari ini kan?"


"Iya, bawa nanti ke lobi resort."


"Oke."


Panggilan telepon berakhir. Van memasukkan ponselnya ke dalam saku celana di bawah lututnya yang dia pakai, lantas dia menoleh pada Manda.

__ADS_1


"Pake aja punya gue, gue emang rencananya mau balik hari ini, tapi gak papa pake aja dulu, gue ambil tiket besok aja."


"Makasih Van,"ungkap Manda kegirangan sampai dia menghamburkan tubuhnya memeluk Van dengan singkat, "kalau besok sih Ra udah ada tiket, tuker aja."


"Oke lah."Van mengangguk.


...***...


Setelah beberapa jam berlalu, Royyan dan Elshara di bawa ke rumah sakit terdekat, cairan tubuhnya terkuras habis sampai tubuh kedua insan itu pucat pasi dan kehilangan banyak energi. Ajun dan Dirta merawat keduanya dengan baik.


Royyan dan Elshara sama-sama kehilangan kesadarannya saat kapal pesiar yang di naiki Ajun dan beberapa anggota timsar tiba di dekat mereka, keduanya berusaha mengambangkan diri dan Elshara menggantung di bahu Royyan yang sudah lemah, di saat itulah Dirta terjun dan menyelamatkan keduanya tanpa memedulikan kesakitan di hatinya.


Begitulah keduanya selamat. Ajun dan Dirta mengatur segalanya bersama-sama, bahkan mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka untuk menyelamatkan nyawa kedua sahabatnya itu. Ulah Elshara sangat membahayakan, bahkan dia sendiri nyaris terenggut nyawanya. Memang benar, jika cinta bisa membawa baik dan juga membawa buruk, untuk melenyapkan dirinya sendiri pun mampu.


Di bagian lain, tepat di kamar inap Almira yang sudah rapi. Karena staff-nya sudah kembali ke Jakarta kemarin sore dengan membawa barang-barang milik Almira, begitupun dengan Sara yang menjadi pemandu para staff Almira, sedangkan gadis itu terjadwal akan pulang ke Jakarta di hari esok karena tiket pesawat telah habis.


Tapi beruntungnya Van bersedia bertukar jadwal penerbangan dengan Almira dan data-data tiket dengan mudah di ubahnya. Dua koper yang terbaring di atas ranjang telah terseleting dengan rapat bahkan dia gembok kedua koper itu, dan Almira sendiri sudah mengganti pakaiannya siap untuk berangkat detik ini juga.


"Lu yakin mau balik sekarang?"tanya Manda sekali lagi.


"Iya Manda, gue harus balik hari ini,"jawabnya dengan tatapan kosong.


Manda yang berada di ambang pintu melimbai dan meluncurkan bokongnya ke atas ranjang di dekat koper Almira, "sebenarnya ada apa sih, terus lu gak khawatir sama suami lu gimana di laut tadi, dia lompat lo sambil manggil nama elu,"papar Manda.


Gadis bermata kucing itu malah menghela napasnya seolah tidak mempercayai perkataan dari sahabatnya, tetapi pikirnya untuk apa Manda berbohong padanya. Dia melelehkan punggungnya yang rapuh dan mendongakkan wajahnya ke atas seraya terpejam dan kedua telapak tangannya dia jadikan tumpuan tubuhnya.


"Dia pasti selamat, ngapain gue harus khawatir, toh dia cuman khawatir sama cewek gila itu,"celetuknya membuat Manda mulai mengetahui alasan Almira memaksa untuk pulang hari ini.


"Jadi ini alasan lu minta balik."


"Hmmm ..."Almira bergumam sendu, tapi kemudian dia memosisikan dirinya bersila di depan Manda, "kalau Ajun nanya gue ada dimana, lu bilang gak tahu aja, gue udah balik ke Jakarta gitu, oke."pesan Almira seraya dia menarik kopernya turun dari ranjang.


"Emangnya lu mau kemana?"Manda membantu sahabatnya itu menurunkan koper satunya lagi dari atas ranjang.


Almira menghela napasnya lagi sampai dia merasa lega, seraya dia berkacak pinggang menguatkan punggung dan seluruh tubuhnya melesat menerobos sorot mata Manda yang sedari tadi menunggu jawabannya.


"Gue mau ngilang, dan gue juga bakalan keluar dari rumah dan tinggal di apartemen yang gak di ketahui oleh siapapun,"bebernya dengan penuh tekad.


"Hah?!"seru Manda, wajahnya berkerut dengan dalam, "tapi bukannya suami lu udah masang gps di hape lu."


"Gampang. Gue tinggal hapenya di rumah dan gue beli hape baru,"kilahnya dengan enteng.


"Bisnis lu gimana dodol,"seru Manda lagi.


"Ada Sara, semua klien gue tahu nomor Sara dan gue bisa kerja dari rumah."


Manda mengembuskan napasnya pasrah, penuturannya sama sekali tidak menggoyahkan rencananya yang terbangun dengan singkat. Wanita itu memiliki pemikiran yang cemerlang, walau dalam singkat dia bisa merancang rencana dengan baik dan matang, dia bisa merangkai rencana itu sampai akhir.


Amarah Almira lebih unggul dari segala, dia mengabaikan kesakitan tubuhnya, walau lemas dan merasa tak berdaya dia paksakan tubuhnya untuk segera meninggalkan kota Bali yang indah itu. Bukan salah kota Bali, tetapi karena luka yang di gores Elshara telah mencabik-cabik keyakinannya dan meruntuhkan cinta yang baru-baru ini menghangat bahkan memanas.


Pikirnya dia harus menghilang sejenak untuk mengetahui posisinya di hidup Royyan itu seperti apa, dia tak ingin melukai dirinya karena cinta yang menurutnya bisa membuatnya berpikir kotor dan juga bodoh. Dia ingin mencari kemarahannya ini bertuan atau hanya dia yang bisa merasakannya sedangkan Royyan tidak demikian.


Jika cinta yang terungkap beberapa waktu lalu itu hanya sebuah ukiran singkat, maka aku harus menjauh atau bahkan lenyap dari hidup kamu dan aku akan membiarkan kamu bersama wanita yang benar-benar kamu cintai dan itu bukanlah aku.


Batin Almira meraung dengan kasar, setibanya dia di bandara, langkahnya memburu setiap keramik yang menempel di bawah, meninggalkan Manda yang mengantarnya. Manda dan Almira memang berencana untuk pulang ke Jakarta di hari esok dan Van akan pergi di hari ini. Namun, jadwal itu dengan sekejap mata berubah dengan utuh.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2