Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 33 : Takut? Atau rasa perih di dada?


__ADS_3

Wajah muramnya masih enggan untuk mencugat menatap jalannya dengan benar, kedua tangannya yang sedang mencengkeram tas kecilnya semakin mengerat. Tapi dia tidak menghentikkan langkahnya, Manda masih mengajak sahabatnya untuk berjalan melewati toko tersebut dan kini Royyan sudah melepaskan dekapan tangannya pada wajah Elshara, sampai akhir pria gagah itu sama sekali tidak menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Elshara.


Rasanya, meraba wajahnya saja sudah cukup baginya untuk memastikan jika wanita di hadapannya itu adalah nyata bukan hantu yang bangkit dari laut.


Sedangkan Almira masih dikurung rasa cemburu yang sebenarnya dia tidak ingin melakukannya, tetapi hatinya tak bisa di perintah untuk apa yang dia inginkan, dia terus berjalan di samping Manda seraya merunduk lemah, sampai Manda melipir ke arah kanan karena di depannya ada seseorang yang mengenakan kostum badut karakter panda besar yang sangat di takuti Almira.


"Ra minggir, nanti elu nangis,"ucap Manda tidak menuntun Almira ikut bersamanya.


Alhasil Almira yang belum mengakhiri kepedihan hatinya melanggar badut itu sampai tubuhnya terpental ke belakang dan terjatuh, perlahan wanita mungil itu mendongak dan mendapati ada seorang badut panda di hadapannya, segera dia menanapinya. Ketakutannya kembali mencuat dengan tinggi.


Ini adalah kesempatan yang pas untuknya melelehkan semua air mata yang telah terkumpul di kelopak matanya, perlahan Almira menyeret tubuhnya ke belakang lantas dia menerjunkan air matanya dengan deras, mengeluarkan segala perih dan ketakutan dalam satu waktu yang sama. Dengan cepat pipinya menjadi kuyup, tangisannya pecah sampai dia terisak-isak.


Dia tidak bergerak, wanita berambut ikal di bagian ujungnya itu hanya memecahkan keheningan dengan suara tangisannya yang semakin lama semakin meninggi, bulir-bulir kristal pun terus-menerus berderai membanjiri pipi tirusnya. Lalu dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Manda yang berada di bagian lain segera berlari dan nampak panik menghampiri Almira yang terduduk sembari menangis, bahkan tangisannya seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan oleh kedua orangtuanya. Percis seperti anak kecil yang merengek, Manda menongkrong di hadapan Almira dan memeluknya dengan lekat.


"Duh kan, kata gue tadi ikut gue, elu mikirin apaan sih,"bujuk Manda mengelus-elus kepala Almira dengan lembut.


"Aaaah ... takuuut, Manda ...."rengek Almira meluruhkan air matanya yang deras itu ke bahu Manda.


Manda ... ini bukan cuman rasa takut, tetapi rasa yang sangat menyakitkan, dan aku gak tahu kenapa, Manda ... tolong bawa aku pergi dari sini dan jangan bawa aku pulang. Almira melanjutkan perkataannya di dalam batinnya, mulutnya tak bisa melanjutkan perkataannya karena telah terbungkam dengan isak tangisnya yang pecah.


"Iya iya, udah jangan nangis."Manda mendekap tubuh Almira semakin lekat, lalu dia menoleh pada badut di sana yang nampak kebingungan dengan wanita yang sudah dewasa itu masih menangis, "Ngapain disini, udah sana cepet pergi yang jauh, sahabat saya takut sama badut,"lanjut Manda seraya dia mengambil selembar uang dan memberikannya pada badut tersebut.


"Maaf nona, saya tidak tahu,"ucap badut itu dengan nada suara merasa bersalah.


"Iya udah sana cepet pergi."


Dari sudut toko tersebut, Royyan, Adrian dan juga Elshara segera keluar dari toko karena mendengar tangisan Almira yang tentu saja sampai pada telinga mereka, terlebih tangisan wanita dengan mata kecoklatan itu sangat kencang, ada sayatan yang sangat perih dari suara tangisan itu. Tidak seperti tangisan Almira yang biasanya terlontar saat badut menjumpai dirinya.


Ami ... pasti dia ketakutan lagi, tunggu aku di rumah ya, aku gak bisa menemui kamu saat ini. Rasa ibanya dengan segera menyembul, seketika paras Royyan menjadi muram, kekhawatirannya pada sang istri dengan cepat terbit ke permukaan.


Adrian yang berada di samping Royyan menoleh pada Royyan dan menatapi bos-nya itu dengan dalam, mencoba menerawang pikiran Royyan. Dia sangat penasaran dengan tanggapannya, yang menangis adalah istrinya. Bagaimana pikiran Royyan saat ini, sungguh Adrian penasaran. Namun, Adrian pun tak bisa berbuat apa-apa selama atasannya ini tidak memerintahkan apapun padanya.


Sedang Manda sudah membawa Almira berdiri seraya masih terus memeluknya sampai tangisannya mengecil, tetapi Almira tidak menghentikkan derainya. Dia hanya memelankan nada suara tangisannya, tetapi isaknya masih melekat pada dirinya. Perlahan menarik Almira untuk berjalan dan pergi dari sana.


"Badut semenakutkan itu ya?"tanya Royyan pada siapapun yang ingin menjawab pertanyaannya.


Elshara yang berdiri di sampingnya seketika mengernyih lalu dia kembali menatapi Manda dan Almira yang sudah berjalan normal lagi, hanya punggung wanita berkulit seputih susu itu masih saja bergetar, "Mungkin nona Ra punya kejadian yang tidak mengenakkan sehingga dia jadi phobia sama badut,"sahut Elshara lirih.


Deg!


Nona Ra? Mendengar nama itu Royyan segera menoleh dan menatapi Elshara dengan dalam dan juga dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Kamu kenal?"tanya Royyan was-was.


"Iya."Elshara mengangguk dengan tangan yang terlipat di dada, "Nona Ra itu desainer langganan aku, aku suka sama karya-karyanya, kenapa? Kamu kenal?"jelas Elshara kembali menatapi Royyan dengan bola matanya yang bersinar setiap dia memandangi Royyan.


Untuk menyembunyikan wajahnya yang menjelaskan jika dirinya sangat mengenali Almira, segera dia palingkan mukanya dan menegakkan posisi tubuhnya, "Langganan mami dan kak Aneu,"kilah Royyan.


"Hmm ... sudah aku duga, karya kak Ra memang bagus."


...***...


Malam bertandang, Almira masih terduduk di depan mejanya yang telah dipenuhi kertas-kertas putih yang berserakan di atas meja, sebagian telah terisi dengan gambar gaun-gaun dan juga busana pria yang sudah di pesan oleh para kliennya. Di samping lain tumpukan map-map berbagai warna yang berisikan rancangan-rancangan yang telah final dia kerjakan.


Sedangkan wanita bermata kucing yang sedang mengenakan kacamatanya yang berbentul oval masih menggerakkan jari-jarinya di atas kertas, berdansa disana dengan bayangan rancangan yang telah terancang dengan sempurna di kepalanya, dia harus segera menuangkannya sebelum rancangan yang ada di dalam kepalanya itu lenyap dan sulit untuk menemukannya lagi.


Rambut yang terikat dan tergulung di atas kepalanya sudah sangat berantakan, anak-anak rambut berserakan tertiup angin mengarah kemanapun keinginannya, tetapi hal itu membuat Almira merasa geli, hanya saja dia tak memiliki banyak waktu untuk merapikan rambut-rambutnya.


Mendadak pergerakkan tangannya berhenti, angan-angannya benar-benar kacau karena Royyan. Almira masih saja mengingat perlakuan manis Royyan pada Elshara yang dia kenal sebagai Rala klien VVIP-nya, dengan sigap dia lempar pensil yang tengah dia gunakan itu ke lantai menyatu dengan gulungan kertas-kertas ringsek yang berserakan.


"Apa sih Ra, elu kenapa kayak gini sih, harusnya elu gak peduli apapun yang diperlakukan cowok itu, kenapa elu malah sakit hati sih, ini salah! Gue harus ... tapi, aaargh ...."Almira bergerutu seraya dia mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu dia tarik dengan kasar ikat rambut yang mengikat rambutnya sedari tadi.


Kemudian dia henyakkan tubuhnya ke kursi, membenturnya sampai kursi itu tergeser ke belakang dia menyerana dengan pasrah. Menatapi langit-langit ruangannya yang masih saja sama, tidak ada yang menarik. Rasa perih itu kembali datang, membuat Almira merasakan sesak lagi. Seolah oksigen yang dihirupnya memiliki batasan untuk dinikmati olehnya.


Apa hubungan kak Royyan sama nona Rala? Apa mereka mantan kekasih atau apa?


kalau gitu, pernikahan ini memang benar hanyalah sebuah tulisan di atas kertas aja.


Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di dalam batin Almira. Dia masih belum menyadari jika wajah Rala dengan Elshara itu sama, dia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya. Atau bahkan dia tidak mengingat wajah Elshara yang dia lihat di bingkai foto yang ada di balik laci di rumah besar mertuanya.


"Bodo amat! Kak Royyan mau nikah juga sama itu cewek gue kagak peduli, yang jelas kalau gue cerai sama kak Royyan gue bakalan minta tunjangan yang besar, bye ... gue mau tidur, gak akan pulang gue."Almira menggerutu seraya menggenggam kepalanya dengan kedua tangannya dan dahinya yang berkerut hingga dalam.


Lantas Almira segera kembali duduk, dan menidurkan kepalanya di atas meja, di atas kertas-kertas putih yang belum dia goreskan rancangannya, perlahan dia terlelap dengan hati yang masih merasakan pilu.


Dari area lain. Di rumah besar Royyan dan Almira, semua pelayan telah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Royyan, pria berambut mullet itu masuk ke dalam rumah seperti biasa. Dia berikan tas dan juga jas yang dia pakai pada seorang pelayan yang ada di dekatnya. Lekas pelayan itu berlari untuk menyimpannya. Sedangkan pelayan lain telah menyiapkan minuman yang selalu diminum oleh Royyan sepulangnya dia bekerja.


Seraya berjalan Royyan melepaskan kancing lengan kemejanya, netranya mengedarkan pandangan ke setiap penjuru, mencari sosok yang selalu dia rindukan. Aroma mawar yang selalu menyambutnya pun kini tidak memenuhi rumahnya, kemanakah si pemilik aroma mawar itu? Dahinya berkerut heran, lalu dia menoleh pada pelayan yang masih berdiri di belakangnya, sesaat dia telah memijakkan kakinya di anak tangga pertama.


"Ami belum pulang?"tanya Royyan seraya menyingsingkan kedua lengan baju kemejanya.


"Iya tuan, nona Almira belum pulang,"sahut Syani hati-hati.


Tumben? Kemana Ami pergi, apa masih ketakutan gara-gara badut itu, atau karena apa?


Gak biasanya dia kayak begini, apapun sulitnya pekerjaannya dia selalu pulang, ada apa?

__ADS_1


Royyan melenggang menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Tiba di depan kamar, dia segera menurunkan kenop pintu dan masuk ke dalamnya dengan tatapannya yang kosong. Angannya tak pernah berhenti memikirkan sang istri yang tak kunjung pulang, jarum jam telah menunjukkan pukul 23.54 wib.


Malam ini Royyan pulang telah larut, harusnya Almira ada di rumah telah wangi dengan sabun aroma mawarnya yang sangat disukainya, tak perlu menunggu lama lagi Royyan segera menghubungi orang suruhannya untuk menanyakan keberadaan Almira.


"Istri saya ada dimana?"tanyanya tegas seraya meletakkan satu tangannya di pinggang.


"Istri tuan belum keluar dari butik, tadi sempat keluar untuk pergi mal sama temannya, pulang dari sana nona nangis dan kembali ke butik, temannya keluar sekitar empat jam yang lalu, tetapi nona Almira masih belum keluar sampai saat ini."


"Oke. Tunggu disana sampai saya datang."


"Baik tuan."


Royyan bergegas melangkah masuk ke dalam ruang pakaiannya, dia mengganti pakaiannya dengan piyamanya, keluar dari ruang pakaian dia sudah berganti pakaian dan wajahnya sudah di tutupi oleh masker hitam dan topi yang juga berwarna hitam.


Keluar dari kamar, melesat menuruni tangga. Dia berlari secepat kilat menuju lantai satu rumahnya, dia berjalan dengan langkah yang memburu, membuat para pelayan mematung. Hanya Syani yang berani mengikuti Royyan yang berjalan cepat keluar dari rumahnya lagi tepat pada jam 00.00 wib tengah malam, saat udara dingin merasuki setiap celah yang ada di muka bumi ini.


"Tuan mau mencari nona?"tanya Syani hati-hati yang mengekori Royyan di belakang.


"Iya. Malam ini saya gak pulang, jaga rumah dengan baik, sampai saya dan Ami kembali ke rumah,"titah Royyan seraya dia memasuki mobil hitam yang terparkir di parkiran luas di samping kiri rumahnya.


"Baik tuan, hati-hati."


Tanpa menoleh lagi pada Syani, Royyan melajukan kendaraannya keluar dari rumah besarnya lagi, segera satpam yang berjaga pun menutup pagar yang menjulang tingginya itu dengan rapat setelah mobil Royyan keluar dari sana.


Ini kali pertama Royyan mengendarai mobilnya sendiri lagi, karena selama ini dia mengandalkan jasa seorang sopir untuk membawanya bekerja atau urusan lain di luar rumah. Bukan tanpa alasan Royyan melakukan itu, dia sangat ingin melenyapkan bayang-bayang Dirta dari benaknya. Dia tidak ingin dihantui ancaman Dirta yang berlarut-larut dalam waktu yang tak bisa dia tentukan apalagi untuk menghentikkannya.


Malam ini Royyan mengendarainya lagi demi Almira yang tak kunjung menampakkan dirinya, hatinya gelisah dan juga khawatir yang tak berujung. Ingin dia abaikan, tetapi hatinya tak bisa melakukan itu semua, cukup tadi dia melihat tangisan istrinya pecah di hadapannya, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun. Demi keselamatan.


Cinta? Sudah sangat jelas ini adalah cinta, cintanya pada Almira semakin jelas dan semakin brutal menampakkan diri dan menyiksa Royyan karena rasa takut kehilangan itu menjadi topik utama dalam bidang tertinggi di hatinya.


Dia sangat yakin jika hidupnya masih dalam cengkeraman Dirta, orang suruhan Dirta berserakan di samping kanan dan kirinya atau bahkan atas dan bawahnya, dia tak bisa lengah untuk melindungi Almira yang tak tahu menahu persoalannya dengan Dirta akan cinta di masa lalu.


Hanya membutuhkan empat puluh lima menit untuk tiba di butik Almira, butik itu sudah sangat sunyi, bagian bawah butik sudah tak nampak lampu yang menyala, tetapi di bagian lantai dua dimana ruangan Almira berada, lampunya masih menyala dengan terang.


"Kalian pulang, lanjut besok."


"Baik pak."


Setelah mengirim pesan pada orang suruhannya yang berada di dalam mobil di sudut kanan butik itu, Royyan segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam butik dengan penampilan yang sangat tertutup. Dia turunkan topi hitamnya agar wajahnya benar-benar tidak bisa disorot dari sudut mana pun, kamera seseorang yang entah siapa itu kesulitan untuk mengambil gambar dari Royyan yang melesat masuk ke dalam butik.


Masuk ke dalam ruangan gelap dan pintu yang tertutup dengan rapat, bahkan Royyan mengunci pintu kaca butik itu. Lalu Royyan melekaskan langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua, angin pun kalah cepat dengan langkah Royyan yang sangat terburu-buru.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2