
Di ruang tunggu, Elshara berdiri di hadapan Dirta dan juga Ajun, menunduk lemah. Matanya mulai memanas dan mengembun, menahan air mata yang tak seharusnya dia terjunkan apalagi di hadapan para pria itu. Wanita berambut panjang hitam pekat yang kini dia hiasi dengan bando polos berwarna merah jambu itu menyeringai menerbitkan senyuman lembutnya.
"Jaga diri kalian baik-baik ya, gue seneng banget bisa temenan sama kalian setahun ini, kalau gua bisa balik lagi pasti gua kabari elu pada ya,"ungkap Elshara pelan.
"Iya El, jangan sungkan ya, kenapa harus cabut sih, elu gak betah disini,"sahut Ajun mengabaikan permasalahan cinta yang melibatkan ke-tiga teman-temannya .
"Enggak Jun, gua cuman mau bareng sama orangtua aja, lebih baik hidup sama orangtua kan?"kilah Elshara dengan matanya yang masih layu.
"Iya juga sih."
"Lu yakin mau tinggalin Indonesia El,"tanya Dirta lemah.
"Iya. Gua yakin Dir, jaga diri kalian ya. Oh iya, sampaikan salam terakhir buat Royyan, mungkin dia gak dateng, dan gua sadar dia gak akan datang,"
Belum habis Elshara berbicara, Royyan tiba dengan napas yang terkapah-kapah dan segera menempatkan dirinya di tengah-tengah Ajun dan Dirta.
"Kenapa mendadak sih,"ujar Royyan sambil masih mengatur napasnya.
Elshara tersenyum dan bola matanya yang sempat meredup itu seketika berubah menjadi binaran cahaya yang sangat mudah terbaca oleh Dirta yang berada di dekatnya. Lagi-lagi matanya memburu perlakuan yang berbeda dari Elshara, tetapi seperti biasanya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dirta hanya bisa memburunya dalam keheningan.
"Semuanya, makasih ya kalian mau berteman sama gua, satu tahun ini benar-benar waktu yang sangat berharga, jaga diri kalian ya dan selamat tinggal."pamit Elshara, seraya dia melangkah ke hadapan Dirta dan menghamburkan tubuhnya memeluk Dirta.
"Hati-hati ya El, gue tetep cinta sama elu, walaupun gue tahu elu sukanya sama oranglain,"bisik Dirta tepat ditelinga Elshara seraya mendekap wanita dengan aroma mawar segar itu erat.
"Maaf, aku mencintai Royyan. Dan aku ingin melupakannya, makanya aku pergi."terang Elshara, kemudian segera melepaskan pelukannya dari Dirta.
Dirta tersekat setelah mendengar perkataan Elshara barusan. Dugaannya benar, jika Elshara pergi karena Royyan. Lekas dia melirik ke sampingnya memandangi Royyan yang tengah memeluk Elshara sebagai tanda perpisahan.
"Royyan! Gua gak mau kalah sama elu untuk urusan cinta, oh tuhan izinkan gua memiliki El."gumam batin Dirta.
Dan kini Elshara sudah beralih memeluk Ajun. Jarum jam terus berputar tiada henti, seperti tak ada lelahnya kecuali baterainya habis, mungkin saja jarum jam itu akan berhenti. Haruskah waktunya di dunia ini berakhir agar dia bisa berhenti mencintai Royyan.
Elshara perlahan masuk dan tak lama menghilang. Hari yang mengharukan, perpisahan yang sangat di benci oleh Dirta. Tidak ada wanita yang bisa membuatnya benar-benar jatuh cinta kecuali Elshara. Tetapi cinta tidak bisa dipaksakan. Wajahnya merunduk lemah, tatapannya layu, punggungnya pun ikut merunduk layuh.
...***...
Tiga jam berlalu setelah pesawat yang ditumpangi Elshara lepas landas. Ajun, Dirta dan Royyan pun telah kembali ke rumahnya masing-masing. Baru lima menit Royyan menginjakkan kakinya di rumah megahnya dan segera beringsut memasuki kamarnya yang terletak di lantai empat rumah tersebut.
Entah mengapa dia sangat ingin menyalakan televisi ukuran 75" yang ada di dalam kamar pribadinya, sejajar dengan kaca panjang se-tinggi dirinya. Lantas dia melempar tubuhnya ke atas ranjang dan bersandar pada bantal dan guling yang dia tumpuk.
Pesawat dengan kode JT 143 HG di atas ketinggian 20.000 kaki, terjatuh lepas masuk ke dalam lautan. Tiga puluh menit sebelumnya pesawat sempat hilang komunikasi setelah mengabarkan jika pesawat mengalami suatu masalah. Kapal itu meledak di dalam lautan sampai air laut itu beterbangan ke udara bersama percikan api yang menyala dari puing-puing kapal.
Gema seorang reporter di dalam siaran langsung di tempat perkara kejadian (TKP). Royyan mematung, yang kemudian segera membawa dirinya merubah posisi menjadi duduk di ambang ranjangnya. Menyipitkan tatapannya, mencoba memastikan praduganya salah, tetapi kode pesawat itu sangat dikenalinya.
Pria yang baru beberapa menit menumpahkan rasa lelah pada ranjangnya itu sontak berdiri dan melangkah maju lebih dekat dengan televisi. Terus memantau layar televisi, menunggu ada keterangan lain dari kecelakaan pesawat tersebut.
"Gak mungkin. Gak mungkin El kan?
Enggak!"Royyan menggeleng, enggan untuk mempercayai suatu hal yang dia ketahui saat ini.
Semua penumpang dan awak kapal masih belum ditemukan, dipastikan semua penumpang dan awak kapal berhamburan sehingga keberadaannya tidak mudah untuk dilacak.
__ADS_1
Ucap reporter itu lagi, menggetarkan seluruh tubuh Royyan. Dia segera berdiri dengan tegas, tatapannya memburu televisi yang ada di hadapannya. Getir. Tak percaya. Deru jantungnya berlarian kencang seiringan dengan derasnya aliran darah.
Tak lama, ponsel yang tergeletak di atas ranjangnya berbunyi lantang, Royyan menoleh dan segera mendekatinya untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Yan! Elu udah lihat berita?"tanya Ajun di seberang ponsel, napasnya tergesa-gesa, terdengar jelas nampaknya Ajun panik.
"Iya. Ini maksudnya gimana sih,"sahut Royyan masih enggan untuk mempercayainya.
"Itu pesawat yang ditumpangi El, bagaimanapun kita mengelak tetap aja nyatanya El memang mengalami kecelakaan pesawat Yan!"
Deg!
Seluruh raganya lemas. Tubuhnya terhempas ke atas ranjangnya yang berukuran besar itu, wajah rupawan yang selalu menampilkan ekspresi serius dan juga tatapannya yang tajam seketika berubah menjadi sendu dan rapuh. Tangan yang bergetar perlahan melepaskan genggaman pada ponselnya.
Bola matanya telah mengembun, tidak ingin mempercayai dengan cepat jika Elshara mengalami kecelakaan mengerikan ini. Perlahan dia menyugar wajahnya dengan penuh tenaga sampai rambut yang sudah mulai panjang itu berpindah ke belakang.
Royyan melimbai ke ruangan belajarnya, tepat di samping pintu ruangan tempat dia menyimpan pakaian dan berbagai macam barang-barangnya yang lain. Menekan tombol-tombol telepon yang ada di atas mejanya itu.
"Siapkan saya pesawat untuk terbang ke lokasi kejadian tenggelamnya pesawat dengan kode JT 143 HG, secepatnya. Kalau bisa hari ini juga,"titah Royyan pada seseorang yang menerima panggilan teleponnya.
"Baik tuan muda, saya akan segera menyiapkannya."
"Bagus."
Inikah yang dimaksud oleh Elshara, perpisahan yang akan membuatnya melupakan rasa cintanya pada Royyan dan mengabaikan perasaan Dirta yang begitu kuatnya. Kematian. Tidak! Bukan ini yang dimaksud oleh Royyan, bukan perpisahan semacam ini yang diinginkan oleh Royyan. Pria dengan hidung lancip itu terduduk di kursi di ruang belajarnya, mencengkeram rambutnya seraya tertunduk ke bawah dengan sikut yang melekat di atas meja.
Ada banyak sekali cara untuk melupakan seseorang, ada banyak cara untuk berbahagia, dari ribuan luka, bukankah ada suatu hal yang bisa membuatmu bahagia. Tetapi bukan kematian.
Hari itu juga Royyan terbang seorang diri ke lokasi kejadian untuk memastikan jika Elshara selamat dari maut. Ponsel yang selalu dia perhatikan sengaja dia abaikan dan tidak di bawa bersamanya. Pikirannya sangat kalut, sehingga otaknya tidak berpikir dengan jelas dan sehat. Ponsel itu terus berdering di atas ranjang tanpa ada yang berani untuk membantunya mengangkat panggilan telepon yang dilakukan Ajun dan Dirta dalam seminggu terakhir ini, sampai akhirnya ponsel itu kehabisan baterai.
"Sial! Royyan kemana sih, disaat kayak gini, dia malah menghilang tanpa jejak. Kalau saja dia tidak menyakiti El, mungkin aja El sekarang masih sama kita, sialan!"cibir Dirta mencengkeram ponselnya kuat di hadapan motornya yang terparkir di salah satu jalanan yang tak jauh dari kediaman Royyan.
"Lu yang minta untuk jauhi El, kenapa sekarang malah nyalahin Royyan, ini kecelakaan Dir! Gak ada yang tahu masa depan."
"Diem lu Jun! Ini jelas kesalahan Royyan, dia yang udah nyakiti El sampai El memilih untuk pergi dan mengalami kecelakaan ini,"hardik Dirta dengan bola mata yang menajam dan dahi yang mengerut seraya melangkah maju mendekati Ajun yang terduduk di atas motornya.
Ajun yang sudah merasa geram dengan perlakuan Dirta, memalingkan wajahnya kesal seraya dia mendengus. Lalu dia turun dari motornya dan mendekati Dirta yang tengah berkacak pinggang dengan pikiran-pikiran kejinya, dia tumpahkan segala kesalahan pada Royyan. Dan kesalahan ini dimulai dari dirinya sendiri, sedangkan kecelakaan semuanya atas kehendak tuhan semesta alam.
"Royyan pasti melakukan sesuatu yang tidak ketahui, dia pasti sudah bertindak, lu tenang dulu,"ucap Ajun mencoba menahan emosinya yang kini sudah berada di ubun-ubun.
Bukannya mereda. Gejolak amarah Dirta semakin membuncah, dia menoleh kasar dengan kedua tangan masih tersemat di pinggangnya, melaju tegas ke hadapan Ajun.
"Tahu dari mana elu tuh anak melakukan sesuatu, lu tahu seberapa cueknya Royyan, apa yang mau elu harapkan dari manusia es kayak dia hah?! Gak usah sotoy lu!"
Ajun mendengus memalingkan muka, kemudian dia mengukir senyuman tipisnya, tapi tak lama pria yang telah memangkas rambutnya rapi itu kembali pada ke-dua pasang mata yang sempat tidak dikenalinya.
"Lu temenan sama Royyan dari SMP, kita udah berteman lebih dari enam tahun, dan elu masih belum memahami dia. Kita ke rumahnya sekarang, dan lihat apa yang dilakukan dia, orang yang lu katain manusia es itu,"
Tanpa menunggu lama lagi, Ajun segera menyalakan mesin motornya dan melajukan kendaraannya itu kembali ke jalan besar. Dirta ingin menyangkalnya, tetapi tidak bisa. Dengan terpaksa pria yang tengah mempererat otot-otot tangannya itu mengikuti Ajun di belakang.
Dari jalan itu tak perlu waktu lama untuk tiba di rumah Royyan. Setelah dua puluh menit ban motor keduanya itu menggelinding di jalanan besar, kini sudah memasuki area perkomplekan yang dijaga dengan sangat ketat itu. Dua satpam membuka pembatas jalan untuk mempersilakan Dirta dan Ajun memasuki perkomplekan, wajah keduanya sudah tak asing lagi. Hampir setiap petang di akhir pekan, Ajun dan Dirta berkunjung ke rumah Royyan.
__ADS_1
Tiba di depan rumah Royyan, satpam penjaga rumah besar itu membukakan gerbang dengan suka rela. Mempersilakan Ajun dan Dirta memasuki pekarangan rumah besar itu, yang memiliki pekarangan yang sangat luas. Air mancur kuda pegasus yang siap-siap akan terbang itu menumpahkan air bening dari mulutnya menjadi perhatian utama sesaat memasuki rumah Royyan.
Kepala pelayan rumah tersebut segera menemui Dirta dan Ajun yang telah duduk di ruang tamu dengan sofa lembut sehalus sutra, dengan lampu gantung mewah yang memerlukan lebih dari sepuluh lampu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"tanya pelayan wanita itu menunduk sopan dengan tangan yang terlipat di depan.
"Royyan ada di rumah?"tanya Ajun mendahului Dirta yang sudah bersiap untuk membuka mulutnya.
Ajun mengerti jika Dirta sedang di selimuti amarah yang bodoh. Untuk menetralisir masalah yang lebih besar lagi, Ajun segera menyalip Dirta.
"Mohon maaf tuan, tuan muda Royyan dari sepulangnya dari bandara satu minggu yang lalu, sorenya tuan muda pergi lagi mengunakan pesawat pribadi keluarga, katanya temannya kecelakaan pesawat."terang Narti sang kepala pelayan.
Ajun dan Dirta tersekat. Kedua pasang mata itu saling bertukar satu sama lain, raganya ikut membeku, perkataan Ajun benar adanya. Royyan telah melangkah lebih dulu sebelum mereka mengetahuinya.
"Terus kenapa hape-nya gak bisa dihubungi?"tanya Dirta penasaran sembari dia bangkit dari kursi.
"Untuk itu, tuan muda tidak membawa ponselnya, dan kami tidak berani masuk ke dalam kamar tuan muda saat tuan muda tidak ada di rumah,"katanya lagi.
Dirta mengangguk. Dia baru mengerti semua misteri mengapa Royyan sulit untuk dihubungi, wajah merah padamnya tadi tenggelam dan berakhir tertunduk. Lalu dia memutar kakinya beringsut keluar dari rumah Royyan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dia merasa malu dengan perkataan Ajun, tetapi amarah itu tetap bersemayam dalam kolam hatinya.
Apapun itu Royyan tetap bersalah atas kecelakaan El, lu harus bertanggung jawab Yan, sampai El kenapa-kenapa maka gua yang akan membalaskan dendam, lihat aja. Elu gak akan pernah lepas dari jeratan gua....
Begitulah gumam batinnya, duri-duri pikiran bodohnya kembali merasuki jiwa Dirta.
Benih-benih kejahatan karena pikiran bodoh Dirta mulai tumbuh dalam jiwanya yang merasa tersakiti. Cinta itu benar-benar telah hilang, harapan-harapan yang sempat melambung tinggi itu dengan sekejap mata terjun dan tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam. Dia marah, Dirta telah dirasuki aroma kegelapan di sekujur tubuh dan jiwanya.
"Ini gue Royyan. Gue lupa ngabarin, sekarang gua ada di lokasi kejadian bersama kedua orangtua El, dan kami kesulitan untuk menemui El, tolong tenang dulu, kalian tunggu di sana."
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ajun yang kini berada di rumahnya. Di hari kelulusan, Royyan tidak berada di tempat. Sehingga dia melewatkan hari kelulusannya. Dering ponsel itu sangat terdengar jelas oleh Ajun yang baru saja selesai memakai jas hitam formalnya.
Ya! Hari ini tepat delapan hari Royyan mencari Elshara di laut itu, dan di hari ini pula hari kelulusannya diadakan. Lekas Ajun yang berada di depan kaca segera mendekati ponselnya yang berbaring di atas ranjang.
"Nomor siapa nih?"tanyanya pada dirinya sendiri sesaat setelah dia melihat nomor tak dikenali masuk ke dalam ponselnya.
Matanya membeliak, rupanya dia terkejut sejenak mendapatkan pesan itu. Namun, setelahnya wajahnya yang terperanjat itu dengan cepat kembali semula.
"Yan! Semoga elu mendapatkan kabar baik, gua rasa Dirta bukan teman yang kita kenal lagi, gua gak tahu harus ngomong apalagi. Dahlah! Capek gue sama si Dirta."celotehnya bersama dinding-dinding rumahnya yang membisu.
Setelah dia puas berceloteh, Ajun segera mengetikkan sesuatu di ponselnya dan segera mengirimkannya pada Royyan yang menggunakan ponsel orang suruhan dari Papi-nya sendiri.
"Gua udah nanya ke pelayan elu di rumah, elu baik-baik aja kan di sana? Jangan terlalu memaksakan, karena semua ini kecelakaan dan elu gak bertanggungjawab atas semua kejadian ini. Kabari lagi, lu gak ikut kelulusan?"
"Oke. Nanti gua kabari. Kakak gua akan ambil semua berkas kelulusan gua."
"Yaudah kalau gitu, hati-hati bro!"
"Iya."
Ajun menghentikkan balas berbalas pesannya. Dia mulai melipir keluar dari kamar pribadinya, berlari di atas tangga turun ke lantai satu rumahnya. Keadaan sepi, ini sudah biasa. Kedua orangtuanya bekerja bersama-sama, sedangkan dia adalah anak tunggal, sunyi sudah menemaninya dari sejak umur dini.
Dia menggeleng sesaat setelah dia melihat keadaan rumah seperti kuburan. Sunyi tak terlihat kehidupan. Menuju luar sejenak dia menghela napasnya dan mengabaikannya segera. Bukannya sudah biasa, dia melakukan segala hal seorang diri tanpa campur tangan orangtua, mami dan papi-nya hanya memenuhi kebutuhan Ajun dengan uang-uang yang mereka kumpulkan.
__ADS_1
NEXT....