
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Semua mulai berjalan lancar dan kelompok yang terdiri dari dua guild penyihir itu hampir saja lepas dari bahaya monster lautan akan tetapi hal yang paling buruk terjadi.
Phoenix dalam tubuh Erinka beresonansi pada keberadaan Kraken dan mulai menggila.
"ARRGGHH...!!"
Denjirou menjadi lebih geram dari pada sebelumnya karena adanya sang Phoenix bisa memancing kembali Kraken yang mungkin bisa membuat ketiga istrinya dalam bahaya lagi, "Sialan, kau, Erinka!!!! Kendalikan Phoenix yang ada didalam tubuhmu atau kita semua akan mati...!!!!"
"ARRRGGGH...!!!" Erinka si gadis bangsawan itu tak menjawab dan hanya bisa berteriak kesakitan.
Dilain sisi sang monster lautan Kraken menatap ke arah kapal yang ditumpangi mereka karena melihat cahaya terang yang berasal dari api biru Sang Phoenix.
"Dia menyadari keberadaan kita..." ucap Lisha.
"Cih, ini buruk!!" Ucap Kai.
Mereka semua terkejut karena meski jaraknya sudah cukup jauh tapi Kraken masih bisa melihat kapal yang mereka tumpangi.
Ragna berkata, "Akan ku coba memadamkan api birunya..." iapun membalut tubuh Erinka dengan kegelapan.
Erinka tak memancarkan api biru lagi karena berada dalam bola kegelapan akan tetapi Sang Kraken tetap menatap ke arah mereka.
"Dia mampu merasakan energi kuat dari Burung Api Phoenix..." ucap Pak Gamou, "Mau tidak mau kita harus menghadapinya..."
Sang Monster Lautan, Kraken menyelam ke dasar laut.
Mereka yang berada diatas kapal menyadari bahwa sang monster lautan akan kembali dan merekapun mempersiapkan skenario terburuk yaitu berhadapan dengan Kraken.
"DYYEESS...!!" Tak butuh waktu lama Sang Monster Lautan itu sudah berada dibawah kapal mereka dan salah satu tentakel raksasanya sudah keluar dari air laut.
Tentakel raksasa itu bergerak lalu mulai mencengkram kapal dan semuanya yang berada dalam kapal itu mulai panik.
"Cih..." Denjirou menarik dua buah pedang yang ada dipunggungnya lalu melapisi pedang tersebut dengan sihir angin, "Ku cincang kau!!!"
"Sllash!! Sllash!!" Iapun memotong tentakel yang meliliti kapal itu.
"Dasar bodoh!!!" Bentak Pak Gamou, "Kau hanya akan membuatnya semakin marah!!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan!! Dia saja?" Bentak Denjirou, "Kalau kita diam saja dia pasti akan menghancurkan kapal dan membunuh kita semua!!"
Pak Gamou terdiam.
"Sekarang bukan waktunya berdebat..." ucap Kai dengan sorot mata tajam, ia secara perlahan menarik pedang yang tersarung dipinggangnya.
Begitu pedang tersebut keluar dari sarungnya pedang itupun langsung terlapisi kobaran sihir api.
"Kerahkan semua kemampuan kita untuk mempertahankan kapal ini atau kita semua akan mati..." ucap Kai dengan serius.
"Dia benar..." pikir semuanya yang setuju dengan kata-kata Kai.
__ADS_1
Pak Gamou bersusah payah untuk berdiri dan iapun meningkatkan energi sihirnya lalu berubah menjadi bison kembali.
Denjirou menggenggam erat dua pedangnya yang terlapisi sihir angin.
Ragna menatap tajam penuh dengan keseriusan, ia meningkatkan energi dan melapisi kedua kepalan tangannya dengan kegelapan.
Ketiga istri Denjirou juga bersiap menghadapi Kraken.
Sumika si istri dengan rambut pirang terurai mengambil tombak yang ada dipinggangnya.
Tifa si istri dengan rambut hitam pendek sebahu secara perlahan menarik sebuah pedang dari punggungnya.
Makio si istri berambut hitam yang dikucir ekor kuda mulai mengisi senapannya.
Kai dengan sorot mata tajam memberikan peringatan, "Bersiaplah, Denjirou telah memotong salah satu tentakelnya yang artinya makluk itu akan kembali dengan kemarahan yang lebih besar dari pada sebelumnya..."
"Kami mengerti..." jawab semuanya serentak.
Mereka waspada lalu dibawah kapal yang mereka tumpangi muncul bayangan hitam besar.
"Dia berada tepat dibawah kita!!!!" Ucap Ragna.
"DYYEESS...!!!" Dari berbagai sisi secara mendadak delapan tentakel raksasa keluar dari dalam air laut.
Pak Gamou memberikan perintah, "Jangan biarkan tentakel-tentakel itu meliliti kapal!!! Dengan segenap kemampuan kalian cobalah untuk memotongnya!!"
"Siap!!!!" Mereka semua bergerak serentak.
Ragna melesatkan pukulan-pukulan pada tentakel yang muncul.
Kai menebas dengan pedang yang terlapisi oleh elemen api.
Pak Gamou dengan sisa-sisa kekuatannya menghantam tentakel yang muncul dengan gada besi berdurinya.
Dan terakhir ketiga istri Denjirou berjuang sekuat tenaga untuk menghancurkan tentakel-tentakel raksasa yang muncul.
Ya, mereka bertujuh berhasil menghancurkan tujuh tentakel yang muncul akan tetapi tersisa satu tentakel lagi yang belum hancur.
"Hah... hah... hah..." mereka telah kelelahan karena pertarungan sebelumnya dan juga serangan barusan.
Satu tentakel yang tersisa bergerak dengan cepat meliliti kapal tersebut dan perlahan menghancurkannya.
"Sial..." Pak Gamou yang sebelumnya telah terluka akhirnya jatuh juga akan tetapi Lisha segera berlari mendekatinya.
"Sudah ku bilang anda terlalu memaksakan diri..."
"Apa boleh buat!! Kita sedang mempertaruhkan nyawa jadi kita tak bisa bertindak setengah-setengah..."
"KRAK!! KRAK!!" Lilitan dari tentakel raksasa itupun semakin kuat dan hal itu membuat kapal semakin retak.
"Semuanya tinggalkan kapal!!!" Teriak Kai.
Semuanya setuju, mereka melompat keluar dari kapal dan menjeburkan diri ke laut.
Ragna teringat bahwa Erinka masih berada diatas kapal, "Sialan, aku lupa bahwa Erinka masih ada diatas kapal itu!!!" Ucapnya yang panik.
Kapal perlahan mulai tenggelam karena ditarik oleh sang monster lautan ke dasar laut akan tetapi bola kegelapan yang didalamnya berisikan Erinka dan Sang Phoenix secara perlahan retak lalu meledakan api biru berserta dengan kapalnya.
"Apa!!!!" Merekapun terkejut.
__ADS_1
Erinka terbang ke udara dan nampak tak sadarkan diri, iapun terselimuti oleh kobaran api biru yang dimana membentuk wujud 'sang burung api' Phoenix.
Sang Phoenix telah muncul dan hal itu membuat Kraken naik ke permukaan sepenuhnya.
Lalu ukuran burung api itu sama besarnya dengan sang monster lautan.
Dua makluk mitologi itupun saling bertarung dan membuat kondisi lautan menjadi tak menentu dengan laut bergelombang-gelombang.
Ragna yang melihat pertarungan hebat dua makluk itupun bergumam dalam hati, "Padahal dulu sewaktu kami menaklukan Sang Phoenix, burung api itu tak sehebat sekarang ini..."
"Apa dia dulu hanya menahan diri saja?" Pikir Ragna.
Dilain sisi, Denjirou memeluk erat ketiga istrinya yang terombang-ambing dilautan yang ganas itu akan tetapi mendadak salah satu istrinya terlepas darinya.
Ya, dia adalah Sumika si istri dengan rambut pirang.
"Denjirou-sama, tolong aku!!!" Teriaknya minta tolong.
Denjirou dengan memeluk dua istrinya berusaha mendekat pada Sumika akan tetapi ombak yang tinggi dan disertai oleh badai malah semakin memperlebar jarak antara mereka, "Bertahanlah, kami akan segera kesana!!!"
Sumika semakin menjauh, "Tolong aku!!!!"
Pak Gamou, Lisha dan Kai berada diatas sebuah papan.
"Kai, tolong dia..."
"Tapi bagaimana dengan kondisi anda?"
"Tenang saja, aku akan menjaganya..." ucap Lisha.
Pak Gamou berkata lagi, "Gadis itu butuh bantuanmu jadi jangan khawatirkan aku..."
Kai akhirnya mau menolongnya, "Baiklah, jaga diri kalian..." ia pun kembali masuk ke dalam laut lagi dan perlahan mendekati Sumika.
Kai menjadi terkejut karena begitu sampai disana sudah ada Ragna yang menolongnya, "Ku kira kau sudah mati..." ucap si keturunan pahlawan itu.
"Enak saja!! Aku tak akan mati dengan mudah..." ucap Ragna, "Dia terlalu banyak minum air jadi dia tak sadarkan diri..."
"Ini buruk!! Kita harus membawanya ke daratan terdekat secepatnya..." ucap Kai.
Mereka berdua dengan berenang berusaha membawa Sumika ke tempat yang aman.
Pertarungan dua makluk mitologi itupun terus saja berlanjut akan tetapi hasil akhirnya sudah jelas bahwa keduanya sama-sama kuat dan sama-sama terluka.
Mereka berdua memutuskan untuk mundur lalu hal itu membuat lautan yang sebelumnya menggila perlahan berubah menjadi tenang dan langit yang semula gelap gulita perlahan menunjukan sinar terangnya.
Ragna, Sumika dan Kai pingsan akan tetapi mereka sangat beruntung karena meskipun tak sadarkan diri tapi ketiganya terdampar pada sebuah pantai yang saat itu cuacahnya sangat cerah.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 67 : Bala Bantuan
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
__ADS_1
*****