Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 95 : Sekali lagi lu berkata kasar sama istri gue ....


__ADS_3

"Ternyata lu gak pernah sadar El,"celetuk Royyan mendongakkan tatapannya yang tadi terjatuh lelah.


"Maksud lo?"Elshara mengernyit heran dengan derap jantung yang berdebaran hebat.


Satu tangannya menggenggam lembut pergelangan tangan sang istri yang meraba pinggangnya dengan erat, dia tarik pergelangan tangan Almira ke belakang, menyembunyikan tubuh gadis mungil itu dengan penuh.


"Dari sejak kedatangan lu ke dalam hubungan persahabatan gue, Ajun dan Dirta, gua adalah satu-satunya orang yang bersikap dingin dan sering kali menolak semua keinginan elu, dari dulu gue selalu nolak apapun yang elu mau, kenapa lu masih belum mengerti, bahkan saat di Bali gue dorong lu sampai terjatuh, apakah itu belum membuktikan kalau gue muak lihat semua perlakuan elu,"beber panjang Royyan dengan dahi yang mengerat.


Tatapan Elshara berderai pilu, kepala kecilnya menggeleng dan kaki jenjang itu melangkah dengan terbata-bata ke belakang, "Yan! Dia baru datang ke kehidupan lu, kenapa dia yang mendapatkan elu, kenapa bukan gue Yan, gue sangat mencintai elu, dari dulu rasa itu selalu sama,"lirih Elshara merembah sembiluan, ribuan kristal berjatuhan dari bola matanya membasahi pipi tirusnya yang di rias dengan sempurna.


"Cinta itu datang bukan karena orang lama atau orang baru, gue gak bisa memilih siapa yang akan gue cinta, tapi hati gue milih istri gue, dan cinta itu semakin kuat saat kita menikah, tolong jangan ganggu gue El, gue gak bisa hidup tanpa Ami,"pinta Royyan merekatkan genggamannya pada pergelangan tangan Almira.


"Lu jahat Yan ... lu tega banget sama gue, gue juga gak bisa hidup tanpa elu Yan, gue harus bagaimana biar lu mau sama gue Yan, kasih tahu gue biar gue bisa menggantikan wanita tidak pantas itu,"tunjuk Elshara getir dengan air mata yang berhamburan azmat di pipinya, sehingga seluruh raganya bergetar mendorong sesak di dada.


"Heh! Sialan!"Almira melangkah terbakar emosi, gadis itu mendorong Elshara kasar sehingga melempar genggaman tangan Royyan dengan sembarangan. "Sadar gila! Lu itu wanita gak tahu diri tahu gak, udah di tolak berulang kali masih aja ngejar-ngejar,"cibir Almira dan tatapan tajam yang sempat meredup tadi seketika mengelilingi diri Almira dengan cepat.


"Ini semua gara-gara elu,"tepis Elshara yang masih menangis, langkahnya melakukan pemburuan lagi pada wanita mungil di hadapannya, sekali lagi Elshara mendorong Almira sampai terpental ke belakang membuat bola mata kecil di sana melebar, "kalau lu gak ada gue udah jadi wanita Royyan, lu itu pengganggu! Gue benci sama elu Ra, gue nyesel muji-muji lu yang ternyata rendahan!"sambung Elshara dengan kata-kata yang lebih kasar.


Garis-garis di wajah Almira mengerat, hidungnya mengerut gahar, jiwanya kembali terbakar emosi dengan kayu bakar yang lebih banyak lagi, tetapi Almira belum sempat menghakimi gadis itu, sang suami sudah lebih dulu menggemakan suaranya yang berat dan tegas.


"STOP!"pekik Royyan memecahkan keheningan yang ada di sana, sampai para mega di atas bergetar dan cahaya rembulan, para mega berkumpul di satu titik untuk saling mendekap menghindari keganasan tatapan Royyan yang lebih meruncing.


Tubuh kedua gadis itu bergetar ketakutan termasuk Manda yang berada jauh dari ketiganya ikut merasakan betapa mencekamnya pekikan Royyan, raut wajahnya memerah padam dengan tatapannya yang menajam hebat. Pria itu melangkah ke hadapan Elshara dan menutupi seluruh raga sang istri.


"Sekali lagi lu berkata kasar sama istri gue, gue gak akan segan-segan untuk menyingkirkan elu dari hidup gue, Ajun bahkan dari kehidupan Dirta, camkan itu!"gertak Royyan dengan deru napas yang menggebu-gebu seraya dia menunjuk-nunjuk Elshara dengan getir, lalu dia lempar tangannya yang menunjuk itu ke arah lain dengan kasar.


"Yan! Kenapa sih lu tega banget,"protes Elshara menghentikan tangisannya, dia seka air mata yang membasahinya itu dengan kasar, menghapus sebagian riasannya yang menempel.


Royyan berhembus kasar, seraya dia berkacak pinggang lelaki itu berputar dan menarik istrinya pergi bersama dengannya, "eh ... kak,"protes Almira memutar-mutar pergelangannya yang terpenjara dekapan tangan Royyan, tetapi pria itu tidak menggubris apapun, termasuk panggilan Elshara yang memekik memanggil nama Royyan.


"Royyan ...."panggil Elshara lagi, tubuh gadis itu sampai menganjur ke depan, suaranya yang lantang membuat keramaian menjadi sunyi.


Manda yang berada di posisi semula segera mengayuh kakinya mengejar Royyan dan Almira yang berjalan keluar dari taman tersebut, dalam sekejap mata suasana taman kembali semula, mengabaikan Elshara yang tersungkur ke bawah dalam keadaan punggung yang bergetar hebat, butiran kristalnya berjatuhan menyiram rumput hijau yang sudah menipis itu.

__ADS_1


Dentuman hatinya yang bergetar pilu mendesak darah yang mengalir menjadi tersendat, menghentikannya sejenak sampai butiran kristal itu berjatuhan deras membendung menciptakan danau air mata yang panas membakar.


Semua mata menatap sendu pada gadis yang tengah menangis tersedu-sedu itu di sana, tapi satu orang pun dari mereka tidak ada yang berani untuk mendekati Elshara, langkah mereka bergulir begitu saja membiarkan Elshara menangis sampai sedunya menghilang bersamaan dengan angin yang menguap menjadi bulatan awan putih yang kini tengah menghitam.


Dari tempat lain, Royyan menarik Almira sampai tiba di parkiran, lekas dia dorong sang istri untuk masuk ke dalam mobilnya, walau Almira menolaknya lelaki itu tetap memaksa istrinya untuk masuk.


"Cepet masuk,"titah Royyan menahan tubuh Almira di depannya dengan satu kakinya menempel di pintu mobil dimana kedua kaki Almira berada di dalamnya.


"Apa sih kak, aku kan lagi sama Manda, awas ih,"protes Almira memelas seraya menyingkirkan dada Royyan darinya, tetapi tubuh pria itu terlalu tangguh sehingga Almira tidak bisa mengubah posisi sang suami.


"Masuk."tegas Royyan, "Manda sudah sama Ajun, udah cepet masuk sebelum aku seret kamu ke kamar,"tambahnya seraya mendekati telinga Almira dan menahan satu tangannya dengan pintu mobil tersebut.


Degh!


Jantung Almira seketika berdebar hebat, kekuatan detaknya meningkat dari biasanya karena angannya melukiskan banyaknya sentuhan dan kepasrahan yang harus dia lakukan untuk memenuhi kepuasan Royyan dalam permainan malam panasnya, tiba-tiba raga Almira mengendur lemah, urat-urat sekujur tubuhnya mendadak jadi kendur tak lagi sekuat tadi.


"Emangnya kenapa sih kak, aku kan cuman jalan-jalan di taman doang, gak pergi jauh,"pungkas Almira lirih, wajahnya tertunduk memudarkan cahaya di matanya yang tadi sempat bersinar.


Royyan melepaskan jeratan tangannya pada tangan Almira begitupun dengan kakinya yang ikut mengendur, lalu dia turunkan sedikit lututnya menyejajarkan tinggi badannya dengan Almira, tepat hidungnya berada di depan bibir Almira.


Wanita bermata kucing itu mendongak sehingga menempatkan hidungnya berada di hidung lancip sang suami, lalu dia memalingkan wajah seraya menarik kedua tangan ke belakang tubuhnya.


"Itu kan beda ceritanya, gimana sih kamu,"decak Almira pelan.


Royyan apit dagu Almira dan membawanya untuk menatap padanya, "oh ya,"serunya yang kemudian menerjunkan kecupan kecil di bibir manis milik Almira sehingga gadis itu mengerjap dan menampar lembut pipi Royyan.


"Ish kamu, gak lihat situasi lagi dimana,"protes Almira mengeratkan tatapan matanya.


Pria kekar itu tertawa sambil dia menundukkan kepalanya, satu detik kemudian tangan yang menggantung di bahu Almira segera menarik punggung sang istri untuk masuk ke dalam dadanya.


"Sekarang kita pulang ya, aku ada banyak kerjaan, tapi kalau gak lihat kamu di rumah rasanya seperti tidak hidup,"ujar Royyan menekan punggung Almira lembut, melekatkan dekapannya.


"Gombal banget sih kamu,"jawab Almira seraya dia merangkai senyuman tipis di wajahnya, dia tenggelam dalam kehangatan yang dikirimkan oleh dada lebar milik sang suami, sedangkan kedua tangannya yang menganggur di belakang lekas dia tarik ke belakang tubuh sang suami, dia mendekap Royyan dengan erat.

__ADS_1


"I Love you my wife,"bisik Royyan di belakang telinga Almira, kemudian kecupan kecil kembali mengalir ke belakang telinga Almira.


Sontak raga wanita itu membeku, merinding. Hatinya sangat bahagia sampai rasanya di dalam dada sedang beradu percikan cinta yang sama besarnya, wajahnya semakin tenggelam ke dalam dada lebar itu dan lingkaran tangan di sekitar tubuh Royyan semakin melekat, dengan sigap Royyan membalas dekapan Almira dengan lukisan senyum yang lebih mengembang.


"Aku menikahi mu karena cinta, bukan hanya karena perjodohan,"celetuk Royyan tiba-tiba saja.


"Tapi waktu itu, bukannya kamu nikah sama aku karena kerjasama perusahaan orangtua kita,"tepis Almira masih mengingat bagaimana awalnya hubungan mereka di mulai.


Royyan mendengkuskan senyuman kecilnya, lalu melepaskan dekapannya, dia buai wajah sang istri dengan lembut, tak lama dari itu lelaki itu menekankan kecupan di kening Almira yang hangat membuat gadis itu kembali mendongak menatapi sang suami dengan dalam.


"Aku akan ceritakan segalanya, sekarang kita pulang,"pungkasnya seraya dia membuka pintu mobil yang ada di belakang tubuh Almira.


Tanpa berontak lagi, Almira segera masuk ke dalam mobil sesuai permintaan dari suamianya, sementara Royyan tetap terdiam di luar seraya menutup pintu itu kembali, lalu dia berlari ke pintu mobil lain dan masuk ke dalamnya, tak lama dari masuknya Royyan ke dalam mobil, kendaraan roda empat berwarna silver itu dengan cepat meninggalkan area taman.


Di belakang dari arah lajunya mobil tersebut, Manda dan Ajun baru keluar dari taman dengan jas yang semulanya ada di tubuh Ajun, kini menggantung di bahu Manda, keduanya berjalan dengan santai tanpa memedulikan siapapun yang tengah memotret mereka.


"Elu gak mau nyamperin sohib lu itu yang lagi nangis menggila di dalam taman,"tanya Manda seraya menoleh pada Ajun yang ada di sampingnya.


Ajun membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang berisikan beberapa butir permen dan satu buah biskuit coklat, isi kantong lelaki itu tidak pernah lepas dari yang namanya makanan, perut Ajun tak bisa menahan lapar walau hanya beberapa menit saja, jika mulutnya tidak mengunyah maka dia akan berbuih dengan lontaran meminta makanan tak ada habisnya.


"Gak ah mager gue, lagian gue belum nyiapin teks dialog beradu bacot sama tuh cewek,"celetuk Ajun memanjangkan sorot matanya ke depan sambil dia merangkai wajahnya dengan senyuman.


Sontak Manda melepas tawanya dengan satu tangan menggantung di bahu kiri Ajun, sedangkan tangannya yang lain dia gunakan untuk menutupi mulutnya karena tawanya tak bisa dia hentikan, perkataan Ajun mengundang gelak tawanya melanting ke udara, langkah keduanya pun sama-sama terhenti di antara dua pohon besar yang saling berhadapan di pintu masuk taman.


"Lu ngapain pake nyiapin teks segala, gila lu ya emang,"kata Manda di selipi tawa yang belum sempat dia tengelamkan lagi, lalu dia dorong bahu Ajun yang sedang dia sentuh.


Ajun ikut mengaram dalam tawa yang di mulai dari gadis bermata almond di hadapannya, dia keluarkan kedua tangannya dari saku celana dan dia lipat di depan dadanya. "Lu tahu sendiri kan tuh anak gimana, gue siapin teks dari para penulis hebat sekalipun pikiran dia tetep aja tertutup, dulu gak gitu tahu,"sahut Ajun dengan di akhiri gelengan kepala yang lembut.


Manda mengernyit tak percaya dengan perkataan Ajun, gadis itu memutar tubuhnya untuk mengarah pada Ajun lebih jelas lagi, "hah?! Bohong lu ya, cewek begitu asalnya emangnya kayak gimana?"


"Euum ..."Ajun bergumam mengingat secuil kisah di masa lalu saat dia berada di dekat Elshara, "dulu dia sama seperti wanita pada umumnya,"celetuk Ajun membuat garis wajah Manda menjadi semakin mengerut.


"Heh!"pukul Manda pelan pada lengan berotot Ajun, "lu pikir dia sekarang bukan cewek begitu, lu ya kagak ada bener-benernya,"sambung Manda dengan senyuman tipis bersemayam di wajahnya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2