Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 117 : Sidang 2


__ADS_3

Ajun menganjurkan tubuhnya di samping Manda yang nampaknya sudah bersiap dengan apapun yang akan terjadi, tangan wanita itu berkeringat dan Ajun melihat dengan jelas ketegangan yang tengah menyelimuti gadis cantik di sampingnya itu. Ajun menegakkan wajahnya ke depan dan memberikan isyarat pada hakim beserta jajarannya bahwa dia sudah siap.


Hakim ketua yang duduk di depan, tepat di tengahnya segera menyengguk. Sementara tangan Ajun secara perlahan menggenggam tangan Manda yang penuh dengan keringat, dia genggam tangan gadis itu tanpa rasa ragu, dia remas tangan kecil itu dengan lembut.


"Tenang ..."lirih Ajun tanpa menoleh pada Manda.


Manda menoleh rengsa, debar jantungnya berhamburan tak karuan membuat raga gadis itu semakin lemah dan sedikit bergetar bahkan dia mengatupkan bibirnya, keduanya melekat. "Euum ..." Manda hanya mampu bergumam dan mengangguk sebagai jawaban dari perkataan Ajun tadi.


Manda .... Fokus. Jangan sampai perasaan elu menjadi boomerang yang akan menghancurkan kehidupan elu, ibu telah merasakan betapa kejamnya cinta, jadi tahan! Lu jangan sampai terjatuh pada cinta yang hanya mampu mendorong lu pada rasa yang tabu, tapi ia tidak akan menjamin, apakah cinta itu akan bertahan atau bahkan akan merajam mu sampai hati mu mati!


Goresan batin Manda berteriak hingga penging dan dinding hatinya bergetar hebat. Lantas dia embuskan napasnya panjang, tak lama Manda merasakan ada benda lembut yang mampu menyerap semua keringatnya, ya! Ajun tiba-tiba saja menyodorkan beberapa tisu ke tangan Manda yang bersembunyi di bawah meja.


Di depan, hakim ketua tengah menelaah beberapa poin yang akan dibahas hari ini, setelah sebelumnya telah di bahas terlebih dulu, saat Manda dan pimpinan agensi itu berada di Paris, Ajun dan pengacara dari pihak agensi sempat mengadakan beberapa sidang untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini.


"Sebelumnya kami telah membahas beberapa poin. Poin pertama yang dibahas oleh pak Ajun adalah tentang hak nona Manda atas sejumlah uang yang harus di bayar oleh agensi, poin kedua dalam perjanjian kontrak nona Manda berhak mengajukan pengunduran diri jika ada yang membuatnya merasa terintimidasi ataupun kesulitan, jika agensi tidak mengabulkannya maka akan di kenai pasal 54 ayat (1) UU ketenagakerjaan yakni sanksi administratif,"jelas hakim ketua itu.


Pengacara dari pimpinan agensi tak lagi bisa berkutik karena poin yang di ajukan Ajun semuanya masuk akal dan tak bisa dibantah lagi. Begitupun dengan pimpinan agensi yang juga tidak bisa melakukan apapun untuk menahan Manda tetap dalam naungannya terlebih tidak memenuhi sejumlah pembayaran yang seharusnya diberikan pada Manda.


Malam sebelum sidang terakhir berlangsung, pimpinan agensi itu mendatangi kedua orangtua Elshara dengan harapan besar jika kali ini pun dia akan selamat dari jeratan hukum dan dia akan meraup keuntungan yang dikumpulkan oleh Manda selama bernaung di agensinya.


Diketahui jika Manda sering mendapatkan setengah bayaran dari yang seharusnya diberikan, berulang kali sang manager 'Eriana' mempertanyakan hal ini, tetapi tak pernah diindahkan oleh pria paruh baya yang memiliki rambut tipis itu.


"Kenapa kamu bermain kotor pada Manda, kamu bodoh atau tidak punya otak!"bentak ayah dari Elshara, wajah lelaki itu sungguh tegang sembari dia berkacak pinggang.


Langkahnya yang tak karuan di depan pimpinan agensi yang tengah tertunduk di atas sofa. "Kamu tahu siapa Manda sebenarnya?"tanya pria itu lagi.


"Saya hanya tahu jika Manda berasal dari keluarga biasa saja, keluarganya hanya memiliki beberapa kedai ayam goreng dan ayah angkatnya seorang pegawai kantoran biasa,"balas pimpinan agensi itu tanpa menyadari posisi Manda bagi keluarga Almira.


"Kamu memang bodoh!"cibirnya lagi meruncingkan tatapannya pada lelaki setengah pelontos itu.


Seketika tatapannya menjungkar hebat, ada benih kemarahan yang tertanam dalam hati lelaki paruh baya itu, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena dirinya tergenggam oleh keluarga Rala, semua kejahatannya terhadap mantan para modelnya.


Ada lebih dari lima belas model wanita dan tujuh model pria yang telah dia rampas haknya dan keluarga Rala berhasil membungkam semua orang itu dengan kuasa hukumnya saat itu, karena hakim ketua saat mereka keluar adalah orang dekat dari keluarga Rala dan sebagai imbalannya adalah Elshara berhak melakukan apapun di dalam agensi itu.

__ADS_1


Di sinilah bom yang seharusnya meledak, Manda adalah kunci kehancuran dari agensi itu, keluarga Rala sekalipun tak mampu berkutik karena mereka dalam cengkeraman perusahaan Remira, selangkah saja dia melakukan kesalahan maka perusahaannya akan luluh lantah rata dengan tanah.


"Keluarga Manda memang bukan apa-apa, tapi Manda adalah sahabat dekat Ra, putri tunggal dari Ressa dan Miranda, mereka telah memberi peringatan terhadap saya, jika saya ikut campur dalam masalah anda kali ini, maka perusahaan saya yang akan menjadi tumbalnya,"terang ayah dari Elshara berdiri di depan kaca besar yang mempertontonkan keindahan alam di luar sana.


"Kenapa anda takut sekali dengan mereka? Kemana power anda saat itu,"kata pimpinan agensi itu yang mengerutkan dahinya.


Dia melangkah untuk mendekati lelaki dengan punggung tegap itu. "Jika anda tidak membantu saya kali ini, maka Rala tidak akan mendapatkan apapun lagi dari agensi, sesungguhnya pekerjaan Rala masih berada di bawah kualitas Manda,"ancam pimpinan agensi itu sehingga menarik amarah ayah Elshara membuncah hebat.


"Jaga ucapan anda! Jika anda berani melakukan hal itu, maka ..."balas ayah Elshara membantai tatapan pimpinan agensi itu dengan gusar, "saya akan bongkar semua kejahatan anda!"tambahnya tanpa segan.


Pimpinan agensi itu bukannya takut, lelaki paruh baya itu malah tersenyum lebar. "Jika hal itu terbongkar maka kita akan hancur secara bersama-sama,"ucapnya kemudian.


Tatapan pria berambut klimis itu menjungkar kuat, garis-garis wajahnya menegang dan rahangnya mengeras. Dia melupakan hal itu, bagaimanapun dia ikut ke dalam jeratan pusaran hitam pimpinan agensi tersebut, dan berakhirlah mereka saling menatap, mengirimkan amarah satu sama lain.


Kedua lelaki itu tidak menemui jalan tengahnya dan mereka memasrahkan dirinya pada takdir yang seharusnya terjadi. Dan kini mereka sudah termangu di dalam gedung pengadilan tanpa adanya pembelaan, membela diri pun percuma karena bukti-bukti yang di bawa oleh Ajun terlalu kuat, bahkan Ajun membawa beberapa model yang sebelumnya tidak mendapatkan hak yang seutuhnya.


"Saya Niria, sebelumnya saya berada di agensi tersebut dengan honor yang seperti di alami oleh Manda, saya hanya mendapatkan setengahnya, katanya honor akan turun ketika job kedua telah saya rampungkan, tetapi semuanya hanya omong kosong,"jelas salah satu model wanita di depan hakim ketua.


"Benar itu, kami keluar dari agensi karena kami merasa diperas bagaikan sapi, kami hanya meminta hak kami, tapi agensi tidak mengabulkannya,"timpal model pria yang tengah berada di samping wanita bernama Niria.


"Interupsi pak ketua, saksi ini tidak bisa di gunakan, karena memiliki kecacatan logika,"cetusnya dengan enteng membuat Ajun mengerut dalam.


Termasuk Manda yang menyerukan napasnya dengan kasar, tatapannya menajam pada lelaki berkacamata itu, Ajun segera berdiri tanpa mengatakan apapun, menunjukkan jika dirinya siap untuk berdebat dengannya.


"Kecacatan logika apa yang tengah anda bicarakan,"tanya Ajun tenang, kacamata yang bertengger di hidungnya memberikan kesan ketampanan yang menajam dari lelaki itu.


Pengacara itu menoleh dengan angkuh, bahkan dia tersenyum miring, seolah sedang meremehkan Ajun, karena dirinya lebih tua dari Ajun.


"Bagaimana bisa kedua orang ini menjadi saksi, mereka adalah teman-teman dari Manda, tidak menutup kemungkinan jika mereka akan membela temannya,"cetusnya lagi tanpa memahami apapun posisi kedua model itu.


Ajun tersenyum miring, lantas dia memalingkan wajahnya dari tatapan lawan dan beralih pada hakim ketua yang tengah menelaah perdebatan kedua pengacara hebat itu. Sang hakim ketua memberikan isyarat anggukan sebagai tanda memperbolehkan Ajun untuk membela diri.


"Klien saya sama sekali tidak tahu menahu mengenai saksi, karena semuanya saya yang mengaturnya, jadi anda tidak bisa mangkir dari fakta,"balas Ajun tak ingin mengalah.

__ADS_1


"Klien saya melakukan semua itu untuk tabungan para modelnya, klien saya adalah pimpinan yang baik, hanya saja para modelnya saja yang tidak mengerti maksud dari semua itu,"bela lelaki yang nampak sudah menginjak umur 40 tahun itu.


Ajun mendengkus, melempar senyuman geramnya keluar. "Jika memang itu adalah cara pimpinan agensi melindungi tabungan setiap modelnya, mengapa?! Di saat para model ingin keluar setelah masa kontraknya habis, hak itu tidak pernah di berikan,"pungkas Ajun berjalan ke depan melindungi Manda dari ketajaman tatapan pimpinan agensi itu.


Bola mata pengacara itu membulat tidak terima jika anak yang lebih muda darinya bisa mematahkan kata-katanya dengan begitu kuatnya. Lekas dia melangkah maju ke depan seperti yang di lakukan Ajun.


"Anda jangan lancang, ini sama saja fitnah, anda tentunya tahu betul bagaimana hukumnya itu,"rajuknya dengan penuh percaya diri.


Sejatinya pengacara itu tidak tahu menahu tentang kejahatan yang sudah di lakukan oleh kliennya, karena kliennya tidak menjelaskan dengan jelas letak kesalahannya ada di mana, pimpinan agensi itu sibuk membela diri tanpa menjelaskan dengan terperinci tentang duri apa saja yang menancap di dalamnya.


"Sepertinya klien anda tidak jujur, ada lebih dari lima belas model wanita dan tujuh model pria yang tidak dipenuhi haknya oleh klien anda, dan kedua saksi ini adalah salah satunya, apa anda ingin saya bawa semua saksinya?! Saya sudah menelaah sampai ke akar permasalahannya,"terang Ajun dengan tenang.


Ajun berbalik kembali ke mejanya, dan dia mengambil beberapa lembar kertas putih yang berisikan bukti transaksi hitam antara keluarga Rala dengan agensi serta beberapa pengacara dan hakim yang saat itu terlibat. Lantas dia melangkah kembali ke depan.


"Ini adalah beberapa bukti jika klien anda melakukan transaksi hitam, di mana beliau membayar hukum agar dia tidak terjerat hukum, ada dua pengacara dan satu hakim ketua yang terlibat, termasuk pimpinan perusahaan Romz Fashion,"tegas Ajun melepaskan tatapannya pada kedua orangtua Elshara termasuk gadis itu juga berada di sana.


Melihat kedua orangtuanya membulat hebat dan kedua tangannya bergetar kuat, Elshara segera berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Ajun, tetapi dia tidak bisa turun ke arena persidangan karena di sana ada dua pengawal yang menjaganya.


"Jaga ucapan lo Ajun!"tunjuk Elshara begar, tatapannya menyiratkan kemarahan yang segera ingin dia lepaskan pada Ajun detik itu juga.


Ajun menoleh dan mengarah pada Elshara, tatapannya terjatuh dengan tenang. Tak lama netra Ajun tertadah melesat masuk ke dalam mata pipih yang memiliki bola mata kecoklatan. "Saya sudah menjaga ucapan saya seperti yang semestinya, saya tidak akan berbicara jika tidak memiliki bukti dan saksi, karena ucapan saya bisa menjadi bom bagi saya."


"AJUN!"pekik Elshara memaksa masuk ke dalam pintu kecil itu.


"STOP!"teriak hakim ketua menggebrak mejanya.


Membuat semua yang ada di dalam ruangan menjadi senyap, bahkan angin pun enggan untuk menyela hakim ketua itu. Pria paruh baya yang sudah sedikit beruban. "Yang tidak berkepentingan dilarang untuk ikut campur dalam persidangan.


Elshara terpaksa mundur dari sana. Dia tidak ingin citranya semakin buruk dan karirnya akan ikut hancur. Gadis itu kembali ke kursinya dengan perasaan geram, gigi-giginya saling bergesekan dengan kuat.


Awas aja lo Jun! Bisa-bisanya lu bela si Manda yang baru lu kenal, sedangkan gue yang udah lu kenal lama malah di cerca. SIALAN!


Geram batin Elshara membulatkan kepalan tangannya hingga urat-urat tangannya menegang bersamaan dengan atmosfer ruang pengadilan menjadi lebih tenang sedia kala lagi, Ajun dan lawannya pun telah terduduk lagi dengan tenang di kursinya masing-masing, menunggu hakim ketua membacakan putusannya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2