
Bangunan tinggi terberumbun hampir mencium langit dengan pagar yang sama menjulang tingginya melebihi dari rumah mewah itu, dengan luas yang menyerupai lapangan golf dengan rancangan bergaya amerika bak sebuah istana dalam dunia dongeng di buku-buku fantasi. Rumah itu di fasilitasi dengan parkiran yang luas dan taman bunga di belakang rumah dilengkapi dengan pohon besar sebagai tempat berteduh, ada pula ruangan khusus gym.
Di dalam rumah itu terdiri dari 12 kamar, tujuh kamar mandi, lapangan basket dan juga barang-barang mewah lainnya, ada beberapa darinya adalah guci pahatan langka yang sulit untuk ditemukan. Rumah itu memiliki 12 asisten rumah tangga empat satpam dua sopir pribadi dan pekerja lainnya. Nyonya dan tuan di rumah itu hanya dua orang saja, dan rumah ini sangat tertutup dari publik. Sang pemilik rumah yakni Royyan membangun rumah itu tanpa sepengatahuan siapapun kecuali sekretaris pribadinya dan sang istri yaitu Almira.
Royyan yang tidak sengaja tertidur di ruang kerjanya segera membuka matanya, dia mengerjapkan matanya untuk mencoba memulihkan keadaan. Dia gerakkan lehernya ke kiri dan juga ke kanan, melenturkan otot-otot leher yang sempat kaku karena posisi tidurnya yang kurang baik.
"Mbak Syani, aku pergi keluar ya."suara seseorang di luar terdengar jelas sampai ke ruang kerja Royyan yang berada di dalam kamar utama dari rumah itu.
Wajah yang masih mengantuk itu terlihat terkejut, dia segera tunggang-langgang keluar dari ruangannya dan juga dari kamarnya, dia melangkah panjang menuruni tangga rumahnya, melewati tiga tangga panjang tersebut. Karena dia sedang berada di lantai tiga rumahnya.
"Ami mana?"tanya Royyan pada salah satu asisten rumah tangganya dengan tergesa-gesa, dan juga dia tidak menyadari jika semua kancing bajunya terbuka.
Tubuh sixpack-nya begitu sempurna, sehingga asisten rumah tangganya itu menunduk dan juga memejamkan matanya, tak berani membukanya lagi. Pikirnya sangat tidak sopan melihat keindahan tubuh pria milik wanita lain.
"Keluar tuan, katanya mau ke butik."
"Ah Sial!"kutuknya seraya berkacak pinggang.
Pria bertubuh proporsional itu berangsur dan juga berlari keluar dari rumahnya, mengejar istrinya dengan penuh kepanikan. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebelingsatan dari raut wajah tampannya itu.
"Ami tunggu!"Royyan menarik lengan Almira dan menahannya untuk melangkah lagi.
"Kenapa sih kak? Udah ah aku telat, aku mau ke butik,"tepis Almira menarik tangannya dari genggaman Royyan.
Tetapi itu tidak mudah, lengan Almira masih bertahan dalam genggam Royyan yang semakin lama menjadi lebih lekat.
"Gak boleh! Kembali ke rumah,"
"Hah?! Gila ya kamu. Aneh banget sih, udah lepasin kak,"Kali ini Almira menarik tangannya lebih kuat dari yang tadi.
"Aku bilang masuk!"tegas Royyan.
"Gak mau! Wlee...."Almira membantah seraya dia menjulurkan lidahnya, dia tetap melangkahkan kakinya keluar tanpa menggunakan mobil dan sopir yang telah sengaja di persiapkan oleh Royyan.
Royyan berkacak pinggang terus memandangi istrinya melangkah menjauh darinya menuju gerbang tinggi yang melindungi rumahnya dari para tetangga yang sukanya bergosip.
Ini cewek emang keras kepala banget, kenapa gua bisa suka sama dia ya? Walaupun ini adalah perjodohan, tapi dari awal gua udah suka sama dia. Nih kalau kelamaan ngebantah gua ajak tidur juga, sumpah!
"AMI! Nurut atau aku seret kamu."ancam Royyan mencoba menggertak istrinya untuk nurut padanya.
"Bomat!"sahutnya tanpa membalikkan badannya.
"Mau main-main ternyata, oke!"ucap Royyan berbisik.
Royyan menyeka wajah sampai dia menyisir rambutnya dengan kedua tanganya ke belakang, mencoba menahan diri untuk tidak melakukan suatu hal diluar kendalinya. Lalu dia melangkah dan berlari mengejar Almira yang baru tiba di gerbang. Dengan sigap Royyan mengarik tangan Almira, dia tarik sampai istrinya kehilangan kendali dan berakhir dalam dekapannya.
"Akh...."wanita yang menggunakan gaun sedikit ketat itu terkejut dan berteriak kecil. "Apa-apaan sih kak, mau kamu apa sih, kita sepakat untuk hidup masing-masing dalam rumah ini dan aku mengabulkannya, apa lagi sih?"Almira meronta-ronta memukul-mukul dada bidang milik suaminya itu, sesekali dia juga mendorong Royyan agar dia bisa lepas dari jeratan tangan suaminya yang kini melingkar dengan erat di pinggangnya.
"Ayo balik rumah."
Almira membuntang, memburu napasnya kesal. Lekas dia membuang wajahnya dari tatapan Royyan.
"Gak mau."
__ADS_1
"Gak menerima penolakan,"sanggah Royyan seraya tangannya menjalar ke lengan wanita bertubuh mungil itu dan menariknya kembali ke dalam rumahnya.
"Akhh .... gak mau, aku bilang gak mau kak, aku mau ke butik, kerjaan aku banyak disana, jangan aneh-aneh deh, kamu kerja sampai larut malam dan kita bukan suami istri sungguhan, kenapa aku harus ada di rumah terus."berontak Almira berusaha melepaskan jeratan tangan Royyan.
"Kerja di rumah."Royyan masih terus menyeret Almira bersamanya.
"Gak mauuuuuu...."Almira merengek sampai dia menangis.
Royyan masih mengabaikannya dan terus menarik tangan sang istri untuk masuk kembali ke dalam rumah. Dan kini mereka telah kembali ke dalam rumah, di ruang tengah yang sama luasnya dengan ruangan lainnya. Baru beberapa langkan Royyan membawa Almira kembali, wanita berambut panjang ikal coklat keemasan itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke bawah merengek seraya dia menangis dan mengayuh kakinya di tempat.
"Kamu kenapa sih? Aku kan mau keluar, aku mau makan-makanan enak, aku mau jalan-jalan,"Almira terus merengek di bawah, sampai Royyan kewalahan dan akhirnya melepaskan genggamannya pada sang istri.
"Iya. Besok aja, jangan hari ini,"sahut Royyan berdiri di hadapan Almira yang duduk di lantai.
"Why?"pekik Almira kesal seraya dia berdiri dan merapikan pakaiannya.
Royyan diam. Lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaan Almira, sudah ke sekian kalinya Royyan menghindari pertanyaan semacam itu dari istrinya. Dia tidak bisa menjawabnya, entah jawaban seperti apa yang pas untuk diberikan pada Almira, sosok wanita yang memiliki keingintahuan yang besar.
"Woii!"Almira mendorong tubuh Royyan yang tengah termenung di hadapannya sedikit keras.
Saat itu juga Royyan mengerjapkan matanya dan sadar dari lamunan tentang masa lalu yang tidak ada habisnya, masa lalu yang selalu berhasil menjadi hantu dan juga kebisingan dalam pikirannya. Dia berusaha untuk menyembunyikan segalanya dari siapapun, bahkan dia menyembunyikan lokasi tempat tinggal sesungguhnya.
Elu udah merenggut kekasih gua, jadi jangan harap elu akan mendapatkan kebahagiaan lu. Gua akan balas dendam pada wanita manapun yang akan menjadi pasangan lu, camkan itu! Elu gak pantes bahagia.
Seorang pembunuh tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.
Gua akan jamin bahwa hidup lu gak akan tenang. Wanita gua sudah gak ada dan elu gak berhak untuk bahagia setelah elu menghabisinya dengan kejam.
Secarik kertas masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa izin, dan entah siapa pengirimnya, surat tanpa pengirim itu selalu datang di setiap bulannya dalam balutan amplop berwarna hitam. Royyan geram, mengeratkan cengkeramannya seraya meremas surat itu sampai tidak berbentuk lagi, lantas dia lempar sekuatnya ke tong sampah yang ada di pojok kanan di dalam ruangannya.
Besok tepat hari ke 3.640 hari Elshara mengalami kecelakaan tragis itu, selama bertahun-tahun Royyan tidak pernah bertemu dengan Dirta, kecuali Ajun. Pria bermata almond itu sering berkunjung ke kantor Royyan untuk sekedar bertegur sapa dengan sang sahabat.
Seperti hari ini, untuk ke tiga kalinya dalam satu bulan Ajun datang berkunjung ke kantor Royyan dan menemui pria bertubuh bugar itu di ruangannya yang dilengkapi dengan kedap suara. Ruangannya sangat sempurna, cctv terpasang di setiap sudut dan hanya dia yang bisa memeriksa rekaman cctv tersebut.
"Hello mas bro!"sapa Ajun sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan Royyan.
Royyan yang sedang terduduk di kursinya depan laptop pribadinya segera mendongak setelah suara Ajun masuk ke dalam telinganya dengan lantang. Tatapan tajam khas milik Royyan masih belum berubah walau sembilan tahun sudah berlalu dan Ajun masih sangat mengenali hal itu.
"Dari mana lagi sekarang?"celetuk Royyan langsung bertanya tanpa mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk terlebih dahulu.
"Biasalah ada sidang di kantor pusat, kebetulan lewat kantor lu, yaudah mampir, boleh dong masa gak boleh sih, kita kan sohib masa ngelarang, sohibnya ma-"
"Ya ya ya. Duduk lu, mondar-mandir mulu,"titah Royyan yang sudah lelah mendengar ocehan Ajun yang tidak pernah kehabisan energi.
Ajun menaikkan kedua alisnya, lantas dia berangsur ke sofa di depannya dan dia terduduk di sana seraya menyerembabkan tubuhnya di sofa itu, kemudian dia memejamkan matanya.
"Lu masih inget tulisan Dirta?"tanya Royyan tiba-tiba saja.
Pria berambut French crop itu segera membuka matanya lagi, dia benar-benar terperanjat, setelah sembilan tahun lamanya, dia baru mendengar nama temannya itu lagi, atau lebih tepatnya disebut sebagai mantan teman.
"Kenapa lu nanyain dia, semenjak hari itu kita gak pernah membahasnya, dan selama itu juga kita gak pernah tahu keberadaannya kan?"ucap Ajun yang segera merubah posisinya menjadi duduk dan memasang wajah serius.
Selama bertahun-tahun Royyan tidak pernah menyebutkan nama Dirta dari mulut kecilnya yang kemerahan, bukan karena liptint atau pewarna bibir, tetapi memang warna bibirnya sudah semerah itu dari sejak dia lahir ke dunia ini.
__ADS_1
"Ini."Royyan menjulurkan beberapa kertas yang telah datang ke kantornya selama tiga bulan terakhir ini, sembari dia duduk di dekat Ajun.
Tanpa ragu, Ajun segera meraih beberapa carik kertas itu dan membacanya dengan serius tanpa ada satu kata pun yang terlewat dari kejelian matanya.
"Lu dapet ini dari kapan?"tanya Ajun, nada suaranya berubah menjadi sangat serius.
"Tiga bulan yang lalu, datangnya satu-satu."
"Gua gak inget tulisan Dirta, kita udah sembilan tahun gak lihat dia, jadi ya mana gua inget lah,"tepis Ajun setelah dia berusaha mengingat tulisan Dirta bentuknya seperti apa.
Royyan menghenyakkan punggungnya ke belakang, bersandar pada kursi yang dia duduki. Dan dia kembali termenung di hadapan Ajun, isi kepalanya kembali berisik dengan segerombolan pertanyaan yang entah dimana dia harus mencari jawabannya. Melipat kedua tangannya ke depan dengan iringan kernyitan dahi yang menegang.
Gua yakin ini pasti Dirta, gak ada orang lain yang menyalahkan kematian El karena gua. Mulai sekarang gua harus waspada, gua harus sewa mata-mata bak kain transparannya doraemon.
"Udahlah Yan, abaikan aja dulu, sambil elu mencari tahu dari mana surat itu berasal,"saran Ajun mencoba menenangkan Royyan.
Raut wajah Royyan benar-benar tidak enak untuk dilihat. Parasnya yang selalu tajam dengan dingin yang melekat khas dirinya sendiri itu dengan segera merebak ke seluruh wajahnya. Membuat Ajun tak bisa berkata apa-apa lagi, sehingga dia memalingkan pandangannya ke arah lain, yang tidak lain yaitu sebuah biskuit rasa coklat yang berada di sudut meja di depannya.
Enak kayaknya tuh biskuit, daripada lihat muka si Royyan bikin sepet.
Ujar batin Ajun sambil tangannya merambati meja dan berakhir mengambil biskuit coklat itu, sedangkan di sampingnya ada se-kotak strawberry berukuran sebesar kepalan tangannya yang juga sama lebarnya dengan Royyan. Lalu dia lahap biskuit coklat itu dan mengunyahnya seraya menaikkan kedua alisnya dan juga mengangguk, setuju dengan lidahnya, jika biskuit ini memanglah lezat.
"Ini enak Yan! Beli dimana nih?"celetuknya dalam keadaan Royyan tengah beprikir keras.
Perlahan Royyan menoleh dan menatapi Ajun dari ujung kepala hingga ujung kakinya, dan terhenti di lengan Ajun yang kini sudah menggenggam biskuit miliknya itu, lantas dia pun menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikiran Ajun. Di saat kegelisahan sahabatnya, dia masih bisa makan dengan tenang, dan wajah yang ceria seperti baru pertama kali makan biskuit tersebut.
"Enak?"tanya Royyan dengan suara beratnya yang merendah.
"Hmm, enak banget nih, gua abisin ya,"
"Serah! Abisin aja,"
"Thankyou, thankyou, thankyou...."jawab Ajun nampak gembira, dia tak berhenti untuk terus melahap biskuit yang ada di hadapannya itu.
Membuat pria berambut mullet itu terus menatapi sahabatnya seraya melipat kedua tangannya di depan, kemudian disusul dengan gelengan lembut seraya melukiskan senyuman tipisnya, namun masih saja wajah itu terlihat dingin dan tegas dengan tatapan tajamnya yang khas.
Tidak habis disitu, Ajun masih melirik pada strawberry segar yang masih terbungkus rapi, strawberry seukuran dengan kepalan tangan itu sungguh menggugah selera, sepertinya jika masuk ke dalam mulut akan sangat menyegarkan. Dalam satu waktu itu juga Ajun melirik pada Royyan, menukar mata dengannya memberikan petunjuk jika dia menginginkan buah segar di hadapannya itu.
"Jangan!"ucap Royyan tegas tanpa menoleh, dia masih tetap bekerja di laptop pribadinya, sedang dia duduk di samping Ajun.
"Lu kagak noleh, tapi tahu aja apa yang gua maksud, lu punya dua belas mata ya,"walaupun dia tahu telah memintanya melewati isyarat mata, tetap saja dia masih terkejut mendengar jawaban Royyan.
"Gua kagak tidur, jadi masih bisa lihat,"sahutnya yang terus mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Punya siapa emangnya, punya elu, sejak kapan elu suka strawberry, biasanya kan elu suka buah peach,"
"Lu tahu siapa orangnya,"
Sejenak Ajun tergemap dan berpikir, siapakah orang penyuka strawberry yang di maksud. Selang beberapa menit kemudian, dia mulai menyeringai dan mengangguk, setelah dia baru sadar siapa pemilik strawberry itu.
"I know, who you mean."
Bibir kecil Royyan menyeringai hangat, bola matanya pun seketika berbinar-binar memancarkan cahaya yang tak biasanya Ajun lihat. Pria dengan mata downturned itu mengangguk, seolah mengerti apa yang sedang terjadi pada sang sahabat. Lekas dia mengabaikannya dan bersandar ke sofa seraya memainkan ponselnya.
__ADS_1
NEXT....