
Baru saja Almira kembali ke kamar ponselnya sudah bergetar, segera dia menghampiri ponselnya yang ada di atas nakas dan dia angkat setelah dia mengetahui siapa yang meneleponnya, siapa lagi kalau bukan Sara dan Manda. Tetapi kali ini Almira mengangkat telepon dari Sara karena panggilan telepon Manda terputus terlebih dahulu.
"Ada apa? Saya bentar lagi ke butik,"ucap Almira seraya dia terjatuh di atas ranjang, duduk di pesisir ranjang itu.
"Kak Ra, pintu kak Ra terkunci, apa kak Ra yang menguncinya?"tanya Sara di balik ponselnya.
"Terkunci?"Almira heran, rasanya dia tak pernah mengubah apapun password pintu ruangannya. Tiba-tiba dia sadar, mungkin saja itu ulah Royyan, karena semalam dia pulang bersama suaminya,"oh itu, iya. Tunggu saya."
"Iya kak Ra, dan yang paling penting ... ada banyak wartawan di luar lagi nunggu kak Ra, saya bingung mereka mau ngapain, ada apa ya kak Ra?"
"Itu hanya kesalahpahaman, suruh mereka tunggu aja, nanti saya akan jelaskan."
"Baik kak Ra."
Panggilan telepon berakhir. Almira segera melempar ponselnya ke ranjang dengan sembarang, sedangkan dia melenggang masuk ke kamar mandi, dia tak peduli dengan sabun apa yang akan dia pakai, dia harus bersiap menampilkan wajah polos seolah tak terjadi apa-apa. Seharusnya dia sudah mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik, bisa memerankan karakter dengan sempurna tanpa ada yang mencurigainya.
Haruskah dia datang ke stasiun televisi untuk mendaftarkan diri sebagai aktris top tahun ini, sepertinya Almira akan mendapatkan penghargaan paling bergengsi di Indonesia. Sayangnya dia adalah pelaku fashion, dia hanya merancang busana bukan merancang naskah skenario seperti yang di lakukan oleh Royyan sampai Almira kebingungan sendiri.
Royyan tidak menjelaskan semua masalahnya dengan detail, penjelasan sang suami bagaikan serpihan kaca-kaca yang berserakan di berbagai wilayah, dan dia hanya menjelaskan bagian inti dari sebuah wilayah sedangkan untuk membuatnya semakin jelas kuncinya ada di serpihan lain dari wilayah kecil lainnya.
Belum sampai menit ke tujuh Almira mengguyurnya dengan air yang berasal dari shower yang memiliki suhu air yang hangat, Royyan kembali ke kamar dengan membawakan sabun mandi, shampoo, dan berbagai macam keperluan Almira untuk mempersiapkan dirinya keluar dari rumah untuk bekerja.
"Sabunnya aku simpan di depan pintu,"ucap Royyan dengan nada suara yang tinggi, agar istrinya yang berada di atas shower mendengar ucapannya.
Tentu saja Almira mendengarnya, lekas wanita yang memakai baju yang sudah kuyup itu mengayuh kakinya mendekati pintu dan membukanya. Dan benar saja beberapa keperluannya untuk mandi sudah ada di sana, satupun tidak ada yang dilupakan oleh Royyan. Perlahan sudut bibirnya menaik yang kemudian Almira berlutut mengambil semua keperluan mandinya dia peluk semuanya dan berputar kembali masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"Hidup selama sebelas bulan sama gue ternyata kak Royyan memperhatikannya, gue kira dia bener-bener gak peduli,"ujarnya setelah dia menyelam kembali ke ruangan untuknya menyiram tubuhnya dengan sabun beraroma mawar itu.
...***...
Seperti perkiraan Royyan sejak dia keluar dari kediaman kedua orangtuanya, puluhan wartawan dan kameramen sudah berkumpul di depan perusahaan yang dipimpin oleh papinya Rian Dzario Alzaro. Royyan yang sengaja bertandang ke perusahaan papinya dulu sebelum ke perusahaannya sendiri, langsung di serbu oleh para wartawan itu dengan berbagai macam pertanyaan yang memuakkan, apalagi wartawan yang menerka-nerka hal itu dengan sangat tidak wajar.
"Apakah benar jika kakak ipar pak Royyan selingkuh dengan desainer cantik itu?"
__ADS_1
"Bagaimana tanggapan anda pak Royyan?"
"Bagaimana keadaan kakak anda pak? Apakah dia terpuruk, saya juga pasti seperti itu jika suami saya selingkuh."
"Tapi bukankah sangat kurang aja jika kakak ipar anda beneran selingkuh, bagaimana ini pak Royyan, tolong tanggapan bapak."
"Apakah kakak anda akan bercerai dengan suaminya yang sudah jelas ketahuan selingkuh?"
Gerombolan pertanyaan itu membuat kepala Royyan berdenyut nyeri, rasanya ingin sekali dia menarik semua kamera yang memotretnya sedari tadi dengan flash kamera yang sangat mengganggu. Ditambah suasana ramai yang sangat tidak disukainya, membuat pening di kepalanya bertambah parah, tetapi dia tetap bertahan di depan kamera dan wartawan itu, demi meluruskan semua fitnah yang gak jelas itu.
Sebelum membuka mulutnya untuk membungkam para karyawan yang lebih bawel dari istrinya itu Royyan menghela napasnya dulu dengan panjang seraya merapikan pakaian yang dia pakai, "oke, bisa tenang dulu semuanya. Mulut saya cuman satu, jadi saya akan jawab satu-satu, tolong kalian pun bertanya satu-satu, mengerti,"tegas Royyan yang sudah berdiri dengan tegak di hadapan semuanya.
Setelah mendengar perkataan Royyan sontak semuanya terdiam, para kameramen pun ikut terhenti, tak lagi memotret Royyan. Bukan hanya karena ingin mendapatkan tanggapan yang jelas dari Royyan melainkan ini adalah kesempatan langka yang mereka dapatkan untuk memotret wajah tampan Royyan dengan jarak sedekat ini.
"Kakak ipar saya tidak ada disini, dia ada dinas di luar kota dari dua minggu yang lalu, jika kalian menyangka itu perselingkuhan hanya karena mobil yang di pake adalah miliknya, kalian terlalu gampang menyimpulkan,"jelas Royyan dengan tekanan nada yang tegas.
"Lalu siapa yang menggunakan mobil itu jika bukan kakak ipar anda, mungkin kakak ipar anda berkilah, bilangnya dia di--"ujar wartawan itu yang segera dibantai tatapan tajam Royyan sehingga wartawan itu terdiam dan menunduk ketakutan.
Lantas Royyan kembali mengatur tatapannya menjadi lebih lembut dari yang tadi dan bersiap melebarkan dadanya untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah membuatnya muak, "mobil dalam keluarga saya bisa digunakan oleh siapa saja, selama masih dalam ikatan keluarga, begitupun dengan mobil kakak ipar saya, dan yang kalian sangka kakak ipar saya adalah saya sendiri, iya ... saya menjemput nona Ra karena dia ketiduran disana,"terang Royyan lagi.
Semuanya nampak terbelangah, belum bisa mempercayai jika perkataan mereka mungkin sedang ditertawakan oleh Royyan. Seketika hati para wartawan itu ciut, terlihat jelas di wajahnya yang tiba-tiba saja merunduk seperti kehilangan tenaga, bak padi di sawah yang telah menampung banyak gabah.
"Lalu apa hubungan pak Royyan dan nona Ra, apakah kalian sepasang kekasih?"tanya seorang wartawan dengan rasa takut yang berkecamuk dalam dirinya, bagaimanapun wawancara ini harus selesai.
"Adik sepupu."kata Royyan mengakhiri wawancara ini dengan baik.
Para wartawan itu terlihat saling mengangguk dan menerima alasan Royyan dengan baik, alasan yang sangat masuk akal, hubungan saudara yang baik dengan saling membantu sama lain. Kali ini Royyan kembali berhasil mengelabui semua orang untuk menyembunyikan pernikahannya dengan Almira.
Setelah puas mendapatkan jawaban pasti dari Royyan, para wartawan dengan kameramennya masing-masing itu perlahan melengos pergi meninggalkan perusahaan Rain Corporation Daboz, begitupun dengan Royyan yang segera mengendarai mobilnya untuk kembali ke perusahaannya sendiri, mungkin Adrian sudah menunggunya.
Sementara itu di butik Almira yang tak kalah gaduhnya dengan para wartawan yang kehausan informasi yang menggemparkan itu, hanya karena Almira seorang desainer terkenal dan pemilik mobil adalah direktur utama dari perusahaan ternama dan digadang-gadang sebagai perusahaan adidaya sama seperti perusahaan yang dimiliki oleh Royyan, dengan sekejap mata berita itu menyebar seluas langit di atas sana.
Almira yang baru saja keluar dari mobil yang dia pinjam kepada mertuanya itu segera di serbu para wartawan dan puluhan kameramennya yang tak henti-hentinya memotret dirinya, flash kamera sungguh menyakitkan mata Almira, tetapi wanita cantik berkulit seputih susu itu berusaha bersikap biasa saja dan berpura-pura merasa tidak terganggu karena kedatangan mereka semua.
__ADS_1
"Nona Ra, apakah benar anda selingkuh dengan direktur utama perusahaan Rain Corporation Daboz?"tanya beberapa wartawan silih bergantian, tetapi dengan pertanyaan yang sama, membuat Almira merasa pusing.
"Apakah direktur utama Rain Corporation Daboz itu menggoda nona sampai anda terjatuh pada jeratannya?"timpal wartawan lain.
"Perselingkuhan perbuatan keji nona Ra, kenapa anda tega melakukan itu, anda wanita cantik dengan karir yang bagus kenapa masih menginginkan pria milik orang lain,"timpalnya yang lain.
Sebelum menjawabnya Almira menghela napasnya lalu membuangnya dengan kasar dan memilih untuk tersenyum terlebih dulu dan membuat para wartawan terdiam, terpukau dengan kecantikan wanita bertubuh mungil ini, apalagi saat dia tersenyum, kecantikan bertambah beribu-ribu persen sedangkan para kameramen tak bisa berhenti memotret wajah cantik sang desainer.
"Saya tidak mungkin selingkuh sama suami dari saudara saya sendiri, aneh bukan? Jika saudara sepupu berselingkuh dengan suami dari kakak sepupunya sendiri, saya memang saudara sepupu jauh jadi jarang terlihat di keluarga besar Alzaro,"jelas Almira meneguhkan paras wajahnya yang sudah ingin memunculkan warna merah padam.
Sontak semua karyawan terkejut dengan pernyataan Almira, sepertinya mereka tidak saling berkabar dengan para wartawan yang sudah mendapatkan jawaban dari Royyan di perusahaan Rain Corporation Daboz, secara langsung.
"Jadi nona Ra tidak ada hubungan apa-apa sama direktur perusahaan Rain Corporation Daboz?"tanyanya lagi masih penasaran.
"Tentu saja, dan lagian yang menjemput saya bukan kak Dzarian, melainkan kak Royyan, dia emang make mobil kak Dzarian,"terang Almira menegaskan statement-nya.
Sama hal-nya seperti para wartawan yang ada di perusahaan Rain Corporation Daboz, mereka segera berpamitan setelah mendapatkan jawaban. Manusia hanya bisa menerka dengan kata-kata yang menyakitkan, tetapi selalu lupa dengan kata maaf atas perkataannya yang telah menyakiti hati manusia lain.
Semua manusia di muka bumi ini memiliki hati yang jahat, walau mereka cenderung tidak menyadari atau bahkan mereka melupakannya dan tak peduli. Sama seperti para wartawan-wartawan itu, mereka hanya menampilkan rasa malu di parasnya yang merunduk tetapi kata maaf tak keluar dari mulutnya yang telah melempari Dzarian dan Almira dengan umpatan mengerikan.
Mereka mengumpat dan menuduhnya dengan fakta seadanya, sedangkan mereka tidak melakukan riset terlebih dahulu, kadang mulut lebih cepat berbicara dibanding otak yang berpikir terlebih dahulu, sungguh memalukan.
Apakah wartawan memang berbicara sekejam itu?
Apakah wartawan tidak diberikan pelajaran etika, mana yang baik diucapkan dan mana yang tidak boleh diucapkan. Mengapa para wartawan era sekarang mengatakan suatu hal tanpa berpikir terlebih dahulu, sungguh sangat disayangkan ijazah sarjanannya hanya sebuah kertas tetapi etikanya tidak menggambarkan seseorang berpendidikan.
Almira terus saja mengumpat dalam batinnya, dia sangat kesal dengan situasi seperti ini. Terlebih dia dituduh sebagai seorang selingkuhan, hanya karena dia di jemput pulang oleh suaminya sendiri. Ingin rasanya dia berteriak sampai seluruh telinga di penjuru negeri ini mendengarnya, "yang jemput gue itu suami gue sendiri, gua kagak selingkuh, para wartawan bodoh, cuman karena sebuah foto dan kalian dengan mudahnya menyimpulkan semuanya dengan gelap mata,"begitulah celoteh batin Almira.
Seraya dia melimbai masuk ke dalam butiknya, dia kayuh langkahnya menuju lantai dua dimana ruangannya berada. Tibanya dia di depan pintu ruangannya, dia menekan kenop pintunya ke bawah dan pintu tidak terbuka, Almira berkerut heran.
"Kok gak kebuka sih, perasaan gak gue kunci deh,"ucap Almira seraya dia mengingat-ngingat apa yang sebelumnya terjadi.
Sampai akhirnya dia ingat jika pintunya memang terkunci dan Royyan belum memberikan kata sandi password yang dia gunakan, tanpa menunggu lama lagin Almira segera mengetikkan sesuatu untuk mengirimi suaminya sebuah pesan. Belum sempat dia mengirim pesannya, Royyan sudah lebih dulu mengirimi pesan.
__ADS_1
["Passwordnya tanggal ulangtahun kita berdua dan inisial nama depan kita.]
NEXT ....