The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 135: Empat Lawan Tiga III


__ADS_3

Terjadi 3 pertarungan ditiga tempat yang berbeda.


Jack Rakan yang merupakan salah satu Komandan Pasukan Sihir kerajaan Albion berhadapan dengan Gamora pemimpin ke-5 Batalion Bayangan.


"Mereka berasal dari organisasi ileg


al da


tak ku sangka kekuatan mereka sampai ke level ini..." gumam Jack Rakan dalam hati ketika melihat kobaran api tepat dihadapannya.


Gamora melesat menembus kobaran api itu begitu saja dan iapun jatuh tepat dihadapan Jack Rakan dengan mengangkat pedangnya menggunakan dua tangan, "HIIAA..." ia menebas


Jack Rakan terkejut dan iapun juga mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, "Cthing!!" Dua senjata itu beradu sehingga tercipta hembusan angin kuat ke segala arah.


"Kau kuat sekali tapi sayangnya kau berdiri diorganisasi ilegal..."


Gamora menjadi geram, "Memangnya kenapa? Itu pilihanku dan kau tak berhak mencampurinya!!" Teriaknya dengan meningkatkan energi sehingga kobaran api yang membalut pedangnya, "HIIAA..."


Jack Rakan terpental ke belakang akan tetapi ia tetap dalam posisi berdiri tegak, pedangnya hancur lebur akan tetapi ia mengambil sebuah pedang lagi dari permukaan tanah, "Sial, sepertinya aku telah membuatnya marah..." ucap sang Komandan Pasukan Sihir itu.


Gamora dengan sekali pijakan yang terlapisi kobaran api melesat bagaikan roket saja dan langsung menebas, "Cthing!!!" Jack Rakan mampu menahan dengan pedangnya meski terdorong ke belakang.


"HIIAA...!!!" Gamora terus mendesak lawannya.


Jack Rakan yang terdesak memuncul pedang-pedang dari sebuah lingkaran sihir yang ada diudara. Pedang-pedang tersebut langsung saja melesat ke arah Gamora.


"...!!" Gamora terkejut dan iapun segera melompat ke belakang untuk menghindar, ia terlihat sangat geram, "Aku mengenalmu!! Kau adalah Jack Rakan 'si seribu pedang' yang merupakan salah satu dari Komandan Pasukan Sihir kerajaan Albion..."


Jack Rakan merespon dengan datar lalu berkata dengan santainya, "Yah, aku memang Jack Rakan tapi maaf saja aku tak mengenalmu..."


"Namaku Gamora dan aku berasal dari Batalion Bayangan lalu dalam organisasi kami, kekuatanku berada diurutan ke-5..."


Jack Rakan bergumam dalam hati, "Urutan ke-5 ya? Hmm... kalau begitu diurutan pertama kekuatan mereka pasti setara dengan Tuan Julius..."


"Yap..." Jack Rakan mengacungkan sebilah pedang yang ia genggam, "Karena kita sudah saling mengenal dan mengetahui kekuatan kita satu sama lainnya maka kita mulai saja pertarungan sesungguhnya..."


"Ya..."jawab Gamora dengan sorot mata tajam, iapun meningkatkan energi dan meledakan kobaran api dari kedua pijakan kakinya.

__ADS_1


"Sungguh suatu kehormatan bisa bertarung melawan salah satu Komandan Pasukan Sihir..." ucapnya yang kemudian melesat sangat cepat ke arah Jack Rakan.


Ia menghantam dengan melesatkan tebasan, "Cthing!!!" Jack Rakan menahan dengan pedangnya akan tetapi Gamora terus mendorongnya ke belakang dengan kobaran api sebagai pendorong dikedua kakinya.


"Sial, aku terdesak..." gumam Jack Rakan dalam hati, iapun memperkuat pijakan kedua kaki akan tetapi Gamora terus mendorongnya.


Jack Rakan yang tak mampu mempertahankan pijakan kedua kakinya terpental jauh ke belakang akan tetapi ia dengan cepat kembali berdiri tegak.


"Terbukalah!!" Jack Rakan menggunakan sihirnya, ia membuka sebuah portal diudara dan dari portal tersebut pedang-pedang yang tak terhitung jumlahnya jatuh.


Ya, Gamora terpaksa harus menghindari hujan pedang yang datangnya dari atas itu dengan berlarian secara zig-zag.


"Selain kuat ia juga sangat lincah..." pikir Jack Rakan.


*****


Dipertarungan yang lain mempertemukan Erinka si gadis bangsawan angkuh melawan pemimpin ke-6 Batalion Bayangan yaitu Fibel.


Pertarungan mereka terjadi diudara.


Fibel mengumpulkan energi diudara tepat diatas kepalanya dan terciptalah pusaran bola angin berukuran besar, "Aku ingin tau bagaimana caranya kau mengatasi seranganku yang ini?"


Meskipun ukurannya sangat besar tapi karena terbuat dari angin pergerakan serangan Fibel sangat cepat bahkan bagai hembusan angin.


Erinka terkejut bahkan tak sempat melakukan pertahanan, iapun mengarahkan lengan kanannya yang telah menghitam lalu menciptakan sebuah dinding kegelapan, "DYYEESS...!!"


Bola angin itupun menghantam dinding kegelapan dan terus mendesaknya, "Kekuatan ini pinjaman jadi aku tak terlalu menguasainya..." gumam Erinka yang terlihat mulai kuwalahan.


Fibel yang melihat cara Erinka berkata, "Jadi begitu caranya ia mengatasi seranganku, ya? Hmm... hebat juga!!" Iapun membuka lembaran kertas mantra yang ada pada grimoirenya dan membaca mantra tersebut.


Ya, mantra sihir yang digunakan oleh Fibel adalah tipe penguat sehingga mendadak pusaran bola angin yang sedang ditahan oleh Erinka berubah menjadi lebih besar.


"Apa!!!!" Erinka terkejut dan iapun mulai kuwalahan.


Fibel yang melihat lawan terdesak terlihat sangat menikmatinya, "Nah, berapa lama lagi kau akan bertahan?" Ucapnya dengan ekspresi agak sombong.


"Zink!!!" Secara mendadak Ragna muncul tepat dibelakang punggung Fibel, iapun tanpa ragu memukul dengan kepalan tangan besar karena sudah terlapisi oleh kegelapan, "Jbbllast!!" Fibel terkena serangan telak pada wajah tanpa sempat melakukan apapun karena serangan tersebut datangnya mendadak

__ADS_1


Pemimpin ke-6 Batalion Bayangan itupun jatuh ke permukaan tanah dengan sangat keras.


Fibel jatuh tersungkur membuat serangannya yaitu pusaran bola angin raksasa perlahan mengecil lalu menghilang.


"Hah... hah... hah..." Erinka mulai mengatur nafasnya dan ia yang kelelahan perlahan menginjakan kakinya dipermukaan tanah.


Ragna juga mendaratkan kaki ditanah tepat didekat rekannya, "Kau tak apa?"


"Ya, aku baik saja dan terima kasih karena telah menyelamatkanku..." ucap Erinka.


Fibel secara perlahan berdiri kembali dan iapun mengambil grimoire sihirnya yang terjatuh, "Mereka tak akan ku ampuni...!!!" Teriaknya dengan meledakan energi kuat.


Erinka dan Ragna segera memasang sikap waspada.


Fibel membuka kembali grimoirenya lalu membaca mantra sihirnya, "Kalian akan menyesal karena telah membuatku marah..."


Secara mendadak permukaan tanah bergetar hebat lalu tercipta retakan-retakan yang kemudian retakan-retakan tersebut terangkat ke udara.


Ragna dan Erinka kehilangan pijakan kedua kakinya dan ikut melayang ke udara.


"Gravitasinya seakan menghilang..." gumam Ragna dalam hati yang dengan kemampuannya mulai membentuk sepasang sayap dipunggungnya.


"Hati-hati, Ragna..." Erinka menggunakan kekuatan Phoenix dan iapun menciptakan sepasang sayap api biru dipunggungnya, "Pengamatanku mengatakan petarung yang kita lawan saat ini kekuatannya hampir setara dengan Master Mark..."


"Ya, akupun tau hal itu..." ucap Ragna yang dengan kepakan sayapnya terbang mendekat pada Fibel, "HIIAA...!!!" Iapun melesat sangat cepat dengan melapisi kepalan tangannya dengan kegelapan.


Fibel tak membiarkan Ragna lebih dekat dari dirinya, ia membaca mantra sihir yang ada digrimoirenya lagi.


Ya, mendadak puing-puing yang berterbangan membentuk sebuah dinding yang menghalangi laju terbang Ragna.


"Kau tak akan bisa menghentikanku..." teriak Ragna yang tanpa ragu menghantam dinding puing-puing itu, "Jbbllast!!"


Dinding itupun hancur lebur sekali pukul akan tetapi bagaikan waktu yang berjalan mundur dinding tersebut kembali ke semula.


"Apa!!!" Sontak hal itupun membuat Ragna terkejut karena mengetahui usahanya sia-sia.


Fibel dengan sorot mata tajam berkata, "Kalian tak mungkin dapat lolos setelah membuat diriku sangat marah..." iapun membuka lembaran pada grimoirenya dan mulai membaca mantra lagi.

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 136 : Gadis Dengan Regenerasi Super


__ADS_2