
Tubuh setengah kering tadi malam telah mengering seutuhnya, termasuk rambut yang semalam kuyup ikut mengering dan menyisakan bercak-bercak basah di bantal yang dia tiduri. Raga mungil berkulit seputih susu itu menggeliat keluar dari selimut putih berbahan tebal, dia menguap dan meruntuhkan peluh air mata dari pelipisnya.
Dia rentangkan kedua tangannya dengan sekuat tenaga sampai seluruh raganya tak lagi menegang ataupun kaku karena tertidur dalam posisi yang sama selama lebih dari tujuh jam. Wajah polos itu membuka matanya secara perlahan, menyeka cahaya yang menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa seizinnya. Dia bantu tubuhnya yang masih rengsa menjadi terduduk, lalu menyeret kerlingannya ke ponsel yang ada di atas nakas.
Baru saja dia lengkungkan tubuhnya untuk meraih ponselnya, ponsel keluaran terbaru dari brand luar negeri itu dengan segera bertalun, suara panggilan masuk yang entah dari siapa. Dia geser tubuhnya yang lemas mendekatinya dan mengangkatnya.
"Halo ..."ucapnya setelah dia menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Ra, lu ada di kamar kan?"tanya Manda di seberang ponsel.
"Hmm ... kenapa?"lirihnya dengan suara yang masih sangat parau.
"Baru bangun lu ya."
"i--ya ..."sahutnya dengan suara malasnya, "Manda ...."panggil Almira manja yang baru saja terjatuh ke atas bantalnya lagi.
"Kenapa? Lu sakit? Kok suara lu kayak lemes begitu?"
"I-ya ... bawain gue obat ya, kepala gue agak pusing dan kayaknya gue demam dikit."
"Hah?! Kok bisa sih, yaudah lu tungguin di situ."
"Hmm ..."Almira bergumam dan mematikan panggilan teleponnya.
Dia kembali terbaring, masuk ke dalam selimut itu. Almira terpejam lagi, tetapi dia tidak tertidur, dia hanya memejamkan mata karena kepalanya yang agak pusing. Mungkin karena semalam dia terguyur oleh air dengan suhu ruangan yang terasa dingin begitu lamanya, angannya mengembara pada sosok pria yang membawanya pada demam. Bukan untuk mengutuknya karena demam yang melandanya, melainkan mengkhawatirkannya.
"Kak Royyan demam juga gak ya? Tadi malam kan dia juga basah, mana sempet buka baju juga dia,"duganya dengan tubuh yang telentang. "Apa gue tanya aja ya?"sambungnya yang kemudian segera membuka bola matanya.
Dia beringsut dari ranjangnya kembali mendekati ponsel dan segera melakukan panggilan telepon dengan sang suami, sengaja dia sematkan kontak Royyan dengan nama "Manusia es menyebalkan". Hal itu dia lakukan untuk mengelabui semua orang siapa sosok di balik nama kontak itu, sedangkan Royyan menamai kontak Almira dengan nama "Istri bocil".
Sudah lebih dari lima menit panggilannya masuk ke dalam ponsel Royyan, tetapi tidak ada jawaban di sana, batin Almira semakin gelisah. Kepalanya yang berputar-putar dia abaikan, wanita berparas lembut itu berkelintaran di depan sofa seraya terus menelepon Royyan tanpa lasi.
"Kak Royyan kemana sih, tumben banget gak angkat telepon gue, apa gak merasa bersalah semalam ngapain, khawatir kek gue sakit atau apa kek, habis nyerang gue terus dia pergi dan sampai sekarang gak balik-balik, suami apaan coba,"gerutu Almira seraya dia menyeka rambutnya ke belakang dan memandangi layar segiempat yang menampilkan panggilan tak terjawab.
Belum ada satu detik Almira mengomel pada ponselnya sampai wajahnya berkerut dengan dalam, suara pintu terbuka menusuk telinga Almira sehingga wanita mungil itu berdebar hebat dan bola matanya yang membulat, lekas dia tolehkan wajahnya dan dia melihat sosok yang sedang dia telepon barusan.
"Jangan menggerutu, ayo cepetan makan, kamu demam kan?"pungkasnya sembari meletakan dua kemasan bubur ayam yang di kemas dalam mangkuk plastik, tak lupa sate telur puyuh dan ati ampelanya.
Dia rekatkan gigi-giginya dan mengernyitkan hidungnya, sungguh dia merasa malu karena telah berkata yang bukan-bukan terhadap suaminya, langkahnya tercekal, terpasung rasa malu. Wanita dengan rambut yang berantakan itu terdiam menatapi sang suami yang tengah menata makanan itu di atas meja lengkap dengan air putih dan beberapa obat-obatan untuk meredakan demamnya.
"Aku gak pegang handphone,"cakapnya setelah selesai menata makanan, lalu dia melimbai ke dekat Almira yang kemudian memutar tubuhnya membelakangi Royyan.
Almira memejamkan matanya dengan kuat, dia tertunduk, pun dia tepuk-tepuk mulutnya seraya mencengkeram ponsel di tangannya yang lain.
Ra ... lu sembarangan banget sih ngomong, mau di taro dimana muka gue, masa gue taro di kantong dulu sih, kan gak mungkin.
Dia terlalu sibuk bermonolog dalam batinnya, sehingga dia tidak menyadari jika Royyan sudah menautkan kedua tangan di tubuhnya, pria bertubuh tinggi itu mendekap sang istri dari belakang dengan erat dan dia lekatkan dagunya dengan pundak Almira, dia miringkan wajahnya sampai tertidur di bahu kecil itu.
Dan Almira terlonjak kaget, dia menolehkan wajahnya sepersekian sentimeter, wanita itu merasakan suhu tubuh Royyan berbeda dari biasanya, dia ingin memutar tubuhnya, tetapi Royyan menghentikannya. Dia ingin mendekap Almira lebih lama lagi dan tertidur di sana tanpa gangguan dari mana pun, termasuk tindakan dari istrinya sendiri.
__ADS_1
"Kak Royyan demam?"tanya Almira lembut, setelah itu dia menggerakkan satu tangannya ke rambut mullet sang suami, dia buai dengan lembut, sedangkan satu tangannya yang lain tetap berada di antara kedua tangan Royyan yang mendekapnya.
"Hmm ... hari ini kamu istirahat aja, besok baru liburan, yang lainnya hari ini akan pulang, semuanya termasuk El,"sahut Royyan dengan nada berbisik, hembusan napasnya merasuki telinga Almira yang ada di dekatnya.
"Kamu gak ikut pulang?"Almira melerai tangan Royyan darinya, lalu dia berputar, "kamu juga kan selesai,"sambungnya dengan polos.
Pria itu mengangguk, membuai sang istri dengan lembut, satu tangannya kembali ke pinggang kecil itu menekannya satu kali lagi, merekatkan tubuh mereka. Tangannya yang lain belum berhenti untuk membuai wajah dan juga rambut Almira dan kelembutan yang di salurkan olehnya.
"Aku ada beberapa urusan dulu di sini, jadi aku akan berada di Bali satu minggu lagi dari sekarang,"bebernya yang kemudian mendekatkan wajahnya dan meluncurkan sebuah kecupan hangat di bibir tipis sang istri.
Almira terkesiap, dia melebarkan bola matanya, lalu dia dongakkan wajahnya memasati sang suami dengan dalam, sehingga kedua tangannya yang mengapung di dada Royyan melemas dan terjatuh begitu saja. Royyan tersenyum, senyuman itu tidak hanya lembut, tetapi juga manis dan hangat.
Di tempat lain, Manda yang masih mengenakan piyama panjangnya berjalan keluar dari resort untuk memenuhi permintaan dari sahabatnya, detik itu juga dia bertemu kembali dengan Ajun di tepi jalan. Sebuah jalan besar di ujung pagar tinggi resort tersebut.
"Mau kemana lu?"tanya Ajun saat dia sudah menyeret mobil pribadinya yang berwarna silver ke dekat Manda, dia tidak turun dari mobilnya.
"Eh hai ..."Manda segera melambaikan tangannya menyapanya, setelah dia tahu yang berada di dalam mobil itu adalah Ajun, "gue mau nyari bubur ayam di sini ada gak ya? Ra sakit, mau nyari obat juga katanya demam,"lanjutnya tetap berdiri bergeming.
"Ra sakit?"tanya Ajun, ingatannya melesat pada Royyan yang dia temui barusan dalam keadaan yang sama-sama demam dan suara yang parau.
Apa yang mereka lakukan tadi malam? Kok demamnya barengan, apa jangan-jangan ... Apa Royyan melakukannya, tapi ... kan katanya tuh anak kagak tahu caranya, sedangkan gue belum ngirim apapun.
Batinnya bermonolog bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi tadi malam, walakin ... dia segera mengabaikan gerombolan rasa heran dan penasarannya, pikirnya itu adalah urusan sepasang suami-istri dan dia tidak berhak untuk mengetahui apa yang terjadi dalam rumah tangga sahabatnya.
Ajun keluar dari mobilnya menyejajarkan dirinya dengan Manda, "mending kita sarapan aja, sahabat lu itu udah di urus sama suaminya,"saran Ajun.
"Seriusan lo, tapi Ra gak ngomong lagi nih."Manda mengambil ponselnya yang ada di dalam saku baju piyamanya.
"Tuh ... gak ada pesan masuk lagi,"imbuh Manda.
Setelah melihat layar ponsel itu Ajun menurunkan tangan Manda ke bawah, lalu dia menyeringai, "mereka lagi bersama, mana sempet buat kirim pesan sama elu. Udah lah elu ikut gue aja,"katanya kemudian.
"Iya juga sih,"serunya menyetujui perkataan Ajun, "yaudahlah ayo, traktir tapi kan ya ..."tunjuk Manda pada Ajun yang kemudian dengan cepat senyumnya berkembang.
"Lu ya, top model juga masih mau gratisan,"pungkas Ajun seraya dia melangkah ke pintu kursi penumpang di samping setirnya, lantas dia buka pintu itu, "ayo cepetan, gue sibuk nih."
"Asyiik di traktir pengacara,"seru Manda dengan ceria, dia berlari ke arah Ajun dan menggelesot masuk ke dalam mobil Ajun.
Pria bermata downturned itu menutup pintu mobilnya ; dia beralih ke pintu di seberangnya, tepatnya di kursi kemudinya. Dia masuk ke dalamnya, lalu hendak menutupinya. Namun, suara pekikan dari belakang dengan suara yang lantang telah berhasil menghentikan aktifitas Ajun, dan Ajun terpaksa untuk kembali berdiri dan menoleh ke belakang.
"Ajun ... tunggu ...."teriak Elshara dengan pakaian serba pendeknya, celana pendek di atas lutut dan kaos polos ketatnya yang berwarna hitam.
"Kenapa? Lu pagi-pagi bikin telinga gue sakit,"jawab Ajun sembari menutup pintu mobilnya lagi.
"Gue mau tanya sesuatu,"ucapnya sesaat setelah dia berdiri di depan Ajun, dia berkacak pinggang dengan rambut lembut yang nampaknya sudah dia tata dengan rapi.
"Nanya apaan?"
"Lu pasti tahu kan siapa istrinya Royyan, kasih tahu gue sekarang,"tembaknya langsung menyudutkan Ajun.
__ADS_1
Ajun mengernyit, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya dia menyeringai tidak senang, pertanyaan yang sangat di bencinya. Karena dia tidak bisa menjawabnya dengan jujur, entah sampai kapan dia harus terus berbohong dan mencari-cari alasan untuk mengelabui siapapun yang menghujamkan pertanyaan itu.
"Gak tahu."Ajun menggelengkan kepala dengan wajah datar, "lagian lu kenapa yakin banget gue tahu soal istrinya Royyan, padahal kan enggak,"lanjutnya dengan bola mata yang berputar tidak tenang.
"Bohong lu! Lu kan yang paling deket sama Royyan, lu lebih lama kenal sama Royyan masa lu gak tahu sih,"hardik Elshara.
"Kenapa gua harus bohong, gue emang gak tahu siapa istrinya Royyan, saat mereka menikah gue lagi sibuk di Bali dan ya gue tahu mereka nikah, tapi sampai saat ini sahabat kita itu gak pernah bilang siapa istrinya, namanya aja gak tahu gue."Ajun Berkilah, dia julurkan lidahnya keluar menjilati bibir atasnya.
"Masa sih,"serunya kebingungan. Entah harus kemana lagi dia mencari tahu sosok istri dari Royyan, dia mengembuskan napasnya kasar, "Royyan kuat banget menyembunyikan pernikahannya,"lanjutnya masih heran.
"Gue gak mau ikut lu mikir deh ya, gua ada urusan,"pamit Ajun seraya dia masuk ke dalam mobil dan segera melajukan kendaraannya melesat jauh ke depan.
Elshara yang baru menyadari jika Ajun telah menghilang dari sorot matanya hanya bisa terbelangah dengan wajah yang berkerut kesal lalu dia menghentakkan kakinya dengan geram seraya meninju angin yang melewatinya.
"Iiih Ajun ...."Elshara berteriak kesal, "gue yakin lu gak bakalan dapet cewek lu, kelakuannya gak pernah berubah dari dulu, tetep nyebelin banget,"tambahnya yang kemudian mendengkus kesal.
Meninggalkan Elshara yang di rundung kekesalan, langit naik dengan kecerahan yang lebih gagah dari tadi pagi yang hanya mengirimkan samar-samar cahayanya, menyeret gerombolan awan-awan yang berbondong-bondong berpencaran mencari angin yang mereka inginkan, di bawahnya Royyan yang baru keluar dari kamar Almira beranjak ke belakang resort, bertandang di pantai dengan ombaknya yang galak.
Dengan kaki telanjang, kakinya tenggelam pada pasir-pasir itu, lalu dia seret langkahnya mendekati sebuah tangga panjang yang menembus ke tengah lautan yang membiru dan terkadang berwarna hijau sesuai dengan ketangkasan sinar matahari yang mengunjunginya. Pria bertubuh tinggi yang tengah mengenakan celana tanggung dan kaos polos berwarna jingga berjalan ke sana dengan mengenakan kacamata hitam.
Dia sangat menikmati keindahan laut milik sang semesta ini, bibirnya perlahan bergerak melengkung ke atas, sorot matanya yang tajam telah meraup hangatnya sinar matahari yang ada di sana. Tak lama dari itu dia kembali ke daratan meninggalkan dermaga yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi berwarna coklat itu.
Di depan sudah ada Elshara yang menunggu sembari membawakan sosis bakar yang di sangkanya akan di terima oleh Royyan, karena malam itu Royyan melahapnya dengan cepat. Dia berjalan ke depan mendekati Royyan, lalu dia sodorkan sosis bakar lengkap dengan saos sambal, saos tomat dan juga mayonaise.
"Lu kemana aja sih? Kemarin itu lu kenapa sih, tiba-tiba cabut, ninggalin gue lagi,"tanya Elshara dengan wajah manjanya yang sengaja dia buat melas.
"Ada urusan mendadak, sorry ..."jawab Royyan datar, tangan yang menjuntai tadi segera dia masukkan ke dalam saku celana tanggungnya.
"Yaudahlah, nih makan, lu belum makan kan?"
"Udah. Lu makan aja sendiri,"sahut Royyan datar, kemudian dia beranjak dari hadapan Elshara, melanjutkan langkahnya ke depan.
Langkahnya mengarah kembali ke resort yang ada di bagian kiri dari keberadaan dermaga, dia masih berusaha untuk mengabaikan Elshara. Namun, Elshara pun tak kalah gigihnya untuk tetap mendekati Royyan, dia tak mempedulikan jika Royyan telah milik oranglain, raga dan hatinya telah tertaut dengan Almira.
"Eh kok gitu sih,"rengek Elshara, dia segera berlari mengejar Royyan dan tak jera untuk memberikan sosis bakar yang dilumuri mayonaise itu.
"Udah kenyang,"ketus Royyan terus berjalan tanpa memedulikan Elshara yang kesulitan mengejarnya.
"Ya makannya nanti aja kan bisa,"serunya memohon.
Dari kejauhan Almira melihat betapa gigihnya Elshara, napasnya terbuang dengan kasar, tetapi bukan amarah yang memenjaranya, melainkan pikiran jahilnya. Wanita mungil yang tengah mengenakan celana jeans berwarna hitam dan kemeja putih yang dia ikat ujungnya di depan itu mengayuh kakinya mendekati Royyan yang berjalan sejajar dengan Elshara.
Tiba di sana, tanpa ragu Almira merampas dua buah sosis bakar yang ada di telapak tangan Elshara, "buat aku ya, laper nih,"serunya tersenyum pada Elshara.
"Heh! Apa-apaan sih lu gak sopan banget, itu punya Royyan tahu ...."wajahnya berkerut kesal dengan gigi yang menggertak dengan kuat.
"Ups sorry ..."ucapnya sengaja seraya mengunyah sosis itu dengan lahapnya membuat Royyan yang ada di sana tersenyum.
Lantas Royyan melangkahkan kakinya dengan langkah besar dan meninggalkan kedua wanita itu di sana, kerutan di dahi dan hidung Elshara semakin dalam, bahkan dia berkacak pinggang menghujamkan tatapannya pada Almira.
__ADS_1
"Kurang ajar banget sih lu!"sergah Elshara, bukan lagi kesal, tetapi juga memberangsang.
NEXT ....