The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 79 : Batalion Bayangan II


__ADS_3

Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.


Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'


Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.


Selamat membaca!!


*****


Dua orang dari Batalion Bayangan berlari dijalan yang sangat sepi karena semua penduduk telah mengungsi.


"Khehehe... Aku bisa merasakan keberadaannya!! Sang Phoenix sudah tak jauh dari tempat kita sekarang ini..." ucap Koga yang nampaknya bersemangat.


"Kau boleh bersemangat akan tetapi jangan gegabah ataupun lengah yang nantinya dapat membuat misi kita ini gagal..." ucap sang pemimpin ke-8


"Aku tau!! Kita harus berhasil menangkap Sang Phoenix..." ucap Koga dengan sorot mata tajam.


*


Lalu dibar.


Misaki nampaknya sangat kesakitan dan demamnya seakan makin parah.


"Apa tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu?"


"Entahlah..." jawab Kai.


Ragna berjalan mendekati Erinka dan menggenggam tangan kanannya, "Mungkin ada yang bisa ku lakukan..."


"Apa itu?" Tanya Kai.


"Dulu sekali lengan kanan Erinka putus dan aku menyambungnya kembali dengan kegelapanku..."


"Dan sekarang aku akan memperkuat kegelapanku dilengan kanannya dan menekan lagi kekuatan Sang Phoenix..." jelas Ragna.


Kai berkata, "Aku tak tau apa yang akan kau lakukan akan tetapi ku harap kau berhasil..."


"Ya, semoga saja..." sahut Ragna yang mulai fokus dan memejamkan mata, iapun mengaliri lengan kanan Erinka dengan energinya dan dengan perlahan lengannya berubah menjadi hitam.


Lisha juga tak mengerti akan apa yang dilakukan oleh Ragna dan iapun bertanya dengan suara pelan pada Kai, "Apa dia akan berhasil?"

__ADS_1


"Entahlah, akan tetapi setelah sedikit mengenal Ragna aku menyadari beberapa hal penting bahwa meski Ragna adalah pria yang tinggal dihutan pedalaman tapi sebenarnya dia ahli dan jenius dalam menggunakan sihir..." jelas Kai dengan mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Ragna tetap fokus dan terus fokus hingga secara perlahan lengan kanannya berubah menjadi hitam pekat dan hal itupun membuat demamnya perlahan menurun.


"Hah... hah... hah..." Erinka yang semula bernafas tak beraturan kini mulai mengatur nafasnya, iapun bahkan secara perlahan membuka matanya, "Terima kasih, Ragna!! Kau telah membantuku menekan kekuatan Sang Phoenix..."


"Hehehe... tak masalah!! Kau berhutang lagi padaku dan pastikan suatu saat kau membayarnya..." ucap Ragna yang terlihat kelelahan.


"Syukurlah, Ragna berhasil menekan kekuatan Sang Phoenix..." ucap Ragna.


"Hehehe... seperti katamu barusan, Ragna itu memang sepertinya sangat jenius..." sahut Lisha.


Usaha Ragna terbayarkan karena demam Erinka perlahan turun lalu ia telah tersadar dan hal itupun membuat Kai dan Lisha ikut senang.


Mereka merasa tenang sekarang karena Burung Api Phoenix telah berhenti menggila akan tetapi hal buruk yang lainnya kembali terjadi yaitu secara mendadak pintu bar terlempar ke dalam, "Jbbllar...!!!" Pintu itupun melesat lalu menancap pada tembok.


"...!!!" Sontak hal itupun membuat keempatnya terkejut.


Ragna mampu merasakan energi kuat terasa dari luar, ia menggertakan giginya dan terlihat sangat geram, "Sekarang apa lagi?" Ucapnya dengan sorot mata tajam.


"Tap... tap... tap..." terdengar langkah kaki mendekat.


"Hati-hati dan jangan lengah..." ucap Kai dengan ekspresi wajah serius, ia menyadari bahwa tekanan energi sihir yang datang terasa mengerikan dan penuh kebencian.


"Wah, wah, wah, jadi ditempat ini Sang Phoenix disembunyikan?" Ucap Koga dengan tersenyum lebar.


"Kau...!!!!" Keempatnya terkejut saat tau bahwa Koga masih hidup bahkan setelah insiden pertarungan Kraken dan Phoenix ditengah-tengah lautan.


Merekapun sangat geram, "Bagaimana mungkin kalian masih hidup?" Ucap Kai dengan sorot mata tajam.


"Hahahaha...!!" Koga malah tertawa lepas dan iapun menarik dua pedang yang tersarung dipunggungnya, "Ya, aku masih hidup karena diriku sangat beruntung dan sekarang siapa diantara kalian yang memiliki sang Phoenix?" Ucapnya dengan tersenyum lebar.


Iapun belum tau dalam tubuh siapa sang Phoenix disembunyikan.


"Apakah kau?" Ia menatap ke arah Erinka.


"Atau kau?" Koga beralih kepada Lisha.


"Atau mungkin kalian?" Ucapnya dengan menatap pada Ragna dan Kai.


Kai dan Ragna melangkahkan kaki maju dan berhadapan dengan keduanya.

__ADS_1


"Jika kau ingin tau dimana Phoenix disembunyikan maka cari tahu sendiri..." ucap Kai.


"Ya, benar!! Tetapi setelah kau menemukan Sang Phoenix kami tak akan memberikannya cuma-cuma..." sahut Ragna dengan sorot mata tajam, iapun melapisi kedua kepalan tangan dengan kegelapan pekat.


"Sihir kegelapan, ya?" Ucap sang pemimin ke-8 saat melihat sihir Ragna.


Kai juga menarik pedang yang tersarung dipunggungnya dan iapun menggunakan sihirnya sehingga pedang tersebut terlapisi kobaran api merah, "Majulah dan akan kami hadapi..."


"Kalian pikir siapa kami...!!!" Teriak Koga dengan berlari ke arah keduanya, iapun melompat dan menusuk.


"Zink!!" Ragna menghilang dengan kemampuan teleport dan muncul lagi disamping lalu menendang perut Koga, "Jbbuuak...!!" Koga terlempar dan jatuh menimpa kursi dan meja bar.


"Tap..." pemimpin ke-8 melompat dan berdiri tepat didekat Koga, "Sudah ku bilang jangan terlalu semangat karena hal itu bisa membuatmu lengah..."


"Berisik!!!" Bentak Koga yang agak kesal dan iapun perlahan bangkit lagi.


Kai berbisik pada Lisha, "Lisha mereka mengincar Erinka jadi untuk sementara tugasmu menjaganya..."


"Aku mengerti!!" Jawab Lisha.


Koga menatap tajam pada Kai dan Ragna, "Sudah cukup basa-basinya!! Akan ku gunakan kekuatanku yang sebenarnya..." ucapnya dengan menyarungkan dua pedangnya kembalh dan iapun meningkatkan energi.


Ukuran tubuhnya berubah menjadi 2X lipat dari pada sebelumnya, iapun memiliki bulu-bulu hitam, sorot mata tajam lalu kuku dan taring yang sangat tajam, "AAUUUOO...!!" Ia adalah manusia serigala.


Kai dan Ragna menjadi lebih waspada dari pada sebelumnya, "Aku harus berhati-hati!!" Pikir keduanya.


Koga dengan sorot mata tajam segera berlari ke arah keduanya dengan sangat cepat, "Zink!!" Mendadak Ragna muncul di arah disamping lalu menendang akan tetapi dengan instingnya yang tajam Koga mampu menghindar.


"Apa!!!!" Ragna terkejut.


"Jangan pikir aku sama seperti yang sebelumnya!!!" Teriak Koga dengan balas melesatkan tendangan, "Jbbuuak...!!" Ragna sempat menahan dengan menyilankan kedua lengan akan tetapi tetap saja ia terlempar dan jatuh menimpa kursi dan meja bar.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 80 : Pemimpin Ke-9 dan Ke-8


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi

__ADS_1


Trima kasih atas perhatiannya.


*****


__ADS_2