The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 150 : Dragon Slayer Es II


__ADS_3

Erinka menatap tajam dan terlihat serius, "Sebenarnya apa yang saat itu terjadi padamu? Mengapa kau bisa sangat brutal?"


Ragna terdiam, "Entahlah..." ia kebingungan mulai menjelaskan dari mana, "Seingatku, aku diambang kematian lalu secara tak terduga kemampuan sihirku yaitu 'Devil Slayer' mengambil alih tubuhku lalu mengamuk tak terkendali..."


Erinka terdiam dan berfikir, ia kemudian mengambil sebuah kesimpulan, "Emm... bisa diambil kesimpulan bahwa kemampuan sihir milikmu yaitu 'Devil Slayer' memiliki kepribadiannya sendiri dan tentu kemampuan itu memiliki keinginan tersendiri..."


"Intinya kemampuan 'Devil Slayer' akan mengambil alih tubuhmu saat kau lengah dan lemah..." ucap Erinka


"Singkatnya kau mau bilang bahwa kemampuan 'Devil Slayer' milikku sama seperti Phoenix yang ada dalam tubuhmu..." sahut Ragna dengan tatapan serius.


"Ya..." jawab Erinka dengan mengangguk.


"Hah..." Ragna menghela nafas panjang, "Itu jadi itu artinya aku harus memperkuat diriku baik itu secara fisik ataupun mental..."


"Hmm... mungkin hanya itu yang bisa kau lakukan untuk mengatasi kondisimu sekarang..." ucap Erinka.


Ragna bergumam dalam hati, "Aku tak boleh membiarkan orang yang seharusnya ku lindungi terluka oleh kemampuanku sendiri..."


"Aku harus jadi lebih kuat dari sebelumnya karena nantinya musuhku akan jadi lebih kuat dan berbahaya..." iapun jadi terasa lebih bersemangat.


Ragna kemudian mengelus kepala Rikka lalu berkata, "Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kita telah gagal mendapatkan lisensi penyihir lalu kita membuat kegaduhan yang luar biasa sehingga mungkin sekarang ini Perserikatan Penyihir mencurigai kita..."


"Yah, untuk sekarang kita lebih baik pulang ke guild White Tiger..." ucap Erinka.


"Lalu bagaimana dengan Rikka?" Tanya Ragna.


"Tuan Julius menyerahkan Rikka pada kita yang intinya kita harus merawatnya..."


"Apa!! Tuan Julius?" Ragna terkejut.


"Benar, Tuan Julius datang dan menyelesaikan semua masalah yang ada..."


Ragna akhirnya mengerti semua hal yang terjadi, "Begitu rupanya, tak ku sangka keributan ini sampai melibatkan penyihir terkuat yaitu Kaisar Sihir..." ucapnya dengan wajah murung.


"Angkat wajahmu..." ucap Erinka dengan tegas.

__ADS_1


"Ya, aku tau!! Kita harus segera pulang..." Sahut Ragna yang secara perlahan kembali bersemangat.


Erinka menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, "Hah..." iapun berkata dengan nada datar, "Ya, setelah Kanna tersadar kita akan langsung bergegas pulang ke guild White Tiger..."


"Ya..." jawab Ragna dan Rikka.


Masalah telah usai dan merekapun segera bergegas pulang ke guild White Tiger setelah Kanna tersadar.


*****


Sementara itu.


Disuatu pelabuhan terlihat sebuah kapal berukuran sangat besar sedang berlabuh.


Kapal tersebut membawa muatan yang sangat banyak setelah berlayar ditempat yang jauh.


Ya, kapal itu berisikan kotak-kotak berukuran besar yang terbuat dari kayu dan saat ini para pekerja sedang membongkar muat kapal tersebut.


"Ayo cepat!! Angkat semua kotak-kotak ini dan jangan bermalas-malasan!!" Teriak seorang komandan pekerja dari atas kapal dengan mengamati para pekerja yang lainnya.


Merekapun berkerja dengan keras dan tergambar wajah lelah pada ekspresi muka mereka akan tetapi meskipun sang komandan pekerja berkata lagi, "Cepat selesaikan dikapal ini, dasar pemalas!! Masih banyak kapal-kapal yang harus dibongkar muat!" Teriaknya dengan melesatkan cambukan pada udara bebas agar membuat para pekerja semangat.


Muatan kapal-kapal itu adalah berbagai barang yang dikemas dalam kotak kayu berukuran besar dan kecil.


Lalu didalam sebuah kotak kayu yang berukuran cukup besar, seorang pemuda sedang bersembunyi didalamnya.


"Pengap sekali!! Aku kesusahan bernafas..." gerutunya didalam kotak tersebut.


Ia merasa kotak kayu tempatnya bersembunyi itu terlalu sempit, "Aku harus keluar dari kotak kayu ini!! Yah tapi bagaimana nanti bila ketahuan?" Ucapnya yang dengan berfikir ulang.


"Apa boleh buat!! Aku harus menunggu malam untuk keluar dari tempat ini..." pemuda itupun membuat keputusan.


Ya, dipelabuhan itu para pekerja beraktifitas seperti biasa tanpa mengetahui seorang penyusup berada diantara muatan kapal.


Malam pun tiba dan pemuda yang sebelumnya bersembunyi didalam kotak kayu berusaha untuk keluar, "Sepertinya sudah malam dan waktunya untuk keluar..." ia mencoba keluar dari samping kotak bagian kanan akan tetapi tak bisa karena terganjal kotak yang lain.


Ia kemudian mencoba lewat bagian kiri kotak akan tetapi tak bisa juga kerena terganjal kotak yang lainnya lagi, pemuda itu mencoba lewat depan akan tetapi terganjal juga dan lewat belakang kotak tetapi tak bisa juga.

__ADS_1


"Sialan!!! Kotak yang ku masuki berada ditengah-tengah kotak yang lain..." iapun tersadar belum mencoba bagian atas kotak.


"Baik, semoga keberuntungan ada dipihakku..." ucapnya dengan mendorong ke atas secara perlahan.


Ia berhasil membuka penutup kotak dari atas secara perlahan akan tetapi begitu ia menatap keluar senapan-senapan sudah menodong ke arahnya dan banyak orang telah mengepungnya, "Eeehh...!! Aku ketahuan!!" Ucapnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Dia penusup!! Bawa dia!!" Ucap salah satu orang yang menodongkan senapan.


"Siap...!!!!" Jawab yang lainnya.


Ya, orang-orang itu menyadari keberadan pemuda itu karena mendengar suara ia membuka kotak berulang kali.


Selanjutnya pemuda itu dibawa ke sebuah bangunan yang berdiri dipelabuan itu, ia diserahkan kepada penguasa pelabuan.


*


Beberapa orang terlihat menjaga pintu masuk rumah dengan membawa senapan lalu didalam rumah berjejer 5 orang pengawal yang sepertinya ahli bela diri dan terakhir disekeliling rumah ada beberapa penjaga yang bersenjata tajam.


Pemuda yang sebelumnya menyusup terlihat tenang dan santai meski segala pengamanan telah diperketat.


Iapun duduk disebuah kursi dengan posisi diikat dan dibelakang punggungnya berjejer 5 orang ahli bela diri.


"Anu, tak bisakah kalian memberiku makanan ataupun minuman?" Ucapnya dengan tenang dan santai tanpa ada rasa takut.


"Tap... tap..." seorang pria yang merupakan bos ditempat itu memasuki ruangan, ia terlihat geram begitu melihat pemuda yang menyusup itu.


Bos tempat itu langsung saja mengarahkan sebilah pedang pada leher pemuda itu, "Katakan padaku siapa kau?"


Pemuda itu tersenyum licik, "Kau tak akan mendapatkan sedikitpun informasi dariku..."


"Kalau begitu aku akan menghabisimu..." ucap sang bos dengan sorot mata tajam.


Pemuda itu sama sekali tak merasa takut, "Jika kau menghabisiku maka orang-orang yang mengenalku akan mencarimu dan tentu saja kalian akan dalam masalah..."


"Cih..." bos tempat itu terlihat geram karena gertakannya tak mempan, "Kalau begitu akan ku siksa dirimu sampai kami mendapatkan informasi dari mulutmu..."


Pemuda itupun seketika terdiam, sedikit panik dan secara mendadak perutnya berbunyi sangat keras tanda ia sangat lapar, "Hehehe... anu... aku akan bicara bila kau memberikan makanan padaku..."

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 151 : Rekan Sementara


__ADS_2