
Dia tahu jika Dirta tengah berada di Tangerang, sibuk melayani pelanggan yang kelaparan di restoran milik keluarganya. Dan dia yakin Ajun akan datang, pekerjaannya telah berhasil menerbangkan Ajun ke belahan mana pun yang ada di negara ini, jika powernya semakin meningkat, mungkin saja dia bisa membentangkan sayapnya ke kancah luar negeri untuk mengukir karirnya.
Harapan terbesarnya adalah untuk memancing Almira keluar dari persembunyiannya dan mendatanginya yang kalut, bahkan hampir kehabisan akal. Royyan masuk ke dalam mobil dengan gagahnya lengkap dengan helm khusus yang digunakan untuk mengendarai mobil balap.
"Mari taklukan setiap api yang berkobar,"lontar Royyan mencengkeram kemudian dengan kedua tangannya yang kekar.
Di menit kemudian mobil berwarna merah menyala itu mulai melesat menciptakan jejak di sirkuat yang memiliki tikungan cukup tajam, dia injak pedal gas mobil tersebut membuat laju mobil itu melesat bagaikan angin, setiap tikungan dia taklukan dengan mudah bahkan sampai mobil itu memiring nyaris terguling.
Semua yang melihat ketangkasan laju mobil itu berseru ketakutan, kelajuan mobil itu melewati batas normal para pebalap. Ban yang menggelinding itu seperti memercikan api-api yang panas, staff yang mengekori Royyan tadi merangkai kepanikan yang dalam, dahinya berkerut takut.
Lantas dia melangkah ke depan, bola matanya membulat mengekori kemana pun mobil itu berputar-putar dengan cepatnya, angin pun kalah cepat dengan laju mobil yang di kendarai oleh Royyan.
"TUAN ....!"serunya dengan suara bergetar.
"Hentikkan!"tambahnya.
Staff pria itu kembali memundurkan langkahnya, "bahaya ini, tuan Royyan kacau banget. Ini terlalu cepet, tiga jam tuan Royyan tidak berhenti dengan kecepatan yang semakin tinggi,"celotehnya ganar.
Pria yang lebih tua dari Royyan itu segera mencari kontak Ajun yang ada di dalam ponsel pribadinya, dia segera melakukan panggilan telepon dengan pria itu.
"Halo tuan Ajun,"serunya sesaat setelah panggilan teleponnya di angkat oleh Ajun.
"Ya, kenapa?"sahutnya di balik ponsel itu.
"Tuan Royyan gak berhenti mengendarai mobil di sirkuit, kecepatannya abnormal,"jelasnya dengan terburu-buru.
"Hah?! Dari kapan dia di sana?"tanya Ajun panik, terdengar jelas jika dia menyeret kursinya dengan kasar.
"Sudah lebih dari tiga jam tuan,"jawabnya lagi.
"Ah si Royyan kenapa sih. Yaudah tunggu, saya akan segera ke sana."
Panggilan telepon terputus, Ajun segera memutuskan panggilan teleponnya. Langkahnya menggebu-gebu seraya dia memutar-mutar kunci mobilnya. Dia tekan tombol yang tertera di kunci mobilnya itu dan mobil terbuka dengan sendirinya, Ajun segera masuk ke dalamnya dan melajukan mobil itu yang tengah terparkir di sebuah restoran mewah dekat dengan sirkuit itu.
Pria berambut french crop itu melentingkan mobil hitamnya, menuju dimana sirkuit itu berada. Tak perlu memakan waktu yang lama, dia telah tiba di parkiran mobil dari sirkuit itu dan Ajun melihat mobil Royyan terparkir di sana.
"Nih anak kalau ngamuk pelampiasannya balapan,"cakapnya seraya menunjuk-nunjuk mobil Royyan yang terparkir di samping mobilnya.
Dia sengaja menempatkan mobilnya dekat dengan Royyan agar dia lebih mudah untuk menemukannya, setelah selesai memarkir, Ajun mengayuh kakinya menghamburkan dirinya masuk ke dalam gedung sirkuit yang megah itu, sebelumnya markas balapan mereka ada di sirkuit milik keluarga Ajun, tetapi kali ini berbeda karena sirkuit itu ada di dekat sekolahnya yang cukup jauh dari keberadaan kantor Royyan.
Tiba di arena VVIP Ajun masuk ke dalamnya tanpa di hentikan oleh penjaga, dia berlari ke bawah ke dekat pembatas arena dengan kursi penonton, lalu melenggang ke arah kirinya untuk masuk ke dalam ruang kendali, dia pakai alat untuk berbicara langsung dengan Royyan melewati alat tersebut.
"Royyan! Lu mau mampus,"gertak Ajun di depan monitor yang menampilkan betapa cepatnya mobil Royyan melaju.
Royyan yang tengah melajukan mobilnya segera menggerakkan mulutnya, "gue gak akan berhenti,"paparnya tegas, mencengkeram kemudi dengan lebih kasar lagi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih ganas lagi.
"WOII!!"teriak Ajun seraya menggebrak meja yang ada di dekatnya, "Yan! Berhenti! Udah lebih dari empat jam elu ada di sana, mobilnya panas kalau lu bawa kayak begitu, lu juga bisa celaka,"sambung Ajun geram.
__ADS_1
"Celaka? Tinggal ketemu tuhan,"celetuknya enteng.
"Anj*ng! Royyan!"tegas Ajun frustasi, dia lepaskan alat komunikasi itu sedikit melemparnya ke depan tergolek di atas meja.
Lantas dia keluar dari ruang kendali berlari ke depan, ke dekat pembatas seraya bertolak pinggang di sana, dahinya berkerut kehabisan akal, dia urut dahinya yang berkerut itu ke belakang dengan kasar dan lidahnya terjulur keluar dan kembali ke dalam mulutnya.
"ROYYAN!"pekik Ajun sekali lagi, "Jangan bunuh diri lu! Kalau lu mau nyari istri lu cepetan berhenti!"sambung Ajun dengan suara yang lebih lantang lagi.
Tentu saja Royyan tidak bisa mendengarnya, telinganya sudah sangat berisik dengan deru mesin yang bekerja keras untuk memenuhi keinginan kelajuan Royyan, pria dengan rahang tegas itu tak pernah puas sampai kemampuan kelajuan mobil itu mencapai batasnya.
Ajun di dekat pembatas masih menatap Royyan dengan kegetiran seraya angannya berkelana, bagaimana dia bisa menghentikan Royyan, pikirannya merekam jejak Almira dengan kuat. Lekas dia kayuh kakinya keluar dari ruang VVIP itu seraya mengambil ponselnya dari saku celana berbahan halusnya.
Dia ingat jika dia baru mendapatkan nomor telepon Almira yang baru dari Manda, walau pria itu harus membujuk model itu dengan sangat keras. Di suatu siang Ajun menemui Manda dalam makan siang, di sana lah dia mendapat nomor Almira.
Ajun melakukan panggilan telepon dengan Almira, harapnya wanita itu akan mengangkat nomor teleponnya, walau kemungkinannya tipis, karena Almira akan berpikir jika Ajun di perintah oleh Royyan.
"Kan bener gak di angkat,"serunya setelah panggilan teleponnya terhenti karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Almira.
Di tempat keberadaannya Almira yaitu di sebuah taman bertaburan bunga-bunga berbagai macam jenis dan warnanya, gadis cantik berambut ikal di bagian ujungnya itu tengah asyik menghisap aroma wangi masuk ke dalam rongga hidungnya. Matanya terpejam dengan sangat cantik, dia terpukau dengan salah satu bunga yang di sorot langsung oleh sinar matahari yang bertengger di atas.
Ponselnya kembali bergetar setelah tadi dia abaikan tanpa melihat siapa yang menghubunginya, berbeda dengan kali ini, Almira akhirnya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya, membuat gadis itu merasa terganggu.
"Ish! Ajun kenapa sih, gue kan lagi liburan sendiri, ganggu aja nih anak,"gerutu Almira dan kembali dia mengabaikan panggilan telepon itu.
Tak lama gadis itu mulai sadar, bagaimana Ajun bisa mengetahui nomor nya yang baru, "bentar, si Ajun dapet nomor gue dari mana,"tanya Almira pada dirinya sendiri.
Ponsel itu tenggelam lagi ke dalam tas kecil yang menyilang di tubuhnya, gadis yang tengah memakai celana jeans santai dengan kaos polos berwarna senada dengan jeansnya itu lengkap dengan sweeter rajut berwarna putih kembali melangkah mengelilingi taman bunga tersebut.
Sebuah tempat wisata yang menampilkan berbagai macam jenis bunga yang tumbuh di tanah Indonesia dan ada pula bunga-bunga yang tumbuh dari negara lain, di sana pula ada sebuah cafe yang hanya menyajikan sajian manis seperti cake dan coffee serta minuman lain seperti jus dan sejenisnya.
Almira mendarat di cafe tersebut dan mulai membuka buku menu yang ada di atas mejanya, satu persatu dia pasati setiap menu yang berjajar di dalam buku itu. Beralih pada minuman dan berhenti di sebuah menu andalannya yaitu strawberry milkshake, dia tunjuk gambar yang ada di dalam buku itu dan melepaskan buku menu dari genggaman tangannya.
"Saya mau-"ucap Almira yang terhenti karena panggilan telepon dari Ajun.
Perhatian Almira teralihkan pada ponsel yang tergeletak di samping kanan buku menu itu, dia lihat nomor tak di kenal dengan foto Ajun kembali melambung di layar pintarnya, dahinya kembali mengernyit. Karena merasa ada yang aneh, lekas dia angkat panggilan telepon itu dan menyuruh pelayan itu untuk membuatkan milkshake-nya dengan menggunakan gerakkan jarinya seraya tersenyum ceria.
Pelayan wanita itu dengan cepat mengerti apa keinginan dari pelanggannya itu, dia segera melenggang dari hadapan Almira kembali ke area dapur untuk menyiapkan pesanan dari Almira.
"Kenapa sih Jun,"tanya Almira dengan suara lembutnya yang terdengar tegas di telinga Ajun.
"Duh Ra lu ada dimana sih, jangan ngilang Ra laki lu mau bunuh diri nih,"terang Ajun tanpa basi-basi lagi.
"What?!"Almira dorong kursinya sambil dia beranjak dari kursi itu, "becanda kan lu? Gak mungkin kak Royyan yang IQ-nya tinggi bisa berpikiran kesitu, gue kan baru ninggalin dia beberapa hari aja, ada kali satu minggu, ya kali dia sampai mau bunuh diri,"lontar Almira tak mempercayai perkataan Ajun.
"Seriusan gue. Royyan lagi di sirkuit dan dia bawa mobilnya kayak kerasukan setan, lu cepet kesini sebelum suami lu mampus."
"Sirkuit? Sejak kapan kak Royyan suka balapan?"gadis itu malah terus bertanya tanpa enyah dari cafe tersebut.
__ADS_1
"Dari orok. Lu gak tahu kalau suami elu itu suka balapan, dia kalau frustasi pelampiasannya balapan, udah cepetan Ra kesini."
Bola mata yang sempet melebar karena terkejut dengan fakta yang baru saja terukir di telinga, tetapi kemudian wajahnya kembali datar seperti semula, dia berusaha untuk tidak tergoyahkan untuk menjauh sementara dari Royyan.
"Ngapain harus gue, si Rala aja sahabatnya, saat di laut kan kak Royyan lebih milih dia, harusnya elu telepon cewek itu bukan gua,"ketus Almira, netranya mendelik kasar.
"Ra ... lu dengerin Royyan dulu, kalau dia lebih milih El, dia gak akan belingsatan kayak gini karena gak bisa nemuin elu, padahal elu masih di Jakarta. Lu coba pikirkan, ngapain Royyan sampai seperti ini jika dia masih bisa ketemu sama El, karena tujuan Royyan cuman elu Ra ...."
Seketika Almira sedikit terpegun mendengar penuturan Ajun yang terdengar tulus dan tidak mengada-ada, raganya mematung sejenak meraba-raba kemungkinan perkataan Ajun, dia lesatkan fokusnya pada angan yang tak bisa di pegang oleh tangan telanjang.
"ROYYAN!"tiba-tiba teriakan Ajun menggema di balik ponsel itu.
Membuat Almira berkerut, deru jantungnya berderai dengan sangat dahsyat. Bokongnya yang sempat terduduk lagi saat pesanannya sampai di atas meja, dengan cepat kembali berdiri. Dia tak bisa menahan egonya lagi, rasa khawatir lebih besar dari apapun.
"Jun! Ajun ...."panggil Almira rintih, bibirnya bergetar takut. "Apa yang terjadi? Ajun!"panggil Almira lagi.
Namun, panggilan telepon malah terputus. Kepanikan menghantam pertahanan Almira dengan ganas, gadis itu panik sampai aliran napasnya sedikit tersendat.
"Ada apa ya? Apa yang terjadi sama kak Royyan, gak-enggak ...."dia menggelengkan kepalanya, mencoba merelai rasa takut yang mengerubungi jiwa dan batinnya, dia seka rambutnya kasar seraya dia melantingkan tatapannya tak tentu arah, lalu dia telan ludahnya dengan kering.
Perlahan dia raih minuman yang ada di pesannya, dia teguk air berwarna merah muda dengan rasa manis yang lembut itu sampai habis setengahnya, lalu Almira memilih untuk meninggalkan cafe itu setelah dia menyisipkan uang berwarna biru di bawah gelas.
Sangat kebetulan jika Almira tidak mengendarai kendaraannya karena takut terlacak oleh Royyan, dia meninggalkan semua jejak yang berhubungan dengan properti milik Royyan, tetapi pada akhirnya dia sendiri lah yang akan menemui sang suami ke sirkuit yang telah di beritahu oleh Ajun sebelumnya.
Teriakan Ajun membuat kepanikan melanda Almira tanpa ampun, ingin dia abaikan tapi rasa khawatir karena cintanya pada Royyan sangat besar membuat Almira tidak bisa menghentikan debur jantung yang berlomba-lomba dan langkah kaki yang berkobar-kobar.
Keberadaan tempat wisata para bunga itu tak terlalu jauh dari sirkuit, hanya membutuhkan waktu satu jam untuk menempuhnya. Wanita bermata kucing itu tiba di sirkuit megah itu menggunakan taksi online.
Matanya terpesona dengan bangunan megah itu, material-material bangunan yang menempel pada gedung itu sangatlah mewah, Almira bahkan sempat berpikir, apakah mungkin dia tersesat? Bagaimana bisa, bangunan sirkuit semewah ini.
"Ini sirkuit apa gedung cinderella sih? Kok mewah banget,"serunya heran seraya dia memutarkan bola matanya mengelilingi setiap sudut dari gedung di hadapannya, "gak mungkin gue nyasar kan?"serunya lagi sambil dia melangkah ke depan, meraba-raba keramik-keramik putih di bawah.
Netranya pontang-panting mencoba menerjemahkan setiap benda-benda mewah yang menempel dengan bangunan megah itu, banyak orang yang berlalu-lalang di dalamnya, tetapi satu pun tak ada yang bisa Almira tanyakan kemana langkahnya harus bertandang.
Gadis itu berputar-putar di tengah-tengah lobi menjelajah langit-langit yang memesona, lampu gantung yang sederhana, namun elegan itu mematri mata Almira untuk tetap padanya, lalu gadis itu kembali melangkahkan kakinya menuju resepsionis yang berada tak jauh dari pintu masuk.
"Permisi mbak,"sapa Almira.
"Iya nona, ada yang bisa di bantu,"sahut resepsionis wanita itu seraya menangkupkan kedua tangannya dan dia bawa ke depan dadanya.
"Saya mau ketemu sama Royyan Alzaro yang katanya ada di sini,"pungkas Almira menatap lurus pada wanita yang lebih tua darinya.
"Dengan nona siapa? Maaf pak Royyan memberi kami perintah untuk tidak mengizinkan orang lain untuk masuk ke areanya dengan sembarang,"balasnya dengan hati-hati.
"A---"
NEXT ....
__ADS_1