The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 112 : Bantu Kami!!


__ADS_3

Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.


Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'


Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.


Selamat membaca!!


*****


Matahari pun terbenam dan haripun yang semula sore berganti dengan senja


Keempat anggota White Tiger yang telah selesai dengan pertarungan mereka akhirnya sampai dipusat kota yang sekarang ini berubah menjadi daerah cekung karena pertarungan.


Kanna menunjuk ke pusat cekungan yang disana ada kepulan asap tebal, "Disana adalah pusat pertarungan Edward melawan Ragna dan pemenangnya ditentukan sekarang..."


Keempatnya dan Kanna terdiam lalu merekapun mengamati dengan seksama kepulan asap tebal yang ada dipusat cekungan.


"Cih, kita tak bisa diam disini dan hanya menunggu saja!!!" Ucap Reynhard yang terlihat sangat geram.


Sistina berkata, "Kita tak punya banyak waktu lagi!!!"


Djarot 'si cyborg' membuat keputusan, "Baik, mari kita menuju pusat cekungan..."


Kelimanya bergegas bergerak menuju pusat cekungan akan tetapi mendadak angin berhembus sangat kecang menyapu kepulan asap tebal sehingga nampaklah pemenang dari pertarungan mereka.


"Siapa yang menang?" Tanya Erinka.


"Aku juga kurang tau karena hasilnya masih samar-samar..." jawab Reynhard yang memandang ke depan dan disana masih ada dedebuan tipis.


Kanna tanpa pikir panjang langsung berlari ke pusat cekungan secepatnya.


"Hey, kau harus menunggu kami dulu!!" Teriak Djarot akan tetapi diabaikan oleh Kanna dan hal itupun memaksa yang lainnya mengejarnya.


Dipusat cekungan yang masih tertutupi oleh dedebuan tipis terlihat samar-samar seseorang telah berdiri tegak.


"Siapa dia?" Pikir kelimanya yang sangat penasaran pada hasil pertarungan.


Ya, pria yang masih berdiri tegak itu adalah Edward sementara Ragna sendiri terkapar ditanah.


Hal itupun membuat kelimanya yang bergerak mendekat menjadi sangat terkejut, "Itu tidak mungkin!! Ragna telah kalah!!!" Mereka pun mempercepat langkah kaki.


Angin pun mendadak berhembus lebih kuat dan hal itu membuat tubuh Edward perlahan condong ke belakang lalu jatuh ke tanah dengan keras, "DYYEESS...!!"


"Apa!!!" Kelimanya yang melihat Edward terjatuh menjadi sangat terkejut.


Mereka pun mendekatinya lalu Reynhard, Djarot 'si cyborg' dan Sistina berkumpul mengitarinya sementara Erinka dan Kanna mendekat pada Ragna.


"Hah... hah... hah..." Edward mencoba mengatur nafasnya, ia terlihat sangat kelelahan setelah bertarung melawan Ragna dan Kanna.

__ADS_1


Reynhard bergumam dalam hati, "Pria ini jauh lebih kuat dari pada pria dengan kemampuan lava yang sebelumnya ku lawan..."


"Kau telah kalah!!" Ucap Djarot 'si cyborg'


"Tak ku sangka kau bisa dikalahkan oleh anggota baru..." ucap Sistina.


Edward tak menjawab.


Lalu dilain sisi Kanna dan Erinka sangat mengkhawatirkan keadaan Ragna yang terkapar.


"Ragna, bangunlah!!!" Ucap Kanna dengan menggoyang-goyangkan tubuh rekannya itu, ia yang khawatir sesekali memeriksa detak jatung dan nafas Ragna.


"Khi..." mendadak Ragna tersenyum lebar.


Erinka agak kesal, "Dasar, sebenarnya apa yang lucu?"


"Tidak ada!! Hanya saja pertarungan yang ku alami sangatlah menyenangkan..." ucap Ragna dengan tersenyum lebar, "Dan terima kasih untukmu, Kanna!! Berkat dirimu aku menang dan mendapatkan kekuatan es iblis..."


"Tak masalah!! Kau tak perlu berterima kasih padaku..."


*


Edward masih berusaha mengatur nafasnya, "Khi..." iapun tersenyum menyeringai, "Sayang sekali!! Aku menang dalam pertarungan dan meski semua berjalan dengan kacau tapi pada akhirnya aku berhasil mencapai tujuanku..."


"Matahari telah terbenam dan kalian telah kehabisan waktu, sekarang ini nyawa Master Mark tak tertolong lagi..."


Ketiganya nampak biasa saja saat mendengar kata-kata dari Edward itu.


Edward menjadi agak kesal, "Apa-apaan ekspresi kalian itu? Mengapa kalian tak terkejut ataupun sedih saat mengetahui Master Mark telah tiada?"


"Tap..." Master Mark muncul dan ia mendaratkan kaki secara perlahan tepat dibelakang ketiganya.


Edward terdiam membisu, terbelalak, ia shock berat, "Tidak mungkin!!" Ucapnya secara spontan.


"Ah..." Djarot 'si cyborg' mengarahkan jari jempolnya ke belakang, "Master Mark masih hidup..."


"Benar, dia asli bukan tiruan ataupun hantu..." sahut Reynhard.


Edward terdiam lagi dan berusaha memahami keadaan.


Sistina berkata, "Hadeh, sepertinya dari awal rencanamu telah gagal total..."


"Apa maksud dari ucapanmu itu?" Tanya Edward dengan sorot mata tajam pada Sistina.


"Aku juga kurang mengerti tapi sepertinya Master Mark bebas begitu saja dan jika kau ingin tau detailnya lebih baik kau tanyakan sendiri padanya..." jawab Sistina dengan entengnya.


Edward giliran menatap tajam pada Master Mark, "Apa maksud dari semua ini, pak tua!!! Katakan padaku!!" Teriaknya dengan emosi setelah mengetahui rencananya telah gagal.


"Hmm..." Master Mark berfikir karena agak kebingungan harus dari mana mulai menjelaskan, "Yap, seperti yang dikatakan oleh Sistina tadi bahwa rencanamu sejak awal telah gagal total..."

__ADS_1


"Apa!! Bagaimana bisa?"


"Entahlah..." jawab Master Mark dengan entengnya, "Setelah kalian semua pergi dari guild dan meninggalkan diriku yang telah menjadi patung secara perlahan segel yang mengurungku hancur..."


"Singkat cerita aku bisa bebas begitu saja..."


"Apa!!! Tidak mungkin!!!" Edward menjadi sangat shock.


"Cih..." Djarot 'si cyborg' juga agak kesal, "Yang artinya semua perjuangan dan pertarungan kita selama ini untuk membebaskan Master Mark sia-sia saja..."


"Menyebalkan juga, ya?" Reynhard setuju pada pendapat Djarot 'si cyborg'


"Hehehe, maafkan aku..." ucap Master Mark yang merasa sedikit bersalah, "Aku bahkan tak tau bila kalian berjuang untukku..."


"Kejamnya..." ucap Reynhard dan Djarot 'si cyborg' serentak.


Dilain sisi Edward masih sangat shock dan tak percaya, "Tidak mungkin rencanaku gagal total!! Padahal aku sudah mempersiapkan dari awal tapi bagaimana bisa begini?"


"Tap... tap... tap..." Sistina berjalan mendekatinya dan berkata, "Penjelasannya mungkin karena segel yang mengurung Master Mark kurang sempurna dan juga bisa saja energi sihir milik Master Mark terlalu kuat sehingga ia bisa keluar dengan mudahnya..."


Edward terdiam dan sedikit dapat menerima apa yang dikatakan gadis bartender itu akan tetapi ia masih shock setelah mengetahui rencananya gagal sejak awal.


"Tap... tap... tap..." Master Mark dengan langkah perlahan mendekati Edward juga dan berkata, "Anakku, semua ini telah berakhir..."


"Kami telah membawa Albert dan Rumia ke rumah sakit terdekat, mereka berdua terluka cukup parah karena pertarungan..."


Edward tertunduk.


"Ya, jika kau menginginkan jabatan Master White Tiger aku bisa saja memberikannya akan tetapi sekarang ini kau belum siap..."


Edward secara perlahan mengangkat wajahnya dan tertawa, "Hahahahaha..." air mata mengalir deras, "Master, apa kali ini perbuatanku benar-benar kelewatan?"


"Ya, tapi sebagai sesama anggota White Tiger kami telah memaafkan kalian..." jawab Master Mark.


"Yang benar saja!!!!" Teriak Edward dengan lantang, "Kalian tak boleh memberikan maaf pada seseorang yang telah bersalah dengan mudahnya!!!!"


"Cih, kalau begitu bantu kami..." ucap Reynhard.


"Apa maksud ucapanmu?"


Djarot 'si cyborg' berkata, "Ragna sekarang ini menjadi incaran Black Tiger jadi bantu kami melawan mereka..."


"Emm..." Sistina mengangguk dengan tersenyum dan berkata, "Edward, kekuatanmu sangat dibutuhkan dan juga kami tak akan bisa menang jadi bantulah kami..."


Master Mark berkata, "Tiada alasan untuk ragu lagi sebagai anggota White Tiger mari sama-sama kalahkan musuh kita..."


Edward masih terdiam membisu dan kebingungan untuk menjawab.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 113 : Lisensi Penyihir

__ADS_1


__ADS_2