
"Hey, ayolah!! Kau hanya diam saja dan apakah artinya kau tak mampu bertarung lagi?" Ejek Ragna yang merasa hebat setelah mendapatkan kekuatan es iblis.
Edward menjadi geram akan tetapi ia yang sekarang sangat berhati-hati mengingat energinya tersisa sedikit, "Ku bunuh kau, bocah!!!" Iapun menonaktifkan kobaran api diseluruh tubuhnya dan memilih berlari ke arah Ragna untuk menghemat energi sihir.
"Pergerakannya melambat yang artinya ia telah melemah..." gumam Ragna dalam hati dan iapun menghentakan kaki kanan ke depan sehingga tanah mulai membeku ke segala arah.
Sebuah gelombang es berukuran besar bergerak dan Edward yang tak punya rencana berlari maju tanpa mempedulikan, "DYYEESS...!!"
Ragna terlihat sangat kelelahan setelah bertarung sekian lama dan iapun bergumam dalam hati, "Sial, pria yang menjadi wadah Kyuubi itu memang telah melemah akan tetapi aku juga dalam kondisi yang sama..."
"Energiku hampir habis jadi aku harus secepatnya mengakhiri pertarungan ini..."
"Krak!!" Mendadak gelombang es yang membentuk sebuah bongkahan berukuran besar retak dan hal itupun membuat Ragna terkejut, "Apa!!!"
Edward muncul dari retakan-retakan es dan iapun langsung melompat tepat ke hadapan Ragna, "DYYEESS...!!" Edward jatuh dengan pijakan kuat, ia menganakat tangan kanan ke atas dan melesatkan cakaran, "Sllash!!"
Ragna merespon cepat dan iapun melompat ke arah samping lalu serangan Edward itupun hanya menciptakan goresan pada permukaan tanah, "Sial, padahal aku mau memotongmu menjadi dua bagian..."
"Sayang sekali!! Aku jelas-jelas menolak maumu itu..." ucap Ragna yang membalut kepalan tangan dengan kegelapan sehingga ukurannya berubah menjadi besar, "Jbbuuak!!" Iapun memukul wajah Edward dan membuatnya sempoyongan.
Edward memperkuat pijakan kakinya agar tak jatuh tersungkur, "Hah... hah... hah.." ia yang sangat lelah mencoba mengatur nafasnya agar tak jatuh tersungkur tetapi Ragna tak memberikan jeda.
Ia berlari dan melesatkan pukulan pada Edward dari arah samping kanan, "Jbbuuak!!" Edward terjatuh akan tetapi dengan bertumpu pada tangan kiri iapun segera bangkit.
"Sialan!!!" Iapun mengibaskan ke sembilan ekornya untuk menyerang Ragna.
Ragna kesulitan menghindari ekor-ekor itu sehingga salah satu ekor menghantamnya dan membuatnya terlempar jauh.
Edward segera berlari ke arah Ragna yang jatuh, "Sudah ku duga!! Dia tak menggunakan kemampuan teleport yang artinya ia dalam kondisi yang sama sepertku..." pikirnya
Iapun berlari ke arah kepulan asap debu dan langsung melompat akan tetapi Ragna sudah berdiri tegak dengan mengepalkan tangan, "Jbbllast!!" Edward dihantam oleh pukulan Ragna.
Edward segera berdiri tegak, "Menyebalkan sekali!!" Iapun benar-benar terkejut dengan serangan balasan dari lawan.
"Tap... tap... tap..." Ragna keluar menembus asap dedebuan tebal dengan tersenyum lebar, "Ku yakin hidungmu itu pasti sangat sakit..."
Dikejauhan Kanna berteriak, "Berhenti basa-basi, Ragna!! Kau harus segera mengalahkannya atau Master Mark akan mati!!!"
"Hey, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bodoh!!" Sahut Edward, "Apa kau tau bahwa segala usaha kalian akan berakhir bila kau tak segera mengalahkanku?"
"Apa!!! Kok bisa gitu?" Ragna terkejut.
"Ya, itu karena Master Mark akan jadi patung batu selamanya..." jawab Edward dengan tersenyum licik.
Ragna menjadi sangat kesal dan merasa dipermainkan, iapun menatap dengan sorot mata tajam, "Kalau begitu bersiaplah!! Kau akan menerima serangan-serangan hebatku!!"
"Omong kosong!! Kau telah melemah dan hampir kehabisan energi jadi bagaimana bisa kau masih menyimpan serangan hebat?"
"Cih, kita lihat saja!!" Ucap Ragna yang benci mengakuinya.
Keduanya sama-sama berdiri tegak dan saling menatap dengan sorot mata tajam, "HIIAA...!!" Keduanya berlari mendekat dengan mengepalkan tangannya.
"Jbbllast!!" Dua kepalan tangan mereka saling beradu dan terlihat sama kuatnya.
Keduanya lalu menjaga jarak dan mengatur nafasnya, Edward bergumam dalam hati, "Tak pernah ku sangka diriku yang merupakan anggota terkuat dari White Tiger dapat diimbangi olehnya yang merupakan anggota baru..."
"Sebenarnya dimana Master Mark merekrut pria ini?" Edward mengumpulkan sisa-sisa energinya dan berlari maju, "HIIAA...!!!!" Iapun memukul dengan balutan tinju api.
Ragna terkejut karena lawan masih bisa menggunakan elemen api padahal energinya hampir habis, "Jbbllast!!!!" Iapun menahan serangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya dan terdorong sangat jauh ke belakang.
Dengan sorot mata tajam dan kepalan tangan kanan berkobar-kobar, Edward berkata, "Inilah semua energiku yang tersisa!! Akan ku akhiri semuanya dalam sekali serang!!"
"Aku juga!!" Ucap Ragna yang juga mengumpulkan sisa-sisa energinya, kegelapan pekat menyelimuti kepalan tangan kanannya sehingga ukurannya berubah menjadi sangat besar, "Inilah semua energi yang ku miliki...!!!"
Edward tersenyum menyeringai dan berkata, "Baiklah, anggota baru!! Mari selesaikan semua ini!!"
"Ya, dan serangan ini adalah tinju kemenanganku..." ucap Ragna dengan tersenyum lebar.
Keduanya memperkuat pijakan kedua kaki lalu berlari maju dengan seluruh kekuatan yang dimiliki, "HIIAA...!!!" Setiap langkah kaki dari mereka membekas dipermukaan tanah lalu sesampainya dijarak tertentu mereka langsung menghantamkan pukulan sekuat tenaga.
"Inilah kemenanganku!!!!!!!" Teriak keduanya dengan suara lantang dan menghantamkan tinjunya sekuat tenaga.
"JBBBLLLAAAST...!!!!!" Dua kepalan tinju dari mereka saling beradu dan terlihat sama kuatnya karena tiada yang mau mengalah.
Tak hanya kepalan tinju keduanya tapi energi mereka saling mendesak satu sama lain sehingga mengakibatkan keduanya terkurung oleh bola kegelapan yang membara.
Ya, Kanna yang berada tak jauh dari mereka terdorong oleh kuatnya hembusan angin dan ia khawatir pada kondisi Ragna maupun Edward.
__ADS_1
"Apa mereka akan baik-baik saja?" Pikirnya.
"DHHUUAARR...!!" Pada akhirnya benturan energi keduanya menciptakan ledakan super hebat ditengah-tengah kota.
*
Hal itupun membuat Erinka, Sistina, Djarot 'si cyborg' dan Reynhard mendekat ke area itu.
"Tekanan energi ini milik Edward..." ucap Djarot 'si cyborg'
"Ya, dan ia sedang melawan Ragna..." sahut Erinka yang merasakan keberadaan Ragna.
"Aku merasa kita akan menghadapi sesuatu yang buruk..." ucap Reynhard.
"Kalau begitu kita harus cepat..." ucap Sistina.
"Ya..." jawab ketiganya serentak.
Keempat anggota White Tiger yang telah berhasil mengalahkan rekan-rekan Edward itupun bergegas menuju arena pertarungan terakhir.
Tak butuh waktu lama keempatnya sampai dipusat kota yang merupakan tempat pertarungan Ragna dan Kanna melawan Edward.
Pusat kota berubah total dengan kehancuran diberbagai tempat lalu daerah itu sekarang berubah menjadi cekungan luas dan tepat ditengah-tengah cekungan masih ada sebuah kepulan asap tebal.
Keempatnya langsung saja mendekati Kanna yang berada ditepi cekungan.
"Apa yang terjadi disini? Mengapa tempat ini sangat hancur?" Ucap Djarot 'si cyborg' yang mengamati daerah sekitar.
Kanna terdiam.
"Jawab aku, Kanna!! Apa yang terjadi disini?" Bentak Erinka.
Kanna menunjuk ke pusat cekungan yang disana ada kepulan asap tebal, "Disana ada pertarungan Edward melawan Ragna dan pemenangnya ditentukan sekarang..."
"Apa!!! Jadi semua kehancuran yang terjadi ditempat ini akibat pertarungan keduanya?" Ucap Reynhard yang terkejut.
"Benar sekali!!" Jawab Kanna dengan tertunduk.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 112 : Bantu Kami!!
__ADS_1