Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 62 : Pesta malam terakhir summer camp.


__ADS_3

Dan benar saja Almira menuruti apa perintah dari suaminya untuk diam dan menunggunya menyelesaikan riasan bibirnya. Rasanya sungguh lembut, dia bergerak ke kiri dan kanan menjalar di bibirnya yang kecil yang mampu menggoda Royyan, beralih ke sentuhan akhir yaitu pengolesan lipgloss dan menjadikan tampilan bibir Almira yang semakin cantik dan indah.


"Cantik,"ungkap Royyan seraya dia merangkai wajahnya dengan senyuman mengembang.


Setelah selesai, Royyan menyimpan ketiga pewarna bibir yang dia gunakan barusan di atas meja rias, kemudian dia menggenggam tangan sang istri dan membawanya kembali ke hadapan kaca, mereka berkaca bersama di sana.


"Gimana? Bagus kan?"tanya Royyan seraya menggenggam kedua lengan Almira dengan lembut.


Betapa terkejutnya Almira melihat dirinya di kaca telah cantik dengan sempurna, pekerjaan Royyan pada bibirnya itu benar-benar sempurna, dia membuat warna di bibir Almira dengan cantik dan memesona, rapi bak di kerjakan oleh profesional, hal itu membuat Almira menaikkan kedua sudut bibirnya dengan ceria.


"Kamu belajar dari mana, rapi lagi, aku suka. Makasih suami ...."puji Almira sambil dia membelai pipi Royyan dengan lembut.


"Karena aku mencintai kamu, merias kamu adalah rasa bahagia bagiku,"lirih Royyan di telinga Almira, seraya dia menggerakkan kedua tangannya ke bawah, tepatnya di pinggang Almira dia peluk sang istri dan menariknya sampai mendekat dengannya, sedangkan dagunya dia gantungkan di pundak sang istri yang terbuka karena gaun yang di pakainya.


Seketika Almira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, paras yang sudah memerah tersipu bahkan telinganya pun ikut memerah, rambut yang terurai dengan lembut ikut meleleh karena bisikan dari Royyan.


"Udah ah jangan begitu, aku pingsan kamu tanggungjawab ya,"protes Almira sembari dia memutar tubuhnya dan menghadap pada sang suami yang masih melingkari pinggangnya.


Pria tinggi itu tertawa puas bisa melihat istrinya tersipu seperti itu, wajahnya menjadi sangat menggemaskan. Kata lucu saja tak cukup menggambarkan betapa gemasnya Royyan pada Almira seakan ingin menggigitnya, akhirnya Royyan menarik pinggang sang istri masuk ke dalam dekapannya, dia lekatkan tubuhnya dengan Almira dan kedua tangannya menekan punggung kecil itu.


"Kamu harus ingat, kalau aku selalu mencintai kamu, bagaimanapun aku cuek sama kamu di luar, bukan berarti cinta itu tidak ada, aku hanya ingin melindungi kamu,"ungkap Royyan.


"Sampai kapan kamu menyembunyikan hubungan kita,"tanya Almira penuh harap.


"Aku harus memastikan kamu aman dulu, kamu lihat Dirta kemarin kan? Aku harus memantau dia dulu, dan juga kamu harus hati-hati sama El,"imbuh Royyan masih mendekap Almira dengan erat.


"Hah?! Emangnya kenapa sama temen kamu itu,"tanya Almira bingung, kemudian dia dorong Royyan untuk melepaskan dekapannya.


"Semua manusia memiliki sisi jahatnya, aku gak yakin tapi kamu harus berhati-hati."


"Kamu aneh, tapi iya sih. Setelah kemarin ribut sama dia, aku jadi tahu dia wanita seperti apa."


"Bagus lah. Aku mau langsung ke gedung acara,"pamit Royyan mengelus rambut Almira dengan lembut.


"Hmm ...."gumam Almira menganggukkan kepalanya.


Sebelum benar-benar pergi, Royyan sempat melorotkan kecupan hangat nan lembut di dahi Almira, membuat wanita bermata kucing itu membuka matanya selebar mungkin, dia mendongak dan mendapati sang suami sudah tersenyum lembut padanya, lalu dia beringsut keluar dari kamar Almira.


"Kak Royyan bener-bener ya bikin gue jantungan mulu, kalau gini terus gue gak bisa nih,"gerutu Almira sembari dia mengelus-elus dadanya dengan wajah yang berseri-seri.


Di dalam gedung yang juga milik Royyan, tetapi lokasinya agak jauh dari keberadaan resort.


Sebagian model yang ikut serta dalam acara summer camp tahun ini, dan seluruh staff, termasuk para pimpinan telah memasuki area gedung yang telah di rancang dengan sebaik-baiknya.


Aroma mawar menyebar ke seluruh penjuru gedung, dengan balutan nuansa mewah dan warna-warna klasik yang memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Rancangan gedung itu benar-benar menyerupai dunia kerajaan dalam dunia fantasi yang di buat para animator, kesan yang memukau dengan hiasan lampu gantung yang harganya fantastis.

__ADS_1


Tak lupa iringan lagu sendu dengan genre romantis, lebih tepatnya lagu-lagu pengiring yang biasanya digunakan untuk berdansa. Dan di setiap sudut bahkan dari segala arah berdiri kamera yang sudah siap merekam segala kegiatan yang ada di dalam gedung tersebut


Di dalam telah tersedia banyak meja dengan berbagai macam hidangan yang tersaji di sisi kanan dan kiri gedung itu, sedangkan di tengah-tengahnya di biarkan kosong untuk para model ataupun staff yang akan berdansa.


Riuh orang-orang yang saling berbincang satu sama lain dengan teman-temannya saling bersahutan dengan musik yang tengah di mainkan oleh para pemusik handal yang ada di sana. Perlahan meja-meja yang semula sebagiannya kosong dengan segera terpenuhi, termasuk Almira yang duduk bersama Manda dan Sara yang ikut serta dalam pesta, begitupun dengan Royyan dan Adrian yang duduk di kursi seberang meja Manda dan juga Almira.


"Laper gue, pengen makan nasi padang,"celetuk Manda seraya mengelus-elus perut kosongnya.


"Yang bener aja lu, mana ada di sini nasi padang,"sanggah Almira seraya menoleh pada Manda.


"Ada. Di luar deket resort kan ada warung nasi padang tuh, rame lagi. Pasti enak tuh,"sahut Manda lagi.


"Gak usah ngaco deh lu, nanti aja kalau acara ini selesai."


"Deal?"Manda menjulurkan satu tangannya ke depan Almira.


"Oke deal."Almira menjabat tangan Manda.


Tiba-tiba suara musik berhenti dan suara riuh yang sempat bergemuruh tadi menjadi sunyi, tak ada yang bersuara lagi. Tidak lama dari itu, pimpinan penyelenggara berjalan ke depan, tepatnya ke tengah-tengah gedung yang mampu menampung lebih dari 2000 orang.


"Selamat malam semuanya,"sapa sang pemimpin penyelenggara.


"Malam ...."sahut semuanya serempak.


Pria paruh baya yang tengah melukis wajahnya dengan ceria itu, menyeringai dengan lebar, dia genggam mic itu di tangan kanannya dengan penuh keyakinan. Dia sangat bahagia karena proses shooting berjalan dengan baik dan tidak memakan banyak waktu, walau dalam prosesnya terjadi banyak sekali masalah yang membuatnya merasakan pening tak terkendali.


Membuat semuanya menerka-nerka siapa yang akan menjadi pemenangnya tahun ini, sebelumnya di pegang oleh seorang model yang kini sudah berkarir di luar negeri yang berasal dari agensi lain, apakah tahun ini akan di pegang oleh agensi yang menaungi Rala dan Manda. Dalam acara ini bukan cuman agensi Rala dan Manda, melainkan ada agensi lain juga. Setiap agensi hanya boleh mengirimkan dua model terbaiknya untuk acara tersebut.


"Ada yang bisa nebak gak nih?"seloroh pimpinan penyelenggara itu.


Lima meter dari arahnya seorang model pria yang juga merupakan berasal dari agensi Van menimpali perkataan sang pimpinan penyelenggara itu, "Kalau kata aku sih Van sama Manda ya,"celetuknya dengan lantang.


Seketika gedung mulai menimbulkan suara riuh lagi, nampaknya semua yang ada di dalam gedung menyetujui pernyataannya, selama dua bulan ini memang Manda dan Van menjelma layaknya sepasang kekasih sedang di madu asmara, mereka sangat dekat dan kerap menunjukkan sisi-sisi romantis. Inilah yang mengakibatkan Manda di pertahankan sampai akhir dan mengesampingkan Elshara yang selalu menjadi bintang di agensinya.


"Ya, benar sekali. Tepuk tangan untuk Manda dan Van yang telah berhasil menarik banyak sponsor untuk acara ini dan sebagai hadiah kalian mendapatkan tiket liburan selama satu minggu di Bali,"jelas pria paruh baya itu.


Tak perlu waktu lama, riuh tepuk tangan semua orang yang ada di dalam gedung dengan cepat memenuhi setiap penjuru sampai telinga Manda terasa mengguruh. Wanita berambut pendek yang dia buat lebih ber-volume itu seketika tersekat dengan wajah yang memerah, dia tersipu. Lantas dia menyembunyikan wajahnya di punggung indah milik Almira.


"Dih ngapa jadi gua yang dapet sih, kan kalau begini sih gue jadi gak bisa liburan sama elu Ra,"lirih Manda malu-malu.


"Emangnya harus shooting juga?"tanya Almira seraya dia sedikit menolehkan wajahnya.


"Iyalah. Extra part-nya,"sahut Manda yang menyandarkan dahinya di punggung Almira.


Di saat Manda masih menyembunyikan wajahnya, Van datang menjulurkan tangan pada Manda tersenyum dengan lebar.

__ADS_1


"Ayo kita ke depan, selanjutnya kita akan menjadi partner yang bagus,"ajak Van.


Manda menoleh. Dia menatap sinis Van yang ada di depan matanya, "hush! Lu aja deh sendiri, kalau berdua nanti kita di suruh dansa, gue gak bisa dansa, sumpah deh,"usir Manda seraya menggerakkan tangannya.


"Tenang aja,"papar Van yang kemudian dia mengarik tangan Manda dan menariknya berjalan bersamanya ke depan.


Seketika Almira tertawa puas melihat sahabatnya dalam keadaan tertekan seperti itu, harusnya Almira berterimakasih pada Van karena telah membuat sahabat tersayangnya itu menampilkan wajah tidak senang dan minta di kasihani untuk tidak melakukan hal itu semua.


Setibanya di tengah-tengah gedung itu pimpinan penyelenggara memberikan dua tiket liburan sepasang kekasih dalam naskah itu, setelahnya para manager dari kedua model itu menghampiri dan mengambil hadiahnya, sedangkan Van dan Manda tidak dibiarkan untuk kembali ke meja mereka masing-masing karena mereka harus berdansa terlebih dulu.


"Oke ... kita mulai pestanya ...."seru pimpinan penyelenggara yang memang memimpin keberlangsungan pesta ini.


Perlahan suara musik mulai menggema mengiringi Manda dan Van yang sudah menggenggam tangan Van sedangkan tangannya yang lain menggantung di pundak pria dengan bobot tinggi badan yang tak berbeda jauh dengan Royyan. Begitupun dengan Van yang juga menggenggam tangan Manda dan satu tangan menongkrong di pinggang ramping sang model.


Dengan beralunnya musik itu maka pesta benar-benar di mulai, semua peserta model lain di perbolehkan menikmati pesta sesukanya. Begitupun dengan Elshara yang sengaja melimbai ke arah Royyan untuk mengajaknya berdansa, seingatnya Royyan sangat mahir berdansa seperti Elshara yang juga pandai berdansa.


"Dansa yuk,"ajak Elshara dengan langkah seduktifnya, dia letakkan satu tangannya di atas meja dekat Royyan sedangkan satu tangannya yang lain perlahan dia gerakkan untuk menyentuh pundak Royyan.


Namun, dengan gerakkan cepat Royyan berdiri dari kursinya seraya merapikan pakaiannya, dia melenggang dari hadapan Elshara hendak meninggalkannya tanpa meninggalkan satu patah kata apapun. Dahi Elshara berkerut, hatinya merasakan sesak dan perih di waktu bersamaan, tetapi dia tidak goyah, lekas dia kayuh langkahnya menyeret gaun panjang yang menyapu lantai di sana ke hadapan Royyan lagi.


"Ayolah Yan ... kan cuman dansa doang gak ngapa-ngapain, nanti aku bilang deh sama istri kamu, sekalian aku mau kenalan sama istri kamu itu,"bujuk Elshara pura-pura telah menerima pernikahan Royyan dan istrinya yang tidak dia ketahui.


Sebetulnya ini adalah cara Elshara untuk membongkar siapa istri dari Royyan sebenarnya, dia sudah sangat geram ingin mengetahui siapakah sosok wanita yang mampu menaklukkan manusia yang sekujur tubuhnya terbangun es yang sangat dingin.


"Gue gak akan ngomong untuk kedua kalinya, harusnya elu tahu apa yang gue maksud,"ketus Royyan menajamkan sorot matanya pada Elshara.


Degh ....


Hantaman keras kembali melanggar dada Elshara, tepatnya di bagian dalam tubuh itu yang telah merasakan sebuah benturan yang sangat keras sehingga dia merasakan sesak lagi dan lagi, sepertinya rasa itu tak akan pernah ada habisnya sampai Royyan menerimanya dengan rasa kasihan atau hanya sekedar rasa simpati pada seorang teman.


"Iya tahu, tapi kan Dirta udah ngerti dan dia gak ganggu kamu lagi kan?"decak Elshara tertunduk layuh.


"Oke. Hanya sebentar, karena istri gue punya mata seribu,"cetus Royyan seraya dia mendelik pada Almira yang tengah terduduk seorang diri.


"Oke."


Baguslah kalau istri lu lihat, jadi dia bisa berpikir dan tahu diri kalau posisinya itu milik gue. Royyan itu milik gue, dan gak ada yang boleh menyentuhnya selain gue.


Batinnya kembali berceloteh tentang hal yang selalu dia banggakan, sedangkan dia tidak menyadari jika kesempatan itu tidak pernah berpihak padanya, mau itu di masa lalu ataupun masa sekarang, apalagi masa depan.


Keduanya berayun ke tengah-tengah bergabung dengan pasangan lain yang sudah lebih dulu ikut serta dalam perayaan kemenangan Manda dan juga Van. Elshara melingkarkan kedua tangannya di leher Royyan, sedangkan Royyan dengan ragu dia menggenggam pinggang Elshara. Mereka mulai melakukan gerakan dansa, menari-nari ke kiri dan kanannya, sesekali Elshara berputar layaknya seorang putri mahkota yang berdansa dengan pangerannya.


"Apa yang elu suka dari istri lu?"tanya Elshara seraya menggerakkan kedua tangannya kembali melingkar dengan gerakkan seduktif.


"Semuanya, tanpa terkecuali,"jawab Royyan tegas, seraya dia memutar tubuh Elshara sampai wanita itu terhenyak terkejut dengan tindakan Royyan.

__ADS_1


Dia jatuhkan Elshara di lengan kirinya sehingga gadis bermata pipih itu menggantung di lengan kekarnya seraya dia melingkarkan kedua tangannya di leher Royyan, perlahan wajahnya mendekat membuat semua orang yang melihat secuil adegan romantis itu terkesima dan merasa gemas dengan kedekatan Elshara dan Royyan.


NEXT ....


__ADS_2