Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 132 : Rumah sakit


__ADS_3

Royyan tersenyum miring sambil dia menekuk lehernya ke arah kiri dan kanannya, melenturkan buku-buku tangannya yang menegang tadi, dalam sekejap mata, lelaki itu menangkis serangan pria berbadan besar itu dan menghamburkan pukulan keras di bagian perut pria itu sehingga dia meringis dan terjatuh berlutut di hadapan Royyan, saat itu juga Royyan mengarahkan sendi tangannya ke leher pria itu.


Deru napas Royyan memanas, lantas dia menendang lelaki itu tanpa ampun sampai menggeleser tak berdaya. Pukulan Royyan di bagian perut dan lehernya berhasil membuat lelaki berbadan besar itu tak berdaya begitupun dengan kedua temannya yang lain, mereka masih sadarkan diri hanya saja tubuh mereka telah direnggut energinya karena pukulan dari Royyan.


Lekas pria bermata kecil itu berlutut di samping pria yang baru saja dia kalahkan, kini dia dalam posisi telungkup, lantas Royyan tarik rambut pria itu dengan kasar. "Aaargh ...." pria itu meringis dengan mata yang terpejam nyeri, dia berusaha menahan rasa sakit yang menumpuk di bagian leher dan perutnya hingga rasanya penglihatannya menjadi balam-balam.


"Siapa yang nyuruh lo? JAWAB! Sebelum gue habisi lu sekarang juga,"gertak Royyan menguatkan cengkeramannya pada rambut pria itu.


Pria berbadan besar itu bergeming, mendadak bibirnya tak bisa berbicara seperti saat diawal, meremehkan Royyan seolah mereka mampu mengalahkan Royyan. "Ah ..." erang pria itu masih menahan rasa sakit.


"JAWAB!"bentak Royyan menarik rambut pria itu lagi.


"Ah iya!"jawab pria itu lemah, "i-itu ..."sambungnya lirih.


Mendadak sorot mata Royyan melesat pada Dirta yang bergeming sedari tadi di salah satu sudut ruangan gedung tua itu. "Apa dia,"tunjuk Royyan tegak, telunjuknya menghunjam tatapan Dirta yang kini tengah melebar dengan kegetiran yang amat terlihat jelas.


"Bu-bu-kan ...."


Netra Royyan kembali merajam tubuh lelaki itu yang terkapar lemah. "Lalu siapa?!" Royyan kuatkan cengkeramannya pada rambut pria itu.


"Aaaargh ...."


"Jawab sekarang atau lu mau mati di sini."


Pria itu masih membisu, enggan untuk mengatakan kebenarannya.


Drrtt!


Tiba-tiba saja panggilan masuk dari Manda mengganggu semua yang sedang dilakukan Royyan. Tanpa menunggu lama lagi, Royyan angkat panggilan telepon itu dengan tatapan masih meruncing pada semua orang yang ada di sana.


"Ya, kenapa?"tukas Royyan dengan deru napasnya yang dingin.


"Ra udah siuman, dan dokter mau bicara sama lu Yan."


"Oke, gue balik." Royyan segera mematikan panggilan telepon itu.


Langkah pria bertubuh kekar itu bergulir ke dekat meja kayu yang masih utuh, di sana deretan botol minuman keras berjajar dengan rapi, dia melangkah gontai ke arah sana.


"Oke! Jika kalian tidak ada yang ingin bicara siapa yang telah menyuruh kalian, maka berakhir saja lah hidup kalian di sini,"pungkas Royyan.


Kedua tangannya mengarah pada beberapa botol minuman beralkohol yang masih terisi penuh, lalu dia lempar dengan kasar ke arah dimana pria-pria berbadan besar itu terkapar tak berdaya.


Seketika botol-botol yang sudah membentur lantai penuh debu di sana menjelma menjadi serpihan kecil dan isinya keluar menyebar membasahi lantai itu secara bersamaan dengan bola mata Dirta yang membulat hebat. Debar jantung Dirta tak karuan, buih-buih ketakutan menggunduk dan berakhir menyembul dan memangkas aliran pernapasannya.


"Royyan stop! Tenang dulu ...,"pinta Dirta berhati-hati.


Namun, Royyan seolah tidak menganggap Dirta ada di sana, dia masih terus melempar botol-botol minuman keras itu berserakan di lantai menjadi serpihan kaca kecil-kecil, ia melebur dan menyatu dengan lantai berdebu itu yang kini sudah basah sebagiannya karena alkohol.


Setelah semua botol itu sudah tak berwujud, Royyan lemparkan tatapannya meruncing pada Dirta yang ada di depan sana. "Lu gak berhak untuk berbicara apalagi menghentikan gua. Ingat!"tunjuk Royyan melangkah mendekati Dirta. "Sampai gua tahu siapa dalang dari ket*l*lan ini semua, orang itu ... Tanpa terkecuali, akan gue habisi kapanpun dan dimanapun dia berada, camkan itu!"sambung Royyan dengan deru napasnya yang kasar dan tatapannya yang bukan hanya meruncing, ia juga menjelma menjadi aroma mencekam.


Perlahan Royyan selukkan satu tangannya ke salah satu saku celana, dia mengambil korek api zippo, pria itu mengangkat korek api miliknya ke atas seraya dia gesek korek api itu hingga mengeluarkan api yang memerah.


Seketika Dirta membeliak. "Royyan! Matikan apinya, gedung ini bisa kebakaran."


Lelaki itu malah terkekeh kecil dan membawa korek api yang menyala itu ke dekat alkohol yang berserakan di bawah. "Gedung tua ini sangat tidak layak, yang tidak layak pantas untuk dimusnahkan." Royyan jatuhkan korek apinya ke bawah.


Dalam sekejap api itu menyebar dan merambat mengikuti dimana alkohol itu berada, sampai tiba di meja tadi yang juga berceceran alkohol. Perlahan api itu menyebar dan membakar beberapa bagian gedung yang mudah terbakar.

__ADS_1


"Royyan!"pekik Dirta.


Namun, pria berbadan kekar itu telah melangkah jauh keluar, dia berlari karena dia tahu jika api itu akan dengan mudah melahap gedung tua itu, Royyan masuk ke dalam mobil milik Dirta yang kebetulan pria berambut wavy itu melupakan kunci mobilnya menggantung di mobil, lekas dia lajukan mobilnya meninggalkan gedung tua itu.


Asap tebal mulai mengepul ke udara bersamaan dengan api yang semakin lama semakin membesar, aroma panas melebar ke setiap penjuru gedung itu, si jago merah begitu berambisi untuk melahap gedung itu beserta isinya, Royyan tak lagi peduli apa yang akan terjadi pada semua orang yang ada di sana, seingatnya anak buahnya tidak akan membiarkan pria berbadan besar itu terkapar dan terbakar dalam gedung itu.


Dalam keadaan terbatuk-batuk Dirta keluar dari gedung tua itu, langkahnya terkatung-katung memandangi mobil miliknya telah melaju jauh keluar dari gedung tua itu, dan gedung tua itu seketika berubah menjadi debu-debu hitam yang beterbangan karena angin di dalam hutan itu cukup kencang.


"Sial! Si Royyan kalau marah gak tanggung-tanggung."


...***...


Dalam sebuah ruang inap dimana Almira menyerana dalam sunyi, dan gadis bermata kucing itu baru saja membuka matanya. Perlahan dia menggerakkan tubuhnya lebih naik dan menempatkan kepalanya di atas kepalanya dengan baik, saat itu dia hanya bisa melihat sahabatnya yang tertidur di pesisir ranjang.


"Man ...,"seru lirih Almira dengan kedipan matanya yang lamban dan jari-jemarinya bergerak kecil.


Almira merasakan tubuhnya kaku, bahkan perutnya pun masih merasakan nyeri, begitupun dengan kakinya yang bergeming seperti tak ada tenaga di dalam dirinya itu.


Mendengar sayup-sayup suara Almira, Manda lekas terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membangunkan jiwanya yang masih terbawa oleh alam bawah sadarnya.


"Ra ... Lu udah sadar?! Gimana perasaannya? Udah enakan tubuhnya, atau ada rasa sakit gitu, di bagian mana, nanti gue panggilkan dokter ya ...,"tanya Manda beruntun sambil memeriksa bagian tubuh Almira dengan menyisir bagian tubuh Almira dengan sorot matanya tanpa memberikan waktu Almira untuk menjawab pertanyaannya itu satu per satu.


Almira terkekeh sambil menahan nyeri yang berdenyut di bagian perutnya. "Iya ... Lu kenapa jadi bawel sih."


"Ya gimana gue gak panik, tiba-tiba suami lo itu telepon gua buat tungguin lo di ruang ugd terus dia buru-buru cabut tanpa menjelaskan apa yang terjadi sama elo,"urai Manda berambisi.


Netra Almira tiba-tiba saja teralihkan dari Manda, dia menyisir setiap sudut ruangan inapnya itu, dan yang dia lihat hanya sofa yang ada di sudut kanan, beberapa benda-benda rumah sakit dan aroma obat-obatannya yang menusuk hidungnya.


"Kak Royyannya kemana sekarang?"tanya Almira lirih.


Seraya menoleh ke arah sorot mata Almira terlempar, Manda mulai menggerakkan mulutnya lagi. "Lagi ketemu sama dokter, soalnya tadi dokter emang nyari Royyan,"jelas Manda kembali menetapkan tatapannya pada Almira yang terbaring lemah.


"Ada apa sih sebenarnya, kenapa lu bisa masuk ugd sih, tadi kan gue belum sempet nanya Royyan?"tanya Manda serius.


Bola mata kucing itu membeku sejenak, angannya tenggelam pada rekaman memori miliknya, mengingat kejadian sebelum dirinya terbaring di ranjang rumah sakit kini.


"Gue jalan ... Mau nyamperin kak Royyan, terus dari belakang ada motor yang jalannya cepet kayak angin, wuuush ...,"terang Almira sambil melayangkan satu tangannya bergerak dari arah kiri ke kanannya, membuat Manda terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu.


Manda tarik tangan Almira yang masih melayang di udara itu untuk kembali masuk ke dalam selimuti polos rumah sakit. "Udah ah lu lagi sakit malah ngelawak."


Gadis itu masih merangkai senyuman lemahnya sambil memegangi perutnya yang masih saja terasa nyeri. "Ya pokoknya gitu ya, terus gue ketabrak sama motor itu, gue kebanting sampai membentur mobil di depan, perut dan kepala gue membentur mobil itu, terus gue jatuh dan kepala gue kebentur lagi di bawah,"sambung Almira.


"Euum ...." Manda mengangguk heran.


Pikirnya sangat mustahil jika ini adalah ketidaksengajaan dan orang itu melarikan diri karena takut akan bayang-bayang jeruji besi, tangan kecilnya menopang dagu sambil dia melukisakan beberapa praduga.


"Gue yakin ini ulah seseorang Ra, gak mungkin kalau hanya kecelakaan biasa, terlalu aneh kalau diduga kecelakaan,"duga Manda penuh keyakinan.


"Iya ... Gue juga nyangka gitu, tapi siapa? Gue gak ada dugaan siapa yang berani melakukan ini, kecuali si Rala, karena selama ini gue cuman ribut sama dia, kalau kak Royyan bermasalah dengan Dirta. Kemungkinan di antara mereka berdua."


Perbincangan mereka tiba-tiba saja terputus karena kedatangan seorang pria berbadan besar, bayangan hitamnya menyelinap masuk secara perlahan. Dari bayangan itu tampak derai kelam meringkuk di bahu lebarnya.


Dari arah sana keluar lah Royyan yang tampaknya berusaha untuk tersenyum, langkah gontainya perlahan mendekat seraya menyugar rambutnya ke belakang.


Menyadari kehadiran Royyan di sana, Manda segera menyingkir dari ranjang dan melangkah keluar. "Gue mau nyari makan dulu ya,"pamitnya berangsur menyurut keluar.


"Tanks ya Man ..."ucap Royyan menoleh pada Manda saat dia tiba di dekat istrinya.

__ADS_1


"Oke, santai aja." Manda berlari kecil keluar dari ruang inap itu.


Royyan mengendurkan bokongnya ke atas ranjang tepat di samping sang istri yang terbaring lemah di sana, dia raih salah satu tangan istrinya dan digenggamnya erat dengan sorot mata yang meredup dan terjatuh ke bawah, lantas dia menghela napasnya panjang mencoba untuk menenangkan jiwanya yang lemas.


"Kenapa?! Kok lesu,"tanya Almira mengelus tangan sang suami yang tengah menggenggam salah satu tangannya.


Royyan tarik tatapannya menuju pada Almira dan dia kembali tersenyum. "Gak papa sayang ...,"kilah Royyan berbohong.


Menyadari jika sang suami bersikap aneh, Almira lekas mengubah posisinya menjadi terduduk, walau rasa nyeri mengendap terus di perutnya, dia berusaha untuk tetap duduk dan berpegangan pada salah satu lengan kekar sang suami.


"Kenapa bangun, tidur aja sayang ...,"ucap Royyan sembali menggenggam pinggang Almira dengan erat.


"Gak papa, aku bisa kok,"tepis Almira.


Royyan putar tubuhnya dan menaikkan satu kaki ke atas ranjang, membuat dada lelaki itu menghadap pada tubuh mungil Almira. "Gimana keadaan kamu sayang,"tanya Royyan dengan tatapan sendunya sambil membuai wajah sang istri dengan lembut.


"Euum ...,"gumam Almira mengangguk kecil, "aku baik-baik aja." Tubuh gadis itu perlahan bergeser dan menghamburkan tubuhnya tenggelam ke dada bidang sang suami, matanya terpejam di sana sambil mendekap tubuh kekar lelaki itu.


Royyan elus punggung Almira dengan lembut, dan satu tangannya tetap berada di bagian sisi lain dari tubuh sang istri untuk memperkuat posisinya kini yang tengah menopang tubuh Almira.


"Selama satu bulan ke depan kamu jangan kemana-mana ya?"pinta Royyan berbisik di telinga Almira.


Sontak bola mata Almira melebar, tetapi dia tidak berniat untuk melepaskan dekapannya karena kehangatan ini sungguh nyaman, ingin rasanya Almira tetap tenggelam dalam kehangatan itu tanpa berpikir kapan ia akan berakhir.


"Kenapa? Apa ada yang terjadi?"


"Pulihkan kondisi kamu dulu, dan kamu akan di rawat di rumah, dokter dan suster sudah aku pinta untuk datang langsung ke rumah mami dan papi, aku gak bisa bawa oranglain masuk ke rumah kita, terlali berisiko,"beber panjang Royyan mendorong tubuh Almira dengan penuh kelembutan dan perlahan gadis itu terbaring kembali di ranjang.


Perlahan Royyan tarik tubuhnya ke atas. Sambil membelai ribuan helai rambut coklat keemasan itu. "Kalau kamu keluar pastikan kamu tidak sendirian dan jangan lepaskan genggaman tangan kamu dari siapapun,"urai Royyan dengan penekanan suara yang tegas.


Walau Almira merasa ada yang aneh, tetapi gadis itu lekas tersenyum dan mengangguk. "Iya ... Aku baik-baik aja kok, kenapa kamu begitu sih, anak kita juga baik kan?"


Degh!


Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir kecil Almira. Rasa sesak kembali mengendap dan mengirimkan buihnya hingga mencekal aliran pernapasan lelaki itu, dalam sekejap warna merah mengepul di bola mata kecoklatan Royyan.


"Aku ada urusan sebentar ya sayang, kamu istirahat dulu dan jangan banyak gerak, sebentar lagi Manda selesai dan suster akan menemani kamu,"kilah Royyan mangkir dari pertanyaan Almira.


"Euum ... oke."


Royyan lekas berdiri dari sana sembari menahan sesak yang menyakiti dadanya. Tapi beruntungnya Anneu segera tiba bersama dan gegas masuk ke dalam ruangan itu.


"Ra ... Almira ...."seru Anneu menyerukan nama Almria dengan nyaring.


Almira terkekeh mendengar suara kakak iparnya itu begitu bahagia menyerukan namanya. " Iya kak Anneu ..."sahut Almira lirih.


Anneu yang membawa buket buah-buahan segera meletakkan buah-buahan itu ke atas meja yang berada di depan meja, sedangkan dirinya berayun mendekati Almira, sebelum itu wanita berambut bergelombang itu melekatkan tatapannya pada Royyan yang tenagah berdiri di tengah-tengah ruangan.


"Katanya ada urusan penting, udah sana pergi aja, Ra aman sama kakak."


"Oke kak." Royyan berlalu pergi dengan menghindari tatapan Almira.


Pria itu nampak lesu setiap melihat Almira, wajah cantik istrinya tak lagi membuatnya bergairah, semuanya telah berubah menjadi rasa sakit .yang mungkin akan dirasakan oleh Almira juga, jika dia mengetahu hal sebenarnya.


Kak Royyan kenapa sih, kayak ada yang beda, bajunya juga bau alkohol. Apa lagi banyak kerjaan ya jadi lesu begitu.


Batin Almira berseru yang membuah dahi gadis itu menjadi berkerut.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2