The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 156 : Penyusup


__ADS_3

Semuanya berhasil dikalahkan lalu sekarang ini Erinka dan Rikka berhasil dibawa pergi oleh sang pemimpin ke-2 Batalion Bayangan.


Tetapi setelah itu Ragna dan Kanna segera bangkit kembali dan mengejar musuh sesuai dengan arahan dari Regios.


Regios yang merupakan Dragon Slayer memiliki insting yang sangat tajam sehingga mampu memandu keduanya dengan mengikuti musuh lewat bau yang ditinggalkan musuh.


"Tap... tap... tap..." dengan langkah cepat ketiganya berlari dijalan raya yang penuh dengan keramaian.


"Kita harus cepat!! Bau mereka bisa saja hilang karena berbaur dengan bau penduduk..." ucap Regios yang berlari memimpin didepan.


"Kami mengerti..." ucap Ragna.


"Apa saja hal yang bisa membuat bau mereka hilang?" Tanya Kanna.


"Banyak hal dan salah satunya adalah aroma makanan ataupun bau-bau yang lainnya..." jelas Regios yang memusatkan perhatiannya pada insting penciumannya.


Mereka bertiga mempercepat langkah kakinya karena sedang berpacu dengan waktu.


Lalu tak butuh waktu lama mereka bertiga sampai dipelabuhan.


Regios menatap ke depan pada lautan biru dengan sorot mata tajam, "Sial..."


"Apa maksud ucapanmu itu?" Tanya Kanna.


"Sepertinya kita harus berlayar..." ucap Regios.


"Kalau begitu kita harus segera cari kapal..." sahut Ragna.


"Ya..." jawab Regios.


"Tap... tap... tap..." mendadak saja orang-orang bersenjatakan lengkap yang merupakan mafia kota mendekat dan bergerak mengepung ketiganya.


Regios bertambah kesal, "Kenapa harus sekarang mereka muncul?"


Si bos yang sebelumnya dihadapi oleh mereka muncul lagi dan ia lebih marah dari pada sebelumnya, "Mereka memiliki rahasia kita jadi kita tak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja..."


"Siap, kami mengerti!!!" Jawab seluruh bawahan kompak.


Han dan Juro kembali maju menyerang lebih dulu dan hal itu membuat Regios panik, "Sial, disaat kami sedang buru-buru mereka malah muncul..." gumamnya dalam hati.


"Jbbuuak!! Jbbuuak!!" Ragna menciptakan dua kepalan tangan super besar dan menghantam keduanya sekuat tenaga.


Keduanya terhempas jauh dan langsung tak sadarkan diri, Ragna menatap tajam pada semua orang yang tengah mengepung mereka, "Aku tak mengenal kalian akan tetapi kami sedang buru-buru jadi jangan halangi jalan kami atau nasib kalian akan seperti dua orang tadi..."

__ADS_1


Semua orang langsung takut begitu melihat raut wajah menyeramkan dari Ragna.


Ragna menciptakan kepalan-kepalan tangan raksasa dari bayangannya sendiri lalu berteriak, "Pergi sialan!!!!!!!!"


"KYYAA...!!!!!!" Sekumpulan mafia itupun langsung berlarian kabur tak karuan.


"Eeehhh...!!!!" Regios dalam hati sangat terkejut melihat cara Ragna mengusir mereka.


Tersisa si bos yang masih ada disana dan Ragna pun berjalan mendekatinya, "Apa kau mau dihajar?"


"Siapa kau? Memangnya aku takut denganmu, bocah!!!" Ucap si bos masih dengan sikap angkuhnya.


"Oh..." Ragna mengangkat kepalan-kepalan tangan super besar miliknya dan berkata, "Kalau begitu aku akan menghajarmu...!!!"


Ragna berniat melesatkan pukulan akan tetapi mendadak Regios berteriak, "Tunggu dulu!!!"


Seketika Ragna menghentikan pukulan-pukulannya meski hampir sejengkal saja mengenai wajah si bos.


"Kita membutuhkan sebuah kapal untuk mengarungi lautan dan dia memiliki kapal tersebut..."


"Oh..." Ragna paham dan iapun menarik kembali kepalan tangannya.


Si bos dengan sikap angkuhnya berkata, "Kalian tak akan mendapatkan apapun dariku apalagi sebuah kapal..."


"Apa!!!!" Si bos terkejut pada apa yang dikatakan Regios, "Bagaimana bisa kalian mendapatkan kapal bila aku tak memberinya?"


"Dengan cara paksa..." ucap Ragna yang menyerang dengan melesatkan pukulan secara bertubi-tubi.


Si bos terjatuh ke tanah karena babak belur penuh benjolan dikepala dan diwajah.


Regios tersenyum licik dan berjalan mendekatinya, "Bagaimana? Apakah kau memilih memberi kami sebuah kapal atau dihajar habis-habisan lagi?"


"Sialan!!! Kalian akan menyesal nantinya!!!!" Teriak si bos yang menyerah dan iapun memberikan sebuah kapal pada ketiganya.


Ya, singkat cerita mereka bertiga menuju ke tempat yang ditunjukan oleh si bos dan ditempat itu terdapat sebuah kapal yang ukurannya tak terlalu besar ataupun kecil.


"Huuuppps...!!!" Regios menarik nafas panjang lewat hidung, ia mengumpulkan jejak bau yang ada diudara bebar lalu berkata, "Kita berangkat!! Kita bergerak ke barat laut!!"


"Siap!!!!" Jawab Ragna dan Kanna secara serentak.


Ragna menarik jangkar kapal sementara itu Kanna membentangkan layar kapal dan Regios memegang kemudi.


Hembusan angin pelan menerpa, terik matahari yang menyengat kulit terasa

__ADS_1


Ya, pelayaran mereka pun dimulai dan petualangan yang hebat menanti mereka.


*****


Sementara itu.


Ditempat yang sedang dituju oleh ketiganya terdapat sebuah pulau buatan dengan tiga buah sulur raksasa yang saling ikat mengikat dan membentuk sebuah tower raksasa menuju langit tumbuh ditengah-tengah pulau tersebut


"Tap..." seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahun mendaratkan kaki dipulau itu, "Akhirnya sampai juga ditempat ini..."


Wanita itu merupakan salah satu dari 9 Komandan Penyihir kerajaan Albion dan ia bernama Nikita.


Nikita bergumam dalam hati sambil melihat daerah sekitar, "Jadi ini markas para pemuja Raja Iblis itu?" Iapun teringat pada misi yang diberikan oleh Sang Kaisar Sihir, Julius Nova.


Kala itu Tuan Julius sedang duduk diruangannya dan berkata pada Nikita, "Misimu ada ditengah samudra..."


"Dari informan terpercaya kita disana ada sebuah pulau yang memancarkan energi kuat dan aku punya firasat pulau tersebut merupakan markas pemuja Raja Iblis..."


"Hmm... jadi anda ingin aku pergi ke sana?" Tanya Nikita.


"Tepat sekali..." jawab Tuan Julius kala itu, "Akan tetapi misimu hanya mengamati dan mengumpulkan informasi tentang mereka bukan bertarung dengan mereka..."


"Kenapa aku tak boleh bertarung dengan mereka?" Tanya balik sang komandan penyihir itu.


Tuan Julius memasang ekspresi wajah serius, "Aku punya firasat ditempat itu ada musuh kuat yang tak mampu kau hadapi..."


"Berhati-hatilah dan jangan gegabah lalu kembalilah dengan selamat..."


"Apa anda pikir aku akan kalah bila terlibat pertarungan dengan mereka?"


"Tidak..." jawab Tuan Julis, "Informasi apa yang tengah dilakukan mereka itu sangatlah penting dan juga bertarung diwilayah musuh sangatlah beresiko meski untukmu..."


Sang Komandan Sihir itupun terdiam sejenak lalu berkata, "Baik, aku mengerti..." ia pun kemudian pergi.


"Semoga beruntung..." ucap Sang Kaisar Sihir setelah Nikita pergi.


*


Kembali ke waktu sekarang dimana setelah menginjakan kaki dipulau tersebut, Komandan Pasukan Sihir itupun bergegas pergi ke semak-semak yang tumbuh ditepi pantai.


Ia kemudian bergerak menuju gelapnya hutan yang tubuh dipulau itu, "Mencari informasi tanpa ketahuan musuh lebih merepotkan dari pada bertarung..." ucap Nikita dengan menatap ke ujung tiga sulur raksasa.


"Dan sepertinya markas utama mereka ada diatas sana..."

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 157 : Penyusup II


__ADS_2