Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 77 : Cinta hanya datang satu kali


__ADS_3

Syani yang sudah tak bisa menahan tangisnya lagi lantas berderai dengan anggukkan lemah, tak ada untaian kata yang bisa di keluarkan dari mulutnya itu, hanya isakan kuat yang termuntahkan darinya.


Almira melimbai mendekati Syani dan memeluknya, "jangan nangis ... nanti akan ada majikan baru, sama seperti saat pertama aku datang ke rumah ini kan Syan,"tutur Almira yang sudah memberatkan suaranya.


"Nona yakin mau keluar dari rumah?"tanya Syani lagi, kini suaranya sudah benar-benar parau.


Almira melunturkan pelukannya, dia arahkan matanya pada foto pernikahannya bersama Royyan yang selalu menempel dengan dinding di bagian kanan dari keberadaan ranjangnya, "euum ... sebenarnya aku juga gak mau, tapi buat apa, kak Royyan mencintai wanita lain dan aku harus sadar diri jika nyonya di rumah ini bukan aku."batin Almira terus merangkai kepedihan yang dia rakit sendiri.


Keyakinannya sangat kuat, terlebih saat dia mengingat betapa perhatiannya Royyan pada Elshara saat di laut, rasa sakit itu kembali mengoyak hatinya sampai melebur menyatu dengan debu-debu yang mengendap di suatu tempat dan tak ingin berpindah dari tempatnya. Terlalu pekat dan juga melekat dengan luka.


...***...


Esok hari bertandang dengan cepat, Royyan masih berusaha untuk menghubungi Manda yang ternyata sudah berangkat meninggalkan resort dan kota Bali di pagi hari, sedangkan dia akan melakukan penerbangan di siang hari tepatnya pada jam 15.00 wib sesuai jadwal yang tertera di tiketnya.


Kebetulan dia mendapatkan nomor Manda dari Elshara, walau dongkol Elshara memberikan nomor Manda dengan mudah. Angannya membangun ribuan pertanyaan yang tertimbun dalam lubung batinnya.


Untuk apa Royyan meminta nomor Manda?


Siapa yang ingin Royyan temui? Manda atau Almira?


Kenapa dia terlihat begitu panik, bahkan penampilannya pun sangat berantakan.


Sebenarnya siapa Manda dan siapa Almira dalam kehidupan Royyan.


Rentetan pertanyaan itu hanya menjadi sampai pemenuh isi kepalanya, mulutnya tak bisa memuntahkan semua pertanyaan itu pada Royyan, akalnya terus mencari siapa yang bisa dia cecar dengan semua pertanyaan itu semua selain Ajun, karena pikirnya menanyakan hal ini semua pada Ajun sama saja berbicara pada dinding yang tak bernyawa.


"Ah sial!"cibir Elshara menyeka rambutnya ke belakang dengan kasar, tatapannya memanas pada setiap benda mati dan juga hidup di hadapannya, "kenapa Royyan kayaknya kelihatan panik begitu sih, setelah nolong gue dua hari lalu, dia kembali tidak peduli lagi sama gue. Sia-sia dong gue terjun ke laut hampir mati, kalau pada akhirnya Royyan tetap aja gak peduli,"sambungnya menyibuk ke bagian dalam cela jendela yang sedikit memisahkan diri dengan saudaranya.


Di balik pintu, Dirta yang sudah berdiri sekitar sepuluh menit itu mengerut dengan dalam, deru napasnya berhamburan dengan kasar bersamaan dengan kepalan tangannya yang membulatkan kekecewaannya pada wanita yang dia cintai, berulang kali dia tertipu oleh kepolosan dan paras cantiknya.


"Gue baru tahu kalau lu sejahat ini El,"celetuk Dirta dari balik pintu kamar dimana Elshara di rawat.


Degh!


Elshara memutar tubuhnya dengan satu gerakan yang memakan waktu satu detik jarum jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, dia terlonjak kaget sampai dia terlempar dan melabuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Bola matanya memekik, sesak di dadanya membuncah dengan dahsyat.


"Dirta!"serunya dengan napas yang tersekat, dia cengkeram kain berwarna putih yang membaluti ranjang itu.


Dirta beranjak dari balik pintu, dia lempar pintu itu sampai membentur dinding putih di dekatnya, sorot matanya menajam. "Gue gak nyangka elu sejahat ini El,"cetus Dirta.


"Berisik deh. Elu juga melakukan hal yang sama kan sama Royyan, lu lebih parah Dirta, lu neror Royyan dengan surat-surat bodoh lu dan membuat hidup Royyan bagaikan tawanan,"hardik Elshara tak mau disalahkan.

__ADS_1


"Iya gue akui kalau tindakan gue saat itu emang bodoh, bukan cuman bodoh tapi t*l*l! Tapi gue gak pernah menaruh Royyan dalam bahaya seperti elu ngajak Ra mati tenggelam di laut, gue nyuruh orang buat pura-pura menabrak Royyan, cuman pura-pura,"sentak Dirta, netranya membiaskan embun-embun tipis.


"Enggak ...!"Elshara memekik seraya dia berdiri dan menempelkan kedua tangannya dengan daun telinga miliknya, dia mendongak dengan wajah yang mengernyit kesal. "Gua juga mau mati Dirta karena kehabisan tenaga, kenapa lu mengkhawatirkan Ra yang gak lu kenal."Langkah Elshara mendekat.


Detik itu juga Dirta menjauh, "itu terjadi karena ulah lu sendiri, lu tahunya Ra itu gak bisa berenang dan lu berharap dia mati kan? Karena perhatian Royyan tersalurkan sepenuhnya padanya, wajar itu terjadi El, Ra itu sepupunya Royyan, mereka punya ikatan darah,"beber Dirta penuh antusias.


"Lu salah! Gue melakukan itu karena ...."tepis Elshara, tetapi dia sendiri pun tak tahu perkataan apa lagi yang harus dia lontarkan pada Dirta.


Dirta mendengkus, membuang senyuman sinisnya termakan oleh sorot mata Elshara yang mematung, "see ... lu gak bisa jawab. Gue sama Ajun kesetanan mencari timsar dan menyiapkan rumah sakit buat kalian, beruntungnya Ra selamat, dia gak perlu ke rumah sakit karena ternyata dia perenang yang handal, dan ternyata ini semua ulah elu, gila lu ya. Sakit tahu gak."


Pria itu membalik tubuhnya melenggang dari hadapan Elshara dengan kekecewaan yang terpaksa dia pangku, sekuat apapun dia lempar rasa kecewa itu, mereka tetap mengikutinya dan kembali menggorogoti jiwa Dirta yang tercabik-cabik.


Fakta itu akan mengendap dalam ingatan Dirta, pria itu beringsut keluar dari rumah sakit, langkahnya melipir ke arah kiri mendekati salah satu tong sampah yang nampak bersih, dia lempar bunga yang berada dalam genggamannya tadi ke dalam tong sampah itu.


"Bunga itu lebih pantas masuk ke dalam tong sampah dari pada di pelukan elu El, gue gak kenal lagi sama elu,"tuturnya yang berkobar-kobar.


Sementara di resort, Royyan yang nampak limpung memandangi layar segi empat ponselnya, sepertinya dia siap mengunyah benda pintar itu matang-matang, Manda tidak bisa dihubungi. Atau memang dia melakukannya atas perintah Almira. Batin Royyan panik dan penuh dengan kegundahan.


Beberapa menit berlalu sorot mata kecilnya itu tak lepas dari layar hitamnya, panggilan telepon masuk dari telepon rumahnya yang ada di Jakarta, lekas dia mengangkatnya, pikirnya dia akan mendapatkan secuil informasi dari sana.


"Halo,"sapa Royyan sendu.


Mendengar hal itu Royyan yang tengah di landa gelisah dengan cepat membebaskan hatinya untuk lebih tenang sejenak, dia menghela napasnya lega. Raganya yang menegang lekas dia henyakkan ke belakang sampai terjatuh dan telentang di atas ranjang dengan di samping kanan koper-kopernya sudah siap berangkat bersamanya.


"Terus sekarang Ami ada dimana?"tanya Royyan setelah dia merasa lega seraya kedua bola matanya terpejam.


"Euum ... i-itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan tuan,"jawab Syani ragu-ragu.


"Maksudnya?"dahi Royyan berkerut, hatinya yang baru merasa lapang kembali menciut, "cepat katakan."


"Tadi malam memang nona pulang ke rumah, terus nona segera mengemasi semua barang-barangnya, te-"terang Syani melepaskan sesak di dadanya.


Belum habis Syani menjelaskan apa yang terjadi di Jakarta, Royyan segera memotong penuturan asisten rumah tangganya itu seraya dia terbangun dari ranjang dan meneguhkan tubuhnya yang merunduk tadi. "Apa? Mengemasi barang-barangnya, kamu ngomong apa sih Syan ... yang jelas! Jangan setengah-setengah,"potong Royyan, jantungnya berdebar dengan kencang.


"Maaf tuan, saya tidak bisa menahan nona, nona Almira ingin keluar dari rumah katanya nyonya rumah ini yang sesungguhnya bukan nona,"lirih Syani berat.


"What?"pekik Royyan dengan paras yang mengeras bersamaan dengan hantaman bedegap yang berada di dalam dadanya, "Astaga Ami ...."sebut Royyan menyugar wajahnya dengan kasar sampai keruh di wajahnya semakin jelas.


Dia menghela napasnya panjang lalu dia buang dengan kasar sehingga Syani bisa mendengarnya dengan jelas, dan wanita itu merinding ketakutan. Ini kali pertama Syani mendengar dengkusan Royyan yang se-kasar itu, ingin mematikan panggilan teleponnya pun Syani tak mampu, dia terdiam dalam bisunya menunggu Royyan kembali berbicara.


"Saya akan pulang hari ini, kamu bekerja lagi aja dan gak usah memikirkan Ami. Biar saya yang urus, dan inget!"tegas Royyan.

__ADS_1


"Iya tuan,"sahut Syani masih menunggu penuturan Royyan selanjutnya.


"Saya dan Ami tidak akan pernah berpisah, dan nyonya rumah itu adalah Ami dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya,"sambung Royyan dengan tatapan yang menajam dengan kasar.


"Baik tuan."


Detik itu juga Royyan mematikan panggilan teleponnya. Batinnya bergejolak azmat memburu dirinya sendiri dengan kemarahan dan penyesalan. Dia menyeka wajahnya kasar, perlahan dia menapaki wajahnya yang halus sampai mengacak-acak rambutnya frustasi, deru napasnya dia buang dengan begar.


"Ah sial."Royyan tangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dia seret tangan itu sampai terhenti di dahinya, "kenapa gue sebodoh ini sih,"hinanya pada diri sendiri, dia termengung sejenak seraya melepaskan cengkeraman tangannya pada dahinya.


Pria bertubuh berotot itu menegakkan punggungnya menembus angan-angannya yang tengah merangkai beberapa kemungkinan jika tidak segera dia selesaikan permasalahannya. Tak mungkin dia melepaskan wanita yang dia cintai hanya karena Elshara, sejatinya dia tidak pernah mencintai Elshara.


Dahulu rasanya hanya sekedar rasa simpati kepada seorang teman, dan Royyan tak pernah menaruh hatinya pada Elshara, seperti yang dikatakannya pada Almira, jika cinta itu berlabuh pada Elshara tidak mungkin dia menikahi Almira.


Dia mengingat bagaimana sulitnya dia mencari sosok Almira yang saat itu sudah pergi ke Paris untuk belajar tentang fashion lebih dalam lagi, di tambah dia telah di hantui bayang-bayang kemarahan Dirta, membuatnya semakin kesulitan untuk bergerak dan mencari keberadaan Almira dan keluarganya.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan Ressa dan Miranda, Royyan meminta kedua orangtuanya untuk bekerja sama dengan perusahaan Remira yang saat itu mengalami kesulitan. Dengan berat hati Rian dan Rini menuruti permintaan putra bungsunya, karena bisnisnya tidak berada dalam lingkungan perusahaan Remira, tetapi melihat sang putra sangat menginginkannya maka dengan senang hati mereka menurutinya.


Sampailah mereka pada sebuah kesepakatan atas pernikahan Royyan dan Almira sebagai kerjasama bisnis yang lebih lekat lagi, semua itu terjadi karena rencana dari Royyan. Itulah mengapa Almira selalu beranggapan jika cinta Royyan untuknya tidak pernah ada, karena yang dia tahu hanya sebuah kesepakatan perjodohan kerjasama bisnis.


Royyan adalah pria yang bertubuh sempurna, berparas tampan dan pertahanan tubuhnya sangat tangguh. Layaknya para pangeran yang tergambar dalam cerita kartun-kartun dan novel-novel romantis, tetapi satu hal yang membuat dirinya lemah, yaitu mulutnya. Bibirnya kesulitan untuk merangkai sebuah bait-bait kata yang menjelaskan bagaimana keadaan hatinya dan bagaimana keinginannya.


Pergerakkannya yang sangat hati-hati tanpa memberitahu siapapun adalah kelemahannya, sehingga orang-orang yang belum benar mengenalnya akan menganggap jika dia adalah orang yang tidak akan pernah peduli dengan siapapun selain dirinya sendiri.


...***...


Tiba di Jakarta, Royyan berangsur dari bandara langsung pulang ke rumahnya, hanya sekedar menyimpan barang-barang bawaannya. Di dalam kamar dia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai dari yang dia pakai sebelumnya.


Dia kayuh langkahnya dengan terburu-buru, dan para pelayan yang sedang bekerja segera menghentikan pekerjaan mereka dan berjajar di hadapan tangga besar yang terhubung dengan lantai dua rumah megah itu.


Setibanya di lantai satu, Royyan berdiri di depan semua pelayannya seraya merapikan penampilannya, "saya akan pergi ke rumah mami Miranda dan papi Ressa, kemungkinan malam ini saya tidak akan pulang,"ucapnya setelah merapikan jam tangan yang melingkari tangan kirinya.


"Baik tuan, semoga tuan dan nona bisa kembali baik ke rumah ini,"ungkap Syani, lagi-lagi suaranya parau.


Bibir Royyan perlahan melengkung ke atas, menyembulkan senyuman tipis dan mengangguk. Itupun yang menjadi harapan tertinggi bagi Royyan, dia ingin segera menemukan Almira dan membawa nyonya rumah megah itu kembali, tak pernah terbayangkan dalam benak Royyan jika dirinya akan berakhir dengan Almira.


Baginya, pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang bisa menggetarkan para kursi di langit, dewa utusan tuhan telah mengikat suatu hubungan dalam bola kasih yang jika hal itu retak karena sebuah kesalahan atau hanya karena ego para manusia maka dewa akan bersedih. Untuk mencapai ikatan suci dalam ritual sakral itu membutuhkan usaha yang melibatkan banyak orang.


"Pernikahan hanya di lakukan satu kali, jika ini berakhir hari ini, maka esok hari tidak ada lagi yang namanya cinta dan pernikahan. Karena cinta hanya terjadi satu kali, dan aku sudah menemukannya,"celoteh Royyan mencengkeram kemudinya.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2