The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 159 : Penyusupan


__ADS_3

Kapal yang ditumpangi oleh Ragna dan teman-temannya ditelan bulat-bulat oleh sang hiu raksasa, Megalodon.


Meskipun begitu Ragna, Regios dan Kanna berhasil selamat karena melompat dari kapal tepat sebelum kapal ditelan sang monster lautan.


Ragna perlahan berenang ke tepi pantai dan ia basah kuyup akan tetapi Ragna yang lelah merebahkan tubuhnya pada pasir pantai yang halus dan lembut.


Ia menatap ke gelapnya langit malam dan melihat cahaya terang dari sang rembulan, "Sial, Megalodon itu tak menyerang kapal-kapal itu yang artinya makluk mitologi itu ada dipihak mereka..."


"Aku tak habis pikir orang sehebat apa yang mampu mengendalikan hiu raksasa itu..."


Ragna perlahan mengatur nafasnya dan setelah rasa lelahnya sedikit berkurang, ia lalu berdiri tegak, "Ya, dengan makluk itu diperairan ini maka jalan pelarian kami akan jauh lebih sulit dari pada yang dibayangkan..." ucapnya yang kemudian beranjak pergi ke tengah pulau.


"Ku harap Regios dan Kanna baik-baik saja..." ucap Ragna yang saat ini berjalan menyusuri hutan bakau yang terletak mengelilingi pulau tersebut.


Pasukan patroli dari pihak musuh lalu lalang memeriksa sekitar pulau dan hal itu membuat Ragna harus hati-hati dalam melakukan penyusupan.


Ia yang bersembunyi pada semak-semak bergumam dalam hati, "Sepertinya markas mereka ada pada puncak sulur itu..."


"Merepotkan sekali karena harus mencari Erinka dan Rikka ditempat seluas ini..." pikirnya yang kemudian melanjutkan perjalanan setelah pasukan patroli musuh pergi.


Ia berjalan menyusuri hutan lalu bergerak ke pusat pulau akan tetapi pergerakan Ragna jadi terhenti sebab begitu ia keluar dari hutan sebuah dinding raksasa yang tinggi menjulang menghalanginya.


"Dinding ini tinggi menjulang bagaikan benteng saja..." ucap Ragna dengan menatap ke atas dinding.


"Ya, aku bisa saja menggunakan kemampuan teleport untuk naik akan tetapi aku tak bisa memastikan diatas sana ada penjaga atau tidak..."


"Ya, agar lebih hati-hati maka akan ku panjat saja benteng ini..." ucap Ragna yang kemudian menciptakan lengan-lengan bayangan dari punggungnya.


Iapun mulai memanjat dinding tembok yang menjulang itu.


Suasana malam yang gelap membuat Ragna yang menggunakan elemen kegelapan sebagai penutup tubuh jadi mudah berkamuflase.


Ia terus naik ke atar tanpa halangan dan sesampainya diatas Ragna langsung melompat, "Hap..." disaat yang sama ada seorang wanita yang juga melompat dari bawah.


"Eeehhh...!!!" Baik Ragna maupun wanita itu terkejut.


Wanita itu segera berlari ke arah Ragna dan melesatkan tendangan, "Jbbuuak!!" Ragna menahan dengan menyilangkan kedua tangan meski pada akhirnya ia terdorong ke belakang.


"Karena sudah ketahuan oleh musuh maka aku tak punya pilihan lain selain menyingkirkannya..." pikir Ragna yang sekarang memasang sikap waspada.


Wanita itu tak lain adalah salah satu Komandan Penyihir kerajaan Albion, dia adalah Nikita yang sedang menyusup.

__ADS_1


"Karena sudah ketahuan maka aku harus segera menghabisinya agar tak terjadi keributan lebih luas..." pikir Nikita.


Ragna menyerang dengan pukulan-pukulan lengan bayangan yang ada dipunggungnya akan tetapi serangan itu dapat dihindari oleh sang komandan penyihir dengan gerakan lincah.


"Dia hebat sekali!! Apakah dia salah satu eksekutif mereka?" Pikir Ragna yang sekarang ini tak meremehkan wanita yang sedang dihadapinya.


Nikita mengambil jarak dengan melompat ke belakang, iapun mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan dan membakan duri-duri tajam.


"Zink!!" Ragna menghindar dengan menghilang menggunakan kemampuan teleport.


"Apa!!" Nikita terkejut dan ia jadi lebih waspada dari pada sebelumnya, ia bergumam dalam hati, "Dia mungkin petarung elite dari pihak musuk karena kemampuannya cukup hebat..."


Sang Komandan Sihir menjadi lebih waspada karena Ragna bisa muncul dimana saja dan kapan saja.


"Zink!!" Ragna muncul tepat dibelakang punggung Nikita dan langsung memukul.


Nikita mengelak dan ia balas mencengkram lengan Ragna kemudian membantingnya ke depan, "Jbbuuak!!" Ragna terjatuh.


"Sial..." ia terlihat kesal.


Nikita segera menarik sebilah pedang yang tersarung dipunggung dan tanpa pikir panjang menusuk Ragna yang terjatuh, "Zink!!" Ragna merespon cepat karena sebelum terkena tusukan ia menghilang dengan kemampuan teleport.


"Zink!!" Ragna muncul tepat dihadapan Nikita.


"HIIIAAA...!!!!" Sang Komandan Penyihir langsung berlari maju dan melesatkan serangan berupa tusukan.


Ragna melapisi kedua telapak tangan dengan kegelapan dan menahan pedang Sang Komandan Penyihir dengan menggunakan dua telapak tangannya itu.


"Kau bahkan tak menggunakan kekuatan sihirmu untuk melawanku!! Benar-benar wanita yang hebat..."


"Cih, aku tak akan menggunakan sihirku karena hal itu sangat mencolok dan tak cocok digunakan untuk menyusup..." ucap Nikita.


"Menyusup?" Gumam Ragna yang agak bingung.


"Jika kau memiliki kemampuan teleport kenapa kau tidak pergi saja dan melapor pada teman-temanmu?"


"Hah??" Ragna semakin tak mengerti akan apa yang ia katakan.


Keduanya lalu melompat ke belakang untuk menjaga jarak.


"Tunggu dulu!! Ada hal yang ingin ku tanyakan padamu?" Ucap Ragna.

__ADS_1


"Tidak ada hal yang perlu ku bicarakan denganmu!! Aku harus segera membunuhmu agar misi penyusupan ini lancar..." ucap Nikita dengan sorot mata tajam.


"Ku bilang tunggu dulu!! Pertarungan ini percuma saja..."


"Apa maksudmu?" Ucap Sang Komandan Penyihir dengan sorot mata tajam.


"Aku juga sama sepertimu!! Aku ditempat ini sedang menyusup..."


Sang Komandan Penyihir masih tak percaya, "Aku tak percaya pada omong kosongmu itu!!"


"Tidak, kau harus percaya!! Aku adalah penyihir dari Guild White Tiger dan aku kemari untuk membebaskan rekanku yang ditangkap oleh mereka..." jelas Ragna dengan mengangkat kedua tangan dan iapun menonaktifkan lengan-lengan bayangan yang ada dipunggungnya.


Nikita yang melihat Ragna mengangkat kedua tangan menurunkan kewaspadaannya, ia secara perlahan menyarungkan sebilah pedangnya lagi, "Baiklah, aku akan sedikit percaya pada kata-katamu tetapi aku masih curiga padamu..."


"Hah... Fiuh..." Ragna menghembuskan nafas panjang karena kesalah pahaman sudah terselesaikan.


"Jadi siapa sebenarnya kauh? Dan mengapa kau bisa berada ditempat ini?"


Nikita membalikan badan dan mengacuhkan ucapan Ragna, "Tak penting siapa aku akan tetapi aku ditempat ini sama sepertimu yaitu sedang melakukan penyusupan..."


"Oh, penyusupan!! Kalau begitu kita bisa berkerja sama?" Ucap Ragna dengan ekspresi senang.


Nikita menoleh ke belakang dengan sorot mata tajam, "Enyahlah, bocah!! Pemikiranmu yang naif itu menyebalkan sekali!!"


"Aturan pertama didunia ini adalah jangan mudah percaya pada orang lain terutama orang yang baru kau kenal..."


Ragna terdiam.


"Ya, meski sama-sama sedang menyusup tapi bukan berarti kita dipihak yang sama..."


"Lupakan pernah bertemu denganku dan semua masalah ini akan selesai..." ucap Nikita yang beranjak pergi.


Iapun melangkahkan kaki akan tetapi mendadak para pasukan dari Batalion Bayangan muncul dan mengepungnya bersama dengan Ragna dari dua sisi yang berbeda.


"Kalian para penyusup menyerahlah!!!!"


Ragna dan Nikita menyadari bahwa pertarungan mereka telah membuat musuh mengetahui keberadaan mereka.


"Sialan, ini akan jadi lebih merepotkan..." gumam Sang Komandan Penyihir.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 160 : Mari Menyusup

__ADS_1


__ADS_2