Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 21 : Suapan pertama.


__ADS_3

Apa lagi ini? Perlakuan macam apa lagi ini? Lagi-lagi kak Royyan bertindak tidak sesuai dengan perjanjian di awal, gimana kalau orang-orang menyadari kedekatan kita, dan semua orang akan kepo dengan kehidupan kita yang tidak pernah terekspose.


Jadi ini yang di maksud pesannya tadi, gaje banget sih nih orang.


Manda mikir apa ya?


Batinnya kembali berceloteh seraya dia menatapi sahabatnya yang ada di samping dengan wajah masih tidak bisa mempercayai apa yang barusan terjadi di depan matanya. Lekas Almira mengambil kedua bingkisan itu melukiskan senyuman indahnya dengan terpaksa, dengan isi kepala yang menjalar kemana-mana.


"Terimakasih,"ungkap Almira bingung, tak ada yang bisa dia katakan lagi selain kata itu.


"Terimakasih kembali nona, terimakasih telah memilih toko kami."


Seperti yang dilakukan sang suami, Almira melengos pergi tanpa menjawab perkataan karyawati tersebut. Bedanya adalah, Almira masih bisa menorehkan senyumannya pada karyawati tersebut setelah dia selesai berbicara dengan mengatupkan kedua tangannya. Dan Manda senantiasa mengekori Almira di belakang, kemana pun langkah sahabatnya itu berayun dia mengikutinya.


Benaknya terus melayang kemana-mana, rasanya ingin segera kembali ke rumah dan mempertanyakan semuanya pada sang suami. Sesekali dia menoleh pada Manda yang sedari tadi tidak berbicara, entah karena terkejut dengan perlakuan Royyan pada Almira atau ada hal yang dia pikirkan.


Di tengah-tengah riuhnya orang-orang yang mengunjungi mal itu, Manda mengerutkan dahinya dan berceloteh dalam batinnya. Membuat Almira tak mampu berbicara, wajah sahabatnya itu nampak begitu serius, tak seperti biasanya yang selalu menampilkan wajah lembut dan ketenangan.


Gua yakin sih itu cowok suka sama Ra, tapi ini temen gue kenapa kagak pernah sadar sih, gila! Dia bayarin belanjaan Ra, yang melebihi enam puluh juta, mana ada sih cowok mau mengeluarkan uang begitu aja kalau gak ada maunya.


"Eh Ra, elu beneran gak berpikir kalau dia suka sama elu,"celetuk Manda tiba-tiba saja, membuat Almira yang tengah bertarung dengan pikirannya seketika tersedak sampai dia terbatuk. "Eh elu kenapa? Kesedak angin lu,"sambungnya setelah melihat Almira yang terbatuk dan menghentikkan langkahnya dengan segera.


"Ya lagian elu ngaco banget ngomongnya, gua sama dia kan udah lama gak ketemu, masa iya dia suka sama gue,"kilah Almira dengan tatapan mata yang tidak tenang dan berusaha menelan ludahnya dengan tenang, tetapi tetap saja tidak ada ketenangan dalam dirinya saat ini.


Duh, dosa gak ya bohong sama temen sendiri.


"Lu bayangin deh ya, mana ada sih cowok bayarin sembarang cewek kalau gak ada maunya,"balas Manda lagi, masih ingin membenarkan atas keyakinan kuatnya itu.


Ya emang sih. Dan sekarang gua takut nih, tuh laki maunya apa.


Almira terpaksa menyembunyikan hal ini pada siapapun, termasuk dengan sahabatnya sendiri. Perjanjian itu membuat dirinya dibatasi secarik kertas yang dia tandatangani sendiri, entah sampai kapan hal ini akan terus berjalan. Entah kapan ini akan berakhir, semuanya ada di tangan Royyan.


Angin malam melanda rumah mewah yang di tempati oleh Almira dan Royyan. Wanita berambut ikal itu baru saja tiba di rumahnya dengan penyamaran lengkap. Setiap berangkat dan pulang ke rumahnya sendiri, dia merasa seperti buronan yang sedang di incar oleh para polisi dengan kekuatan tertinggi. Dia harus keluar masuk rumah itu tanpa sepengetahuan siapapun, mungkin termasuk endusan anjing yang telah handal.


"Selamat datang nona, apa yang nona inginkan? Minum atau mau mandi dulu, makan?"tanya Syani yang berdiri di depan Almira yang baru saja masuk ke dalam rumah dan tengah membuka masker, kacamata dan juga topinya.


"Aku mau mandi air hangat dong, sekalian mau berendam,"pintanya seraya dia menyerahkan kacamata, masker dan juga topinya pada Syani.


Dengan sigap wanita yang mengenakan seragam putih dan celana hitam itu mengambilnya seraya dia tertunduk sopan.


"Baik nona, saya akan siapkan terlebih dahulu, silakan nona beristirahat dulu di sofa, kami akan segera menyiapkan camilan."


"Oke,"jawab Almira seraya mengangkat satu tangannya membentuk simbol oke.

__ADS_1


Perlahan dia menyeret langkahnya dengan malas ke sofa yang ada di ruangan tengah, menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Banyak hal yang dia harus kerjakan di hari ini. Dia mengerjakan setidaknya lima gaun dalam satu hari, bukan hanya merancang, tetapi dia juga ikut serta dalam pembuatan pola dan proses penjahitan pula. Melelahkan.


Tubuh wanita mungil itu nampak kelelahan. Wajah cantiknya tiba-tiba saja menjadi layuh, tak ada bulir-bulir semangat dari parasnya itu yang selalu dia tampilkan di setiap detiknya. Terlebih benaknya sudah menjalar pada tas dan sepatu heels yang baru di belinya tadi pagi.


Almira menghela napasnya panjang. Sedangkan kedua tangannya sengaja dia rentangkan dengan bebas, membiarkan butiran angin yang bececeran di sekitarnya mengisi pori-pori wajah dan juga tubuhnya yang hampir tidak terlihat. Tubuh dan wajahnya yang begitu mulus, sampai pori-pori tidak mampu terlihat dengan mata telanjang.


Susu strawberry hangat dan beberapa kue-kue yang memiliki cita rasa manis yang pas menganggur di atas meja itu, tak ada satu pun yang di sentuh Almira. Rasa penatnya sudah tak tergambarkan lagi, sehingga kedua tangannya terlalu lemas walau hanya sekedar untuk menyuapinya makanan kegemarannya itu.


Laper .... haus juga, pengen makan, pengen minum, tapi tangan gue udah terlalu lemas ngangkat benda mati. Eh kue benda bukan sih, ah bodo lah! Ada yang mau nyuapin gue gak sih, nyuruh Syani aja kali ya.


Papar batin Almira seraya dia memejamkan matanya meresapi rasa lelahnya. Saking lelahnya, sehingga dia tidak menyadari kedatangan Royyan.


Pria bertubuh tinggi tegap itu sengaja meletakkan jari telunjuknya di atas bibir saat dia hendak memasuki rumah, memerintah pelayannya untuk tidak bersuara. Segera para pelayan itu kembali melangkah mundur, setelah mengambil tas yang sering di bawa oleh Royyan.


Sedangkan Royyan berayun melekati sofa yang di duduki istrinya seraya dia melucuti jas yang berwarna hitam dari tubuh kekarnya itu, kemudian dia menyingsingkan kedua lengan bajunya sampai sikut, dia lempar jas hitamnya itu ke sofa yang lain di depan matanya.


"Gak enak?"celetuknya tanpa aba-aba sembari dia menjatuhkan tubuhnya di sofa samping kiri Almira.


Sontak Almira terperanjat, tubuhnya mengerjap dan terhenyak ke samping sampai bola matanya terbuka dengan segera, dengan iringan derap jantung yang melaju cepat, dan bergegas membulatkan bola mata nya itu. Kemudian satu tangannya berjalan ke dadanya dan menempel disana seraya terus memandangi sang suami dengan dalam dan kerutan dahinya rengkah.


"Kak Royyan! Apa-apaan sih, kalau datang tuh bisa kan aba-aba dulu dari luar rumah, main ada aja di samping, kek setan tahu gak? Kaget gila! Ih punya laki gak punya adab ya anda,"celoteh panjang Almira sambil dia melempari suaminya dengan bantal kecil yang ada di dekatnya, dan satu kakinya terangkat ke atas sofa lalu kembali turun ke bawah dengan segera.


Seperti biasanya, Royyan tidak menjawab celotehan sang istri, tangannya sibuk menyelar pada salah satu kue yang ada di atas meja itu di piring hitam dengan ukuran agak besar. Lantas dia mengambilnya dan membawa kue itu ke mulut Almira.


"Ayo makan. Laper kan?"ujar Royyan melekatkan sepotong black forest ke bibir kecil Almira.


Tubuh Almira semakin terhenyak ke belakang membentur sofa yang dia duduki, mata pipihnya mulai tidak memiliki tujuan, apa yang ingin dia lihat. Karena pemandangan di depannya membuat jantungnya kembali berdegup sangat menggeletar.


"Makan,"tukas Royyan dengan nada suara yang rendah.


Terpaksa Almira membuka matanya dan melahap setengah potong kue itu langsung dari tangan suaminya, lekas dia kunyah hingga lunak dan menelannya. Lezat. Kue itu benar-benar sangat enak, lidahnya sungguh dimanjakan dengan rasanya yang manis namun ada sedikit rasa pahit yang menggoda dan membuat Almira ketagihan.


Tidak berhenti sampai disitu, Royyan masih menyuapi wanita berambut coklat keemasan itu dengan kue yang lainnya, yang tidak kalah enaknya dengan kue pertama yang di lahapnya. Mulut Almira tidak bisa menolak betapa enaknya kue itu. Ini kali pertama setelah enam bulan pernikahannya, Royyan menyuapinya makanan.


"Kamu kenapa bayarin tas sama sepatu aku, gimana kalau orang-orang menyadari dan berpikir tentang hubungan kita, kamu yang nyuruh kita menyembunyikan pernikahan kan?"akhirnya pertanyaan itu termuntahkan di hadapan Royyan, setelah dia selesai menelan kue yang baru dikunyahnya.


"Status kamu dalam kehidupan aku siapa?"bukannya menjawab, Royyan malah balik bertanya sambil dia melahap sepotong redvelvet cake itu dengan satu kali suapan.


Almira terdiam, dia berpikir dalam waktu beberapa menit, sampai akhirnnya dia menyadari apa yang di maksud dari pertanyaan suaminya.


"Is-tri,"ujar Almira ragu-ragu mengubah posisinya menjadi menghadap pada Royyan.


Royyan mengangguk. Dia menunggu kue itu masuk ke perutnya dengan tenang dan tidak terburu-buru, karena jika dia tersedak mungkin tidak akan terlihat keren. Pikirnya demikian.

__ADS_1


"Itu jawabannya,"ucapnya kemudian setelah mulutnya kosong dari kue tersebut.


Wajah wanita cantik nan lembut itu mengernyit, dalam satu arah jarum jam alisnya ikut terangkat. Istri? Rasanya terlalu aneh menyebut dirinya sebagai istri, sedangkan posisinya dalam rumah itu hanyalah orang asing yang menjadi penghuni rumah. Tidak ada tugas seorang istri yang dilakukannya.


"Kita orang asing yang tinggal dalam satu atap, istri apaan coba,"rajuk Almira memutar tubuhnya untuk kembali menatap lurus dan menghenyakkan tubuhnya ke sofa. "Aku akan tranfer uangnya ke rekening kamu."sambungnya.


Almira hanya tidak ingin memiliki hutang budi yang mungkin akan menjadi malapetaka bagi dirinya di masa depan. Benaknya selalu berpikiran buruk tentang suaminya itu. Ada banyak sekali misteri yang menyelimuti diri Royyan dan membuat Almira memiliki rasa takut untuk bergantung pada suaminya sendiri.


"Terserah. Silakan lakukan apapun yang kamu inginkan,"celetuknya seraya dia beranjak dari sofa berayun ke tangga, meraba satu persatu anak tangga itu tanpa membawa jas yang menganggur di atas sofa.


Melihat Royyan beranjak dari hadapannya, wanita bermata pipih itu hanya memperhatikannya dalam bisu tanpa bersuara lagi ataupun bergerak dari sofa yang dia duduki. Sampai pria bertubuh kekar itu tenggelam ke dalam kamar terbesar kedua dari rumah itu, dia tidak masuk ke dalam kamar utama yang merupakan kamarnya dengan Almira.


Royyan beringsut masuk ke dalam kamar dengan lukisan wajah yang nampak kelelahan. Dia menyeret langkahnya dengan malas dan melempar tubuh dengan kaki panjang itu ke atas ranjang dengan sembarang, setelah terjatuh dia tetap dalam posisi itu tanpa mengubahnya dengan posisi yang lebih nyaman dari sekarang. Dia terpejam seraya mendengar cuitan angin yang masuk ke dalam telinganya.


Semakin kamu menolak pemberianku, maka aku akan memberikan suatu hal yang lebih besar dari nominal yang kamu berikan padaku. Tidak ada yang namanya perpisahan dalam pernikahan ini, tolong tunggu sebentar lagi, sampai aku bisa memantau Dirta.


Batinnya kembali menggema. Dia merebahkan dirinya dengan benak yang terus saja bertarung dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dia jawab sendiri. Mata terpejam pun tidak bisa membawanya masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Di ruang tengah, Almira beranjak dari sofa setelah Syani memanggilnya dan memberitahu jika air hangat untuk dia berendam telah selesai, air yang telah bercampur dengan sabun yang memiliki aroma wangi yang melekat dan mampu bertahan dua belas jam ke depan. Sabun dengan aroma mawar yang menyegarkan itu menyelimuti kamar mandi dengan aromanya yang khas.


Wanita mungil yang sudah melepaskan semua pakaiannya dan berganti menggunakan handuk yang menyelimuti tubuhnya itu beringsut masuk ke dalam kamar mandi. Dengan langkahnya yang lembut dia masuk ke dalam bathtub lebar nan luas yang berbentuk bundar berwarna putih, sedangkan di sekeliling bathtub tersebut telah berjejer berbagai macam sabun, shampoo dan juga campuran aroma untuk mandinya. Tenggelam ke dalam air yang telah di penuhi gelembung-gelembung sabun.


Nyaman. Hangat. Tenang. Tubuhnya yang merasa kelelahan itu seketika merasa mendapatkan semangat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, rasanya sungguh menyegarkan. Sesekali dia menggosok tubuhnya dengan sponge lembut untuk merontokkan kotoran-kotoran dari tubuhnya yang di dapat dari debu-debu jalanan dan juga keringat yang keluar dari tubuhnya.


Beralih dari Almira yang menikmati waktunya dengan kamar mandi, pria bertubuh kekar itu nampak berkelintaran di kamar yang berbeda dengan Almira, dengan balutan wajah kekhawatiran yang tidak pernah meninggalkan paras tampannya itu.


"Bisnis keluarga Dirta masih berjalan di dunia kuliner, dan Dirta Nugraha Hardi sendiri sempat menghilang dari keluarganya selama empat tahun setelah kematian nona Elshara. Keluarganya mencari keberadaannya tetapi nihil, sampai akhirnya setelah empat tahun Dirta kembali dengan gelar chef-nya, dia mengenyam pendidikan di italia. Sekarang dia memiliki sebuah restoran besar di Bali, kemungkinan dia ada di Bali, tetapi saya beberapakali melihatnya berkeliaran di Jakarta,"beber seseorang yang di sewa Royyan untuk menguak kebenaran keberadaan Dirta saat ini.


"Oke. Lanjutkan cari informasi lebih dalam,"jawab Royyan tegas dengan tatapan tajamnya yang menatap lurus ke depan, tembus ke luar jendela.


"Baik pak,"sahut seseorang di balik telepon.


Royyan menghentikkan langkahnya dan kembali terjatuh ke atas ranjang di dalam kamar, dia menyugar wajahnya kasar, tertunduk ke bawah dengan kedua tangannya yang bertahan mencengkeram rambutnya. Lantas dia mendengus kasar, mengembuskan napasnya dengan penuh kekesalan.


"Surat-surat sialan!"cibirnya kemudian, membentur dinding-dinding kamarnya lalu terpantul kembali pada telinganya.


Tangan kekarnya itu merogoh secarik kertas yang telah kusut dari saku celananya, sekali lagi dia baca surat tersebut, dan isinya masih saja tetap sama, ancaman tentang pembunuhan yang tak pernah dilakukannya.


{Elu pembunuh! Sampai kapanpun fakta itu tidak akan pernah berubah, seorang pembunuh tidak berhak bahagia dengan pasangannya. Gua tahu elu udah nikah, tapi elu hebat juga ya, bisa menyembunyikan wanita itu, tapi tenang. Gua akan segera menemukannya.}


Bunyi surat itu sangat menjengkelkan. Pembunuhan seperti apa yang dimaksud oleh si penulis surat yang tidak pernah mencantumkan siapakah dirinya. Royyan benar-benar dihantui ancaman yang membuatnya semakin kesal dan menjadikan isi kepalanya jadi sangat penuh sampai rasanya ingin pecah dan menebarkan serpihan-serpihan ledakan dari isi benaknya itu.


Dia remas secarik kertas berwarna coklat dengan ukuran kertas A4 dan agak tebal itu. Lantas dia lempar dengan sembarang ke sudut kamar, tak lama dari itu Royyan membawa tubuhnya dengan tegas menghampiri secarik surat itu dan memungutnya lagi, kemudian dia mengambil sebuah pematik api dari saku celananya yang lain, lalu segera membakar kertas itu sampai berubah menjadi serpihan abu berserakan di lantai berkeramik putih dengan corak warna kulit di tengah-tengahnya.

__ADS_1


"Sampai ada yang nyentuh Ami, gua pastikan hidupnya akan dalam masalah,"kutuk Royyan mengepalkan kedua tangannya yang menjuntai di bawah tepat di hadapan serpihan abu dari kertas yang terbakar tersebut, "Dia adalah wanita gua, dan tidak ada yang bisa menyentuhnya selain gua,"lanjutnya seraya dia memutar tubuhnya ke pintu kamar yang tengah tertutup.


NEXT....


__ADS_2