The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 102 : Terseret


__ADS_3

Djarot 'si cyborg' telah selesai dengan rencananya, ia menembaki atap lorong saluran air yang membuatnya runtuh tersumbat dan sekarang ini hanya tersisa satu lorong saluran air yaitu saluran air tempat Reynhard dan Albert bertarung.


"Ku harap Reynhard belum mati dalam pertarungan..." ucap Djarot yang menembak atap lorong saluran air.


"Ya, sekarang aku akan menunggu mereka dipembuangan terakhir..." si cyborg itupun bergegas pergi ke laut.


Air dari saluran-saluran itu yang semula terpecah-pecah kini menyatu menjadi satu sehingga arusnya menjadi kuat dan deras bagaikan sungai.


Ya, sebuah banjir besar mengarah pada pertarungan Reynhard dan Albert.


*****


Sementara itu dipertarungan Albert maupun Reynhard sudah mulai kelelahan setelah mengeluarkan semua kemampuan mereka.


"Hah... hah... hah..." Reynhard nampak kelelahan, energinya telah banyak berkurang sehingga menurun drastis, "Sial, aku sudah sangat lelah..." iapun berdiri tegak dan menggenggam erat pedangnya dengan dua tangan.


"Hahahahaha...!! Aku bisa merasakannya!! Mana Zone milikmu sudah benar-benar menghilang!!" Albert tertawa lepas lalu berlari maju dan iapun melancarkan pukulan berbalutkan lava pijar, "Cthing!!!!"


Reynhard mampu menahan tinju lava pijar itu dengan pedangnya, "Meski 'mana zone' milikku telah menghilang tapi tetap saja aku tak akan kalah denganmu..." ucapnya dengan sorot mata tajam.


Iapun mengumpulkan sisa-sisa energinya sehingga pedang yang digunakan untuk menahan kepalan tinju Albert mendadak terlapisi pusaran angin, "Apa!!!" Albert terkejut dan ia terpaksa mundur.


"HIIAA...!!" Reynhard berlari mendekat dan langsung menebas, "Sllash!!"


"Cruat...!!" Dada Albert yang tak sempat menghindar tertebas dan mengalir darah segar.


Albert yang terluka jadi lebih emosi dari pada sebelumnya, "Sialan!!! Ku bunuh kau!!!" Ia meletakan dua telapak tangan pada tanah dan melesatlah lava pijar pada Reynhard.


Reynhard tak takut meski telah kehabisan energi dan iapun berdiri tegak dengan sorot mata tajam, "Majulah!!"


"DYYEESS...!!" Albert melesat cepat dengan letupan lava pijar dikedua kakinya, iapun menyerang menggunakan pukulan lava pijar.


"Cthing!!!!" Reynhard menebaskan pedang dan beradu dengan kepalan tinju milik Albert.


"HIIAA...!!!!" Albert meningkatkan energi sehingga panas dari lavanya bertambah dan hal itu membuat pedang Reynhard meleleh.


"Sial!!!!" Reynhard terkejut dan pukulan Albert tak terhentikan sehingga mengenai dada 'si keturunan pahlawan' itu.


"Jbbuuak!!!" Reynhard terhempas hingga punggungnya membentur dinding lorong, "Ugh!!" Meskipun begitu ia tetap saja berusaha bangkit lagi.


"Tap... tap... tap..." Dengan langkah perlahan Albert berjalan perlahan ke arah lawan tandingnya itu, "Ku akui kau hebat!! Karena meski dirimu terkena tinju lava tapi tetap saja kau mampu bertahan..."


"Hah? Jangan meremehkanku!! Apa kau pikir tubuhku akan berlubang?" Ucap Reynhard dengan sorot mata tajam.


"Hahahaha... Benar sekali!! Akan ku lubangi tubuhmu seperti kebanyakan cerita dimanga..." ucap Albert yang dihadapan Reynhard mengepalkan tangan yang berlapiskan lava pijar.

__ADS_1


Reynhard benar-benar dalam kondisi terdesak dan iapun bergumam dalam hati, "Yang benar saja, jangankan melawannya untuk berdiri saja kaki sudah bergemetaran karena terlalu lelah..."


Meski sudah tak mampu lagi bertarung tapi tetap saja sorot Reynhard tak menunjukan ia akan menyerah.


"Baik, akan segera ku akhiri..." ucap Albert dengan melesatkan pukulan akan tetapi sebelum lava pijar itu mengenai sasaran terlebih dahulu tanah bergetar hebat sehingga mengalihkan perhatian keduanya.


Getaran itupun terasa semakin dekat pada keduanya, "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Pikir Albert dalam hati yang menghentikan serangannya.


Getaran semakin kuat dan keduanya terkejut pada apa yang datang, "Banjir!!!!!" Teriak Reynhard dan Albert serentak saat air penuh kotoran menggulung tinggi lalu datangnya tiba-tiba.


Keduanya lari secepat mungkin dan melupakan pertarungan mereka akan tetapi air bergerak sangat cepat sehingga keduanya terhantam banjir itu dan ikut terseret.


"Blup... blup..." dalam air kotor itu keduanya kesulitan bernafas.


Ya, keduanya terbawa arus banjir air kotor itu entah kemana lalu setelah waktu berjalan agak lama air kotor itupun mencapai lautan.


Albert keluar dari lautan dan iapun sangat kesal, "Yang benar saja!! Mengapa disaluran pembuangan bisa banjir!!!" Teriaknya penuh emosi.


"Tyeng!! Tyeng!!" Mendadak Djarot 'si cyborg' yang menaiki sebuah perahu memukul kepala Albert sekeras mungkin hingga benjol besar-besar.


Iapun langsung tak sadarkan diri dan mengambang dilautan, "Fiuh, pertarungan selesai dengan mudah..." ucap Djarot 'si cyborg' dengan entengnya.


"Apanya yang mudah..." sahut Reynhard yang juga keluar dari dalam laut, iapun terlihat sangat kesal dan segera naik ke kapal yang ditumpangi oleh Djarot.


"Hehehe, maaf deh..." ucap Djarot 'si cyborg' dengan tersenyum lebar, "Ngomong-ngomong setelah semua ini selesai kau harus mandi..."


"Berisik!!!!" Bentak Reynhard dengan ekspresi makin kesal, iapun menyadari setelah terbawa air banjir kotoran dirinya menjadi sangat bau dan sekarang ia sangat kotor, "Sial, bauku yang sekarang sama seperti kotoran..." gumamnya dalam hati.


Ya, Albert telah dikalahkan dan terisa dua lagi yaitu Rumia dan Edward.


*****


Satu pertarungan telah selesai dan sementara itu ditengah teriknya sinar matahari yang menyinari Erinka dan Sistina berlari ke sana ke mari tak karuan.


Keduanya berhenti disebuah taman dan duduk disebuah bangku yang ada ditaman itu, "Hah... hah... hah..." keduanya nampak kelelahan mulai mengatur nafasnya.


"Yang benar saja!! Kita sudah mencari kemanapun tapi tak juga menemukan mereka..." ucap Erinka.


"Lalu lalang para penduduk ini membuat kita kesulitan menemukan mereka..." ucap Sistina dengan melihat para penduduk sedang melakukan segala aktifitas.


"Anu, Sistina..."


"Apa apa?"


Erinka berkata, "Akupun belum pernah bertemu dengan orang-orang yang sedang kita cari ini!! Emm... jadi seperti apa mereka dan apa kesukaan mereka..."

__ADS_1


"Yah, mungkin kita bisa menemukan mereka jika kita memiliki sedikit informasi..."


"Benar sekali!!!" Teriak Sistina yang mendadak berdiri.


"Eeehh...!! Apa kau telah menyadari sesuatu?" Erinka tak mengerti.


"Ucapanmu barusan membuatku teringat pada kebiasaan Rumia..." teriak Sistina dengan semangat, "Sekarang ikuti aku..."


"Baguslah..." ucap Erinka tanpa bertanya dan iapun menyadari setelah pencarian cukup lama Sistina menemukan sebuah petunjuk.


Ya, keduanya bergerak cepat.


Sistina berlari didepan sementara Erinka mengikui dibelakang lalu tak butuh waktu bagi keduanya untuk sampai ditempat tujuan.


"Bukankah tempat ini adalah perpustakaan kota?"


"Yap..." jawab Sistina singkat.


"Lalu mengapa kita kemari?"


"Dulu sekali, Rumia pernah berkata padaku bila saat ia bosan biasanya ia akan menghabiskan waktu dengan membaca buku..."


"Dari kata-katanya itu ku simpulkan bahwa ia pasti berada dipusat buku terbesar dikota ini..."


"Begitu rupanya..." Erinka menjadi semangat, "Kalau begitu kita segera masuk saja..."


"Ya, dan semoga ia ada didalam..." ucap Sistina.


Keduanya bergerak memasuki pusat buku terbesar yang ada dikota Armenia dan begitu sampai ke dalam perpustakaan itu keduanya langsung diam membisu kehabisan kata-kata, "Apa-apaan ini!!!"


Ya, sebenarnya apa yang keduanya lihat?


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 103 : Imajinasi


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi


Trima kasih atas perhatiannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2